Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Jane dan Damien 3


__ADS_3

Perlahan Jane memulai mengerjapkan mata setelah merasa ringan di kepala. Wanita tersebut lantas mengambil sesuatu yang dirasa menempel di dahinya, sebuah handuk yang hampir kering membuatnya mengernyitkan dahi untuk sesaat.


 'Siapa yang mengompres aku?' batin Jane.


Wanita tersebut lantas segera bangun dari posisinya dan seketika membelalakkan mata di kala melihat seorang pria membungkuk tertidur di samping ranjangnya. 


"Apa yang kau lakukan di sini, hah?" teriak Jane sambil memukul pria tersebut berulang kali menggunakan bantal. 


"Jane, aku hanya membantu menjagamu tadi, tidak melakukan hal lainnya," ucap Pengacara John sambil menyilangkan tangan ketika Jane terus menerus menghujamnya dengan pukulan.


"Bohong! Kau pasti punya niat buruk di saat aku tak sadarkan diri 'kan?" Seakan tak puas hanya memukul dengan bantal, wanita tersebut langsung menendang tubuh Pengacara John hingga terjengkang ke belakang. 


Sementara itu, Damien di dapur yang mendengar keributan dari kamar Jane segera mematikan kompor dan berlari ke arah ruangan tersebut. "Apa yang terjadi?" 


Lagi-lagi Jane dibuat tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Wanita itu menghela napas panjang dan sejenak terpesona melihat pemandangan di depannya. Dia segera menggeleng kecil untuk menyadarkan diri serta menatap tajam ke arah Damien yang masih mengenakan celemek melekat di tubuh kekarnya dengan lengan kemeja yang digulung sepertiga tampak mempesona.


"Kenapa kalian masih di apartemen ku, hah?" teriak Jane sambil melemparkan bantal ke arah Damien di pintu. 


Dengan mudahnya Damien menangkap bantal tersebut. Bahkan sebuah irus sayur masih digenggam pria tersebut dengan percaya dirinya. Tanpa memedulikan ocehan Jane, Damien melangkah mendekat dan meletakkan kembali bantal di samping wanita tersebut. 


Perlahan tangannya kembali mengecek dahi Jane yang dirasa sudah reda demamnya. "Apa yang kau lakukan?" Wanita tersebut langsung menepis tangan Damien. 


Namun, pria itu hanya tersenyum lembut. Kali ini dia memutuskan untuk kembali mengejar cintanya dan tak peduli dengan perselisihan sebelumnya. "Panasmu sudah reda. Sekarang bersihkan tubuhmu dan ayo kita makan sama-sama!" 


Jane hanya bisa mengernyitkan dahi sambil mengerucutkan bibir melihat tingkah Damien yang terlihat sangat lembut baginya. 'Apa aku masih bermimpi?' ucap Jane dalam hati. 


"Kau keluar! Bantu aku!" Damien segera menarik John agar keluar dari kamar Jane yang membuat wanita itu semakin keheranan. 


"Sejak kapan mereka akrab?" Tanpa memedulikan tingkah kedua pria tersebut. Jane bergegas membersihkan diri. Dia masih harus menemui adiknya malam ini untuk menyerahkan kepengurusan restoran. 


Setelah beberapa saat kemudian, ketiganya duduk dengan tenang sambil memakan bubur yang dimasak oleh Damien. Berulang kali Jane melirik ke arah dua pria di sampingnya yang kini tampak biasa saja. 'Apa mereka baru saja jadian?' batin Jane. 


"Aku sudah selesai makan. Kalian berdua silakan pergi karena aku masih banyak urusan!" ujar Jane beranjak dari kursinya tanpa menunggu jawaban kedua pria tersebut. 

__ADS_1


Dia mengambil beberapa berkas di kamarnya dan memasukkan ke dalam tas, lalu mengenakan jaket tebal dan kembali melangkah keluar. Jane melihat kedua pria itu masih asyik di apartemennya seakan tempat tersebut adalah tempat mereka sendiri.


Tanpa memedulikan mereka, Jane memilih untuk melenggang pergi begitu saja ke arah pintu. 


"Kau sungguh akan pergi, Jane?" tanya Damien yang baru saja selesai mencuci bekas makanan. 


"Bukan urusan kalian!" Tanpa memerhatikan ekspresi kedua pria yang ternganga akan jawabannya, Jane keluar rumah serta menutup pintu dengan kuat hingga membuat John dan Damien terkejut akan suaranya. 


"Dia sungguh kejam," ucap John yang masih melebarkan mata melihat tingkah laku Jane saat ini. Dia bahkan bertepuk tangan kecil sambil menatap ke arah Damien yang sama bingungnya. 


Di sisi lain, Jane mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah gelapnya malam. Dia memutuskan untuk memulai hidup baru di Negara X sehingga semua urusan pekerjaan di negara N kembali diserahkan kepada pemiliknya. 


Beberapa saat kemudian, mobil mewah silver tersebut mulai memasuki pelataran kediaman mewah sang adik. Seperti biasa seorang penjaga membukakan pintu kendaraan ketika tahu keluarga sang majikan datang. "Selamat datang, Nona Jane."


"Jessi ada?" 


"Baru saja kembali bersama Tuan Nich, Nona." Wanita tersebut hanya mengangguk kecil dan segera melangkah memasuki kediaman. 


"Nyonya sedang istirahat, Nona. Nona Jessi di atas dengan Tuan Nich," jawab seorang pelayan di kediaman itu. 


"Nanti tolong panggilkan Jessi! Aku tunggu di taman belakang." 


"Baik, Nona." 


Jane lantas bergerak pergi menuju taman belakang, sedangkan sang pelayan bergerak menaiki tangga untuk melaksanakan perintahnya. 


Sejenak Jane menghirup napas dalam-dalam sambil mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Langit cerah bertabur bintang, tak ada lagi awan gelap yang menutup indahnya malam. Wanita tersebut memasukkan kedua tangan ke dalam saku sambil memejamkan mata, menikmati embusan angin yang menerpanya.


Hingga tak lama kemudian, suara tiba membuat Jane kembali membuka mata. "Kau kemari, Jane? Apa kau baik-baik saja?" 


Wanita tersebut hanya mengangguk kecil. "Ke mana kucing-kucingmu? Kenapa di sini sepi sekali?"


"Oh, mereka sedang mengungsi di tempat Gery Selay," jawab Jessi santai sambil meletakkan bokongnya di ayunan kursi kayu yang tersedia di taman tersebut. 

__ADS_1


"Gery Selay." Jane mengikuti Jessi dan duduk di samping sang adik sambil menatap ke arahnya. "Kenapa kau bisa berurusan lagi dengan pria tua itu?"


"Kembaran Rosi, putri tiri Gery yang menghancurkan pestaku."


"Rosi?" Sejenak Jane mengernyitkan dahi untuk mengingat kembali siapa yang dimaksud sang adik. "Ah, selingkuhan mantan suamimu?" 


Jessi hanya menganggukkan. "Kau ada apa malam-malam memanggilku? Apa mau memberiku hadiah pernikahan lagi?" goda Jessi dengan raut wajah yang dibuat seimut mungkin. 


"Nah, hadiah!" Jane menyerahkan beberapa tumpuk berkas yang membuat Jessi seketika melebarkan mata. 


"Apa maksudnya ini, Jane?" Jessi membuka setiap isi dari tumpukan kertas di tangannya yang hanya bisa membuat kepala wanita tersebut pusing seketika. 


"Sementara aku ingin tinggal di Negara X. Jadi, urusan restoran aku serahkan padamu." 


"Hei! Apa kau setega itu meninggalkan aku, Jane?" 


Sebuah sentilan dari tangan Jane sukses mendarat di dahi lebar Jessi hingga membuat sang adik meringis karenanya. "Kau pikir aku akan mati?" 


"Bisa saja."


"Ish. Sialan kau!" Jane melayangkan tangan di udara, tetapi tak benar-benar memukul adiknya. "Aku hanya ingin kembali hidup di pedesaan, hal itu mengingatkan aku akan kenangan Ibu."


Sejenak Jessi menghela napas panjang. Jika sudah berurusan dengan kehidupan pribadi kakaknya dia tidak memiliki hak untuk memaksanya tinggal. "Kau yakin ingin tinggal di sana?" 


Wanita tersebut hanya mengangguk kecil dengan senyum indah di wajahnya. 


"Kalau begitu biarkan Stella ikut bersamamu!" 


"Stella?" 


"Iya, setidaknya biarkan aku tenang ada yang menjagamu di sana dan pulanglah jika lelah! Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu."


To Be Continue..

__ADS_1


__ADS_2