Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Mampus Aku


__ADS_3

Berbeda halnya dengan Maurer dan Mario yang menghabiskan malam dengan calon pasangan mereka. Jessi pulang seorang diri dengan wajah kesal setelah meninggalkan Anna di klub malam. "Hah, suamiku pasti sudah tidur dengan Jessica. Dasar iblis kecil itu," gerutu Jessi setelah tiba di pelataran kediamannya.


Jessi melangkah keluar mobil dengan malas, tetapi ternyata sang suami sudah berdiri di ambang pintu menyambut istrinya yang baru datang. "Sudah puas?" tanya Nicholas sambil menyilangkan kedua tangan di dada seolah tengah merajuk. 


"Apanya yang puas? Tahu sendiri aku tidak mungkin menyewa gigolo yang hanya akan membawa penyakit menjijikkan!" kesal Jessi yang melangkah sambil mengentak-entakkan kakinya melewati sang suami. 


Namun, tiba-tiba saja tangan kekar Nicholas menarik tubuh Jessi dan mengecupnya sejenak sambil tersenyum. "Ayo kita bersenang-senang!" ajak Nicholas yang langsung membopong tubuh istrinya kembali masuk ke mobil. 


"Apa maksudnya, Nich?" tanya Jessi kebingungan. 


"Apanya yang apa?" jawab Nicholas santai dan langsung menginjak pedal gas, melajukan mobil keluar dari pelataran kediaman Light lagi.


"Kita mau ke mana? Bagaimana dengan si kecil?" 


"Sudah ada Mommy dan Daddy di dalam. Biarkan sesekali mereka kembali mengingat masa awal menikah dulu," ujar Nicholas sambil mengacak-acak rambut istrinya yang tampak semakin hari semakin cantik saja.


Hal tersebut sontak membuat senyum merekah indah di wajah Jessi. "Terima kasih, Sayang," ucapnya seraya mengecup pipi suaminya.


Pria tersebut hanya mengangguk, setelah kepergian Jessi tadi. Dia menghubungi kedua orang tuanya agar menggantikan menjaga triplets malam ini. Bukan hal yang mudah untuk membujuk mereka. Nicholas harus rela merogoh kocek cukup dalam demi pajak penyewa pengasuh seperti Laura dan Michael.


 Di mana Laura bersedia datang, asalkan Nicholas membelikannya berlian keluaran terbaru, sedangkan Michael ikut mengantri dengan daftar burung mahal yang dia inginkan sebagai koleksi.


Akhirnya Nicholas pun menyetujui hal itu. Dia juga merasa kasihan pada sang istri yang lelah mengurus tiga bayi selama ini. Setidaknya mereka juga butuh waktu berdua, meskipun hanya sekedar kencan di kamar hotel. Asalkan tidak ada gangguan dari luar atas kemesraan keduanya. 


Keduanya bergerak menuju sebuah hotel pegunungan di mana lantai tertinggi memang dikhususkan untuk keluarga Bannerick. Hawa dingin seketika menyapu kulit Jessi yang hanya mengenakan pakaian tipis. Ketika keluar dari mobil.


 "Ayo!" Ajak Nicholas setelah memberikan jaketnya ke tubuh sang istri. 

__ADS_1


Keduanya pun bergandengan tangan menuju lantai atas. Tak perlu reservasi apa lagi susah-sudah membawa barang pribadi. Hanya membawa nyawa dan nama sudah lebih dari cukup untuk mendatangi hotel milik keluarganya. 


Memiliki tiga anak tak membuat keromantisan mereka berkurang sama sekali. Bahkan menjadi lebih harmonis dengan kehadiran ketiga buah cinta. Meskipun terkadang merpotkan, tetapi menjadikannya sebuah pengalaman tak terlupakan. Bahkan tidak mungkin terulang jika kelak mereka dewasa.


Sayangnya karena Jessi tidak mau menggunakan alat kontrasepsi setelah melahirkan. Alhasil Nicholas memilih vasektomi untuk dirinya sendiri waktu istrinya selesai melahirkan. Bukan karena dia tidak ingin memiliki anak lagi, tetapi trauma melihat kepala bayi yang keluar tepat di depan matanya membuat pria tersebut mengambil keputusan itu. Ditambah rasa kasihan melihat tubuh istrinya yang harus digunting demi menghadirkan ketiga buah hati dan menahan rasa sakitnya seorang diri.


Meskipun vasektomi akhirnya menyiksa Nicholas sedikit karena nyeri pasca operasi. Hal ini dianggap wajar karena efek samping vasektomi pada kesehatan pria yang pertama adalah rasa sakit dan tidak nyaman. Walaupun prosedur ini biasanya dilakukan dalam waktu singkat, jadi umum jika mengalami beberapa ketidaknyamanan dan rasa sakit setelahnya.


Setibanya di penthouse yang letaknya di bagian paling tinggi dan dikhususkan untuk keluarga. Jessi juga Nicholas langsung memulai aksinya setelah lebih dari tiga bulan lamanya tak bersenggama. 


"Sayang, apa rasanya akan berbeda?" tanya Jessi pada sang suami mengingat tubuhnya sudah mengeluarkan kepala bayi sebesar itu, sedangkan suaminya juga melakukan vasektomi. 


"Entahlah. Kita akan tahu setelah mencobanya." 


Keduanya melakukan foreplay layaknya pasangan muda agar tubuh mereka lebih bergairah. Setelah pemanasan dirasa cukup, Nicholas mencoba membobol pertahanan istrinya untuk pertama kali sejak Jessi melahirkan. Namun, Jessi seketika meringis kesakitan ketika pucuk kejantanan suaminya baru di ambang inti tubuhnya.


"Sayang, sakit," rintih Jessi merasakan tubuhnya seolah kembali rapat bahkan lebih dari seorang perawan. Dia bahkan sampai bergerak mundur demi menghindari batang tegak miliki suaminya.


"Cobalah pelan-pelan, Nich!" Jessi mencoba sekuat tenaga menahan rasa sakitnya. Sayangnya, semua itu percuma karena terasa seperti merobek jahitan di inti tubuhnya.


Berulang kali Nicholas mencoba membobol sang istri perlahan. Namun, hasilnya sama saja, Jessi terus meringis kesakitan dan Nicholas tidak tega akan hal itu. Akhirnya, keduanya pun menyerah serta membiarkan malam ini sebagai pemanasan saja. 


Keduanya pun terlelap dengan saling mendekap. Anggap saja malam ini merupakan bonus karena bisa tidur nyenyak dan tidak perlu bangun karena tangisan si kecil. 


_________________


Di sisi lain, Maurer yang lelah memarahi Ben habis-habisan akhirnya terlelap di samping Rey dengan saling berpelukan di ranjang pasien. Bukan karena dia tidak mau pulang, tetapi bocah kecil tersebut enggan ditinggal olehnya, sehingga dia terpaksa menginap. 

__ADS_1


Bentley berjaga malam itu sambil menatap putranya yang terlelap. Ada rasa nyeri di hati di kala mengingat ucapan putranya tadi. Nyatanya bukan hanya dia yang terluka akan kepergian istrinya, tetapi Rey terluka lebih dalam karena tidak memiliki sosok ibu dan pengabaian  seorang ayah yang seharusnya menggantikan posisi ibunya. 


"Maafkan Papa, Rey," gumam Ben sambil mengusap kasar wajahnya. Apakah dia harus mencari istri lagi, tetapi hatinya belum siap terbuka untuk wanita lain. 


Kebimbangan mulai merasuk dalam dirinya, ditambah kedua orang tuanya yang kini tinggal di luar negeri sering menjodohkan Ben dengan putri rekan bisnisnya. Namun, tak ada satu pun wanita yang mampu menembus relung hatinya maupun Rey. 


Keesokan harinya, Rey bangun lebih awal karena merasakan sebuah pelukan hangat. Hal yang tak pernah dia dapatkan dari seorang wanita selain Neneknya. Bocah tersebut mendongakkan kepala dan bergeming menikmati bidadari di depannya. Seandainya saja, Rey boleh meminta. Dia akan meminta Tuhan mengabulkan Maurer menjadi Mamanya sebelum dia sungguh menyusul ibu kandungnya. 


Sesaat kemudian, sinar mentari mulai menerangi ruangan. Maurer mengerjapkan mata dan terbangun dari peraduannya. Dia melihat di mana Rey tersenyum lembut kepadanya, tampak seperti sosok malaikat kecil yang membawa kebahagiaan di bumi. 


"Rey, sudah bangun ternyata. Selamat pagi, Sayang," sapa Maurer sambil mengecup pucuk kepala bocah tersebut. 


"Selamat pagi juga, Aunty." 


Maurer pun segera beranjak dari posisinya dan membetulkan selimut di tubuh Rey. Dia lantas melihat jam di pergelangan tangan, Maurer menepuk dahinya mengingat dia meninggalkan Jessi dan Anna di klub sebelumnya. "Mampus aku!" gumam Maurer yang baru tersadar dari kebodohannya. 


Suara pintu dibuka dari luar membuat Maurer bersyukur karena Ben datang di waktu yang tepat. "Tuan, aku harus pergi. Nanti majikanku bisa-bisa membunuhku kalau aku tidak segera kembali." Sejenak Maurer menoleh pada Rey. "Rey, Aunty pulang dulu ya. Nanti Aunty ke sini lagi kalau senggang," ucap Maurer berpamitan dan kembali mengecup dahi bocah tersebut sebelum melangkah pergi. 


"Kau tidak mau sarapan dulu?" tanya Ben memerlihatkan beberapa kantung makanan yang baru dibelinya. 


"Tidak, aku buru-buru. Permisi." Tanpa menunggu jawaban Ben Maurer langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan begitu saja. 


"Apa, Papa tidak mau mengantar Aunty Maurer?" ucap Rey melihat sang ayah hanya terdiam di saat gadis itu pergi. 


"Haruskah?" 


Rey mengangguk cepat. "Pergilah, Papa! Aku akan memanggil perawat nanti kalau membutuhkan sesuatu. Rey, janji tidak akan nakal."

__ADS_1


"Rey, selalu menjadi anak Papa yang baik. Papa pergi sebentar," ucap Ben ikut menimpali dahi sang putra dengan kecupan dan melangkah pergi setelah meletakkan barang belanjaannya. 


To Be Continue...


__ADS_2