Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Keluarga Alexander ( Part.4 )


__ADS_3

Mereka mulai memasuki area rumah itu, bau apak serta lembab menusuk indra penciuman, tebalnya debu dan kotoran menyambut kedatangan mereka.


Jessi melihat sekeliling ruangan yang mereka masuki, itu adalah ruang tamu. Terlihat masih terpampang jelas sebuah pigura foto yang besar menampakkan sebuah keluarga berisikan seorang wanita hamil, anak laki-laki yang masih kecil, dan seorang lelaki dewasa berperawakan gagah nan tampan yang terlihat mirip dengan Alex.


Di saat semua pigura sudah berjatuhan termakan usia, foto itu masih terpampang nyata merekat di dinding dengan kokohnya. Seakan menanti kedatangannya kembali ke sana.


Jessi menatap lekat wajah-wajah di sana dengan saksama, wanita itu sangat mirip dengannya. Kalung teratai miliknya masih menggantung di leher wanita itu.


"Bolehkah aku membawa foto ini pulang?"


"Tentu saja," ujar Alex.


Mereka kembali menyusuri ruangan lainnya, tidak ada kenangan yang terlintas di kepala Jessi, tetapi tidak dengan Damien. Dia merasa dadanya begitu sesak, keringat dingin bercucuran dari tubuhnya yang meremang, kilatan ingatan buruk masuk ke dalam otaknya. Trauma masa lalu kembali mendera jiwanya.


Jessi melihat perubahan dalam diri kakaknya, dia lantas mengambil tangan kekar itu, menggenggamnya dengan erat. Mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Tenanglah, Kak! Ada aku di sini, kita lewati semuanya bersama."


Damien menatap adiknya, benar yang dikatakan Jessi. Dia harus mampu melawan traumanya. Dia mengangguk dan kembali menyusuri setiap ruangan bersama adik dan kedua orang lainnya.


Mereka memasuki ruangan dengan banyak buku di dalamnya. Bisa dipastikan bahwa itu adalah ruang kerja. Nich melihat banyak patung Themis dengan berbagai ukuran.


"Apa pekerjaan Ayah Jessi sebelumnya?" tanya Nich.


"Dia adalah seorang Jaksa Eksekutor.


Hanya dari pekerjaannya Nich menebak bahwa orang yang memusnahkan Keluarga Alexander jelas berkaitan dengan hukum. Entah dia pelaku kejahatan atau rekan yang iri akan prestasi. Namun, jelas alasan pertama lebih masuk akal karena bukan hal mudah untuk menutupi suatu kasus pembantaian jika mereka hanyalah orang biasa.


Terlihat banyak buku-buku yang rusak di ruangan itu. Tiga puluh tahun yang lalu, pastilah semua hanya tertulis dalam kertas jika ingin mencari bukti. Teknologi belum lah seperti sekarang.


Mereka keluar dari ruangan itu, menaiki tangga menuju ke lantai atas. Rasanya seperti berkelana di rumah hantu karena hawa dingin yang membuat tubuh merinding.


Jessi membuka salah satu ruangan, di sana masih ada sebuah ranjang bayi yang sudah lapuk termakan usia. Dia memegang tepian box itu, mengitarinya dengan tangannya sambil memejamkan mata.


Terdengar jelas suara tangisan bayi di telinga Jessi membuatnya membuka lebar matanya. Ya dia merasakan suatu perasaan di sini. Dadanya terasa bergemuruh, netranya menghitam.


Melihat perubahan di diri Jessi Nich langsung memeluknya dari belakang. "Ayo kita pergi dari sini, sudah cukup untuk hari ini. Jangan memaksakan dirimu!"


Mereka semua lantas keluar membawa sebuah gulungan foto keluarga yang sebelumnya diminta Jessi. Mereka segera meninggalkan bangunan terbengkalai itu sebelum hari semakin siang.


Jessi memeluk Nich di atas motor, dia masih menoleh ke belakang melihat bangunan itu. "Nich, aku ingin jalan-jalan!"

__ADS_1


Nich menolehkan kepalanya. "Kemana?"


"Taman Hiburan."


Nich lantas menepikan motornya yang melaju. Diikuti oleh mobil Damien.


"Kami akan berkencan, kalian kembalilah terlebih dahulu!" ujar Nich.


"Berhati-hatilah!" Damien kembali memacu mobilnya.


"Kau ingin ke taman hiburan di mana?"


"Aku tak tahu, aku belum pernah ke sana dan tiba-tiba aku ingin ke sana."


"Tunggu sebentar!"


Nich merogoh ponselnya mencari letak di mana taman hiburan yang bagus karena dia juga tidak pernah pergi ke sana.


"Ayo." Dia kembali menyalakan motor dan melaju menuju taman hiburan.


Jessi memeluknya dari belakang dengan erat. Dia hanya butuh hiburan untuk menenangkan perasaannya saat ini. Mereka melaju dengan cepat, hingga tak perlu waktu lama untuk sampai ke tujuan.


Setelah membeli tiket mereka memasuki area Disneyland. Begitu banyak wahana permainan yang terlihat di sana. Mereka bergandengan sepanjang jalan. Banyak orang yang menyaksikan keromantisan mereka, tetapi Jessi tidak peduli. Dia hanya butuh hiburan kali ini.


"Nich, aku ingin naik itu." Jessi menunjuk wahana permainan roller coaster yang tinggi, sedangkan Nich hanya bisa mengangguk menemani.


"Baiklah, ayo!"


Mereka menaiki wahana itu. Ketika permainan dimulai angin terasa bertiup kencang ke wajah dan tubuh terasa terombang-ambing ke sana ke mari. Jessi menikmati permainan seperti, apalagi banyak orang berteriak keras. Dia juga ikut melakukan itu karena inilah tujuannya kemari. Melepaskan segala beban di hati kepada dunia hiburan tanpa terlihat seperti orang gila.


Dia mengajak Nich untuk menaiki wahana yang lain seperti Insanity, Zamperla Giant Discovery, dan Slingshot. Jessi merasa puas melepaskan semua beban di hatinya. Perasaan tertekan ketika berada di rumah terbengkalai berkurang sepenuhnya.


Mereka duduk bersama di sebuah bangku setelah menikmati wahana, Jessi memakan es krim chocolate bersama Nich.


"Apa kau sudah puas, Sweety?"


Jessi mengangguk. "Terima kasih, Nich. Aku tidak pernah pergi ke tempat seperti ini sebelumnya. Ternyata rasanya menyenangkan."


"Ayo kita kembali!" Nich berdiri mengulurkan tangannya kepada Jessi.


Dia menerima tangan itu, lantas berjalan keluar area Disneyland. Mereka kembali menaiki motor menuju ke mansion Jessi. Dia merasa bahagia kali ini. Nich begitu mengerti perasaannya membuatnya tak perlu menyembunyikan dirinya yang sesungguhnya.

__ADS_1


Mereka melaju hingga memasuki area mansion. Seorang anak buahnya terlihat berlari ke arahnya.


"Nona."


"Ada apa?" Jessi bertanya sambil melepaskan helm di kepalanya.


"Tawanan kita tewas semua, Nona."


Jessi dan Nich melebarkan matanya mendengar hal itu. "Ayo kita lihat!"


Mereka berjalan menuju area penyekapan miliknya. Terlihat semua orang yang dia bawa dari pelabuhan sudah terkapar dengan wajah membiru.


Nich menghentikan langkah Jessi begitu dia ingin mendekat. "Jangan mengunakan tangan kosong! Gunakan sarung tangan dan ambilkan masker juga."


Mereka menuruti apa yang diperintahkan Nich, Jessi melihat wajah-wajah mereka yang sudah menjadi mayat. Dia meneliti tubuh seorang mayat yg badannya masih merah tanda bahwa dia belum lama meninggal.


"Letakkan dia di kantong mayat!"


Jessi menatap lekat Nich. "Percayalah padaku!"


Dia lantas menyuruh anak buahnya untuk membungkus mayat itu.


"T!" panggil Nich.


Tak selang beberapa lama terlihat seorang lelaki tegap datang menghampiri mereka. Anak buah Jessi nampak terkejut melihatnya.


"Bawa dia ke laboratorium!"


"Baik, Tuan." Dia mengangkat mayat itu dengan tangan kosong, lalu dengan cepat pergi meninggalkan lokasi.


Anak buah Jessi tercengang dengan efektifitas kerja penjaga bayangan Nich.


"Segera kumpulkan dan bakar yang lain dalam satu tempat. Jangan dikubur!" perintah Nich.


"Apa yang kau ketahui Nich?"


"Kita akan tahu setelah hasilnya nanti keluar. Sekarang mandi dan istirahatlah. Jangan lupa untuk desinfeksi tempat ini, dan seluruh mansion! Aku pergi dulu!"


Jessi hanya bisa mengangguk, ternyata Nich juga orang yang misterius dengan kekuatannya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2