Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Tak Berpikir Panjang


__ADS_3

Suara bariton panggilan namanya dari pria di sebelah membuat Anna sontak membelalakkan mata, begitu pula sebaliknya. Anna langsung menarik tangan dan enggan bersentuhan dengan mantan kekasih palsunya itu.


Berbulan-bulan sang pria mencari Anna yang ternyata telah berpindah tempat tinggal dan bertemu semalam, tetapi berakhir dengan pengusiran dari klub malam membuat harga dirinya semakin terinjak oleh wanita itu. Hilang sudah taruhan yang dijanjikan bersama temannya yang awalnya berniat membayar mahal hanya untuk video panas keduanya.


"Akhirnya kita bertemu lagi?" ujar pria itu melangkah semakin dekat dengan binar bahagia setelah lama tidak berjumpa, sedangkan Anna memilih memundurkan diri dan mencoba menghindar dari pria di depannya.


"Apa maumu? Bukankah kita sudah berpisah? Kenapa kau masih menggangguku?" Anna semakin bergetar tatkala melihat kulit lebam kebiruan di wajah pria di depannya. Dia tampak semakin mengerikan dengan bulu tebal di dagunya menambah kesan menyeramkan karena Anna terbiasa melihat wajah Mario yang bersih bersinar.


"Berpisah? Bukankah itu semua rencana kalian? Kau menjebakku dengan wanita itu dan melarikan diri demi mencari pria yang lebih kaya 'kan?" bentak pria tersebut dengan begitu murka menuduh Anna yang bukan-bukan.


Wajahnya yang tidak terawat menambah kesan bengis juga menyeramkan sejak mereka bertemu terakhir kali. Anna ibarat sebuah aset berharha bagi pria itu, tetapi sirna begitu saja dan membuatnya jatuh ke dasar kemiskinan setelah gagal mendapatkan saham dari temannya.


"A–apa maksudmu?" Anna sendiri bingung. Bagaimana pria di depannya bisa tahu jika dia sekarang bekerja sama dengan Jessi. Padahal keduanya sudah lama tidak bertemu karena dia sendiri tidak mengingat kejadian malam tadi.


"Katakan padaku? Apa wanita itu menyuruhmu tidur dengan pria semalam? Cuih, dasar ja lang murahan!" Aroma tembakau serta minuman keras sebelumnya bahkan belum hilang sepenuhnya dari mulut pria itu membuat Anna ingin muntah seketika.


"Jaga bicaramu, Brengsek!" Dengan bergetar Anna melayangkan sebuah tamparan dan mendarat tepat di pipi pria itu. Harga dirinya terasa terinjak karena penghinaan yang tak pernah dia lakukan. Memang Jessi memintanya untuk mendekati Mario, tetapi hasil akhirnya semua orang juga tahu jika pria itu bahkan tak meliriknya sama sekali dan Anna masih sadar diri di mana posisinya.


Dia hanyalah seorang sekretaris rendahan yang bisa bekerja atas kebaikan hati Jessi. Anna pun bersyukur karena wanita itu membebaskannya dari seorang pria gila yang ternyata tidak mampu menghargai seorang wanita dan hanya menganggap sebagai taruhan belaka.


Keributan di luar membuat Mario di dalam ruangan bersama klien merasa terganggu. Suara Anna terdengar jelas di telinga Mario yang saat itu tengah berdiskusi perihal pembelian Hak Cipta suatu game yang akan dikembangkan ke depannya.


"Sebentar!" Tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk, Mario segera keluar dari ruangan tersebut dengan cepat.


Matanya merah padam di saat melihat Anna menangis juga memberontak karena pria di depannya yang memaksakan kehendak dan memegang kedua bahu Anna yang bergetar hebat.

__ADS_1


"Katakan padaku! Berapa banyak wanita itu membayarmu supaya tidur dengan pria itu, hah? Aku akan membayarmu dua kali lipat!" bentak pria itu sambil mencoba mengacak-acak tubuh Anna yang tersudutkan.


Mario yang melihat hal itu sontak menarik bahu pria tersebut dan melayangkan sebuah kepalan tangan dan mendarat dengan keras di pipinya yang tak hanya meninggalkan luka lebam, tetapi juga robek serta darah di sudut bibirnya. "Jaga bicaramu, Brengsek!" Wajah Mario tampak merah padam menyaksikan Anna yang dilecehkan hingga tubuhnya bergetar di lantai. "Kau tidak apa-apa?" tanya Mario pada Anna yang kini terkulai lemas di lantai dan tak mampu menjawab Mario sama sekali.


"Kau jangan ikut campur! Dia juga sudah membodohimu! Apa kau tidak tahu misinya adalah membuatmu menyukainya? Berapa kali kalian tidur bersama, hah? Kau bilang dirimu wanita baik meskipun bekerja di klub malam. Nyatanya sama saja dengan ja lang yang menjual diri demi uang! Dasar wanita murahan!"


Anna semakin bergetar mendengar barisan kalimat yang menghinanya itu. Mario yang seketika murka, kembali memukuli pria tersebut dengan membabi buta layaknya orang kesetanan. "Sepertinya pukulanku semalam tak memberimu pelajaran! Seharusnya aku membunuhmu saja!"


Hilang sudah kesabaran dalam diri Mario. Bukan hanya sederet kalimat penghinaan yang keluar dari mulut pria tersebut yang membuat emosinya berkobar. Akan tetapi, tindakannya yang tidak manusiawi kembali mengingatkan Mario akan dunia perdagangan manusia yang dia alami. Saat di mana adiknya mengalami penghinaan serupa akibat ulah mulut-mulut kotor yang tidak tahu kenyataannya dan berniat menjual mereka.


Mario semakin menggila dalam menghajar pria tersebut hingga dia sudah tergeletak tak berdaya, sedangkan sang klien yang baru saja keluar ruangan menyaksikan semua itu hanya bisa membelalakkan mata melihat adegan di depannya. "Tuan Mario, Aghus."


"Kau mengenalnya?" tanya Mario dengan sorot tajam seakan bersiap membunuh siapa saja saat itu juga.


"Di–dia orang yang menciptakan gamenya," jawab pria itu dengan terbata.


Dia berbalik, tetapi tak lagi menemukan Anna di sana. "Anna! Anna!" teriak Mario kebingungan mencari sekretarisnya yang tidak lagi dalam jangkauan matanya. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada Anna. Akan aku pastikan kau menyesal sudah terlahir di dunia?" Mario kembali menendang tubuh pria yang sudah terkapar tak berdaya tersebut, sebelum beranjak pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari Anna.


Mario bukannya tidak tahu Anna mungkin berniat mendekatinya. Padahal sangat jelas wanita tersebut datang bersama Jessi di saat hamil, yang pastinya sudah memiliki rencana tersendiri atas setiap tindakannya.


Lagi pula, Nyonyanya itu tidak mungkin berniat jahat dengan menghadirkan Anna di sampingnya. Mario mungkin hanya diam melihat bagaimana Anna akan merayunya. Nyatanya wanita tersebut bukanlah perempuan rendahan yang melakukan berbagai cara demi meraih tujuannya. Bukan pula sosok ambisius dengan sikap arogan karena langsung menempati posisi yang bisa dibilang tinggi di perusahaan.


Mario juga tahu, Anna memiliki mental yang kuat. Karena tak jarang dia sering mendengar bagaimana wanita itu mendapatkan gunjingan dari karyawan wanita lainnya yang menganggap Anna hanya memanfaatkan Jessi juga Mario. Akan tetapi, Anna menjawab semuanya dengan kerja keras dan berusaha yang terbaik dalam pekerjaannya.


Berulang kali Mario mencoba menghubungi Anna melalui ponselnya. Sayangnya wanita tersebut seperti hilang di telan bumi. Seluruh sudut restoran sudah dia telusuri, tetapi tidak kunjung menemukan sosok yang dicari. "Anna, di mana kamu?" gumam Mario seorang diri sambil mencari ke sana kemari. Rasa khawatir seketika menyeruak dalam diri pria tersebut untuk pertama kali.

__ADS_1


Akhirnya dia pun memutuskan untuk menghubungi Maurer. Sesaat kemudian, barulah sambungan itu dijawab oleh gadis di seberang telepon. "Ada apa, Kak?" tanya Maurer.


"Cari di mana Anna sekarang?" ujar Mario tanpa basa-basi pada sang adik.


Maurer di seberang bahkan bisa membayangkan dari suaranya saja jika kakaknya itu tampak begitu khawatir dengan kondisi Anna saat ini. "Apa kekasihmu baru saja melarikan diri dengan pria lain?" Maurer mecoba menggoda kakaknya yang datar dengan candaan sekenanya.


Namun, bukannya terdengar lucu. Mario malah meninggikan suaranya untuk pertama kali. "Cepat cari dia! Jangan sampai wanita itu berbuat nekat!"


"Hei! Apa yang sudah kau lakukan, hah? Apa kau berhasil menghamilinya dalam semalam? Lalu dia jadi membencimu?" tanya Maurer berspekulasi seorang diri, mengingat jika Jessi menaburkan bubuk terlarang di minuman Anna semalam, sedetik kemudian, Maurer menemukan di mana posisi Anna. "Dia ada di rumahnya."


Tanpa mengucap terima kasih atau sejenisnya, Mario langsung saja mematikan sambungan telepon dan bergegas menuju lokasi yang dikirimkan sang adik. Kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya, mengingat di mana Anna tampak syok mendengar setiap kata yang keluar dari mulut pria tak bertanggung jawab itu. Bodohnya Mario malah tidak menyadari jika Anna sudah tidak lagi di sekitarnya.


Kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi menuju alamat yang dikirimkan Maurer. Namun, pria tersebut kembali bingung di kala rumah tempat tinggal Anna ternyata layaknya penduduk biasa yang bisa dibilang lebih mirip rumah susun. "Di mana rumah Anna? Sialan, kenapa Maurer tidak memberikan alamat lengkap sih!" gerutu Mario sambil mengedarkan pandangan ke segala arah.


Dia kembali mencoba menghubungi Maurer. "Nomer berapa rumahnya?" tanya Mario tanpa basa-basi.


"Mana aku tahu," jawab Maurer di seberang sana. Akan tetapi, pandangan Mario tiba-tiba saja terhenti karena melihat sosok yang dia cari tengah berdiri di tepi sebuah rooftops bangunan itu. "Anna." Tanpa membuang waktu, Mario mematikan sambungan telepon dan bergerak menuju lantai atas dengan susah payah karena semua berupa tangga bukan lift.


Terengah-engah sudah setibanya Mario di atap karena langkah seribu bayangan dalam menaiki tangga. "Anna." Dia langsung berlari merengkuh tubuh Anna yang sudah berada di ambang kematian, hingga keduanya pun terjatuh di lantai bersamaan, dengan perasaan tak menentu. "Apa kau bodoh, hah? Kenapa mencoba bunuh diri hanya karena kata-kata si Brengsek itu?" teriak Mario pada Anna yang kini menindih tubuhnya dengan kesal mengingat Anna yang tidak berpikir panjang.


To Be Continue..


Warning!!


Cerita ini akan berakhir 22 Episode lagi, tepat di akhir bulan.

__ADS_1


Nantikan lebel


TAMAT


__ADS_2