
Suasana malam terasa syahdu, tak ada lagi kekhawatiran akan serangan musuh keesokan harinya. Sepasang suami istri saling berpelukan di dalam selimut hangat di bawah cahaya remang sinar rembulan yang menembus masuk menembus celah kamar.
Tengah malam Jessi terbangun ketika memimpikan sesuatu. Wanita tersebut mengguncang tubuh suaminya perlahan agar Nicholas bangun dari tidurnya. "Sayang."
"Sayang." Dia memanggil untuk kedua kalinya, hingga sesaat kemudian pria tersebut mulai mengerjapkan matanya.
"Ada apa, Sweety?" Nich mulai mengerjapkan mata dengan susah payah. Baru sebentar mereka berdua merajut mimpi, tetapi Jessi sudah membangunkannya.
"Sayang, aku ingin sesuatu." Jessi bangun dari posisinya dan duduk dengan menarik lengan sang suami agar ikut terbangun juga.
"Kau ingin apa, Sweety? Apa Baby menginginkan sesuatu?" ucapnya seraya menggosokkan jemari di matanya agar segera tersadar.
Wanita itu mengangguk dengan cepat. "Ayo ganti bajumu dan kita segera pergi!"
"Pergi? Kau menginginkan apa, Sayang? Biar aku carikan saja! Malam sudah larut." Pria itu menoleh arah jam digital di atas nakas. Terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 00.15, terlalu larut jika istrinya ingin keluar rumah.
"Tidak mau! Aku harus ikut, cepat bangun dan ganti baju!" Jessi berbicara dengan tegas serta tak ingin ditawar, dia langsung beranjak dari ranjang dan meninggalkan suaminya yang masih berusaha mengumpulkan sisa kesadaran dalam mimpinya.
Mau tak mau Nicholas pun ikut beranjak untuk mengganti pakaian dan mengikuti permintaan sang istri. "Demi anak," gumamnya menyemangati diri sambil melangkah gontai guna mencuci wajah terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian keduanya telah bersiap di dalam mobil. "Ke mana kita akan pergi, Sweety? Baby ingin apa?" ujar Nich sembari mengenakan sabuk pengaman istrinya dan mengusap lembut perut wanita tersebut.
"Kita ke kasino, Sayang?"
"Kasino?" Nich mengernyitkan dahi mendengar permintaan istrinya. "Apa kau ingin makan di sana?"
"Makan?" Jessi dengan ekspresi lucunya seakan mengelak perkataan sang suami. "Siapa bilang aku ingin makan?"
__ADS_1
"Bukankah biasanya ibu hamil menginginkan makanan?" Pria tersebut mengenakan sabuknya sendiri lantas menyalakan mesin dan bergerak mengemudikan mobil untuk keluar dari garasi.
"Tapi, aku tidak ingin makan?"
"Lalu?"
"Nanti kau juga tahu sendiri." Jessi terlihat begitu antusias dalam perjalanan kali ini. Menjadi ibu hamil memang menyenangkan, menginginkan apa pun suami akan menurutinya tanpa banyak syarat. Hanya tinggal mengatakan 'Ini maunya Baby' sudah cukup membuatnya bisa mendapatkan segalanya.
Tak butuh waktu lama karena lokasi yang diinginkan Jessi juga tidak terlalu jauh. Keduanya pun tiba di Casino Light, seperti biasa para karyawan senior menyapa dengan hangat, sedangkan pegawai baru tak mengenali keduanya.
Kasino adalah tempat yang hanya membutuhkan keberuntungan, mungkin sedikit kelihaian, untuk menghasilkan uang tambahan. Siapa tak senang?
Begitu kiranya anggapan sebagian besar orang. Pergi melangkahkan kaki ke kasino untuk menghabiskan puluhan hingga ratusan lembar uang. Tua, muda, lokal dan asing, semua berkumpul mencoba peruntungan.
Jessi dan Nich melangkah semakin dalam ke kasino itu. Namun, tidak seperti biasanya, di mana dia hanya pergi ke ruang khusus untuknya. Kali ini wanita tersebut ingin berkumpul dengan para pengunjung, seolah mereka adalah pelanggan seperti yang lainnya.
Sementara itu, Nich hanya bisa mengikutinya sambil menghela napas panjang. Pria tersebut tak pernah sekalipun datang ke tempat semacam ini untuk mencari hiburan. Jika bukan karena keinginan istrinya yang aneh, dia pun enggan datang ke mari.
Demi anak, batinnya.
Terlihat kasino ini cukup ramai, hingga tak jarang banyak wisatawan asing yang juga mendatangi tempat tersebut untuk mencoba pertuntungan mereka. Selain itu, kasino pun memiliki daya tarik tersendiri untuk menjadi tempat hiburan bagi kaum-kaum penghambur uang.
Di Negara N, Casino Light menjadi salah satu kasino terbesar dan populer di kalangan wisatawan maupun warga lokal kaum elit. Kasino ini memiliki empat lantai dengan 600 meja judi serta 1500 mesin slot untuk para pengadu keberuntungan.
Lantai pertama, lebih ditujukan bagi para perokok dan lantai kedua bagi non-perokok. Sementara itu, lantai ketiga dan keempat kasino ini hanya bisa diakses oleh kalangan terbatas.
Berlatarkan ornamen berwarna emas dan dihiasi dengan kristal Swarovski, kasino ini tampak begitu mewah dan megah. Seakan menjanjikan mereka yang datang untuk bisa mencapai keberhasilan, menuai kekayaan dari tempat hiburan.
__ADS_1
Memasuki Casino Light tidak sesulit yang dibayangkan awam. Cukup membawa paspor atau identitas diri dan menjalani pemeriksaan petugas, siapa pun bisa bebas bermain sepanjang malam. Setelah melewati hal tersebut, barulah mereka bisa menikmati segala fasilitas yang ada.
Suasana kasino layaknya sebuah taman hiburan anak seperti di mall kian terasa bagi mereka yang menyukai tempat-tempat seperti ini.
Mereka langsung melangkah ke depan mesin slot dengan jackpot cukup besar. "Sayang, uang."
Suara dari mesin slot dan roulette di setiap sudut ruang terdengar bising bersahutan. Beragam raut wajah pun terlihat dari pengunjung yang hadir. Ada raut bahagia tergambar kala menang taruhan, ada juga yang sedih dan kecewa karena kalah.
Ruangan kasino ini dipenuhi dengan orang dari beragam usia. Mungkin banyak yang mengira kalau pengunjungnya didominasi oleh orang muda. Hanya saja, justru kebanyakan pengunjungnya adalah orang dewasa, atau bahkan manula. Setidaknya, tiga dari lima di antaranya.
Para orang tua ini, umumnya, adalah pensiunan yang tak lagi memiliki kesibukan. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain di mesin slot dengan taruhan hingga ratusan dolar. Mengatasnamakan hiburan.
Meski usia terbilang tua dan terlihat berpengalaman, hal ini tak menjamin keahlian mereka. Banyak pula yang mengeluh, mengaduh, menepuk—entah dahi, meja, atau mesin slot—karena mendapat hasil tak sesuai harapan. Satu hal lagi yang menarik dalam kasino ini, yaitu keberadaan kolam keberuntungan berisikan koin di dalamnya.
"Sayang, minta koin!" Jessi menengadahkan tangan kepada sang suami, membuat pria itu mengernyitkan dahi.
"Koin? Untuk apa?"
"Ish, untuk keberuntungan. Cepat mana!" Seakan tak sabaran, wanita tersebut menggerayahi tubuh suaminya begitu saja.
"Sweety, aku tidak punya koin. Tunggu sebentar aku carikan!" Nicholas lantas melangkah ke arah tempat pelayanan untuk menukarkan uang kertasnya dengan koin guna menuruti perintah sang istri. Dia lantas kembali dan menyerahkan benda tersebut. "Nah."
Berada tak jauh dari pintu masuk kasino, kolam ini menampung ribuan koin dari berbagai mata uang asing yang sengaja dilempar pemiliknya sebelum bermain. Alasannya, lagi-lagi demi peruntungan.
Inilah alasan Jessi meminta koin kepada suaminya. Dia pun mengkupkan benda tersebut di telapak tangannya, lalu melemparkan ke kolam setelah merapalkan mantra.
"Ayo!" Jessi kembali menarik tangan suaminya ke arah lain setelah melakukan hal itu. Untuk apa? Tentu saja bermain judi!
__ADS_1
To Be Continue...