
"Putriku," lirih Jerry membayangkan wajah Jane yang terlihat mirip dengan Stephanie hingga pipinya mulai basah karena berurai air mata. Namun, suara teriakan di sisi lain membuatnya terkejut dan tiba-tiba semakin terluka.
"Jangan pernah menyebutku sebagai putrimu!" teriak Jane dengan murka.
Dia melangkah dengan wajah merah padam dari arah pintu masuk, tatapan nyalang penuh kebencian menghunus kepada lelaki yang nyatanya dan tidak bisa dipungkiri adalah ayah kandungnya sendiri. Semua orang yang ada di ruangan itu juga terkejut ketika tiba-tiba melihat kedatangan Jane di markas ini.
"Jane bukankah kau belum sehat betul?"Jessi langsung melangkah mendekati sang kakak untuk memapahnya. Wajah wanita tersebut masih cukup pucat, tetapi dia malah tersenyum kepada sang adik sambil mengusap pipinya agar Jessi tak khawatir.
"Aku baik-baik saja." Tatapannya terlihat lembut dan cantik ketika melihat Jessi hingga memperlihatkan ikatan kuat di antara keduanya. Namun, sangat berbeda dengan kilatan amarah saat menatap Jerry Morning.
"Jane," lirih Jerry Morning memanggil nama putrinya untuk pertama kali dengan binar sayu dan juga sendu. Rasa bahagia serta rindu karena ternyata memiliki buah hati yang tumbuh dengan begitu cantik, juga mengangumkan seperti cinta kala muda.
Wanita di depannya sangat mirip dengan istrinya ketika mereka pertama kali bertemu. Tak terasa buliran hangat lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Tangan Jerry bergetar hebat, meskipun dirantai di tetap mencoba bergerak ke depan hendak meraih Jane di seberang, tetapi cukup jauh dari jangkauannya.
Namun, secepat kilat wanita tersebut menoleh ke arah pria di depannya dengan ekspresi mengerikan ketika berbicara."Berhenti memanggil namaku dengan mulut kotormu!" Suara teriakan Jane yang semakin keras berhasil membuat rasa nyeri di hati Jerry terluka karenanya.
Penolakan dari wanita tersebut terlihat jelas dari raut wajah merah padam Jane. Kini Jerry Morning tahu, apa yang membuat hatinya kosong selama ini. Penyesalan tak berkesudahan membiarkan putrinya tumbuh seorang diri tanpa kehadirannya dan tak sekalipun menimang di kala dia membutuhkannya.
"Kau!" tunjuk jari Jane dengan lantang pada ayahnya. Mata Jane memerah, mengeluarkan cairan bening yang berkumpul di pelupuknya. "Laki-laki yang tak tahu diri! Pria yang tega mencampakkan ibuku hingga dia mati dalam kesengsaraan! Apa salah Ibuku padamu, hah!"
Bergetar sudah tubuh Jane ketika berbicara untuk pertama kali dengan Jerry Morning yang selama ini selalu dia hindari. Menghindar dari kenyataan jika pria di depannya saat ini memanglah ayah kandungnya sendiri karena kebencian atas ketidakpeduliannya sejak wanita tersebut dilahirkan.
"Laki-laki macam apa yang tidak percaya dengan istrinya sendiri! Ibuku. Hidup dalam kesedihan dan sengsara serta sakit hati yang kau perbuat. Apa salah dia padamu!" jeritnya lagi. Rasa sakit hati dan kesengsaraan sang Ibu tergambar jelas di kepalanya saat ini. Bahkan di akhir hidup ibunya, dia masih memikirkan pria yang selama bertahun-tahun menelantarkan mereka begitu saja.
"Bodohnya Ibuku mencintai pria sepertimu." Jane mendongakkan kepala agar buliran hangat itu tidak jatuh di pipinya.
__ADS_1
Sementara itu, Jerri Morning hanya bisa terdiam dan tidak membalas sepatah kata pun ketika melihat kemarahan Jane. Dia sadar apa yang dikatakan sang anak adalah benar adanya.
Kekuasaan yang selama ini dia kejar tak berarti apa pun ketika kebahagian keluarga kecilnya terenggut begitu saja. Kebodohannya memercayai keluarga besarnya dan meragukan kesetiaan istrinya membuat pria itu hanya bisa membatu di tempatnya. Seharusnya Jerry mencari kembali keberadaan istrinya saat itu, bukan malah membiarkannya pergi dengan luka di hati.
Belum lagi membayangkan mereka dikejar oleh kejamnya ibu Jerry membuat pria tersebut hanya bisa membayangkan istrinya yang kecewa dalam benaknya. Meskipun sudah tak bertemu selama lebih dari tiga dekade, tetapi raut wajah terkasihnya masih terpatri dengan jelas di pikiran pria itu.
Stephanie, maafkan aku, batin Jerry seakan menjerit merutuki kebodohannya sendiri. Kegilaan akan kekuasaan atas dasar kemarahan membuat pria tersebut menyesali perbuatannya saat ini. Seandainya, dia hanya bisa mengucapkan kata 'Seandainya' di saat seperti sekarang. Ketika penyesalan tak dapat mengembalikan keadaan semula.
"Putriku," lirih Jerry kembali menyebut wanita di depannya. Namun, kilat amarah semakin jelas di wajah Jane.
"Jangan pernah menyebutku putrimu! Kau tidak pantas mendapatkan gelar ayah atas apa yang kau lakukan selama ini!" Kemarahan, penolakan, penyanggahan, serta guratan pilu tergambar jelas di wajah Jane. Wanita tersebut terlanjur kecewa dan terluka dengan apa yang sudah Jerry lakukan selama ini.
Penyesalan di hati Jerry seakan tak lagi berarti, hanya menambah rasa nyeri dan siksaan batin tiada henti. Dia sudah salah langkah sejak awal, tidak ada lagi pengampunan, hanya kebencian yang menggunung tergambar jelas di wajah putrinya.
Perlahan Jane melangkah mendekat ke arah pria tersebut dan tanpa aba-aba, dia menancapkan sebuah belati tepat di bagian dada kiri Jerry Morning dengan cepat tanpa berkedip sedikit pun, membuat semua orang yang melihat terkejut akan tindakannya.
"Jane!" teriak Jessi dengan membelalakkan mata melihat apa yang dilakukan sang kakak.
Namun, wanita itu tidak peduli dengan panggilan sang adik dan semakin menekan tangannya agar belati itu lebih dalam lagi menusuk jantung Jerry Morning. Tatapan mereka saling bertemu mata keduanya sama-sama berkaca merasakan semua ini. Darah mulai mengalir deras di dada pria itu sambil menahan rasa sakitnya.
"Minta maaflah pada Ibuku di alam baka!" ujar Jane sambil menekan gagang belati ke bawah agar lukanya semakin dalam hingga merobek dada pria tersebut semakin lebar.
Jerry hanya tersenyum dengan tatapan nanar, setidaknya dia sudah melihat putrinya sebelum kematian menjemput. Tangan pria itu bergerak ke depan ingin meraih pipi wanita muda di depannya dengan bergetar. "Maafkan Ayah!"
Hanya itu kalimat terakhir yang dapat Jerry ucapkan kepada Jane, sebelum akhirnya wanita tersebut mencabut belatinya dan segera memasukkan tangan sendiri untuk mencabut jantung sang ayah dari tempatnya dengan cepat hingga membuat pria itu tewas seketika.
__ADS_1
Ayah, sebuah senyum mengejek diiringi buliran air mata mulai mengalir di pipi wanita cantik tersebut Tangan Jane mengepal kuat dengan berlumuran darah memegang organ jantung sang ayah.
Semua orang di ruangan itu hanya bisa terpaku untuk waktu yang cukup lama ketika melihat adegan mengerikan ini. Jerry Morning, pria kejam dengan segala keangkuhannya kini tewas di tangan putrinya sendiri dengan penyesalan di akhir hidupnya.
Hal ini juga merupakan kali pertama bagi Jane menjatuhkan air mata untuk Jerry. Pria yang tak pernah menganggapnya ada, hingga memupuk kebencian di hatinya. Namun, mengapa bukan rasa puas yang dia dapat, melainkan sesak di dada tidak ada batasnya. Jane merasa seperti tiba-tiba jatuh ke dalam jurang gelap tak berdasar dan hanya terhempas menabrak bebatuan.
"Arrgh!" Jane berteriak dengan keras menagis meraung, memukul dadanya yang terasa sakit setelah melakukan semua ini. Jessi segera melangkah mendekat untuk memeluk sang kakak dengan erat.
"Jane." Jessi memahami betapa sakitnya hati sang kakak karena hal ini. Sangat sulit bagi seorang anak untuk membunuh ayahnya sendiri, meskipun pria tersebut telah bersalah dan menelantarkannya selama ini. Nyatanya tetap tak bisa dipungkiri jika keduanya memang memiliki hubungan darah yang tak dapat diputuskan dengan cara apapun.
Jessi ikut terisak sambil memeluk kakaknya. Dia sendiri tidak menyangka jika Jane akan membunuh Jerry Morning dengan mengambil jantung pria tersebut tepat di depan mata mereka. Bahkan tak memberikannya kesempatan untuk berbicara dan menahan semua rasa sakit hati ini sendirian.
"Ayah!" Suara lirih dengan tubuh yang bergetar membuat wanita tersebut menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya Jane memanggil pria yang kini tergeletak tak bernyawa dengan sebutan 'ayah', rasa kecewa, sedih, dan sakit berkumpuk menjadi satu dalam dadanya.
Semua orang di ruangan itu menjatuhkan air matanya melihat dua bersaudara ini. Mereka merasa iba menyaksikan kesakitan keduanya kehilangan orang-orang yang berharga.
"Jessi, kenapa rasanya sakit sekali?" Jane terisak di pelukan sang adik dengan sangat kuat, rasa sakit untuk pertama kali ketika membunuh pria yang selama ini dia benci. "Aku tidak boleh menangis untuk pria bajingan yang telah menelantarkan Ibuku!"
"Jane, kau juga manusia. Dia juga Ayahmu, bukan hal mudah bagimu untuk melakukan semua ini. Menangislah! Keluarkan segala beban di hatimu, lepaskan kebencianmu kepadanya, Jane!" Jessi terus mengelus punggung kakaknya yang bergetar, tangan wanita itu masih terkepal kuat dengan sebuah jantung berlumuran darah dalam genggamannya.
Katakanlah jika Jane sangat kejam dan durhaka kepada ayahnya sendiri. Namun, sakit hati yang ditorehkan oleh pria tersebut sangat membekas di hatinya untuk seumur hidup. Awalnya wanita tersebut memilih menjauh untuk menuruti permintaan ibunya terakhir kali agar memaafkan pria itu.
Namun, Jerry Morning sendiri malah mengusik Jessi dan Nenek Amber. Sumber dari kebahagiaan hidup Jane selama ini, orang-orang yang menerimanya di kala dirinya hidup sebatang kara karena kepergian sang ibu untuk selamanya.
To Be Continue...
__ADS_1