Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Kandungan Jessi


__ADS_3

"Bagaimana dengan mereka?" Hal pertama yang membuat Jessi menahan amarah adalah ingatan di mana Brian melukainya begitu saja. 


Ditambah keberadaan orang tuanya yang masih belum diketahui, sehingga tak mungkin membiarkan mereka lolos begitu saja. 


"Mereka ada di markasmu. Kau tenang saja, anak buahku sudah menjaga mereka layaknya di neraka." Secara lembut Nich menggenggam tangan istrinya. 


"Benarkah? Siapa yang menangkap mereka?" Jessi terlihat begitu antusias ketika mendengar para musuh sudah berada dalam genggamannya. Bukan hal mudah untuk menangkap para cecunguk itu secara bersamaan.


"Tentu saja mommy." Senyum indah dan wajah bangga terlihat jelas di wajah Laura. Hadiah pertama sebagai balasan untuk menantunya adalah menangkap mereka hidup-hidup.


"Terimq kasih, Mom." Secara lembut dengan senyum yang tak pudar, Jessi memeluk ibu mertuanya.


Kasih sayang Laura memang layaknya seorang ibu kandung baginya. Wanita tersebut bahkan mau membantu masalahnya, padahal jika mereka sampai gagal keluarga Bannerick bisa saja dalam bahaya.


"Sekarang istirahatlah, besok kau bisa melihat anakmu bersama suamimu. Dia tidak ingin melihat anaknya sebelum istrinya sadar." Laura mencebik menatap Nich, hanya untuk melakukan USG saja dia tidak mau sebelum istrinya sadar.


Namun, dokter selalu memantaunya dengan rutin. Walaupun pihak keluarga tidak diizinkan untuk melihat calon cucunya sebelum Jessi siuman. Hal ini merupakan pilihan Nich, dia tidak ingin Laura dan yang lainnya berharap banyak jika memang bayi itu tidak bisa diselamatkan. Akan tetapi, beruntungnya Tuhan memberi mereka anugerah dengan menyelamatkan ibu serta bayinya.


"Apa artinya besok aku sudah bisa melihat anakku, Mom."


"Tentu saja. Sekarang beristirahat lah." Laura dan Nich merebahkan kembali tubuh Jessi dengan perlahan.


Pria itu seakan masih haru dengan situasi saat ini. Dia tidak menyangka akan melihat kembali senyum istrinya yang cantik. Tanpa berkedip Nich terus menatap lekat wajah Jessi, padahal ibunya sudah kembali ke ranjang untuk beristirahat.

__ADS_1


"Kenapa kau menatapku seperti itu, Sayang." Nich hanya menggelengkan kepala perlahan seraya terus mengembangkan senyum indah di wajah tampannya melihat pipi Jessi yang mulai merah merona.


Bulu halus di wajah pria itu membuat sang istri mengulurkan tangan untuk mengelus pipinya. "Kau semakin tampan saja, Nich."


Tangan Nich memegang lembut telapak tangan sang istri di pipinya sambil menggerakkan kepala seperti kucing yang meminta diusap. "Aku selalu tampan agar ketika kau bangun tidak mencari pria lain, Sweety."


"Cih, sebelum ada pria yang lebih kaya darimu aku tidak akan berpaling. Tenang saja."


"Kau sungguh pandai merusak suasana." Dengan kesal Nich mengerucutkan bibir. Namun, sedetik kemudian pria itu membungkukkan tubuh untuk mencium bibir istrinya yang berbaring.


Perlahan keduanya saling melepaskan rindu melalui hal itu. Rasa pahit dari mulut Jessi karena lama tidak gosok gigi tak membuat Nich melepaskan pangutannya. Semakin dalam mereka saling bertemu lidah, hingga suara dehaman dari Laura di ranjangnya membuat keduanya membuka mata.


"Jangan terlalu lama! Istrimu belum pulih betul." Laura menggeleng kecil melihat tingkah keduanya yang seakan melupakan kehadirannya di ruangan ini. Memang kadang cinta itu membuat orang buta dan mereka adalah contohnya.


Jessi dan Nich pun melepaskan belitan bibir mereka. "Kita lanjutkan kalau sudah di rumah," bisik Jessi di telinga suaminya.


Wanita tersebut lantas menoleh ke arah meja. Terlihat laptop suaminya masih terbuka, berarti dia masih berkutat dengan pekerjaannya sejak tadi. "Jangan terlalu lelah!"


Perlahan Nich kembali mencium kening Jessi dengan lembut. "Selamat malam, Sayang. Terima kasih sudah kembali."


...----------------...


Keesokan harinya, Jessi dan Nich tak sabar untuk melihat buah hati mereka di dalam perut. Setelah dipastikan bahwa kondisi Jessi benar-benar pulih, wanita itu pun mulai beraktivitas seperti biasa. Dia enggan untuk meminta bantuan orang lain ketika ke kamar mandi atau melakukan hal lainnya.

__ADS_1


Jane dan Nenek Amber pun sudah berkumpul setelah mendengar Jessi sudah siuman. Bukan Jessi pergi ke bagian kandungan untuk melihat bayinya, tetapi alat pemeriksaanlah yang dibawa ke kamarnya. Nich masih enggan membiarkan istrinya terlalu banyak bergerak. Lagi pula rumah sakit ini adalah miliknya, jadi apa saja pasti bisa dilakukan pria itu.


"Lihat, Nyonya. Ini kantung kehamilannya," ujar seorang dokter wanita yang memeriksanya. "Ketiganya sehat ya, Nyonya, Tuan."


"Tiga?" Nich dan Jessi berucap secara bersamaan, sedangkan yang lainnya hanya bisa menatao tak percaya akan anugerah yang baru saja mereka dengar ini.


"Benar, Nyonya, Tuan. Lihat!" Dokter menunjuk ke arah monitor sambil menggerakkan alat USG di atas perut Jessi. "Di sini katung kehamilannya ada tiga. Untuk sekarang ukuran janin masih sebesar buah lemon. Posisi janin empat belas minggu di dalam kandungan mulai tumbuh rambut di atas kepalanya. Tidak hanya itu, akan tumbuh pula lapisan berupa rambut halus di tubuhnya atau bisa disebut laguno."


"Apa bayiku sudah berbentuk?" Raut bahagia tergambar jelas di wajah Jessi. Tangannya bertegar ketika dia menggenggam erat suaminya.


Rasa haru sekaligus bahagia membuat semua orang di ruangan ini tersenyum akan pelangi yang hadir setelah badai. Akhirnya tiba masanya Jessi memperoleh kebahagiaannya.


"Sudah terbentuk ya, Nyonya. Bukan hanya itu saja, indera perasa si kecil bahkan juga akan mengalami perkembangan yang cukup signifikan di kehamilan empat belas minggu. Jadi, pada masa perkembangan ini, ia sudah bisa merasakan manis, pahit, atau asam dari cairan ketuban. Hal ini juga didukung dengan langit-langit mulut yang sepenuhnya akan terbentuk." Dokter menerangkan dengan sabar agar pasiennya mengerti dengan maksud ucapannya, tetapi wajah mereka tidak beralih sedikit pun dari layar monitor.


Dokter pun kembali menjelaskan dengan senyum, pasien kali ini sungguh sangat terlihat bahagia dan antusias menyambut anggota baru keluarga mereka. "Kabar baiknya lagi di masa kehamilan empat belas minggu, rangsangan pada otak si kecil juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan, mendukung otot-otot wajah si kecil untuk belajar tersenyum dan cemberut, sedangkan pada sisi organ, ginjal janin sudah mulai bisa memproduksi urin."


Tidak ada satu pun yang tidak menyimak penjelasan dokter yang terasa bagaikan mantra hipnotis di telinga mereka.


"Apa detak jantungnya sudah bisa terdengar?" Jessi mengingat kembali saat terakhir sebelum dirinya keguguran tiga tahun yang lalu. Dia bahkan belum sempat mendengar suara kehidupan bayinya, tetapi sudah terlebih dahulu dicelakai oleh Rossi.


"Tentu sudah, Nyonya. Sebentar!" Dokter kembali memutar alat di tangannya di atas perut Jessi, mencari posisi punggung bayi agar bisa mendengar detaknya.


Tak perlu waktu lama, suara detak jantung janin terdengar begitu keras dan cepat, hingga semua orang di ruangan ini merasa haru akan karunia Tuhan dalam menciptakan kehidupan baru di rahim seorang wanita.

__ADS_1


Jessi tak mampu lagi membendung buliran hangat di pelupuk matanya. Air mata seketika tumpah ke samping karena posisinya yang berbaring. Genggamannya di tangan Nicholas semakin erat seiring rasa bahagia yang menyeruak. "Anak kita, Sayang."


To Be Continue....


__ADS_2