Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Pernikahan Kedua


__ADS_3

"Apa kau baru saja menyatakan cinta pada istriku, hah?" teriak Nicholas yang baru saja sampai di tempat tersebut setelah melalui perjalanan panjang karena merindukan istrinya


Suara teriakan Nicholas berhasil membuat keduanya terhenyak untuk sesaat. Semburat wajah merah padam dengan tanduk tak terlihat di kepala membuatnya semakin tampak mengerikan bagi Rahmat yang baru saja menirukan gaya Mario Teguh. 


Nicholas melangkah dengan tegas dan hampir memukul Rahmat, tetapi Jessi segera mendekatinya dan memeluk pria itu dari depan. "Sayang, jangan marah! Kami hanya bercanda tadi, bukan asli."


"Apa kau baru saja membelanya, Sweety?" Dia menatap tajam ke arah istrinya yang tampak hanya mengerucutkan bibir mengeluarkan jurus ampun yang tak bisa dia sanggah manisnya.


"Rahmat, keluar sekarang!" ucap Jessi dengan tatapan masih melihat kemarahan suaminya yang tak mereda dan malah membentaknya. 


Tanpa membuang waktu sebelum habis dilahap kedua Singa itu, Rahmat segera keluar dengan terbirit-birit. Daripada dia menjadi sasaran empuk dan hanya tinggal tulangnya saja, lebih baik segera melarikan diri. 


Sementara itu, di dalam ruangan melihat kemarahan Nicholas, Jessi bukannya membujuk pria itu tetapi malah berubah ekspresi. "Apa kau datang cuma ingin mengajakku ribut, Nich?" 

__ADS_1


Hormon kehamilan sungguh mengerikan, dalam sekejap mata ekspresi Jessi sudah berubah sebagai tokoh Maleficent dan tak lagi mendayu rayu seperti sebelumnya.


 "Sweety, aku datang karena merindukanmu. Bagaimana bisa aku mengajakmu ribut? Hanya saja mendengar pria lain menyatakan cinta membuatku marah. Apa kau menyukainya?" 


Keduanya seakan tak mau kalah ketika berdebat. Jessi cukup lelah dengan urusan kantor, sedangkan Nich hatinya membara tak tahu tempat ketika mendengar kalimat manis yang keluar dari pria lain membuat istrinya tertawa lebar. Meskipun sang istri mengatakan itu hanya candaan semata. Nyatanya sebagai seorang suami Nicholas tetap saja cemburu. 


"Dia hanyalah asisten kakak tidak lebih. Haruskah aku membuktikannya?" tanya Jessi tak mau kalah. 


"Ayo kalau begitu!" Tanpa membuang waktu, Jessi langsung meraih tangan suaminya dan mengajaknya keluar ruangan. "Rahmat, ikut aku!" 


Tempat kerja yang sebelumnya digunakan oleh Dove kini berubah menjadi milik Rahmat. Dia hanya bisa tercengang di tempatnya mendengar perintah Jessi. 


"Apa yang kau lakukan? Kenapa diam saja? Ayo cepat siapkan mobil!" teriak Jessi ketika melihat Rahmat bergeming di tempatnya. 

__ADS_1


"I–iya, Nyonya." Tanpa membuang waktu, Rahmat segera mengambil kunci dan ikut bergerak masuk ke dalam lift. 


Suasana di sana semakin tegang di saat sepasang suami istri itu hanya terdiam untuk selama menunggu lift bergerak turun. "Rahmat, apa kau mau menikah?" tanya Jessi yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Nicholas.


"Apa maksudmu, Sweet?" bentak Nich dengan geram karena masih cemburu.


"Apanya yang apa? Bukankah kau bilang aku dengan dia? Sekarang kau harus menjadi saksi pernikahan keduaku!" teriak Jessi tak kalah kencang, tetapi pintu lift segera terbuka sehingga dia pun bergegas keluar menuju mobil dengan sedikit menahan tawa.


Sementara itu, Rahmat di bagian paling belakang tidak berani berbicara sedikitpun apalagi keluar mendahului Nicholas yang tampak geram dan masih belum beranjak dari posisinya. Tangannya tampak terkepal kuat menatap sang istri kemudian berbalik melihat Rahmat di belakangnya. "Apa kau sudah bosan hidup?"


"Rahmat! Cepat nanti Biro Pernikahan keburu tutup!" teriak Jessi dengan kuat setibanya dia di parkiran, sedangkan kedua pria itu masih di dalam lift.


To Be Continue..

__ADS_1


__ADS_2