Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Pangkuan Seorang Ibu


__ADS_3

Ketika Jessi dan Nich tengah asyik berciuman tiba-tiba saja suara menggelegar seorang wanita menghancurkan segalanya.


"Sayangku, menantuku. Apa kau baik-baik saja?" Suara Laura datang membuat Jessi secara spontan melepaskan ciumannya.


Nich langsung menatap tajam ke arah ibunya, ekspresi kesal terlihat jelas di wajah pria itu.


Laura merasa dirinya mendapatkan lirikan tajam dari seseorang. "Oops, sepertinya Mommy datang di waktu yang salah. Kalian lanjutkan lagi saja, kalau perlu ke kamar jangan di sini!"


Wanita paruh baya itu mengedipkan satu matanya kepada Jessi lantas pergi meninggalkan lokasi, sebelum anak kutubnya mengamuk.


Jessi merasa canggung dan malu karena hal itu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus, dia berulang kali menggaruk daun telinga yang tidak gatal.


Suara bariton Nich memecah suasana yang tidak menyenangkan itu. "Apa kau lapar, Sweety?"


"Tidak, aku sudah makan di tempat Jane tadi."


"Minum?"


"Terserah."


Nich meminta seorang pelayan untuk mengambilkan mereka minuman dan menyerahkan kembali kotak obat agar di simpan.


"Siapa yang menyerangmu, Sweety?"


"Entahlah, aku pikir antara Barron dan Emily."


"Barron dan Emily?" Nich menautkan kedua alis hingga menyebabkan kerutan di dahinya.


"Tapi aku belum yakin jika Barron. Kemungkinan dia akan lebih mencurigai Jackson dari pada aku. Namun, Emily ... sepertinya dia begitu terobsesi denganmu Nich." Jessi mengingat saat-saat wanita itu bergumul di dalam mobil dengan orang yang menyerangnya tadi. Jelas dahulu Emily selalu menyebut Nich dalam setiap desahannya.


Tanpa sadar raut wajah Jessi berubah, ada rasa tidak suka ketika pria miliknya diinginkan oleh wanita lain. Apa aku sedang cemburu? Wanita itu menggelengkan kepalanya, menyangkal apa yang dia rasakan.


Nich yang melihat wajah merah Jessi langsung meletakkan punggung tangan di dahi wanitanya. "Apa kau sakit, Sweety?"


Pria itu terlihat begitu cemas dengan kondisi calon istrinya. "Haruskah kita ke rumah sakit?"


"Tidak tidak! Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa tidak enak ketika menyebut Emily." Jessi menundukkan kepala, dia merasa malu mengakui hal itu.


Nich yang melihat kecemburuan di wajah Jessi langsung membawa tubuh itu ke dalam pelukannya. "Aku tidak akan macam-macam. Kau tak perlu memikirkan hal yang bukan-bukan, Sweety!"


"Aku tahu."

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan untuk membalas mereka?"


Jessi melepaskan pelukan. "Aku belum akan bertindak, firasatku mengatakan keluarga Night adalah sebuah kunci masalah."


"Maksudmu?"


"Kemarin ketika Mario menyelidiki Barron dia mengatakan jika pria itu terlibat izin pengiriman barang." Jessi menghentikan ucapannya ketika pelayan datang mengantarkan minuman. "Terima kasih."


"Lalu?"


"Barang itu di kirim dari Negara K dan itu perusahaan milik keluarganya. Dia curiga lantas kami menukar dua karton barang itu tadi. Ternyata hanya kemasannya saja yang makanan instans, isinya adalah ganja."


"Bukankah itu berarti Barron bekerja sama dengan mereka?"


Jessi mengangguk sambil menyeruput minuman. "Aku yakin mereka adalah kelompok yang sama dengan perdagangan manusia hari itu."


"Apa kalian berhasil menemukan dari kelompok mana mereka?"


Wanita itu menggelengkan kepala. "Maurer tidak dapat mengakses informasi karena dia menggunakan topeng wajah."


Nich terkejut seketika, dia melebarkan mata mendengar penuturan Jessi. "Apakah penyusup di kamarmu dan orang yang melakukan hal itu adalah sama?"


"Oh, Tuhan." Nich menyibakkan rambutnya dengan kasar. "Tak bisakah kau duduk tenang dan menjadi istriku saja, Sweety? Biarkan aku yang menghabisi mereka!"


Jessi menatap Nich dengan tatapan tajam. "Apa kau ingin mengganggu kesenanganku?"


Pria itu menggenggam kedua tangan wanita di depannya. "Bukan begitu maksudku. Aku hanya mengkhawatirkanmu, Sayang. Tidak bisakah kau melihat hal itu? Mereka adalah orang yang sangat berbahaya, bahkan tak segan-segan menggunakan racun untuk membunuh targetnya."


"Aku tahu. Kau boleh melindungiku seperti tadi, asal tidak berlebihan dan jangan mengusik kebebasanku."


"Terserah kau saja." Nich beranjak pergi dengan raut wajah kesal.


Dia berjalan ke atas meninggalkan Jessi. Pria itu membanting pintu kamarnya dengan keras, membuat semua orang yang melihat hal itu terkejut karena sikap kekanak-kanakan yang baru saja ditunjukan oleh sang tuan muda.


Para pelayan dan Laura yang asyik melihat adegan dua sejoli dari adegan romantis hingga berakhir dengan pertengkaran yang manis, membuat mereka segera menghampiri sang nyonya muda.


"Sayang, apa yang terjadi dengan bocah kutub itu?"


"Bocah kutub?" Jessi mengernyitkan dahi mendengar nama panggilan yang disematkan untuk Nich.


"Iya, bocah kutub. Dia adalah pria dingin yang tak berperasaan." Laura mencebikkan bibirnya mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Aku mendengarnya!" Suara teriakan protes dari dalam kamar Nich terdengar begitu jelas.


Laura spontan mengatupkan bibir rapat-rapat. "Sayang, bagaimana kalau kita ke taman belakang?"


"Ayo, Mom!"


Mereka berjalan menuju taman belakang, suasana asri begitu terasa di sini. Angin semilir dan suara kicauan burung ditambah warna langit yang mulai memerah menciptakan perpaduan yang begitu sempurna.


Sebuah gazebo menjadi tempat mereka meletakkan diri untuk bercengkrama.


"Apa terjadi masalah denganmu, Sayang? Kenapa kau bisa sampai terluka?" Laura terlihat begitu khawatir melihat luka di wajah Jessi.


"Bukan apa-apa, Mom. Hanya sedikit masalah." Jessi menatap lekat Laura, mengingatkan pada foto yang kini terpasang di dinding kediamannya. "Mom, bolehkan aku tidur di pangkuanmu?"


"Tentu saja boleh, kemarilah!" Laura memasang badan agar Jessi nyaman dengan posisinya.


Jessi meletakkan kepalanya di pangkuan Laura membuatnya bergumam lirih. "Inikah rasanya memiliki seorang ibu?"


Laura mengusap lembut rambut wanita di pahanya. "Aku juga ibumu, kau boleh tidur di pangkuanku, bersandar di bahuku, dan menceritakan semua kisah hidupmu padaku. Sayang, aku sungguh menyayangimu dengan tulus. Bukan hanya sekedar karena Nich!"


"Terima kasih, Mom." Jessi merasa tenang di pangkuan Laura tanpa sadar dia perlahan memejamkan matanya, menuju ke alam mimpi.


Wanita paruh baya yang masih cantik itu dengan lembut tetap mengelus rambut panjang Jessi. Dia bersungguh-sungguh menyayangi anak ini. Nich menghampiri mereka ke taman.


"Mom ....!"


"Sssttt ... jangan keras-keras, dia cukup kelelahan!" Nich mengangguk. "Bawa Jessi ke kamar, di sini terlalu dingin!"


Nich mengambil alih tubuh itu, lalu membopongnya.


"Jangan menambah beban pikirannya dengan memaksakan kehendakmu, Son!"


Pria itu mengangguk, lantas berjalan menuju ke kamar miliknya dengan hati-hati agar tidak menggangu tidur Jessi.


Setibanya di kamar, Nich merebahkan tubuh Jessi perlahan, lalu menutup selimut hingga ke atas dadanya. Ekspresinya kembali melembut melihat wajah cantik yang terlelap itu. Apakah tadi aku sudah keterlaluan?


"Maaf jika aku membebanimu, Sweety! Aku hanya terlalu khawatir." Nich menyibakkan anak rambut yang menutupi kelopak mata Jessi, dia lantas mengecup cukup lama dahi wanita itu. "Aku mencintaimu."


Nich melangkah keluar dari kamarnya, membiarkan wanita itu beristirahat sejenak dari segala masalah yang ditanggungnya. Biarlah dia merajut mimpi terlebih dahulu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2