Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Mario Pulang Kampung


__ADS_3

"Ngomong-ngomong, kenapa Mommy tadi memintaku ke butik?" tanya Jessi.


"Oh itu, Mommy mau mengajakmu fitting baju pengantin. Bukankah pernikahan kalian sebentar lagi? Meskipun semua Mommy yang mengurus, setidaknya harus memilih gaun pengantin yang kamu suka, Sayang!"


Jessi menundukkan kepalanya, dia merasa malu. "Maaf, aku selalu merepotkan, Mommy!"


"Apa yang kamu bicarakan? Mommy senang mengaturkan semua. Kamu adalah anak perempuanku. Jadi, Mommy akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian!" Laura tulus mengatakan hal itu.


Baginya Jessi memanglah anak perempuan, dan bukan hanya sekedar menantu. Dia ingin keduanya mendapatkan kenangan terbaik yang bisa mereka ingat.


"Sudahlah, urusan gaun bisa di urus nanti. Sekarang kau makan dulu, Sweety!" Nich kembali menyuapkan kaki ayam kepada Jessi juga untuk dirinya sendiri.


Dia tahu jika Jessi merasa sungkan saat ingin makan menggunakan tangan kosong. Sebab itulah Nich mengikhlaskan tangannya untuk menyuapkan kaki ayam kepada wanitanya secara langsung.


Perjuangannya mengupas bawang tidaklah sia-sia setelah melihat buliran keringat bertabur senyum di wajah cantik wanitanya. Setidaknya, Jessi kini lebih sumringah dibandingkan sebelumnya.


Setelah beberapa saat, mereka menyelesaikan acara makan malam dengan baik. Jessi meminta Nich untuk mengantarkannya pulang karena hari masih belum terlalu larut.


"Aku pulang dulu, Mom, Dad. Terima kasih untuk makan malamnya." Jessi berpamitan kepada kedua orang tua Nich.


"Mengapa kau tidak menginap saja, Sayang?" Laura merasa berat membiarkan Jessi pulang.


"Aku masih ada urusan yang harus dikerjakan, Mom. Lain kali aku akan berkunjung kembali."


"Baiklah! Berhati-hatilah! Nich, jangan ngebut!"


"Iya, Mom."


Mereka pergi meninggalkan kediaman mewah itu, menuju ke mansion Jessi. Sepanjang perjalanan wanita di sampingnya banyak menoleh ke arah luar.


"Apa yang kau pikirkan, Sweety?" tanya Nich.


"Aku hanya memikirkan keluargaku. Jika saja mereka masih ada, mungkin ibuku akan seperti Mommy Laura." Kesedihan terpancar jelas di wajah cantik wanita ini, membuat jantung Nich sedikit berdenyut nyeri melihatnya.


"Mommyku juga mommymu. Bukankah masih ada Damien sebagai kakakmu?"


"Iya, tapi kami tetap harus menjaga jarak. Paman Alex tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan, sebelum ada titik cerah dari masa lalu."


"Bersabarlah! Aku akan membantumu."


Jessi mengangguk, dia percaya jika Nich memang bisa melakukan segalanya. Dia adalah pria yang begitu bertanggung jawab.


"Nich, menurutmu siapa musuh keluargaku?" Jessi memutar posisi duduknya agar menghadap pengemudi di sebelahnya ini.


"Dilihat dari pekerjaan ayahmu. Mungkin salah satu pejabat pada masa itu." Nich tetap fokus pada jalanan, dia memang sudah sedikit menyelidiki masalah Keluarga Alexander.

__ADS_1


"Pejabat?" Jessi mengernyitkan dahinya mengatakan hal itu. Dia heran mengapa pejabat bisa begitu kejam kepada keluarganya.


"Iya, ayahmu adalah seorang Jaksa Eksekutor. Dia sudah banyak memenjarakan para pejabat yang menyimpang, bahkan mendapat julukan Dewa Keadilan."


"Bagaimana kau tahu?"


"Tentu saja aku menyelidikinya?"


"Kenapa saat aku mencoba menyelidiki tidak bisa?"


"Karena aku spesial." Nich tersenyum ke arah Jessi, wanita itu mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban pria di sampingnya.


"Kau menyebalkan! Lalu, apa lagi informasi yang kamu dapatkan?"


"Emm ... apa hadiahku jika mengatakannya?"


Nich berekspresi layaknya orang berpikir.


"Apa yang kau mau?" ujar Jessi ketus. Nich sungguh pandai memanfaatkan situasi. Pantas sukses menjadi pebisnis.


Nich nunjuk pipi, mengisyaratkan agar Jessi menciumnya. Sejenak wanita itu berpikir, lantas mendekatkan bibir ke wajah bagian samping pria itu. Namun, dalam sekejap mata Nich langsung menoleh, membuat bibir mereka bertemu.


"Kau menyebalkan!" Jessi memukul pundak Nich, pria ini sungguh pandai membuatnya malu.


"Aku hanya menempatkan di mana seharusnya bibir itu mendarat." Pria ini menampilkan senyum indah yang membuat hati wanita manapun akan mencair karenanya.


"Sudah habis. Hanya itu informasi yang aku dapatkan."


"Yak?! Kau mau bercanda padaku ya?" Jessi mendengus kesal. Berani-beraninya Nich menipunya.


"Tapi, Sweety. Aku yakin di rumah kosong itu masih ada sesuatu yang bisa jadi petunjuk kita!"


"Bagaimana kau tahu?"


"Aku merasa masih ada sesuatu di ruang kerja ayahmu. Bisa jadi suatu petunjuk, jika mereka sudah melenyapkan bukti-bukti pembantaian itu, untuk apa mereka masih memburu Paman Alex dan membunuh keluarga detektif itu?"


Perkataan Nich membuat Jessi berpikir sejenak. Mungkin benar tebakan pria di sampingnya, tetapi ada hal yang juga harus di prioritaskan saat ini. Keluarga Night.


"Kita bisa mencarinya perlahan. Aku ingin segera membasmi Keluarga Night terlebih dahulu," ujar Jessi.


"Aku akan mendukung apa pun keputusanmu!"


Setelah memakan perjalanan cukup lama, mereka tiba di sebuah mansion yang luas. Terlihat Mario sudah menunggu mereka di sana. Jessi turun dari mobil bersama Nich, tanpa membuang waktu pria itu langsung menghampirinya.


"Ada apa kau kemari?"

__ADS_1


"Nona, bolehkah saya kembali ke Negara K?" Raut kecemasan terlihat jelas di wajah pria itu.


"Apa terjadi sesuatu?"


"Saya rasa ayah sedang dalam keadaan sulit."


"Apa kau perlu bantuanku?"


Mario menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nona. Saya sendiri belum yakin dengan kondisi di sana!"


"Kau pergi bersama Maurer? Kapan?"


"Saya akan pergi sendiri, Nona. Izinkan saya menitipkan Maurer di sini terlebih dahulu. Penerbangannya malam ini."


"Kalau begitu pergilah. Jika terjadi sesuatu kabari aku!" Jessi memberikan izin kepada Mario untuk kembali ke Negara K.


Dia merasa khawatir sebenarnya membiarkan anak buahnya pergi sendiri, mengingat bagaimana dia menemukan mereka dahulu. Namun, Jessi tidak bisa mengubah keputusan yang sudah Mario ambil. Dia hanya bisa menghargai dan membiarkan pria itu menyelesaikan masalahnya.


"Terima kasih, Nona. Kalau begitu saya permisi dulu, Nona, Tuan."


"Berhati-hatilah."


Mario bergegas meninggalkan kediaman Light dengan membawa sebuah koper. Jessi hanya bisa mendoakan keselamatannya dan berharap tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Nich pun segera beranjak pergi karena malam sudah larut dan Jessi juga butuh mengistirahatkan tubuhnya. Wanita itu berjalan memasuki kediaman.


Sejenak dia berdiri di depan sebuah pigura besar berisikan sebuah foto yang dia bawa dari Kediaman Alexander kala itu. Jessi terus menatap lekat wajah-wajah yang tergambar di sana.


Sebuah simbol terlukis kecil di ujung gambar itu berhasil membuatnya menautkan alisnya. Sebuah simbol Dewi Themis tergambar di sebuah foto keluarga. Apakah ini sebuah kebetulan? Atau malah sebuah petunjuk?


Suara Maurer memecah lamunan Jessi. "Nona sudah pulang?"


Jessi mengangguk, dia berbalik menatap Maurer. "Apa kalian memiliki masalah yang mendesak, hingga Mario harus kembali ke Negara K?"


"Kami kehilangan kontak ayah. Biasanya aku bisa meretas barang elektroniknya, sehingga kami masih bisa melihat kabarnya dari jauh." Maurer menghentikan kalimatnya melihat luka di pipi Jessi. "Apa terjadi sesuatu, Nona? Mengapa Anda terluka?"


"Bukan apa-apa. Hanya kecelakaan kecil."


Jessi tak ingin membuat orang lain khawatir. Lagi pula, pria itu sudah tewas. Hanya tinggal menyingkirkan sang ulat keket yang masih berkeliaran sesuka hati.


TBC.


Hallo temen-temen sekalian.


Gimana kabar kalian hari ini?

__ADS_1


Semoga sehat selalu untuk terus membaca novel ya.


Jangan lupa habis baca tinggalkan jejak dan dukungannya.


__ADS_2