
"Tidak mungkin! Kau pasti bohong!" Jerry menggelengkan kepala dengan cepat, menolak kenyataan jika dia memiliki keturunan. "Kau pasti bohong! Aku hidup seorang diri selama ini dan Stephanie memilih pergi bersama pria brengsek selingkuhannya itu!"
Sebuah tawa kembali menggelegar memenuhi ruangan. Perkataan Jerry sungguh berhasil menggelitik perut Jessi secara tidak langsung. "Selingkuh kau bilang?"
Suara decakan berulang kali terdengar dari mulut wanita tersebut menghina kebodohan Jerry Morning. "Dia tidak pernah berselingkuh dan itu hanyalah rencana keluargamu yang agung untuk menyikirkan wanita miskin sepertinya dari hidupmu!" Suara Jessi terdengar begitu geram ketika mengatakan hal itu. Namun, inilah tujuannya memberitahukan semua hal yang akan membuat Jerry Morning menyesal atas kebodohannya sendiri.
Hidup tanpa tahu kenyataan sesungguhnya membuat pria itu congkak dan merasa bahwa dirinya adalah korban. Padahal Stephanie–Ibu dari Jane–merupakan korban paling dirugikan atas tindakan keluarga suaminya sendiri.
"Di saat kau mengira dia pergi dengan selingkuhannya, ketika itu juga Bibi Stephanie hamil dan keluargamu mengetahui hal itu hingga berulang kali mencoba untuk membunuhnya." Membayangkan betapa malangnya nasib wanita yang kini telah tiada membuat Jessi mendongakkan kepala.
Perasaan iba sebagai sesama perempuan mengembunkan buliran hangat di pelupuk matanya hingga hampir saja tumpah di depan Jerry. Sementara itu, pria yang mendengar perkataan Jessi hanya bisa terpaku di tempatnya. Hatinya tiba-tiba saja kembali merasakan sesak di kala membayangkan posisi istrinya saat itu.
Wanita yang begitu dia cintai dengan setulus hati, harus terpisah karena kasta dan restu orang tua dari keluarga Jerry. Mereka menginginkan pria itu memiliki istri sederajat, hingga memisahkan kedua insan tersebut melalui berbagai cara.
"A–apa maksudmu?" Bergetar sudah bibir Jerry menanyakan hal itu.
Dia bahkan tidak tahu apa saja yang dilakukan keluarganya setelah kepergian Stephanie. Pria tersebut jengah dengan keluarganya karena selalu memaksa untuk menikahi putri rekan bisnis mereka. Akan tetapi, Jerry Morning memilih meninggalkan keluarga itu dan hidup seorang diri di kastil bersama sahabatnya–Tom Evening. Hingga semuanya menjadi seperti sekarang.
"Apa kau tidak tahu? Ibumu memburu Bibi Stephanie selama dia masih di negara ini?"
__ADS_1
Kedua tangan Jerry Morning mengepal kuat, inilah salah satu kebodohan terbesar dari kejeniusan yang pria itu miliki. Dia bodoh untuk menilai mana salah dan mana benar. "Kau pasti bohong! Kejadian itu sudah berlangsung lama, bagaimana bisa kau mengetahui semua hal itu? Semua ini hanyalah karanganmu saja."
"Karangan kau bilang? Apa kau masih pantas disebut manusia?" tanya Jessi keheranan. "Tak heran jika seorang Jerry Morning tega mengubur hidup-hidup manusia di bawah patung. Ternyata kau bahkan tak memiliki hati untuk istrimu sendiri."
"Kau tak tahu apa-apa—"Jerry Morning berteriak dengan kuat hingga, menampakkan urat yang menegang di lehernya. Emosi pria tersebut tak lagi dapat dikontrol setelah penyiksaan yang dia alami dari anak buah Jessi selama tinggal di sini.
"Kau yang tak tahu apa-apa, Bodoh! Pria macam apa yang bahkan tidak mengenali putrinya sendiri! Jangan salahkan aku jika dia membencimu yang tak pernah mengakui kehadirannya!" Jessi memotong kalimat Jerry saking geram dengan pria batu tak berperasaan sepertinya. Malangnya Jane tak pernah diakui oleh ayahnhya sendiri. "Kau bahkan berusaha membunuhnya dalam pertempuran itu."
Suara Jessi terdengar lirih di akhir, tetapi masih terdengar cukup jelas di telinga Jerry Morning.
"Me–membunuhnya kau bilang?" Jantung Jerry Morning terasa berhenti bedetak saat itu juga. Dalam pikirannya menolak apa yang dikatakan Jessi, tetapi hati pria tersebut seakan membenarkan perkataannya.
"Kau sungguh mengenal putriku?" Tidak ada satu pun kalimat Jessi yang membuat Jerry tenang. Kata-kata wanita tersebut seperti belati tajam, menghujam jantungnya berulang kali tanpa perasaan.
Setelah sekian lama masa kejayaan Jerry Morning, hidup dalam kesuksesan tanpa hambatan yang berarti membuat pria tersebut seakan tak lagi memerlukan orang lain. Namun, mengapa ketika wanita di depannya menceritakan tentang istri dan anaknya kebencian yang dipupuk selama beberapa dekade ini seakan menghilang begitu saja.
Semua berganti dengan rasa sesak dan nyeri di dada. Perasaan bersalah perlahan mulai menggerogoti jiwanya, buliran hangat kini berkumpul di pelupuk mata pria tersebut ketika Jessi diam dan tak menjawab pertanyaannya.
Pertanyaan yang dia harapkan hanya sebuah kebohongan dari karangan cerita wanita di depannya. Mata kedua orang itu bertemu, raut sayu wajah Jerry terlihat jelas di guratan keriput pria tersebut. Hingga sedetik kemudian barulah Jessi mulai berbicara tanpa mengendurkan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Kau tak pantas menyebutnya putrimu!" Sebuah seringai mengejek terlukis di wajah Jessi. "Kau bahkan membiarkan mereka diburu selama beberapa tahun, hingga akhirnya Bibi Stephanie memilih pergi menjauh darimu. Dia bahkan membiarkan Jane kecil bertahan hidup seorang diri di dunia yang kejam ini, sedangkan dia—" Jessi mendongakkan kepalanya, mencoba untuk tidak menangis membayangkan hancurnya hati kakaknya. "Dia meninggal karena kanker yang dideritanya."
Bagai tersambar petir di siang itu, rasa bersalah, terkejut juga terluka seakan berkumpul menjadi satu dalam hatinya. Wanita yang selama ini dia benci meninggalkan dirinya begitu saja. Bukan pergi dengan pria lain, melainkan kembali pada takdir.
"Di saat kedua orang itu berjuang untuk hidup, kau malah sibuk dengan kejahatanmu hingga tega membunuh semua keluargaku begitu saja!" Suara teriakan Jessi terdengar begitu keras, amarah mulai menguasai dirinya hingga meluapkan segala kekesalan pada pria di depannya. "Seharusnya kau mencari mereka jadi kalian bisa hidup bahagia. Bukan malah menghancurkan kebahagiaan keluargaku demi melancarkan obsesimu akan kekuasaan!"
Tubuh Jessi bergetar hebat ketika mengatakan hal itu. Namun, memang inilah tujuannya, membiarkan Jerry mengetahui semua kenyataan hidupnya yang terlihat sempurna agar kematian terasa sangat menyakitkan bagi pria tersebut.
Sementara itu, Jerry Morning hanya bisa termangu mendengar semua kalimat Jessi yang menusuk hatinya berulang kali. Penyesalan tak ada lagi artinya untuk saat ini. Istri tercintanya telah berpulang, menyisakan kebencian yang tumbuh dan berkembang dalam diri putrinya sendiri.
Hal yang tak pernah dia akui, tetapi berhasil membuat hatinya nyeri ketika mengetahui semua kenyataan ini. Bergetar sudah diri Jerry Morning membayangkan semua hal ini. Dia tidak menyangka kejahatannya bahkan merusak kebahagiaannya sendiri.
Hidup yang dipikirnya tidak adil karena pengkhianatan, tetapi ternyata dia sendiri perusak keadilan ketiga rumah tangganya diuji dengan pertentangan keluarga.
"Putriku," lirih Jerry membayangkan Jane yang terlihat mirip dengan Stephanie hingga berurai air mata. Namun, suara teriakan di sisi lain membuatnya semakin terluka.
"Jangan pernah menyebutku sebagai putrimu!"
To Be Continue...
__ADS_1