
Mobil hitam mulai masuk ke dalam pelataran mansion. Panas yang tadinya menyengat kini berubah merah menjadi senja. Jessi tak ingin berlama-lama di luar dan segera melangkahkan kaki dengan cepat setelah turun dari kendaraan tanpa menunggu suaminya membukakan pintu untuknya.
Nich yang khawatir melihat tingkah Jessi langsung mengikuti langkah istrinya dengan cepat dari belakang. "Berjalanlah dengan hati-hati, Sweety. Nanti anak-anakku bisa merasakan gempa di dalam perutmu," ujar pria itu memberi peringatan.
Namun, Jessi menghiraukan peringatan suaminya dan terus berjalan ke lantai atas agar segera membaringkan lelah dirinya di ranjang. Wanita tersebut begitu merindukan kamar yang sudah ditinggalkan beberapa minggu ini. Aroma ruang tak terpakai bahkan tercium dengan jelas di hidungnya.
"Hah, senangnya bisa kembali ke rumah," ujarnya sambil merebahkan diri dan merentangkan kedua tangan di ranjang king size tersebut.
Suaminya hanya tersenyum melihat istrinya yang kini berbaring sambil memejamkan mata, terlihat begitu cantik dengan aura ibu hamil, membuat Jessi tampak semakin mempesona di matanya.
Dia melepaskan dasi yang melingkar di leher dan melemparkan ke sembarang arah, tak lupa meletakkan jas di kursi rias. Melihat sang istri yang berbaring seperti itu membuat hasrat kelelakian pria tersebut bangkit begitu saja. Cukup lama Nich harus berpuasa dalam bersenggama karena istrinya yang tak kunjung membuka mata kala itu.
Kali ini dia langsung menyusul istrinya yang berbaring dan memeluk tubuh wanita tersebut dengan erat sambil menghirup aroma khas di tubuh Jessi. Harum menenangkan yang selama ini pria itu rindukan, setelah sebelumnya hanya bau obat dan rumah sakit yang selalu menyapa indra penciumannya.
"Pergilah, Nich! Aku lelah." Jessi membuang tangan Nich yang sudah ada di atas tubuhnya dengan mata masih terpejam. Namun, bukannya menurut pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajah di lekuk leher sang istri.
"Aku hanya merindukanmu, Sweety. Apa kau tak merindukanku?" Pria tersebut berbisik tepat di belakang telinga istrinya, hingga embusan napasnya hangat bahkan bisa dirasakan oleh Jessi menciptakan gelenyar aneh di tubuhnya.
Jessi mendengkus sebal. Secepat kilat dia membuka mata dan langsung menendang tubuh suaminya ke samping, hingga pria itu seketika saja terjungkal dari atas ranjang.
Tidak menyangka jika tindakannya akan berakibat fatal pada sang suami yang terduduk di lantai, Jessi segera bangkit dari posisinya untuk membantu Nicholas berdiri.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku! Aku tidak sengaja," ujarnya sambil memasang ekspresi tak berdosa begitu saja, hingga membuat Nich tak bisa merajuk lebih lama.
"Apa kau sudah tidak menginginkan suamimu ini lagi, Sweety?" Nich berusaha berdiri, lalu mengerucutkan bibir sambil memegang pinggangnya yang sakit karena terbentur lantai.
Melihat Nich yang mengerucutkan bibir, membuat Jessi menatap wajah suaminya dengan lekat. Entah mengapa ekspresi sang suami saat ini seketika menghipnotisnya tanpa sadar. Hingga dia tak berkedip sama sekali dan membayangkan benda kenyal itu adalah permen manis yang tampak begitu menggoda iman.
Tanpa aba-aba wanita itu langsung menarik kembali tangan suaminya hingga tubuh kekar pria itu terhempas di atas ranjang begitu saja. Senyum Nich berkembang di kala istrinya bangkit dan naik ke atas tubuhnya yang telentang karena tarikan Jessi.
Wanita tersebut mendekatkan diri dan menelan salivanya sendiri dengan susah payah. Tanpa aba-aba dia langsung mencium bibir Nich dengan lamat hingga membuat pria itu menutup mata menerima ciuman hangat dari sang istri.
Suara kecapan terdengar begitu jelas kala senja itu. Angin berembus syahdu masuk ke dalam ruang, ditambah sepasang cicak bersembunyi di balik lampu saling mengintip apa yang terjadi di antar sepasang suami istri tersebut.
"Ada apa?Kenapa berhenti?" tanya Nich bingung ketika istrinya tiba-tiba saja melepaskan pangutan mereka.
Nich terlihat begitu panik melihat istrinya yang langsung terdiam. Jika biasanya mereka akan melanjutkan ke sesi selanjutnya kali ini Jessi menghentikannya, membuat pria itu berpikir telah terjadi sesuatu dengan kandungan sang istri karena dia memegang perut seketika setelah melepaskan pangutan mereka.
"Aku ingin sesuatu," ucap Jessi dengan ekspresi yang dibuat seimut mungkin.
Entah apa yang terjadi, tetapi dia tiba-tiba saja menginginkan sesuatu yang membuatnya bahkan menelan salivanya sendiri.
"Apa? Apa kau sedang mengidam, Sweety?" Nich menarik dirinya setengah berbaring dengan Jessi yang tak ingin beranjak dari atas tubuh suaminya. Dia kemudian, menyibakkan anak rambut di wajah sang istri dengan lembut.
__ADS_1
"Mengidam?" Jessi mengernyitkan dahi, meskipun dia pernah hamil sebelumnya, tetapi wanita tersebut belum pernah merasakan apa itu mengidam.
Namun, suaminya hanya mengangguk kecil dengan senyum mengembang indah di wajahnya. "Dokter bilang ibu hamil terkadang akan menginginkan sesuatu selama masa kehamilannya. Mereka biasanya menyebutnya mengidam. Apa kau sedang merasakan hal itu, Sweety?"
Secepat kilat Jessi mengangguk tanpa ragu. "Apa kau akan mengabulkannya, Sayang? Memberikan apa pun permintaan yang aku mau?" tanya Jessi penuh harap, meski tak yakin dia akan mendapatkannya, sehingga wanita tersebut mengeluarkan jurus pamungkasnya dengan melingkarkan manja kedua tangan di leher suaminya.
"Apa yang kau inginkan, Sweety? Kau mau aku bawakan makanan, baju, tas, kue, atau kaki ayam pedas? Mereka bilang apa pun permintaan ibu hamil harus dituruti karena itu adalah permintaan baby." Perkataan Nich sukses membuat Jessi melebarkan mata, tetapi sedetik kemudian suaminya kembali berucap. "Asal jangan memintaku untuk menikah lagi! Apa pun pasti akan aku bawakan untukmu, Sweety?"
Wanita itu pun langsung memukul dada bidang suaminya dengan keras sambil mendengus kesal. "Kau pikir aku juga mau dimadu, bahkan jangan harap bisa melirik satu pun wanita selain aku!"
Nicholas tertawa senang mendengar istrinya yang mulai menampakkan taring dan tanduk di kepala. Sungguh beruntung dia mendapatkan istri seperti Jessi ditambah kini buah cinta mereka berdua. "Jadi, apa yang kau inginkan, Sweety?" Pria tersebut melingkarkan kedua tangan di pinggang sang istri yang masih terduduk di perutnya.
Sejenak wanita tersebut tampak berpikir, hingga beberapa saat kemudian dia memulai aksi manjanya agar permintaan tersebut diizinkan oleh oleh suaminya. "Janji jangan marah!"
Pria tersebut mengernyitkan dahi, menatap curiga ke arah istrinya. Entah mengapa dia merasa kali ini Jessi akan meminta suatu permintaan yang tak baik untuk dituruti. "Apa yang kau inginkan, Sweety? Katakan dulu!"
Jessi langsung mendekatkan wajahnya kepada sang suami, semakin dekat hingga membuat jantung pria itu berdetak cepat karena tindakannya. Apa istrinya menginginkan bersenggama? Namun, mengapa perasaannya merasa tidak nyaman?
"Aku ingin bertemu Brian," bisik Jessi di telinga Nich dengan lembut. Hingga membuat pria tersebut langsung membelalakkan mata ketika mendengar ucapannya.
To Be Continue...
__ADS_1