
Tanpa aba-aba Jessi langsung menendang pintu kamar sang kakak begitu saja dengan kuat. Pria itu duduk di lantai, bersandar di ranjang, dan menggenggam botol alkohol di tangannya. Hanya menatap adiknya sekilas, lalu kembali dalam lamunannya.
Untungnya aroma alkohol yang menguar tak membuat Jessi mual. Dia perlahan mendekat ke arah sang kakak dan duduk di atas ranjang di samping Damien. Benar apa kata suaminya, tidak ada siapa pun yang mengerti betapa sang kakak juga terluka karena semua ini.
"Apa kau baik-baik saja?" Jessi membuka percakapan sambil menatap wajah Damien. Dia terlihat tak terurus beberapa dengan mata sayu dan guratan pilu.
"Seperti yang kau lihat." Damien kembali menenggak alkohol dari botol secara langsung. Dadanya selalu bergemuruh, tetapi dia mencoba mengalihkan semuanya.
"Bukankah kau hanya menyiksa dirimu sendiri?"
"Apa yang kau mengerti?" Pria tersebut menoleh ke arah adiknya, dulu dia masih bayi mungil dan kini telah tumbuh dewasa tanpa Damien bisa mencurahkan kasih sayang padanya.
"Tidak ada," jawab Jessi tegas.
Damien hanya tersenyum kecil, lalu menyandarkan kepalanya di kaki sang adik yang duduk di ranjang. "Mungkin kau benar, aku hanya menyiksa diriku sendiri. Tapi, aku tak tahu harus bagaimana?" Nada lirih terdengar begitu pilu keluar dari mulut pria itu.
Jessi mengelus lebut pucuk kepala kakaknya, layaknya seorang anak. "Apa yang membuatmu bingung, Kak?"
Pria itu tidak menjawab untuk waktu yang cukup lama, hanya menikmati elusan di pucuk kepalanya oleh sang adik. Hal yang sudah lama tak dia terima semenjak kehilangan keluarganya. Dahulu, ibunya selalu melakukan ini ketika Damien kecil kesulitan tidur. Sang ibu akan bercerita tentang kehidupan sambil mengelus kepalanya hingga dirinya terlelap.
"Kau sangat mirip dengan ibu," ujar Damien sambil memejamkan matanya, membayangkan jika Jessi sungguh ibunya membuat buliran hangat seketika mengalir perlahan di sudut mata pria itu.
"Benarkah?" Jessi terus mengelus pucuk kepala sang kakak, sedangkan pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan adiknya. "Maukah kau menceritakan tentang keluarga kita?"
Damien tersenyum sambil tetap memejamkan mata. Kata-kata yang keluar dari mulut Jessi layaknya sebuah mantra, membawanya hanyut dalam bayang-bayang masa kecil. Terasa indah, begitu membahagiakan, dan kasih sayang dari orang tua melimpah ruah.
__ADS_1
"Ayah adalah sosok penegak keadilan. Di balik kesibukannya dia selalu mengajak kita bermain bersama. Ayah selalu berpesan agar aku menjagamu hingga kita dewasa." Sejenak Damien menghentikan kalimatnya. "Tapi, aku gagal."
Mereka saling terdiam untuk beberapa saat, kini Jessi mengerti kakaknya juga merasa bersalah atas apa yang terjadi. "Bagaimana dengan ibu?"
"Ibu." Rasa sesak seakan mengendap di hati Damien jika mengingat ibunya. Sosok wanita tulus yang kasihnya tak tergantikan oleh apa pun. Hingga menjadikan pria itu menutup diri untuk perempuan mana pun dan tak pernah jatuh cinta sebelum menemukan adiknya. "Ibu adalah wanita yang hebat, sepertimu."
"Apa dia menyanyangi kita?" tanya Jessi lagi.
Pria itu hanya mengangguk. "Sangat menyayangi kita."
"Apa setiap orang tua ingin anaknya bahagia?"
Damien mengangkat kepalanya dari paha sang adik dan menatap dengan sayu. "Tentu saja ayah dan ibu menginginkan kebahagiaan kita."
"Lalu, kau pikir mereka akan bahagia melihatmu seperti ini?" Jessi menangkupkan kedua tangannya di pipi sang kakak dan Damien merasakan ibunyalah yang saat ini di depannya.
Dirinya merasakan kehidupan yang kosong selama beberapa tahun ini. Akan tetapi, dia kembali merasakan cinta dari adiknya dan juga wanita lainnya.
"Apa aku pantas bersamanya?" Damien menundukkan kepalanya, tetapi Jessi segera menahan pria tersebut agar tetap menatapnya.
"Apa kau mencintainya?" Terlihat sorot keseriusan di mata Jessi, membuat Damien tidak menyangka jika adik kecilnya kini telah tumbuh dewasa begitu cepat. Mereka saling terdiam untuk beberapa saat.
Damien mengembuskan napas kasar dan langsung bersandar kembali di tepi ranjang sambil menenggak alkohol di sampingnya. "Kau tahu? Awalnya aku mendekatinya setelah tahu dia adalah putri bajingan itu."
"Lalu?"
__ADS_1
"Lalu aku mengejarnya, menjadikan Jane pelampiasan atas dendamku pada pria itu." Damien menggeleng kecil, mengingat tingkah bodohnya yang merasa semua ini hanyalah sebuah permainan semata.
Jessi tersenyum kecil mengejek kakaknya. "Sekarang kau merasa terjebak dalam permainanmu sendiri?"
Hanya anggukan yang Damien perlihatkan, sambil kembali menenggak minuman keras itu.
"Kau bodoh!" ujar Jessi.
Senyum kecut melengkung di wajah Damien. "Apa kau pernah bermimpi hal yang sama selama tiga puluh tahun?"
Wanita itu hanya menggeleng, dia memiliki Jane dan Nenek Amber yang selalu menemani setiap malamnya hingga mimpi buruk tak pernah hadir di tidurnya. "Aku tidak tahu apa yang kau alami selama ini. Tapi, aku yakin ibu dan ayah akan sangat sedih melihatmu seperti ini. Cinta dan dendam, mana yang membuat hatimu puas?"
"Aku tidak tahu." Damien menggeleng perlahan karena sejatinya dia tidak memahami dirinya sendiri. Dia kembali menatap adiknya, betapa bahagia hidupnya sekarang ketika ada orang yang mendengar keluh kesah juga kesedihannya.
"Kau tak lagi sendiri. Apa kau tahu, Kak? Bagi seorang wanita yang pernah dikecewakan, membangun kembali kepercayaan akan lebih sulit daripada mencari yang baru. Tanyakan pada hatimu, apa kau sudah ikhlas melepaskan Jane begitu saja." Jessi menepuk punggung Damien perlahan dengan senyum yang mengembang.
Tidak ada seseorang yang bisa memaksakan kehendak kepada orang lain. Mereka hanya bisa menasehati dengan perlahan, setelah itu biarkan dia berpikir sendiri apa yang terbaik baginya.
Terdengar sebuah helaan napas panjang dari Jessi sambil menatap jauh pemandangan kaca di depannya. "Seandainya kau memilih dendammu, aku hanya bisa berharap Jane segera menemukan jodoh aslinya. Mungkin kau lebih pantas hanya menjadi singgahan dengan kenangan menyakitkan." Wanita tersebut mengangguk kecil sambil mengerucutkan bibir.
Dia tidak melihat ekspresi kakaknya yang sudah membelalakkan mata mendengar kalimatnya. "Siapa kira-kira yang kini dekat dengan Jane selain dirimu, Kak?" Jessi menatap Damien dengan pongah dan tanpa rasa bersalah.
Sengaja dia melakukan hal itu agar sang kakak sadar bahwa tindakannya hanya menyakiti dirinya sendiri. Namun, pria tersebut cukup keras jika dihadapi dengan kekerasan pula dan ini adalah cara terbaik yang bisa membuatnya berpikir ulang atas masa depannya.
Jessi berdiri dari posisinya sambil kembali menghela napas kasar. "Mungkin sebaiknya aku membiasakan diri untuk memanggil kakak ipar baru. Sepertinya kau lebih suka menjadi jomlo abadi seperi Paman Alex." Wanita tersebut kembali menepuk punggung Damien dan melangkah keluar kamar itu. Dia meninggalkan sang kakak yang masih tercengang dengan setiap kalimatnya.
__ADS_1
To Be Continue...