Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Awal Pertarungan


__ADS_3

Mendengar suara tembakan yang mengarah tepat ke ujung atap tempat tali kedua orang itu saling bergelantung, membuat Alice berteriak dengan kuat. "Jackson!"


Jackson yang terkesiap hanya bisa pasrah dengan keadaan. Namun, beruntung tali tambang tersebut tidak langsung putus, tetapi masih tersambung dengan kondisi yang tinggal sebagian saja. Sementara itu, sang penembak menghilang entah ke mana.


Dengan jantung yang berdegup kencang, dia mengembuskan napas naik turun, hingga beberapa saat kemudian. T dan R dalam seketika sudah berada di posisi kedua orang tersebut.


"Kenapa kau di sini? Bagaimana dengan nona?" Jackson terkejut ketika melihat T yang berada di sampingnya dalam sekejap mata.


"Kita harus cepat! Tuan Nicholas sudah dalam perjalanan." Tanpa menunggu jawaban mereka langsung menurunkan kedua orang yang berada di atas atap, hingga posisi aman.


"Cepat susul, Nyonya!" Setelah semua dirasa aman, T dan R kembali ke tempatnya. Mengawasi Jessi dan Jerry dari kejauhan.


Seperti di sebelumnya, mereka hanya diizinkan mengambil tindakan dalam kondisi darurat, sebagai pelindung tersembunyi dan agar kehadirannya tidak disadari oleh lawan.


Sementara itu, Jackson langsung membuka seluruh tali yang mengikat ibunya dan berusaha untuk menyadarkan wanita tersebut. "Ibu, ibu. Kumohon bangunlah!"


Tanpa membuang waktu, pria itu langsung menggendong sang ibu di punggungnya, sedangkan istrinya mengikuti dari belakang. Mereka bergerak menuju tempat Jessi berada.


_____________


Di sisi lain, Jane dan anak buah yang lainnya langsung bergerak mengejar Nenek Amber, dengan seluruh pasukan yang dibawanya.


"Apa yang terjadi dengan Jessi? Kenapa dia bisa berurusan dengan Jerry?" tanya Jane kepada Maurer di dalam mobil.


"Jerry adalah dalang utama pembunuhan keluarga Alexander, Nona. Dia juga pemilik mafia Virgoun yang banyak memakan korban, terutama George, Jackson, Patricia, dan Olivia. Bahkan dia juga yang bekerja sama dalam bidang narkoba dengan ibu tiri kami." Maurer berbicara dengan masih fokus menatap laptop di depannya, mencari tahu posisi Nenek Amber melalui CCTV jalan.


Dengan geramnya Jane mengepalkan kedua tangan. Dia jika sampai sesuatu sungguh terjadi pada nenek dan adiknya. Maka wanita itu sendiri yang akan memburu Jerry tanpa ampun. Meskipun, pria tersebut adalah ayah kandungnya.


Oleh sebab itulah, Jane sangat menjaga jarak dan tidak memercayai pria. Baginya, lelaki tak jauh beda dengan Jerry, hanya bisa menyakiti dan meninggalkan wanita seorang diri, hingga akhir hayat.

__ADS_1


Seandainya, sang ibu hidup kembali dan meminta pengampunan atas kesalahan Jerry. Maka, Jane akan memilih untuk tidak pernah dilahirkan oleh benih pria tersebut. Mengalir darah yang sama dalam tubuhnya saja sudah membuat wanita itu tersiksa seumur hidup.


Padahal hubungannya dengan Damien bahkan baru saja membaik. Dia sudah mencoba untuk membuka hati, tetapi sepertinya semua harus berakhir sampai di sini. Jika sampai pria itu tahu siapa Jane yang sebenarnya pasti akan sangat menyakitkan baginya.


Jane menatap jauh keluar kaca mobil, membayangkan kan bagaimana reaksi Damien jika mengetahui hal ini. Namun, suara Maurer dalam sekejap membuyarkan lamunannya.


"Ketemu!" Maurer menemukan lokasi Brian yang sudah bergerak di jalan menuju kediaman Jerry.


"Cepat kita susul!" Sorot mata Jane begitu tajam. Dia sendiri tidak menyangka akan berada di situasi seperti ini.


Konflik berkepanjangan hanya untuk kepentingan Jerry seorang. "Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Tangannya mengepal kuat seakan bersiap menghancurkan apa pun yang di genggamnya.


____________


Lain Jane, lain pula dengan Jessi. Jerry yang beberapa kali kalah dalam permainan catur bersama wanita di depannya merasa sangat direndahkan. Bahkan dalam hal strategi dia belum bisa mengimbangi wanita di depannya.


"Sial, sepertinya keponakan iparku akan memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan kedua orang yang dicintainya." Jerry hanya bisa memprovokasi Jessi saat ini. Tidak mungkin memintanya bermain kembali setelah kalah telak lima kali.


Hingga tak lama kemudian, pelayan di belakang membisikkan sesuatu yang berhasil membuat pria tersebut tersenyum lebar. "Nona Alexander, apa kau tidak merindukan mantan suamimu?"


Jessi hanya bisa memicingkan mata menatap ke arah Jerry. "Maksudmu Brian?" Dia mengambil kembali teh di depannya dan menyeruput perlahan.


Jerry hanya menganggukkan kepalanya. "Kudengar dia sudah berpisah dengan selingkuhannya." Dia mencoba menelisik lebih jauh ekspresi wanita di depannya. Namun, sayangnya tidak ada perubahan sama sekali.


"Aku lebih tertarik mendengar cerita kalian. Bagaimana kau dan dia bisa saling berhubungan?" Dia meletakkan kembali cangkir ke atas meja.


"Aku dan dia." Tangan Jerry bergerak mengusap dagu, seakan berpikir dari mana hubungan mereka di mulai. "Mungkin kau sudah tahu, Marcopolo adalah anjing yang setia, Brian adalah putranya. Jadi, sangat wajar bagi kami untuk saling mengenal."


"Bukankah dahulu dia hanya anak panti asuhan?"

__ADS_1


"Kau benar, tapi beberapa tahun sebelumnya Marcopolo berhasil membawanya kembali ke mafia Virgoun." Jerry memajukan wajah seperti mencoba berbisik kepada Jessi. "Apa kau sudah mendengar kekejamannya di mafia Virgoun?"


Wanita itu hanya mengangguk kecil, dari penyelidikan selama ini, sudah terlihat jelas jika Brian sangat kejam dan tak berperasaan. Sangat berbeda dengan pria yang dulu.


"Ngomong-ngomong di mana kau mengubur jasad kedua orang tuaku?" Jessi menatap tajam ke arah Jerry, seperti apa Brian saat ini tidaklah penting baginya.


Akan tetapi, kedua orang tuanya yang masih belum ditemukan jasad atau pun makamnya, lebih penting dari segalanya saat ini. Lagi pun informasi itu hanya bisa didapatkan langsung dari Jerry.


Gelak tawa Jerry kembali menggelegar. "Kenapa, Nona Alexander sangat pandai merusak suasana. Padahal tadinya aku merasa sedang mengobrol dengan putriku sendiri."


Sejenak Jerry menghentikan kalimatnya, tetapi wanita di depannya masih tak bergeming dari tatapan tajam itu. "Baik-baiklah, aku akan berbaik hati memberitahumu."


Pria tersebut kembali mendekatkan kepalanya ke arah Jessi. "Jasad mereka sudah habis dimakan anjing-anjing peliharaanku!"


Mendengar hal tersebut Jessi seketika berdiri dari posisinya, dengan emosi yang meluap dan deru napas tak beraturan dia menatap tajam ke arah Jerry. Diletakkan kedua tangannya ke atas meja dan membungkuk mendekatkan diri kepada pria di depannya.


"Jika sampai apa yang kau ucapkan adalah benar. Akan aku pastikan, kau akan menyesal telah berurusan dengan keluarga Alexander." Jessi menekankan setiap kata yang diucapkan tanpa keraguan sedikit pun.


Hingga suara sebuah tembakan dari arah belakang bangunan membuatnya menyunggingkan senyum mengejek. "Kau selalu bermain licik."


Suara tembakan tersebut berasal dari sisi Jackson, tapi Jessi yakin T dan R mampu menyelamatkan mereka, sedangkan Jerry kembali tergelak ria.


"Sebenarnya berasal dari mana kesombonganmu ini, Nona Alexander. Waktu bermain-main sudah habis. Anak buahmu mungkin sudah mati saat ini." Jerry berdiri dari posisinya, meletakkan kedua tangan di saku celana dengan kesombongannya. "Berikan bukti yang kau miliki saat ini juga dan aku akan melepaskanmu! Atau kau bisa memilih membiarkanku kembali mengambil orang yang berharga dalam hidupmu."


Tak lama kemudian, beberapa buah mobil tiba di sana. Terlihat Brian dengan wajah berantakan turun dari kendaraan tersebut. Namun, bukan itu yang membuat Jessi terkejut, tetapi wanita di dalamnya.


"Nenek!"


To Be Continue..

__ADS_1


__ADS_2