
Di gedung tertinggi Bannerick Group, seorang pria muda dan ayahnya sedang mendiskusikan bukti-bukti yang didapatkan, ketika berada di bank penyimpanan bersama sang istri. Nicholas dan Michael saling bekerja sama menyusut jejak kejahatan Barron sampai saat ini.
"Dia sungguh mengerikan." Michael menggeleng ketika mendapat bukti terbaru dari para anak buahnya.
Dia tidak menyangka Jerry adalah pria kejam yang memanfaatkan masyarakat lemah demi kepentingan pribadi. Meskipun pria itu sudah pensiun dari masa kejayaan, tetapi untuk urusan dunia bawah nama Michael masih melambung tinggi tanpa disadari oleh kaum kelas atas.
"Benar, kenapa Daddy tidak memberantasnya sejak dulu." Nich mencebikkan bibir, menatap sang ayah seolah menuntut keadilan.
"Daddy bukannya tidak mau memberantasnya. Tapi, dia yang tak pernah menyinggung Daddy sebelumnya. Lagi pula, Daddymu ini pebisnis, bukan pejabat kepolisian."
"Alasan!" Pria tersebut terlihat mendengus ketika mendengar alasan yang terdengar sangat klasik dari ayahnya sendiri. Hingga beberapa saat kemudian, dering notifikasi di ponsel menghentikan obrolan sepasang ayah dan anak itu.
Dirogohnya ponsel di saku jas Nicholas, dan langsung membuat pria itu mengernyitkan dahi, ketika melihat pesan berwaktu yang dikirim istrinya bertuliskan.
Selamatkan aku! Jika tak kembali dalam dua jam.
Dalam sekejap mata pesan itu pun menghilang tak berbekas. Wajah Nicholas berubah seketika karena mengkhawatirkan istrinya. Apa yang terjadi pada Jessi saat ini? batinnya.
Dia pun mencoba untuk menghubungi Jessi berulang kali. Namun, hasilnya hanya ada jawaban dari operator yang menyapa dan tidak lagi ada tanda-tanda dari istrinya.
"Dad, sepertinya kita harus memajukan rencana." Raut wajah Nich berubah merah padam layaknya ayam panggang.
Seandainya sungguh terjadi sesuatu dengan istrinya. Akan dia pastikan sendiri, orang yang berani mengusik akan mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan dari apa pun.
"Pergilah! Biar Daddy yang mengurus sisanya."
Nich mengangguk, lantas melangkah keluar ruangan dengan tergesa-gesa, tangannya bergerak mencoba untuk menghubungi Professor Pineapple. Tak butuh waktu lama, sudah terdengar suara jawaban dari seberang sambungan. "Iya, Tuan Muda."
"Aktifkan pasukan! Kirimkan padaku sekarang!" Tanpa menunggu jawaban pria tersebut mematikan sambungan, melangkah dengan cepat menuju basemen parkir sambil melihat titik lokasi sang istri melalui kalung yang selalu dikenakannya. "Jerry Morning!"
Pria tersebut terlihat sangat geram, dengan napas memburu, Nich segera memasuki mobil dan mulai menancap pedal gas menuju lokasi.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam ruangan tadi Michael menghubungi istrinya setelah kepergian sang putra. Hanya dalam hitungan detik, suara nyaring Laura di seberang sudah berhasil memekakkan telinganya. "Iya, Sayang. Apa kau sudah merindukanku?"
Michael hanya tersenyum tipis mendengar istrinya yang tak pernah berubah sejak dulu, selalu saja menggemaskan. "Apa yang sedang kau lakukan, Sayang?"
"Seperti biasa, manikur agar awet muda."
"Kau tua pun aku tetap mencintaimu, Sayang. Apa kau tak ingin ikut bermain dengan putra dan menantumu?" Michael sangat paham, meskipun mereka sudah berumur, tetapi sang istri masih menyukai hal-hal seperti ini. Jadi, jika dia tidak mengabari Laura, bisa dipastikan wanita itu akan mengoceh sepanjang hari hingga lebaran tiba.
"Apa, benarkah mereka sedang bermain? Aku akan segera ke sana." Suara Laura terlihat begitu antusias mengikuti permainan ini. Bukan tanpa alasan, disebabkan kejadian terakhir kali, dia selalu meminta izin kepada suaminya untuk kembali ke dunia balap. Namun, sang suami selalu menolak permintaannya.
Namun, kembali lirih terdengar suara wanita yang mungkin adalah pelayan di tempat istrinya memanjakan diri. "Nyonya, tapi kuku Anda belum selesai dipoles."
"Tidak apa-apa, lebih baik aku kehilangan kecantikan kuku daripada kehilangan menantu tersayangku."
Di ruangan Michael hanya mendengarkan sambil membayangkan ekspresi wajah istrinya saat ini. Pasti sangat lucu jika bisa melihat secara langsung.
"Sayang, tunggu aku!" Tanpa menunggu jawaban sang suami, Laura langsung mematikan sambungan telepon begitu saja.
Di sisi lain, setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Jessi dan Jackson akhirnya tiba di kediaman Jerry Morning. Ketika turun dari mobil, mereka langsung di sambut oleh beberapa pelayan.
"Maaf, Nona. Silakan tinggalkan barang-barang Anda di sini!" Pelayan memperlihatkan sebuah kotak untuk menyimpan tas dan yang lainnya.
Mereka bahkan memeriksa setiap tubuh keduanya agar tidak membawa senjata tajam atau alat lainnya. Jessi hanya mencebik sambil tersenyum miring ketika menjalani proses tersebut.
"Cih, sepertinya tuan kalian sangat takut aku membunuhnya di rumahnya sendiri. Bukankah ini artinya keamanan di sini tidaklah bagus?" Jessi mencoba menetralkan perasaannya dengan menghina pemilik rumah, sambil masih menjalani proses pemeriksaan. Mereka mengambil semua senjata darurat yang selalu dibawanya ke mana pun. Akan tetapi, hal itu bukanlah masalah besar baginya.
Setelah dirasa semuanya aman, barulah mereka mempersilakan keduanya untuk memasuki kediaman. "Silakan lewat sini, Nona!"
Jessi pun mengikuti arah langkah sang pelayan dengan Jackson yang mengikuti dari belakang. Jika terjadi sesuatu pada mereka, bisa dipastikan keduanya hanya bisa mengandalkan kekuatan fisik.
Namun, di kejauhan sebelum memasuki kediaman Jessi sudah melihat kedua penjaga rahasia suaminya. Jadi, dia juga bisa sedikit santai karenanya, hanya perlu mengulur waktu jika memang terjadi sesuatu hingga Nicholas tiba nanti.
__ADS_1
Akan tetapi, tidak bagi Jackson, rasa risau masih menggerogoti dirinya. Belum bertemu langsung dengan istri dan ibunya membuat pandangan pria itu mulai menelisik setiap jalan yang dilalui. Mencoba mencari kemungkinan di mana mereka disekap.
Suara tepuk tangan seorang pria terdengar menyambut Jessi di taman belakang, Jerry berdiri dengan senyum mengembang di wajah tuanya. "Tak kusangka, kalian cukup memiliki nyali." Pria tersebut mengulurkan tangan, tetapi Jessi menghiraukan begitu saja dan langsung duduk di kursi yang tersedia tanpa menunggu dipersilakan dengan rasa percaya diri tinggi.
"Aku tak punya cukup waktu untuk berbasa-basi denganmu." Wanita itu langsung saja mengambil cangkir teh panas di depannya, meniup hingga menimbulkan kepulan uap hangat di udara, mejamkan mata untuk menghirup aroma sejenak. Lalu, meminumnya tanpa curiga.
Gelak tawa Jerry terdengar begitu keras diiringi tepukan tangan. Dia pun meletakkan bokong di kursi berseberangan dengan Jessi. "Tak kusangka, Nona Alexander terlihat sama seperti ibunya."
Dentingan suara bagian bawah cangkir berbenturan dengan lepeknya terdengar begitu nyaring. Tanpa meletakkan minumannya di meja Jessi menatap pria di depannya dengan kilatan tajam.
"Sepertinya mulutmu sangat pandai memprovokasi orang." Meskipun dadanya mulai bergemuruh, tetapi Jessi mencoba menganggap seakan ucapan Jerry hanyalah angin lalu, wanita itu kembali menyesap teh di cangkir perlahan.
Riuh tepuk tangan dan gelak tawa Jerry kembali menggelegar sambil menggeleng kecil menatap wanita di depannya. "Aku pikir, Nona Alexander hanyalah seorang gadis biasa. Tapi, ternyata aku salah, kau bahkan dengan santai meminum teh itu di depanku tanpa curiga."
Sejenak Jerry menghentikan kalimatnya untuk menatap Jessi. "Ngomong-ngomong kenapa kau begitu yakin aku tidak membunuhmu melalui racun di situ?" Jerry menghentikan tepuk tangannya, menyilangkan kaki, dan mengusap dagu dengan tangan kiri. Sembari melihat perubahan ekspresi wanita di depannya yang masih terlihat begitu santai di situasi seperti ini.
Jessi seakan tak peduli dengan ucapan Jerry dan masih terlihat begitu santai sambil menikmati harum teh di tangannya. Hingga beberapa saat kemudian, barulah wanita itu mulai berbicara. "Jika kau ingin membunuhku, pasti kau tidak akan melakukan sesuatu pada cangkir atau pun teh ini. Tapi ...."
Untuk sesaat, Jessi menghentikan kalimatnya menatap seorang pelayan tua di samping Jerry, sambil mengamati dari atas sampai bawah pria tersebut, dan terlihat lah sebuah benda yang membuatnya menyunggingkan senyum smirk di wajah cantik wanita tersebut.
"Pelayanmu yang akan membunuhku dengan cerutu di tangannya," ujar Jessi santai.
Akan tetapi, hal tersebut mampu membuat Jerry berubah ekspresi. Dia tidak menyangka wanita semuda ini mampu membaca rencananya dengan mudah. Tanpa sadar pria itu mulai mengagumi kecerdasan Jessi sebagai seorang perempuan. Sepertinya tidak ada salahnya jika bermain-main sejenak.
Dia mengangguk kecil, sambil mengibaskan tangan ke arah pelayan di belakangnya. Sebagai tanda agar anak buahnya mengurungkan niat yang sudah terbaca sebelum dijalankan. "Sepertinya, Nona Alexander sangat mengenalku."
"Tentu saja, kau adalah makhluk kotor yang enggan menggunakan tanganmu sendiri untuk melukai orang lain. Bagaimana bisa aku tidak mengenalmu?" Jessi meletakkan cangkir di atas meja dan ikut menyilangkan kaki sambil menautkan jemari kedua tangan. Dia menatap ke arah Jerry dengan menampakkan aura mengerikan tanpa berkedip sedetik pun.
"Aku tidak punya banyak waktu. Serahkan Alice dan ibu Jackson segera, sebelum kesabaranku habis!"
Kembali suara tawa menggelegar begitu keras, Jerry tidak menyangka jika Jessi bahkan berani mengancamnya terlebih dahulu tanpa basa-basi sebelum dia berbicara. "Aku akan melepaskan mereka berdua, asalkan kau bersedia tinggal di sini sebentar untuk menemaniku bermain!"
__ADS_1
To Be Continue...