Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Dimulai


__ADS_3

Di sebuah mobil, Brian saat itu tengah bergembira, membayangkan Jessi akan kembali kepadanya karena sang nenek yang begitu dicintai wanita tersebut sudah berada dalam genggamnya. Namun, tiba-tiba dia dikejutkan oleh laporan salah satu anak buah di kursi bagian belakang.


"Tuan, Nona Jessi berada di kediaman Tuan Besar Jerry."


"Apa?" Dengan sorot mata tajam dan geram Brian mengertakkan gigi hingga saling beradu kekuatan di dalam mulutnya. "Pria tua itu. Akan kubunuh dia jika sampai sesuatu terjadi pada Jessi. Putar balik! Kita ke kediaman Jerry!"


Dahulu Marcopolo dengan berani mencampuri urusan rumah tangganya. Sekarang, Jerry malah kembali mencoba mengusik wanita miliknya. Brian sendiri belum mengetahui alasan mereka begitu memburu mantan istrinya tersebut. Dia hanya tahu jika Jessi adalah miliknya, selamanya begitu.


Awalnya, Brian ingin membawa Nenek Amber dan Maria ke markas sebelum memanfaatkannya. Namun, mendengar nama Jessi berada di kediaman Jerry, membuat pria itu langsung mengurungkan niat dan memilih menyusul mereka, sebelum sesuatu terjadi pada wanita tercintanya.


Hanya saja hal yang tidak Brian duga adalah anak buah di bawah pimpinannya, sebenarnya sudah dikendalikan oleh Jerry. Dia ditugaskan untuk memprovokasinya agar menculik orang paling berharga bagi Jessi. Menggiring mereka ke kediaman Morning juga merupakan rencana pria itu sejak awal.


Dengan menggunakan cara seperti ini, Jerry bisa memanfaatkan Brian secara tidak langsung karena pria tersebut adalah satu-satunya orang yang tidak dipasangkan chip pengendali manusia olehnya. Sehingga, membutuhkan cara tersendiri untuk menjebaknya agar bisa dimanfaatkan.


Belum lama mereka berputar arah, beberapa mobil di belakang sudah mulai menyusul mereka. "Tuan, seseorang mengikuti kita."


Brian menatap ke belakang, itu adalah beberapa mobil yang digunakan anak buah Jessi. "Sial! Jumlah mereka banyak sekali."


"Mungkin mereka mengerahkan seluruh anak buah, Tuan." Anak buah di sampingnya mengemudi sambil sesekali menatap ke arah kaca spion.


Di sela pandangannya menatap banyaknya mobil di belakang, sesuatu yang ganjal tiba-tiba saja membuat Brian berpikir keras. "Jika semua anak buah Jessi berada di sini. Lalu, dia pergi dengan siapa?" Suara teriakan panik pria tersebut terdengar begitu keras, di dalam kendaraan.


Dibandingkan dengan anak buah musuh yang sudah menyusul di belakang. Dia lebih mengkhawatirkan Jessi yang berada di kediaman Jerry Morning seorang diri. Tanpa sadar, hanya dengan membayangkan saja sudah membuat emosinya naik seketika, pria tua itu terlalu berbahaya untuk dihadapi seorang diri.


Dalam sekejap bayangan ketika Jessi tergeletak bersimbah darah di pangkuannya terakhir kali sebelum perpisahan membuat pria itu langsung kalap. "Berikan kemudi padaku!"


"Tuan, ini sangat berbahaya." Anak buahnya mencoba untuk memperingatkan Brian di sebelahnya karena saat ini mobil tengah berada di kecepatan tinggi.

__ADS_1


Tak menghiraukan peringatan anak buah yang mengemudi, Brian tetap mengambil alih posisi. Dengan kecepatan tinggi, mereka pun bertukar kursi.


Emosi akan keselamatan Jessi membuat Brian gelap mata. Tanpa memerhatikan musuh di belakang, pria tersebut langsung saja menacap pedal gas hingga kecepatan maksimal.


Sesekali dia melihat banyaknya mobil yang mengejar mereka. "Hubungi orang-orang di markas agar segera ke kediaman pria tua itu!"


"Baik, Tuan," ujar sang anak buah.


______________


Jane sengaja membiarkan mereka lolos tanpa penyerangan yang berarti di jalan karena tujuannya adalah menyelamatkan Jessi dan Nenek Amber sekaligus. Dia yakin Brian tidak akan melakukan sesuatu yang buruk pada neneknya di dalam mobil. Akan tetapi, pasti nanti ketika sudah tiba di kediaman Jerry Morning.


"Nona, haruskan kita melakukan sesuatu?" tanya Maurer.


"Tidak, Jessi sendirian di sana. Lebih baik menepuk dua nyamuk sekaligus di tempatnya. Ikuti saja kecepatannya! Jangan sampai tertinggal!" Jane telihat begitu serius kali ini. Berbeda dengan Jessi yang malah selalu santai dan mempermainkan lawan di saat pertempuran. Tak butuh waktu lama, semua kendaraan itu mulai memasuki kediaman Jerry Morning.


Setibanya di kediaman Jerry, Brian langsung melangkah turun. Namun, tak lama kemudian diikuti oleh Jane yang langsung bertindak.


"Sial!" Pria itu mendengus kesal dan bersembunyi di balik mobil.


Dari kejauhan, Jerry Morning terkesiap melebarkan mata pertama kali melihat Jane. "Stephanie." Dengan suara lirih dia memanggil nama istrinya.


Wajah wanita muda di depannya terlihat sangat mirip dengan istrinya kala itu. Cinta yang telah lama membuatnya tersiksa kini hadir dalam bentuk permusuhan. Wanita itu, berada di kubu Jessi.


"Sepertinya bukan hanya kau yang memberiku kejutan, Tuan Jerry Morning." Suara ejekan dan senyum miring di wajah Jessi membuat Jerry seketika tersadar dari lamunannya.


"Kau mengenalnya?" Kalimatnya seakan tercekat di tenggorokan karena rasa terkejut melihat Jane dari kejauhan.

__ADS_1


Jessi hanya mengangguk. "Awalnya aku ingin membiarkanmu lebih lama karena dia. Tapi sepertinya kau sendiri yang sudah tak sabar untuk mencari masalah."


Di balik matangnya rencana yang disusun oleh Jerry, ada juga perlawanan strategi oleh Jessi, datang kemari sendirian bukan tanpa persiapan. Melainkan mencari posisi pertempuran ternyaman.


Jika dahulu keluarga Alexander dibantai di kediamannya sendiri. Maka Jessi akan melakukan hal yang sama kepada Jerry Morning. Membantai di kandangnya dan mematahkan keangkuhan pria tersebut.


Cukup lama dia menyelidiki apa yang menyebabkan kakaknya itu menolak kehadiran pria, hingga akhirnya mengetahui fakta kalau semua terjadi karena ulah ayah kandungnya sendiri.


Dia mengetahuinya setelah mendengar informasi dari suaminya. Jika Jerry Morning dan Stephanie–ibunya Jane–merupakan suami istri yang terpisah karena perbedaan kasta. Lalu, dengan bodohnya pria di sampingnya menerima fakta kalau sang istri sudah mendua, padahal semua itu hanyalah rencana keluarga Night.


"Dia cukup lama menderita karena ulahmu, bukankah sudah kukatakan sebelumnya. Kau akan menyesal melakukan semua ini." Jessi semakin memprovokasi Jerry, hingga wajah pria itu terlihat merah padam.


"Tidak mungkin, dia tidak mungkin putriku!" Jerry berteriak hingga suaranya mampu di dengar oleh Jane yang berada di kejauhan.


Tanpa disadari penyataannya semakin melukai hati Jane di seberang sana. Menolak fakta yang membuat dadanya terasa nyeri, Jerry dengan segera memerintahkan semua anak buahnya dengan lantang.


"Bunuh seluruh orang yang berada di pihak wanita ini!" Wajahnya merah padam mengatakan hal itu.


Dalam sekejap mata, seluruh pasukan mafia Virgoun di dalam kastil mulai membidik ke arah mereka.


Jessi yang terkesiap langsung mencari tempat untuk bersembunyi. Namun, tak butuh waktu lama, suara helikopter di atas bangunan itu membuat aksi mereka terhenti sejenak. Dari atas terlihat benda-benda mulai dijatuhkan.


"Menunduk!" Jessi berteriak dengan kencang ketika melihat Jackson yang berhasil keluar dengan menggendong ibunya bersama Alice.


Tak lama kemudian, granat-granat itu mendarat, meledak di tiap-tiap bangunan kastil, secara bersamaan dengan asap tebal gas air mata, hingga menyebabkan pertempuran yang baru saja dimulai terhenti seketika.


Jessi lantas meringkuk di balik sebuah dinding kecil untuk bersembunyi dari reruntuhan dan asap yang memedihkan mata. "Gunakan ini, Sweety!"

__ADS_1


"Nich!"


To Be Continue...


__ADS_2