Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Kate Berulah


__ADS_3

Kematian bisa datang kapan saja tanpa menunggu atau pun memberitahu. Dia hadir hanya untuk menyisakan lara dan juga penyesalan bagi orang yang ditinggalkan. Begitu juga dengan Kate Morning, sekarang wanita itu merasa kehilangan atas kepergian sang putri tercinta selama-lamanya.


Jika saja dia tahu Emily akan berakhir dengan penyakit menjijikkan, Kate pasti tidak akan membiarkan putrinya melangkah terlalu jauh. Dia merenung seorang diri di kamar sang putri, mengingat kembali kekompakan mereka setiap kali merencanakan hal buruk.


Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Seorang pelayan datang dengan membawa sebuah paketan. "Permisi, Nyonya."


"Ada apa?" Jawaban lesu terdengar begitu pilu dari mulut Kate, tidak seperti biasanya yang selalu marah-marah.


"Ini, Nyonya ada paketan." Pelayan menunjukkan sebuah amplop cokelat di tangannya dengan sedikit gugup, takut akan kemarahan Kate yang mudah tersulut kapan saja.


"Berikan padaku!" Kate mengulurkan tangan dengan masih enggan untuk berdiri dari posisinya.


"Ini, Nyonya." Pelayan memberikan paketan itu kepada sang nyonya lantas membungkuk hormat dan melangkah pergi, sebelum sesuatu yang buruk menimpanya.


Perlahan tangan Kate memeriksa paket itu. Tidak ada nama pengirimnya di sana, dengan hati-hati tangannya mulai membuka bungkus perlahan. Hingga terlihat hanya ada kertas di dalamnya.


"Apa ini?" Wanita itu merogoh dan mengeluarkan kertas, membaca setiap dengan rinci kata demi kata yang tertulis di sana.


Manik matanya membola ketika melihat sebuah bukti, menunjukkan jika pria sewaan sang putri sudah diganti dengan para gigolo berpenyakit. Dia meremas berkas itu dengan wajah merah padam, aliran darah seakan merambat naik ke ke wajahnya. Ketika melihat nama wanita yang sudah mencelakai putrinya secara tidak langsung.


"Jesslyn Light! Wanita sundal itu, aku harus memberinya pelajaran!" Tanpa basa-basi Kate langsung berdiri dari posisinya, melangkah keluar mengambil kunci mobil.


Tanpa peduli dengan penampilannya saat ini, dia langsung saja melangkah dengan cepat ke garasi. Para pelayan yang melihat di balik dinding hanya bisa bersembunyi, takut akan amukan sang nyonya rumah.


"Huft, untung saja dia tidak menyiksa salah satu dari kita," ujar seorang pelayan dengan mengelus dadanya karena merasa lega melihat kepergian Kate.


"Benar, mereka sangat mengerikan. Sejak kepergian Stella rumah ini selalu saja mendapat masalah." Seorang pelayan lainnya mengangguk, beruntung cukup lama keluarga ini disibukkan dengan setiap masalah yang menimpa, sehingga para pekerja tidak lagi ada seorang pun yang harus merasakan siksaan sang tuan rumah.


Di sisi lain, Kate melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi sambil mencari tahu alamat Jessi. Dia bersumpah akan membalaskan dendam putrinya pada wanita itu.

__ADS_1


"Tidak akan kubiarkan kau menang! Apa lagi dengan santai menikmati kekayaan keluarga Bannerick, hah?!" Berulang kali Kate memukul kemudi mobilnya seperti orang kesetanan.


Entah sudah berapa banyak kendaraan yang disenggolnya, tapi dia tidak menghentikan laju mobil. Lampu merah pun diterabas oleh Kate, wanita tersebut kalap dan tak memerhatikan keselamatannya sendiri.


"Kau merusak segalanya! Menggagalkan impian putriku untuk menjadi Nyonya Muda Bannerick." Tangis dan tawa memenuhi ruang mobil itu. Jika saja ada orang yang melihat, mereka pasti akan berpikir kalau Kate Morning sudah gila.


_______________


Di lain tempat, Jessi dan para anak buah tengah mendiskusikan masalah Dion.


"Jadi, pria itu menghilang?" tanya Jessi.


"Benar, Nona," ujar Maurer.


"Di mana posisi terakhirnya?" Jessi bertanya sambil memasukkan suapan es krim ke dalam mulut. Sudah menemukan beberapa bukti kejahatan di masa lalu membuat wanita itu sedikit lega akan apa yang dilakukannya.


Sejenak Jessi mengembuskan napas kasar, dengan tangan yang masih memegang sendok es krim. "Dia mungkin berhubungan dengan Jerry. Pria tua itu pasti sudah tahu kalau aku dalang kekacauan di rumah sakitnya."


Mereka mengangguk setuju, dengan apa yang diucapkan Jessi. Penyerangan saat itu sudah dilihat oleh banyak musuh di rumah sakit, mustahil jika musuh tidak mengenali wajahnya.


"Cari tahu lagi memungkinan kehadirannya di tempat-tempat kita! Mungkin dia mengawasi bisnis kita dengan menyamar." Entah sudah berapa banyak es krim yang masuk ke mulut kecil itu, seakan tidak ada bosannya Jessi terus menyendok seember makanan dingin di pangkuannya tersebut.


"Baik, Nona."


"Akh, Tuhan. Perutku, sepertinya semua es krim mencair di dalam sana. Lihat aku jadi gendut!" Jessi mengelus perutnya yang mulai berisi tidak seperti biasa. "Sepertinya aku kurang berolahraga beberapa hari ini."


Maurer dan Olivia hanya bisa saling berpandangan melihat tingkah Jessi yang kembali absurd. Sebagai wanita muda, single pula, membuat mereka tidak mengerti apa yang terjadi dengan nonanya akhir-akhir ini. Selain kelakuannya terlihat aneh bagi keduanya.


"Akh, aku mengantuk. Kalian selidiki lebih jauh, aku ingin tidur dulu." Jessi beranjak dari kursi dan meletakkan bekas es krim jumbo yang telah kosong itu ke atas meja.

__ADS_1


"Baik, Nona."


Namun, baru hendak melangkah, suara seseorang berlari dari luar menghentikan gerakan kaki Jessi. "Ada apa kau berlari? Apa kalian sedang bermain petak umpet?"


Sejenak George membungkuk, menyangga lututnya yang lemas, dan mengatur napasnya. "Nona." Kalimatnya terhenti karena masih terengah-engah akibat berlari. "Di luar ada Kate Morning membuat keributan."


Jessi mengerutkan dahi mendengar laporan George. "Kenapa wanita itu, mencari masalah di sini? Apa dia ingin meminta sumbangan untuk santunan kematian Emily?"


Tanpa rasa berdosa berbicara seperti itu, hingga membuat ketiganya melebarkan mata karena kalimatnya yang tak disaring. Jelas-jelas jika musuh datang pasti ingin membalaskan dendam, tapi apa yang mereka dengar kali ini? Meminta sumbangan untuk santunan.


Jika boleh memilih, mereka ingin saja menghilang ketika Jessi berada di mode konyol seperti ini. Bukan tanpa alasan, tapi dia pasti akan mengerjai anak buahnya dengan alasan apa pun.


"Sepertinya dia ingin membalas dendam, Nona," ujar George.


"Tentu saja dia datang menuntut balas. Kau pikir dia datang kemari untung berjualan bakso?" Jessi mencebikkan bibir sambil sedikit berpikir. "Aku sedang mengantuk, keluarkan saja para kucingku jika dia berbuat ulah! Biarkan mereka yang menyambut kedatangannya."


Tanpa menunggu jawaban Jessi lantas kembali melanjutkan langkahnya, menaiki tangga menuju kamar. Sementara itu, George berbalik menatap kedua wanita yang masih tercengang di ruang keluarga. "Apa Nona Jessi sedang mode konyol lagi?"


Keduanya mengangguk. "Mungkin akan lebih gila setelah bangun nanti."


Sebuah tepukan keras mendarat di dahi Olivia dari tangan George. "Jangan bicara sembarangan! Kalau Nona Jessi sampai dengar, kau yang akan merasakan kejahilannya selanjutnya."


Olivia memeluk tubuhnya sendiri sambil bergidik ngeri. Membayangkan ketika berada di posisi George yang saat itu menjadi sasaran kejahilan Jessi, hingga harus berakhir di kamar mandi seharian.


Hanya membayangkannya saja membuat wanita itu seketika menggeleng dengan cepat. "Tidak mau!"


George hanya menggeleng kecil melihat tingkah lucu Olivia. Lantas melangkah pergi meninggalkan kedua wanita yang masih asyik membayangkan kejahilan Jessi nantinya.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2