Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Wanita yang Malang


__ADS_3

Di dalam sebuah mobil, seorang wanita tergeletak tak berdaya. Segera George memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Light, dia tidak ingin seseorang yang menjadi saksi kunci mati begitu saja.


George langsung berlari begitu tiba di mansion menggendong wanita itu menuju ke ruang kesehatan. Terlihat Jessi dan Dokter Hendrick sudah menunggunya kedatangan mereka.


"Apa yang terjadi?" Raut kecemasan begitu jelas terlihat di wajah cantik Jessi.


"Saya tidak tahu, Nona. Begitu keluar dari rumah itu dia langsung jatuh pingsan." George meletakkan tubuh itu di atas brankar dengan perlahan.


Dokter Hendrick dengan segera memeriksa kondisi wanita di depannya. Terlihat lebam di sekujur tubuhnya yang tak mulus lagi. Dia memeriksa detak jantung dengan stetoskop, lalu mendekatkan jarinya ke hidung pasien.


Dokter Hendrick terlihat mulai panik saat memeriksa, berulang kali dia melakukan prosedur (cardiopulmonary esuscitation ) CPR dan napas buatan.


"Apa yang terjadi?" tanya Jessi.


"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Dia mengalami gagal jantung." Dokter Hendrick menjelaskan sambil terus mencoba memompa dada wanita yang terbaring itu. "Kita harus cepat! Dia bisa mati jika tak segera ditangani."


"George, siapkan helikopter!"


"Baik, Nona."


"Apa yang bisa aku bantu?"


"Apa kau dan anak buahmu bisa melakukan CPR?"


"Iya aku bisa, dan kalian kumpulkan beberapa orang yang bisa melakukan CPR kemarin!" Jessi memerintah pada anak buah George di belakangnya.


"Kau gantikan aku lebih dulu, aku akan memasang Ventilator."


Jessi mengambil alih tugas Dokter Henrick, dia memompa dada wanita itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan sang dokter memasang Ventilator Bag Valve Mask (BVM) di mulut dan hidungnya untuk membantu pernapasan wanita itu.


"Nona, semua sudah siap," ucap George.


"Kita bergerak sekarang, jika kau lelah, katakan! Kita harus bergantian memberikan CPR sampai rumah sakit," ujar Dokter Hendrick.


Jessi hanya mengangguk, dia tetap berada di atas tubuh wanita tersebut menekan dadanya naik turun, dengan Dokter Hendrick yang menekan kantong Ambu, dan George yang mengemudikan helikopter, serta beberapa anak buah yang akan bergantian melakukan CPR.


Sepanjang perjalanan udara kali ini dipenuhi dengan ketegangan, mereka juga sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk mengambil alih pasien di atap nantinya.


Malang sekali nasib wanita ini, di usia yang mungkin baru menginjak dua puluh tahun sudah harus menjadi korban kekejaman keluarga Night.


Keringat bercucuran di wajah Jessi, membuat anak buah menggantikan posisinya. Terlihat di bagian atap rumah sakit sudah ada beberapa dokter dan perawat yang menantikan mereka, serta pria tampan pemilik Bannerick Hospital yang langsung melesat menuju rumah sakit begitu mendengar kondisi darurat dari kediaman Light.


Setibanya di rumah sakit pasien langsung di ambil alih oleh tim medis. Jessi keluar dari helikopter dengan tubuh lemas. Nich yang merasa panik langsung berlari menopang wanitanya yang hampir limbung.

__ADS_1


"Sweety, apa kau baik-baik saja?" Nich terlihat cemas melihat tubuh lemas Jessi.


"Aku ... hah ... hah ... baik-baik saja." Suara lirih lemas dari Jessi terdengar jelas di telinga Nich.


Dia langsung mengalungkan tangan Jessi di leher, menggendong ala bridal style dan membawanya untuk beristirahat di ruang perawatan.


Nich menyerahkan segelas air mineral untuk calon istrinya itu. "Apa yang terjadi? Siapa yang terluka?"


Jessi mengambil gelas dari tangan Nich dan meneguknya secara perlahan. "Dia adalah korban kekejaman Keluarga Night. Bagaimana kondisinya sekarang?"


"Dia sedang berada di ruang operasi. Istirahatlah lebih dulu, Sweety! Aku akan membangunkanmu ketika dia sudah selesai di operasi."


Jessi hanya mengangguk, lantas merebahkan tubuh di atas ranjang rumah sakit. Meskipun dia bukan pasien, tetapi Nich adalah pemilik rumah sakit ini. Jadi, siapa yang berani melarangnya.


Dia mencoba untuk terlelap. Namun, bayangan wanita penuh lebam selalu terbayang di angannya. Oleh karena itu, Jessi kembali bangun dan duduk di ranjang pasien.


"Nich, aku ingin menunggunya di depan ruang operasi saja! Aku merasa tidak tenang."


Pria itu mendekat, mengelus pucuk kepala calon istrinya dengan lembut. "Baiklah, aku akan menemanimu!"


Mereka berjalan ke arah ruang operasi. George dan bawahannya masih setia menanti wanita malang itu di sana.


"Nona, Tuan."


"Kami belum tahu, Nona. Tim dokter masih bekerja keras di dalam."


Nich, Jessi, George serta anak buah yang lain menunggu di depan ruang operasi itu hingga empat jam lamanya. Beberapa saat kemudian, Dokter Hendrick keluar ruangan.


Jessi langsung bangkit dari duduknya. "Bagaimana?"


"Bisakah kita bicara berdua?"


Jessi mengangguk, tetapi Nich memicingkan mata kecemburuan terhadap Dokter Hendrik terlihat jelas di wajah tampannya.


"Tenanglah, Tuan Nich. Ini perihal wanita, sangat tidak sopan jika Anda mengetahui rahasia perempuan lain."


Nich menghela napas kasar. "Pergilah!"


Mereka berjalan menuju ruang kerja Dokter Hendrik. "Duduklah!"


"Apa ini masalah yang serius?" tanya Jessi.


Dokter Hendrick menghela napas kasar, lalu menyerahkan sebuah gambar pada Jessi. "Wanita itu, dia mengalami pendarahan di otak."

__ADS_1


"Bagaimana bisa?" Jessi merasa syok mendengar penuturan Dokter Hendrick, dia mengamati gambar itu dengan saksama.


"Sepertinya dia mengalami penyiksaan yang berat, menyebabkan cedera berat pada kepala. Akibatnya pendarahan terjadi di antara lapisan tengkorak dan selaput otak. Jadi, kami harus mengoperasinya secepat mungkin."


Jessi mengangguk. "Bukankah operasi sudah berjalan dengan baik, lalu apa yang perlu dirahasiakan?"


Dokter menyerahkan sebuah dokumen lagi, membuat Jessi membelalakkan matanya seakan tak percaya ketika membaca kertas itu. "Ini?"


"Iya ... dia diperkosa entah sebelum atau sesudah disiksa." Raut wajahnya mengiba ketika mengatakan hal itu, sungguh malang nasib pasiennya kali ini.


Jessi meremas kertas itu, wajahnya merah padam amarah meluap hingga ke ubun-ubun. "Manusia biadab itu."


"Dia masih dalam keadaan kritis, kita bisa meninjau kembali kondisinya setelah dia sadar. Kejadian ini pastilah berefek samping pada kondisi fisik dan mentalnya."


Jessi mengangguk paham. "Aku akan menitipkan dia padamu kali ini. Berikan perawat terbaik untuk mengurusnya!"


"Kau bisa mempercayaiku. Ngomong-ngomong apa kau akan memberitahu keluarganya?"


"Aku akan mencaritahu identitas dan keluarganya. Kalau begitu aku pergi dulu."


Dokter Hendrick mengangguk, Jessi meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang berapi-api. Dia mendekat ke arah Nich dan yang lainnya.


"Sweety." Jessi langsung memeluk pria yang akan menjadi suaminya. Tanpa terasa air mata mengalir di wajah cantik itu. "Kau kenapa, Sayang?"


Nich terus mengusap punggung Jessi dengan lembut mencoba memberikan ketenangan pada kekasih hati. Jessi sedang merasa kacau kali ini. Perasaan sesama wanita membuat dirinya berang dengan tindakan Keluarga Night.


Sesaat kemudian, Jessi sudah kembali tenang. Hal itu tidak seharusnya membuat mereka berlarut dalam kesedihan. Masih banyak cara yang dapat dilakukan untuk membalas keluarga iblis itu.


Dia menyeka air mata di pipinya, raut wajahnya kembali berubah. "George, cari tahu identitas wanita itu!"


"Baik, Nona."


Jessi menatap mata Nich dalam-dalam. Entahlah mata itu selalu bisa menciptakan ketenangan tersendiri bagi dirinya.


"Apa kau besok akan akan ke pembukaan perusahaan baruku?"


"Tentu saja, Aku akan hadir untuk menjagamu." Nich mengusap sisa buliran air di wajah wanitanya.


"Aku akan bersembunyi di balik layar. Aku yakin Barron tidak akan tinggal diam dengan kesuksesan Jackson."


Nich kembali memeluk wanita yang dia cintai ini. "Aku akan mendukung apa pun yang kau lakukan!"


TBC.

__ADS_1


__ADS_2