Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Rencana Barron dan Kate


__ADS_3

Sore harinya, Kate baru kembali dari acara bersama teman-teman sosialitanya. Dia mulai memasuki area rumah, para pelayan yang menyambutnya terlihat gugup.


Kate berjalan melewati para pelayan yang membungkuk menyambutnya.


"Di mana pelayan baru?" Langkah kaki jenjangnya terhenti di kala dia tidak melihat pelayan yang baru dia bawa pagi tadi.


Para pelayan saling melirik karena takut menjadi korban pelampiasan amarahnya.


"Di mana suamiku?"


"A—ada di ruang kerja, Nyonya"


Kate dengan cepat melangkahkan kaki menuju ruang kerja suaminya. Pintu dibuka dengan cukup keras, terlihat seorang wanita yang dia cari sudah dalam keadaan yang berantakan.


"Apa yang kalian lakukan, hah?!" teriak Kate. Kemarahan terlihat jelas di wajah wanita itu, pembuluh darah di lehernya tampak begitu tegang.


Bukan marah kepada suaminya, dia malah mendekat ke arah pelayan dan menamparnya. "Kau perempuan j*lang! Aku membawamu kemari untuk bekerja, bukan untuk menggoda suamiku!"


Kate menyeret pelayan keluar ruangan dengan menarik rambut hitam panjang bergelombang. Wanita itu kesakitan, dia menangis meronta-ronta. Kulit di kepala terasa sudah ingin lepas dari tempatnya.


"Nyonya, saya mohon lepaskan! Bukan saya yang menggoda tuan!"


Kate melepaskan wanita itu ketika tiba di ruang tamu. Banyak pelayan menyaksikan kejadian mengerikan di depan mata mereka. Bukan salah pelayan jika dia memiliki wajah yang cantik. Namun, tuannya memanglah seorang mata keranjang. Sementara nyonya selalu menyalahkan pelayan dan bukan suaminya.


"Jadi, kau bilang suamiku yang menggodamu, iya? Kau sadarlah!" Kate mendorong dahi wanita itu dengan jari telunjuknya. "Kau itu hanya pelayan kotor di sini! Jangan pernah berharap menjadi nyonya dengan merangkak di tubuh suamiku!"


"Tidak, Nyonya. Bukan seperti itu maksud saya." Wanita itu menangis tersedu-sedu memohon ampun.


Namun, Kate terus saja menghajarnya membabi buta. Dia memukul tubuh yang lemah, menambah tamparan di pipi lebam, menjambak rambut yang kusut, bahkan menendang badan wanita itu layaknya bermain sepak bola.


"Posisimu adalah di kakiku selamanya begitu. Jangan pernah berharap bisa meraih mahkota di kepala!" Kate kembali menyeret wanita itu keluar rumah dan membuangnya di jalanan. "Akan lebih baik jika kau jadi gelandangan."


Semua orang yang melihat kejadian tersebut merasa kasihan dengan rekannya. Namun, apa yang bisa mereka lakukan, semua pelayan di sini adalah sama. Hanya menjadi pelampiasan sang majikan.


Wanita itu menangis terisak-isak di luar gerbang. Ia meringis kesakitan. Kepalanya berdenyut akibat tarikan nyonya yang tidak punya hati. Dalam tangisannya ia mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Pelayan itu mengutuk perbuatan mereka yang menginjak harga dirinya. Keluarga Night seperti iblis yang memperlakukan orang rendah sepertinya dengan semena-mena.

__ADS_1


Aku bertekad akan membalas kalian dengan cara apapun!


Dari jauh tampak seorang pria yang tengah mengintai kediaman itu sejak beberapa hari ini. Dia adalah George dan anak buahnya. Melihat kejadian tak terduga di depan mata, pria itu langsung menghubungi Jessi.


"Ya."


"Nona, seorang pelayan terlihat habis disiksa keluar dari kediaman itu," ujar George.


"Bawa dia padaku!"


"Baik." Sambungan telepon terputus begitu saja. Dia kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam sakunya.


"Biarkan dia berjalan lebih jauh dulu, lalu bawa kemari!"


Wanita itu terlihat berjalan dengan tertatih-tatih, lututnya lemas, badan penuh lebam, dan mental yang terguncang membuatnya tak mampu lagi berjalan. Dia ambruk seketika pingsan di tepi jalan.


George dan anak buahnya langsung menghampiri dan membawa wanita malang tersebut masuk ke dalam mobil, menuju kediaman Light sesuai dengan perintah Jessi.


Sementara di dalam rumah mewah sebelumnya, sepasang suami istri itu bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa di rumah mereka.


"Sayang." Kate berjalan mendekati suaminya yang tengah membuka sebuah amplop.


"Apa?"


"Apa uang yang aku kirimkan tadi pagi sudah habis?"


"Cih ... jangan tanya! Itu bahkan hanya cukup untuk membeli sebuah tas." Kate berjalan ke arah suaminya dan duduk di paha dengan tangan yang dilingkarkan ke leher pria itu.


Barron mengambil ponsel di meja, lalu mentransfer sejumlah uang ke rekening istrinya. "Sudah."


Kate mencium pipi pria itu dengan girang, uang untuk berfoya-foya dengan mudahnya didapatkan tak peduli seberapa bejat kelakuan Barron. Baginya hal terpenting adalah menyingkirkan wanita milik suaminya yang dapat mengancam posisi sebagai nyonya di kediaman Night.


"Kau memang yang terbaik."


Pria itu hanya menganggukkan kepala, dia kembali membuka isi amplop yang dikirimkan melalui pelayan tadi. Setelah membaca isi dari surat tersebut dia melebarkan mata, raut wajahnya berubah menjadi merah.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Kate.


Barron menyerahkan kertas agar dibaca sendiri oleh istrinya.


"Jackson? Dia membuka jasa keamanan?" Kate dibuat seolah tak percaya dengan undangan itu. "Bukankah dia telah meninggalkan wanita sundal itu dan hidup sebagai gelandangan?"


Suaminya menggeleng. "Cukup lama kita tidak memantaunya setelah meninggalkan Alice. Kita hanya berfokus pada wanita itu dan anaknya saja."


"Apa rencanamu kali ini?"


"Johny bilang pengiriman di pelabuhan gagal. Besar kemungkinan jika ini adalah ulahnya karena Angelina berada di sana."


"Bukankah kau sudah menutup semua akses informasi agar Jackson tidak tahu kabar Alice, membuat wanita itu meninggalkan pria miskinnya dan menikah dengan Gery?"


Pria itu mengangguk. "Entah bagaimana dia bisa mengumpulkan kekuatan hingga bisa membangun perusahaan sebesar itu!"


"Kita harus menggagalkan rencananya kali ini!"


"Ya ... dia tidak boleh kembali seperti semula karena pria itu adalah putra Pannacotta."


"Apa?" Kate menatap tajam suaminya. "Dia anak detektif yang kita singkirkan itu? Bagaimana bisa dia masih hidup?"


"Dia cukup beruntung saat itu. Karena di saat keluargannya terbunuh dia sedang belajar di luar negeri dan aku baru mengetahuinya belum lama ini. Sepertinya b*jingan kecil mulai mencaritahu masa lalu."


"Kita harus segera menyingkirkannya. Jika kakak sampai tahu, bisa habis keluarga kita dibantai olehnya." Kate terlihat begitu takut ketika menyebut perihal kakaknya, dia lebih mengerikan dari pada seorang mafia.


Barron mengiyakan ucapan istrinya. Selama ini dia memang menutupi beberapa kasus ilegal untuk merangkak naik ke posisi sekarang. Semua itu juga atas instruksi dari kakak kandung Kate Morning, pria yang bahkan kekuasaan aslinya melebihi pemilik Negara N. Namun, tertutup dengan citra baik di mata masyarakat.


Pria itu mengambil ponsel dan menghubungi orang kepercayaannya. "Siapkan penembak jitu dan pembunuh yang menyamar sebagai wartawan! Besok kalian beraksi di gedung pembukaan perusahaan baru milik Jaguard Guard!"


"Siapa target kita, Tuan?" terdengar suara bariton dari seberang panggilan.


"CEO Jaguar Guard, Jackson! Ingat dan jangan sampai gagal!" Raut wajah Barron menggelap, dia tidak akan membiarkan Jackson lolos kali ini.


Barron memang memiliki kelompok pembunuh tersendiri, dia memberikan hak khusus kepada para tahanan paling berbahaya agar mau bekerja di bawahnya.

__ADS_1


Penjara sudah layaknya rumah bagi para pembunuh itu. Mereka bisa keluar masuk sesuka hati tanpa harus takut ditangkap kembali. Bahkan tempat yang mereka tinggali layaknya hotel berbintang lima di dalam penjara.


TBC.


__ADS_2