
Lain halnya dengan Nicholas, Jessi yang berada di kediaman bersama Jayden bersiap menemani Nenek Amber untuk cek kesehatan. Lalu Jonathan? Tentu saja dia bawa oleh Laura.
Tinggal di rumah seorang diri bersama Michael membuat mereka juga merasakan sepi. Jadi, sesekali mengajak salah satu bayi pulang ke rumahnya. Lagi pula dengan begitu, Jessi juga tidak akan kerepotan nantinya ketika ada urusan yang tak bisa ditunda seperti sekarang.
"Nenek, sudah siap?" tanya Jessi ketika melihat Nenek Amber sudah keluar dari kamarnya.
Wanita tua itu mengangguk, dengan lembut Jessi memegang lengan tuanya untuk bergerak menuju garasi, sedangkan Jayden berada di gendongan Maurer yang kini malah merangkap menjadi pengasuh bayi. Karena pekerjaan dalam membantu Mario sudah diambil alih oleh Anna, jadi Maurer hanya tinggal menemani ke mana Jessi pergi.
Tidak ada pelayan khusus untuk bayi triplets, sebab tanpa hal itu anak buah Jessi sudah berebut dalam mengasuh setiap bayi. Mereka bergantian menimang di waktu senggang dan menganggap ketiga anak Jessi sebagai sesuatu yang berharga, serta melimpahkan kasih sayang yang sama halnya dengan keluarga. Sementara itu, Jane, dan Damien kembali ke Negara X karena Jane masih harus menjalani beberapa kali terapi lagi.
Ketiga wanita beda usia itu lantas bergerak menuju rumah sakit. Mengingat usia Nenek Amber yang bisa dibilang lanjut usia, Jessi hanya bisa memastikan jika di usia senja sang nenek tidak mengalami suatu masalah kesehatan yang buruk.
"Maurer, bagaimana kondisi Dion, dan Ibunya?" tanya Jessi pada Maurer yang kini tengah mengemudikan mobil.
"Baik, Nona. Jackson bilang semuanya berangsur membaik setelah mereka meninggalkan kota ini."
Jessi hanya bisa menganggukkan kepalanya. Bukan hanya Jane yang memilih pergi pindah ke Negara lain. Akan tetapi, Jackson pun melakukan hal yang sama. Bukan berarti mereka tidak setia pada Jessi. Hanya saja kondisi kesehatan keluarga Jackson memang terlalu trauma akan hiruk pikuk suasana kota, sehingga dia pun meminta izin untuk tinggal di pedesaan yang masih asri sesuai saran pihak psikolog.
Jessi pun tidak keberatan akan hal itu. Jadilah dia memberikan tempat tinggal Jane terdahulu untuk Jackson dan keluarganya yang kini dalam masa pemulihan pasca trauma. Jessi juga membangun sebuah peternakan sapi yang cukup besar, dengan dikelola oleh keluarga Jackson juga warga desa lainnya. Mengingat sumber pekerjaan utama mereka dulu dari juragan Broto sudah berubah menjadi abu.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Jessi tulus. Dia memang tidak memaksa anak buahnya untuk tinggal bersama. Baginya mengetahui mereka baik-baik saja sudah lebih dari cukup. "Apa kau juga ingin berkeluarga?"
"Belum, Nyonya. Saya masih senang sendiri," ucap Maurer tegas karena memang dia masih ingin hidup bebas.
"Bagaimana kondisi Ayahmu? Apa kau ingin kembali ke Negara K?"
"Ayah kondisinya baik, bahkan mungkin akan menikah lagi dalam waktu dekat. Untuk kembali ke sana, rasanya sudah tidak berminat, Nyonya." Tampak jelas semburat kekecewaan akan tindakan sang ayah di wajah Maurer. Nyatanya setelah semua yang terjadi, pria itu tak juga jera menikah lagi. Seolah hidupnya memang tak bisa tanpa wanita di sisinya.
Jessi yang melihat hal itu hanya bisa memaklumi Maurer. Dia masih belum cukup dewasa untuk paham pikiran orang tua seperti Kim Dae Ho. Bahkan Jessi sendiri saja juga tidak tahu apa yang ada di pikirannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit. "Kalian bermainlah, aku akan masuk dulu. Hubungi aku jika terjadi sesuatu." Jessi menyerahkan Jayden untuk dibawa Maurer, sedangkan dirinya melangkah masuk menuju ruang pemeriksaan.
Maurer memilih mengajak Jayden ke taman. Beruntungnya baby satu ini tidak terlalu rewel seperti Jessica atau terlampau aktif seperti Jonathan. Jadi, Maurer bisa dengan tenang dalam mengasuhnya.
Hingga sesaat kemudian, sebuah bola tiba-tiba saja melayang ke arah Jayden. Namun, dengan sigap Maurer membalikkan tubuh dan menjadikan punggungnya sebagai tameng. "Awh," rintihnya di saat bola tersebut mengenai kepalanya.
Tak lama setelahnya, seorang bocah pria tampak berlari ke arah Maurer. "Maaf, Aunty. Rey, tidak sengaja," ucap sang bocah berseragam pasien yang tampak masih aktif tersebut.
Maurer yang tadinya hendak marah kini berjongkok untuk mensejajarkan diri dengan bocah tersebut. "Tidak apa-apa, Sayang. Jadi namamu, Rey?" tanya Maurer sambil mengusap rambut Rey pelan.
Bocah itu hanya mengangguk. "Apa ini anaknya, Aunty?"
"Eh?" Sejenak Maurer bingung ketika ditanya tentang Jayden, tetapi di saat dia ingin menjawab bocah itu tampak antusias melihat bayi terlebih dahulu.
"Wah lucunya, pipinya sangat gemuk," ucap Rey sembari menggembungkan pipi agar menyerupai Jayden. "Siapa namanya, Aunty?"
"Jayden." Maurer yang melihat antusiasme bocah tersebut lantas mengajaknya duduk di kursi yang ada di taman itu. "Kenapa, Rey sendirian?"
"Tiga bulan."
"Rey enam tahun. Kalau Rey memiliki adik pasti akan lucu seperti Jayden." Bocah itu tampak menyukai bayi dan mengharapkan adik. Namun, sesaat kemudian raut wajahnya berubah sendu. "Tapi, kalau Rey memiliki adik. Pasti Rey sudah tidak bisa melihatnya lagi."
Maurer yang mengerti kesedihan bocah itu hanya tersenyum sambil menghiburnya. "Rey, bisa menganggap Jayden sebagai adik."
"Benarkah, apa Jayden tidak memiliki abang?" Bocah tersebut tampak semakin bersemangat dan merekahkan senyum indah di wajahnya yang tampak sedikit pucat. "Kalau Rey boleh menganggap Jayden sebagai adik. Apa Rey juga boleh menganggap Aunty sebagai Mama?"
"Eh." Maurer hanya bisa tercengang dengan pertanyaan bocah kecil itu. Bukankah tadinya dia hanya ingin memiliki adik. Kenapa sekarang merambat jadi ingin ibu pula. Namun, melihat binar mata bocah kecil yang tampak tulus itu mengingatkannya akan dirinya sendiri. Apa Rey juga tidak memiliki ibu seperti dia sejak kecil? Pikir Maurer.
Sesaat kemudian. "Rey!" Suara bariton seorang pria di kejauhan bersama salah satu perawat cantik tampak melangkah mendekati mereka.
__ADS_1
Rey seketika berpindah posisi dan memeluk sebelah tangan Maurer yang kosong. Melihat ketakutan dalam diri bocah itu, Maurer hanya bisa mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa seorang bocah takut pada dua orang di depannya.
"Rey, sini kamu!" teriak pria tersebut dengan wajah garangnya yang tak ada sedikitpun keriput menandakan wajah kakunya tak pernah tersenyum. Mungkin lebih pantas disebut papan triplek daripada wajah. Ya, meskipun cukup tampan.
"Siapa Anda?" tanya Maurer yang pasang badan melihat Rey yang mendelik ketika pria itu datang.
"Seharusnya aku yang bertanya hal itu! Siapa kamu dekat-dekat dengan putraku?" Suaranya yang tinggi menambahkan kesan menyeramkan bagi seorang anak. Rey tampak gemetaran melihat pria yang mengaku sebagai ayahnya tersebut. Beruntungnya Jayden tidak rewel mendengar suaranya dan tetap anteng di tangan Maurer.
"Apa buktinya kalau dia putramu? Bisa saja Anda hanya mengaku dan berniat menculiknya 'kan. Lihat saja bagaimana dia gemetaran melihat Anda!"
"Nyonya, Anda jangan ikut campur! Mereka memang ayah dan anak," ucap sang perawat yang seharusnya menemani Rey.
"Kenapa aku harus percaya padamu? Bisa saja kalian bekerja sama 'kan? Cih, modus penculikan sekarang sangat banyak." Maurer mencebikkan bibirnya dan melah mendekap Rey semakin erat.
"Rey, sini! Jangan buat Papa marah!" Sorot tajam pria itu bukannya membuat Rey menurut, tetapi malah semakin takut.
"Cih, ngakunya Papa tapi cara memperlakukan anak dengan baik saja tidak bisa. Menyedihkan," sinis Maurer menyindir pria tersebut.
"Rey, sini, Sayang. Kita kembali ke kamar ya!" ucap perawat yang mengasuh Rey dengan lembut seolah sudah biasa melakukan hal itu.
Akan tetapi, tetap saja Rey hanya menggeleng dan tidak mau ikut dengan mereka. Seorang anak memiliki perasaan yang peka juga lembut terhadap orang-orang di sekitarnya. Dia tahu mana manusia yang tulus atau malah modus hanya untuk mendekati Papanya yang berstatus duda.
"Rey, jangan membuat Papa marah!" Pria itu hampir saja menarik Rey dengan paksa dan kasar. Sayangnya secepat kilat Maurer menendang betisnya, hingga pria tersebut tampak berjingkat kesakitan. Perlakuan pria di depannya dengan Rey, sungguh tidak patut dicontoh sebagai seorang ayah. Bahkan perawat yang seharusnya bisa membujuk bocah itu juga tidak dapat merayunya sama sekali.
Mungkin dia hanya bisa merayu papanya, pikir Maurer.
"Hentikan dan jangan kasar pada anak kecil, Tuan! Mereka juga memiliki hak untuk bersuara apakah bersedia mengikuti Anda atau tidak!" Maurer lantas kembali berjongkok merendahkan diri di depan Rey dan mengusap lembut pipi bocah itu. "Rey, apa Rey sedang sakit? Sekarang waktu bermainnya sudah habis. Ayo kita kembali ke kamar perawatan!" Maurer mencoba membujuk Rey dengan lembut.
Sayangnya bocah itu hanya menggeleng. "Rey, tidak mau kembali ke dalam sana sendirian. Tidak ada Mama apalagi adik bayi." Untuk sejenak bocah itu terdiam, hingga sesaat kemudian, dia malah memukul-mukul kepalanya sambil terisak memilukan. "Semua gara-gara Rey, kalau saja Mama tidak melahirkan Rey. Pasti Mama masih ada di sini pasti Mama—"
__ADS_1
To Be Continue...