Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Emily Bertindak


__ADS_3

Setelah puas menatap wanita yang dia rindukan, Brian kembali melajukan kendaraan meninggalkan lokasi.


Di sebuah restoran terlihat Emily turun dari lantai atas ruang VIP bersama temannya. Dia melihat Jessi yang duduk bercengkrama dengan Jane, membuatnya langsung mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Cepat datang ke Light Resto! Targetmu ada di sini. Jangan sampai gagal!" Emily memotret Jessi dari jauh dan mengirimkan gambar kepada pembunuh bayaran.


"Siapa yang ingin kau singkirkan?" tanya teman di sampingnya.


"Penghalang tujuanku. Aku pastikan dia tidak akan selamat kali ini!" Sorot mata Emily terlihat begitu membenci Jessi, dia tidak terima penolakan Nich karena wanita tersebut.


"Aku akan membayar lebih dulu. Kau tunggu di mobil!" ujar temannya.


Emily keluar restoran melalui pintu yang lain, lalu mengamati Jessi dari dalam mobil sambil menunggu pembunuh bayaran datang. Dia akan memastikan sendiri wanita itu mati hari ini.


Di sisi lain Jessi yang masih bercengkrama dengan Jane dihentikan oleh suara ponsel yang berdering di sakunya. Dia melihat sebuah nomor tanpa nama tertera di layar, membuatnya mengernyitkan dahi.


Jessi mengangkat panggilan tanpa berbicara. Dia memastikan terlebih dahulu siapa yang menghubunginya.


"Hello, Sayang. Akhirnya kau mengangkat juga." Suara antusias seorang wanita terdengar di ujung panggilan.


"Mommy?" Jessi terkejut mendengar suara nyaring dan heboh ibunya Nich.


"Iya, ini Mommy Laura. Sayang, apa kau sedang sibuk sekarang?"


"Tidak, Mom. Ada apa?"


"Bisakah kau menyusul Mommy ke LB Boutique, Sayang!"


"Untuk apa, Mom?"


"Ini penting, Sayang. Emergency cepatlah ke sini!"


"Baiklah, aku akan ke sana. Mommy tunggu sebentar!"


"Iya, Mommy tunggu. Akan Mommy kirimkan lokasinya."


"Iya." Jessi lantas mematikan sambungan meletakkan kembali ponsel itu ke sakunya.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Jane.


"Mommy Laura."


"Mertuamu?"


Jessi mengangguk, lalu menyeruput minumannya lebih dulu. "Aku pergi."


"Hati-hati!" Jane melambaikan tangannya melihat kepergian sang adik.


Wanita itu melangkah menuju tempat parkir untuk mengambil motornya. Jessi merogoh kembali ponsel untuk melihat lokasi butik. Tak lama kemudian, kuda besi melaju menuju jalan raya bersama pengendaranya.


Seorang pria menggunakan motor langsung mengikuti Jessi dari belakang. Sementara, Emily mengawasi dari mobil bersama rekannya. Mereka menunggu wanita itu melewati jalanan sepi agar lebih mudah untuk melancarkan aksi.


Jessi menyadari ada sebuah motor yang mengikutinya, dengan sengaja dia berbelok ke arah lain. Mencari jalan yang tak terlalu ramai dan memberikan kesempatan pada musuh untuk bertindak. Dia ingin tahu, siapa yang mencoba bermain-main dengannya kali ini.


Setibanya di jalan sepi, pria itu langsung menghadang motor Jessi dengan cepat, melepaskan helm dan berjalan ke arah wanita di belakang. Dia mengeluarkan sebuah belati dari balik pakaiannya. Mengeluarkan aura khas pembunuh yang mengerikan.


Jessi melihat pria kekar dengan wajah berang tersebut menghampirinya. Namun, santai saja dia melepaskan helm, dan tetap duduk di atas motor tanpa rasa takut. "Siapa yang menyuruhmu membunuhku?"


"Kau tidak perlu tahu!" Pria itu bergerak cepat menyerang Jessi, tetapi dengan mudahnya wanita itu menghindar.


Pembunuh terkesiap mendengar penuturan calon korbannya. Bukan merasa takut, tetapi malah mengejeknya secara terang-terangan, membuatnya kembali menyerang. Mereka beradu kekuatan fisik dan beladiri, meskipun Jessi tidak ahli dalam hal itu, tetapi kemampuannya cukup mumpuni jika hanya diserang oleh satu orang saja.


Tak henti-hentinya pria itu mengayunkan belati. Dia menyerang dengan membabi buta, jika saja wanita biasa yang dihadapi, mungkin dengan mudah korbannya mati. Namun, bukan Jessi pastinya.


Melihat serangan tajam terus menerus, dan sangat cepat, membuat Jessi harus melawan. Dia mencoba menyerang sambil menghindari belati, hingga tak sengaja senjata tajam itu berhasil menggores kulit di wajah cantiknya.


Jessi memegang lukanya yang berdarah dengan emosi yang meluap, sorot matanya tajam sambil mengepalkan kedua tangan. "Kau menguji kesabaranku!"


Segera wanita itu berlari ke arah lawan, mengayunkan salah satu kakinya ke atas hingga berputar ke arah wajah pembunuh, membuat pria itu langsung jatuh tersungkur menempel jalan beraspal.


Tanpa membuang waktu, Jessi langsung mengunci gerakan tangan pria itu ke belakang, dan menindihnya. Posisi tengkurap di aspal membuat pria tersebut sulit untuk bergerak. "Katakan siapa yang menyuruhmu! Barron atau Emily!"


Namun, dia tidak mau dikalahkan oleh seorang wanita. Segera pria tersebut mengayunkan kakinya yang panjang ke bagian belakang kepala Jessi, membuat wanita itu segera berdiri dari posisinya.


"Kau pria brengsek!" Jessi mengumpat kesal, setelah pertarungan beberapa hari ini, masih saja ada orang yang ingin bermain-main dengannya.

__ADS_1


Pertarungan terus berlanjut, mereka sama-sama kuat bertarung dengan tangan kosong. Pria itu tak menyangka, jika wanita yang harus dia bunuh tidak mudah untuk dihabisi. Bahkan harus menyiapkan tenaga ekstra hanya untuk mengimbangi lawannya.


Tak jauh dari posisi mereka, Emily melihat pertarungan itu dengan mata kepalanya sendiri. "Tak kusangka, dia bukan wanita yang mudah untuk dilawan."


"Ya kau benar, dia sungguh keren sekali." Seketika Emily menatap wanita di sampingnya dengan tatapan tajam, pujian untuk Jessi terdengar seperti kobaran api yang merayap di wajahnya.


Merasa salah berbicara wanita itu langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. "Maaf."


"Tak akan kubiarkan dia lolos kali ini." Emily segera menyalakan kembali kendaraannya. Dia langsung menginjak pedal gas hingga kecepatan tinggi, tak peduli nyawa pembunuh bayaran yang masih bertarung dengan Jessi di tengah jalan.


"Yak, apa kau gila? Kau ingin menabrak dua orang sekaligus?" Temannya yang panik langsung berpegangan pada handle di atas pintu mobil, secara spontan dia menutup mata dengan lengan melihat kegilaan Emily.


"Dia harus mati hari ini!" Sorot mata Emily membara, dia menancap gas dengan kecepatan penuh menabrak dua orang yang masih berkelahi.


Suara orang terhantam bagian depan mobil, terdengar begitu keras hingga membuat kaca depannya sedikit retak. Korban yang terpelanting jauh ke belakang membuat wanita itu tersenyum puas.


Dia hanya melihat melalui kaca spion orang yang sudah terluka parah di jalan dengan bersimbah darah. Tanpa menghentikan laju kendaraannya, Emily terus mengemudi meninggalkan lokasi. Tak peduli dengan pembunuh bayaran yang ikut mati. Saudaranya hanya butuh alasan untuk menjelaskan kematian anak buahnya, dan dia akan mengatakan itu adalah ulah Jessi.


Senyum mengembang dan tawa jahat terdengar menggema di dalam mobil itu. "Lihat, akhirnya aku berhasil menyingkirkan wanita sundal itu! Sekarang tidak ada lagi yang menghalangiku untuk menjadi Nyonya Bannerick."


"Apa kau gila? Jadi, wanita itu kekasih pria idamanmu?" Teman Emily masih bergetar di tempatnya, dia tidak menyangka akan menyaksikan aksi pembunuhan kejam yang di lakukan oleh orang di sampingnya.


"Ya, dan sekarang dia sudah mati." Emily menyeringai puas, usahanya tidak sia-sia kali ini.


"Emily, kau tahu keluarga Bannerick sangat berpengaruh di negara ini? Bagaimana kalau sampai mereka mengusutnya? Aku tidak mau kehilangan nyawa karena ikut terlibat."


"Apa yang kau takutkan? Selama mulutmu itu tetap diam dan tidak membocorkan rahasia ini. Maka mereka tak mungkin akan tahu!"


"Apa kau tahu? Setiap orang yang berurusan dengan Keluarga Bannerick, bahkan namanya saja tidak akan diingat oleh dunia. Mereka akan lenyap seolah tak pernah lahir." Teman Emily mencoba untuk menasehati sahabatnya, tetapi usaha itu hanyalah sia-sia.


Obsesi untuk memiliki apa pun keinginannya membuat Emily gelap mata. Dia yang begitu mengidamkan Nicholas selama ini, tidak akan menyesali setiap keputusan hari ini. Baginya mendapatkan pria idamannya memanglah butuh sebuah pengorbanan, dan korbannya adalah Jessi.


TBC.


Hallo kakak.


Jangan lupa tinggalkan komentar ya..

__ADS_1


Supaya author tahu respon pembaca.


__ADS_2