
Kembalinya Mario dan Maurer ke dalam tim Jessi berbeda dengan Jackson terdahulu. Jika pria itu disambut pesta makan malam, tetapi kali ini berbeda. Dua bersaudara tersebut mengawali hari dengan aksi yang akan dilakukan malam nanti.
Jessy dan lainnya kini tengah berkumpul di ruang kantor CEO yang berada di gedung tertinggi Light Holding. Mereka mulai merencanakan aksi yang akan dilakukan nanti malam agar berjalan sesuai keinginan.
Jackson memasuki ruangan dengan membawa sebuah koper di tangannya. Dia lantas meletakkan barang tersebut di atas meja di hadapan Jessi.
"Nona."
"Kau sudah menyiapkan semuanya?"
"Sudah, Nona." Jackson lantas membuka koper yang dibawanya, memperlihatkan isi dari benda kotak tersebut. Sejumlah uang tunai dengan jumlah fantastis terlihat berjajar rapi di dalamnya, hingga mampu membuat siapa pun berkeinginan untuk memilikinya.
Jessi hanya memanggut-manggut sambil memikirkan bagaimana kiranya agar koper berisikan uang ini bisa sekaligus digunakan untuk mengawasi aksi para musuh tanpa menimbulkan rasa curiga.
Dia lantas menatap ke arah Maurer. "Maurer kau punya solusi agar kita bisa mengawasi mereka dengan barang ini?"
Sejenak Maurer menatap ke arah koper itu berulang kali dia membolak-balikkan benda tersebut hingga sesuatu mulai terpikir dalam benaknya. "Kita bisa menyelipkan kamera kecil di tempat kunci ini, Nona." Dia menunjukkan sebuah tempat kunci koper yang memiliki ukuran kecil dan bisa dibongkar.
"Benarkah?" Jessi bertanya dengan antusias sedangkan Maurer hanya menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kerjakan!"
"Baik, Nona." Dengan dibantu oleh kakaknya, Maurer mulai mengerjakan apa yang diperintahkan Jessi, sedangkan anak buah yang lain menunggu giliran untuk melaksanakan tugas masing-masing.
"George, kau sudah menyiapkan beberapa orang di rumah sakit itu?"
"Sudah, Nona. Pasien sepertinya dijaga ketat oleh para tenaga medis di rumah sakit tersebut, sehingga kita tidak bisa mengunjungi tanpa persetujuan keluarganya."
"Sejak awal mereka memang sudah bekerjasama." Sejenak Jessi memejamkan mata memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi nantinya. "Bagaimana dengan bus yang dia tumpangi?"
"Bus yang ditumpangi dari rumah sakit terlihat mencurigakan, Nona."
"Apa yang membuatmu curiga?" George lantas mengerahkan tablet berisikan sebuah video rekaman CCTV yang berada di sebuah jalan.
Bus melaju di jalur itu dengan kondisi penumpang penuh, tetapi tidak ada satu pun orang turun di tiap-tiap halte yang dilaluinya. Jessi mengamati lebih jauh lagi sisi-sisi luar kendaraan tersebut.
Cukup lama Jessi mengernyitkan dahinya. "Bus ini bahkan tidak menggunakan plat nomor."
"Kebanyakan penumpang hanya akan melihat nomor yang menunjukkan arah tujuan bus. Jadi, mereka tidak akan mengamati plat nomor." Jessi membenarkan spekulasi George dengan menjentikkan jarinya. "Ditambah suasana malam dan posisinya yang berada di bawah lebih tidak diperhatikan."
"Kalau begitu, kemungkinan penumpang lain di sana adalah anak buah para mafia dan bukan penumpang asli dari bus tersebut."
__ADS_1
"Bisa jadi, Nona."
Tangan Jessi mulai memijit pelipisnya yang pening. Entahlah, memikirkan banyak hal membuatnya cukup lelah akhir-akhir ini. "Maurer, apa kita punya kaca mata pengintai?" Dia menatap kembali anak buahnya yang masih sibuk membongkar kunci koper itu.
"Saya ada, Nona. Tapi, di kamar." Maurer menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaan karena hal tersebut bisa mempengaruhi fokusnya terhadap benda kecil yang kini tengah dikerjakan.
"George, hubungi Olivia! Suruh bawa barang itu kemari!"
"Baik, Nona."
Sepanjang siang mereka fokus mematangkan rencana sambil mengurus pekerjaan kantor yang tertunda. Cukup banyak proyek game baru terus mengajukan kerja sama karena dunia e-sport mulai berkembang di negara ini.
Sebagai salah satu perusahaan games terbesar di Negara N, membuat Light Holdings mampu menguasai pasar internasional. Meskipun, masih tergolong baru, tetapi performa yang ditunjukkan mampu menyaingi industri lama di negara tetangga.
Petang telah tiba, sang target juga sudah berada di depan mata. Jessi menatapnya dari bawah, hingga atas. Tidak ada jejak ketakutan di wajahnya.
"Apa yang membuatmu begitu yakin dan tidak gugup seperti sebelumnya?" tanya Jessi.
"Ibu." Hanya itu kalimat yang ia ucapkan dengan binar kebahagiaan. Meskipun, belum tahu bagaimana nasibnya nanti, tetapi pria tersebut meyakini, Jessi akan menepati janji untuk ibunya.
Sementara itu, Jessi merasa cukup tersentuh dengan jawaban anak buahnya. Selama ini hidup bersama Nenek Amber, apabila berada di situasi yang sama, pastilah dia akan menyelamatkan neneknya apa pun kondisinya.
Pria itu mengangguk. "Saya hanya berharap Ibu bisa diselamatkan."
"Gunakan ini! Ganti milikmu!" Jessi menyerahkan sebuah kaca mata pengintai sebagai pengganti milik pria tersebut.
Dia menerimanya dan meletakkan kaca matanya sendiri di sakunya.
"Bagaimana, Maurer?" Jessi menoleh ke arah Maurer yang mengamati laptop di depannya. Wanita itu hanya melingkarkan jari telunjuk dan jempolnya sebagai tanda bahwa alat tersebut berfungsi dengan baik. "Gunakan itu! Kami akan mengawasi dari jauh dan untuk ibumu, aku sendiri yang akan mengeluarkannya dari rumah sakit itu."
"Terima kasih, Nona."
Mereka lantas bergerak bersama beberapa mobil yang mengikutinya, sedangkan sang karyawan mulai menunggu bus melintas menuju rumah sakit seperti biasa.
Di dalam mobil Jessi mulai memberikan instruksi. "Olivia dan George, awasi karyawan itu nantinya! Aku dan Jackson akan mengeluarkan ibunya."
Mereka mengangguk paham. "Baik, Nona."
"Ingat kalian hanya memastikan keselamatannya dan jangan memicu keributan lebih dulu! Kita masih butuh banyak informasi dari mereka." Jessi menunjuk jarinya sebagai tanda peringatan dan mereka paham akan hal itu.
__ADS_1
"Maurer, matikan CCTV rumah sakit setelah kepergiannya, hingga satu jam ke depan."
"Iya, Nona."
Tak lama kemudian, sang karyawan sudah tiba di rumah sakit seperti malam-malam sebelumnya. Sementara Jessi dan anak buahnya menanti di dalam mobil untuk mengamati.
Maurer mulai meretas CCTV rumah sakit tersebut. Terlihat targetnya di sapa oleh seorang perawat ketika tiba di sana. Tak lama kemudian, pria itu melangkah pergi, sedangkan sang wanita perawat mulai menghubungi seseorang.
"Benar dugaanku, mereka memang iblis!" Sorot mata Jessi tajam lantas mengepalkan tangan dengan kuat, hingga membuat buku-bukunya memutih.
Dia paling membenci orang yang memanfaatkan masyarakat miskin hanya untuk kepentingan pribadi. Meskipun, belum diketahui siapa orang yang bertanggung jawab di pemerintahan.
Sesaat setelahnya, di lain kamera terlihat karyawan tersebut mulai memasuki ruang perawatan ibunya dengan perawat yang terus menerus mengikuti sambil memainkan ponsel di tangannya.
Jika orang lain yang melihat mungkin mereka hanya akan mengira wanita itu memainkan ponsel seperti anak muda pada umumnya. Namun, tidak bagi Jessi, wanita itu jelas sedang melaporkan yang terjadi kepada orang lain di lain tempat.
"Ini jelas bukan rumah sakit. Tapi, sarana mereka mencari target. Kita bergerak! Maurer, tunggu di mobil!" Wanita itu mengangguk.
George dan Olivia mulai berpindah kendaraan lain, sedangkan Jessi dan Jackson mulai melangkah menyusuri area rumah sakit.
"Dia sudah keluar, Nona." Terdengar suara Maurer dari earpiece yang dikenakan, melaporkan bahwa sang karyawan sudah bergerak meninggal ruang perawatan ibunya.
"Ayo cepat!" Jessi dan Jackson melangkah lebih cepat menuju ruangan tersebut dengan membawa sebuah kursi roda.
Setibanya di sana Jessi terlebih dahulu mengamati alat-alat medis yang terpasang di tubuh wanita tersebut. Dia terlihat heran hingga memicingkan mata menatap pasien di depannya.
"Jika dia sekarat, kenapa hanya ada selang infus?" Jessi dan Jackson saling berpandangan bahkan tidak ada selang oksigen, elektrokardiografi, dan alat medis lain melekat di tubuh wanita itu.
Awalnya mereka mengira akan sangat merepotkan membawa beberapa alat medis yang terpasang di tubuh wanita tersebut. Namun, kenyataan berbeda dari yang mereka bayangkan.
Jackson melangkah mendekat, melepaskan sebuah alat medis di jari wanita tersebut. Bukan sinyal dari monitor di sebelah pasien yang berbunyi, tetapi malah suara alarm keras memenuhi ruangan tersebut.
Sementara itu, pasien tidak mengalami perubahan dan tetap terlelap. "Jackson, cepat bawa dia pergi!"
Dengan segera Jackson mengangkat wanita tersebut tanpa menggunakan kursi roda. Jessi berada di depan untuk melancarkan setiap jalan yang mereka lalui.
Namun, ketika tiba di suatu lorong, terdengar suara teriakan seorang wanita yang diketahui adalah perawat sebelumnya menghentikan langkah mereka. "Apa yang kalian lakukan?!"
To Be Continue....
__ADS_1