
Berita tentang kecelakaan Jerry Morning mulai kembali menghebohkan publik. Pria tersebut dinyatakan meninggal karena sebuah kecelakaan maut hingga menyebabkan mobilnya terjun bebas ke jurang sebelum akhirnya meledak dan menewaskannya.
Banyak publik menganggap hal itu sebagai karma. Akan tetapi, ada juga masyarakat yang menyayangkan jika Tuhan terlalu ringan memberi hukuman bagi orang kejam sepertinya. Para rakyat bahkan berharap agar dia disiksa dengan setimpal di neraka nantinya. Tidak ada doa baik untuk Jerry Morning, semua mulut seperti menyumpah serapah pria tersebut tak ada henti karena kesal menganggap atas perbuatannya mempermainkan nyawa manusia.
Bukan hanya itu saja, mereka bahkan berbondong-bodong mendatangi kediaman Jerry Morning dan membakar tempat tersebut. Tidak ada satu pun orang berkabung atas kematiannya, aksi pembakaran kediamannya pun dianggap sebagai ancaman pada pemerintah agar membasmi semua tikus negara sepertinya sampai tuntas, hingga kejadian semacam ini tidak akan terulang lagi.
Hal ini tentu saja bukanlah berita sungguhan. Semuanya hanyalah kabar yang diciptakan oleh Nicholas agar pihak pemerintah dan kepolisian tidak lagi mencarinya karena pria itu tak akan bebas dari tempatnya sampai kapan pun. Akan tetapi tak menyangka rakyat sungguh berpesta pora mendengar kematiannya.
"Sweety, kau harus sabar dan tenang! Dengarkan apa yang akan aku katakan!" Nich menatap istrinya dengan lembut, sambil menggenggam tangannya.
Setelah kembali dari markas Virgoun terakhir kali, dia memang kembali memerintahkan beberapa Terminator dan anak buah Jessi lainnya agar menyelidiki markas Virgoun serta kediaman Jerry Morning untuk waktu yang cukup lama, bahkan sejak istrinya belum sadarkan diri.
Hasilnya bukan hanya kondisi Dion tadi yang membuat siapa pun bergidik ngeri jika mengalaminya, tetapi juga informasi lain tak kalah kejamnya. Mereka sungguh cerdas bisa menyembunyikan hal semacam ini untuk waktu cukup lama.
"Kami menemukan keluargamu." Jessi langsung membelalakkan mata menatap tak percaya ke arah suaminya. "Tapi, mereka hanya tinggal tulang belulang dan aku sudah memastikannya."
Buliran bening semakin banyak berkumpul di pelupuk mata Jessi sambil terus menatap lekat wajah suaminya. Beruntungnya dia memiliki Nicholas di saat seperti ini.
"Be–benarkah kau sudah menemukan keluargaku?" Bergetar sudah tubuh Jessi mengatakan hal itu, tetapi dengan segera Nich memeluk tubuh istrinya dan mengelus punggung itu secara perlahan.
__ADS_1
"Tenanglah, Sayang! Kau harus ingat kondisimu belum pulih betul." Wanita itu hanya mengangguk di dada bidang suaminya. "Mereka sudah mengautopsi kerangkanya."
"Tunggu sebentar!" Sejenak Jessi menghirup napas dalam, lalu mengembuskannya, menyiapkan hati sebelum mendengar lebih jauh penjelasan suaminya. Entah mengapa sepertinya cara kejam digunakan Jerry untuk membunuh keluarganya, mungkin lebih kejam daripada sebuah pembantaian. "Jelaskan!"
Nich menyerahkan berkas hasil autopsi yang didapatnya kepada Jessi. Bukan hal mudah untuk mengidentifikasi kerangka manusia jika dibandingkan dengan mayat, tetapi mereka berhasil mendapatkan kemungkinan terbesar penyebab kematian keluarga Alexander beserta anak buah Samantha.
Tangan Jessi bergetar membaca setiap kata yang tertulis di dokumen itu, buliran bening tak lagi mampu dibendung dan langsung mengalir deras di pipinya. Hatinya terasa remuk redam dan sakit membayangkan kematian keluarganya yang tak pernah bisa dibayangkan sebelumnya.
Mereka mati secara perlahan dalam kondisi masih hidup karena kehabisan oksigen, tubuhnya tak lagi mampu bergerak disebabkan racun pelumpuh saraf. Keluarganya tidak bisa melawan, apalagi menyerang dan hanya dapat menikmati kematian menjemputnya.
"Di mana kau menemukan kerangkanya?" Bergetar sudah diri Jessi membayangkan semua itu, Nich langsung mendekap erat tubuh sang istri yang terlihat begitu terpukul menerima semua ini. Kertas di tangannya diremas sampai tak lagi berbentuk. Belati tajam seakan menghujam hatinya berulang kali tanpa ampun. Rasa sesak menyeruak membuat pasokan oksigen seperti menipis di paru-parunya.
Hingga akhirnya air mata Jessi tumpah ruah sambil membalas pelukan suaminya. Isakan tangi tak mampu lagi dia tahan, rasa sesak di dada seakan menghantamnya begitu saja. "Mereka sungguh kejam, Nich."
"Aku tahu, Sayang. Aku sangat tahu, kau harus sabar tenang!" Nich berusaha untuk menenangkan Jessi yang masih syok terlebih dahulu sebelum bercerita lebih jauh. Bukan hal mudah menerima semua kenyataan ini, dia tahu Jessi sangat terluka mengetahui fakta tentang keluarganya, tetapi pria itu tetap harus memberi tahu istrinya kondisi sebenarnya.
Lima kerangka tubuh ditemukan di bawah patung Marcopolo, mereka adalah sepasang suami istri David Alexander dan Samantha, Hansam–suami Nenek Amber, serta dua orang lagi diketahui keluarga dari wanita tua penjaga berkas rahasia.
Mereka di kubur hidup-hidup di antara bangunan patung yang didirikan pada masa itu. Dijadikan pijakan kaki Marcopolo sebagai simbol kekuasaannya atas perintah Jerry Morning. Semua itu dijadikan peringatan bagi ketiga keluarga besar Belzeebub agar patuh dengan perintah Marcopolo pada masa itu.
__ADS_1
Hasilnya, mereka sungguh patuh dan menjadikannya sebagai pemimpin tertinggi para mafia, hingga dia mampu berkuasa selama beberapa dekade tanpa adanya perebutan kekuasaan.
Setelah itu pun tidak ada lagi pihak pemerintah yang berani mengusik mafia Belzeebub karena baru sedikit saja mereka melangkah, ada Jerry mengawasi tanpa diketahui dan berakhir tewas secara mengenaskan. Hal tersebur pula lah yang menjadikan Marcopolo sebagai legenda pemimpin mafia.
"Dengar, aku memberitahumu hal ini bukan untuk membuatmu terluka, tapi kita harus memakamkan mereka dengan layak." Jessi mengangguk setuju, memang tidak ada gunanya menyesali semua ini.
Jerry sudah ada di tangannya, pembalasan seperti apa yang dia inginkan bisa saja dilakukan. Namun, pria itu adalah ayah kandung kakaknya, hal yang selama ini membuat Jessi ragu jika terlalu kejam menyiksa. Baginya, ikatan antara dirinya dan Jane lebib dari apapun di dunia ini, termasuk dendam keluarganya.
Karena itulah, Jessi tidak pernah mengambil tindakan lebih dulu untuk membalas Jerry. Dia cukup tahu bagaimana menderitanya Jane selama ini bahkan mengunci hati agar tak jatuh cinta dengan lelaki disebabkan traumanya.
Memikirkan tentang apa yang Jessi miliki saat ini membuatnya mengembuskan napas kasar. "Bagaimana dengan Jane?" Wanita itu juga pasti terluka karena semua tindakan ayahnya.
Jessi sangat tahu seberapa Jane menyayanginya selama ini. Jadi, dia cukup mengerti kalau kakaknya pasti akan merasa bersalah atas semua kejadian itu.
"Dia langsung kembali ke apartemen, ada R yang menjaganya dari kejauhan."
"Bagaimana dengan Damien?" Nich hanya menggeleng, mengetahui hal ini pria itu semakin bimbang dengan apa yang dia rasakan. Amarah, dendam, cinta, dan benci seakan berkumpul menjadi satu dalam pikirannya, sehingga Damien juga mengurung diri di apartemennya.
"Bodoh!"
__ADS_1
To Be Continue...