Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Lintah Darat


__ADS_3

Stella merupakan gadis manis korban dari Barron Night. Dia sudah dianggap adik sendiri oleh Jessi selama ini. Masa pemulihannya pun berhasil dilalui dengan baik. Sebelumnya gadis itu pernah meminta izin kepada Jessi agar bisa hidup mandiri.


Melanjutkan studi di bidang kedokteran membuat gadis itu berharap bisa menerapkan ilmu yang di dapatnya. Meskipun saat ini masa kuliahnya belum selesai, tetapi Jessi sudah mengizinkan gadis untuk pindah tempat asalkan tetap melanjutkan pendidikan di sana dan dengan syarat hanya pindah bersama Jane.


Meskipun sudah aja anak buah Nich yang mengawasi Jane dari kejauhan, tetapi akan lebih efisien jika ada orang lain di dekatnya sehingga bisa membuat hati wanita tersebut lebih tenang. Hanya saja hal yang sangat dia sayangkan adalah tidak bisa membantu menyembuhkan luka hati sang kakak yang sudah terlanjur membekas.


"Jane." Jessi menggenggam tangan sang kakak yang duduk di sampingnya dengan lembut.


"Apa?" Wanita tersebut menoleh dan tersenyum dengan lembut setelah menyetujui permintaan adiknya untuk membawa Stella.


"Apa kau yakin ingin meninggalkan aku dan Nenek di sini?" Kali ini Jessi berbicara dengan lembut dari hati ke hati.


Ada sedikit rasa nyeri di hati Jane melihat Jessi yang menampakkan ekspresi seperti itu. Namun, wanita tersebut tetap mencoba untuk tersenyum dan menjawabnya dengan lembut pula. "Aku tidak pernah meninggalkan kalian. Tidak sedetik pun! Sama halnya kalian yang menyayangiku dengan tulus, aku pun begitu menyayangi kalian."


Sejenak Jane menghentikan kalimatnya untuk mengambil napas. "Sebelumnya aku memimpikan ibuki. Dia berkata aku harus menjalani hidup seperti apa yang aku suka. Jadi, aku ingin menenangkan diri sejenak, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya aku inginkan."


Jessi memahami maksud Jane. Selama ini wanita tersebut selalu disibukkan dengan pekerjaan sejak masih kecil. Di usia sepuluh tahun dia juga sudah dipaksa dewasa oleh keadaan hidup.


Perlahan Jessi mendekat ke arah Jane, melingkarkan tangannya di leher sang kakak dan menyandar kan kepala di bahunya. "Aku pasti akan sangat merindukanmu."


Jane hanya bisa menanggapinya dengan tersenyum dan mengelus bahu sang adik. "Aku akan pulang nanti saat kau melahirkan."


"Bagaimana dengan pernikahanku? Apa kau tega tidak akan datang?"

__ADS_1


"Menikah?" Jane mengernyitkan dahi mendengar penuturan Jessi. "Bukankah baru siang tadi pesta pernikahanmu gagal?"


"Iya, dan aku memaksa Gery Selay untuk mengganti kerugianku dengan pesta di atas kapal pesiar," ucap Jessi dengan bangga.


"Dasar lintah darat." Jane menggelengkan kepala melihat tingkah Jessi yang tak pernah mau rugi jika berurusan dengan hal seperti itu. Sungguh suatu kesialan bagi Gery Selay karena menyentuh adiknya. Sudah rumahnya dijadikan sarang harimau, masih lagi harus mengganti pesta pernikahan yang pastinya bernilai fantastis. Akan tetapi, setidaknya itu lebih baik daripada dimiskinkan negara.


"Jane," panggil Jessi lagi.


Wanita tersebut hanya menjawab dengan sebuah dehaman, kakinya berpijak pada tanah agar kursi ayunan tempat mereka duduk bisa bergerak. Semilir angin sejuk dan kerlap kerlip bintang di langit menjadi teman dua saudara yang saling mencurahkan isi hati tersebut.


"Apa kau sungguh tidak menyukai kakakku?" Pertanyaan itu akhirnya lolos dari bibir Jessi membuat Jane seketika terdiam menghentikan ayunan kakinya.


Entah apa yang kini ada di pikiran wanita tersebut. Bayangan kata-kata nasihat dari seorang supir taksi seketika terlintas dalam benaknya, menyentuh hati dan berharap secara tidak langsung. "Aku tak tahu." Hanya itu kalimat yang keluar dari bibir Jane sebelum akhirnya kembali mengayunkan kaki agar kursi kembali bergerak.


Tanpa sadar pikirannya membayangkan jika saja hal itu terjadi setiap hari selama sisa hidupnya. Mungkin dia akan tahu kebahagiaan yang dimaksud Jessi.


Sementara itu, Jessi yang melihat rona merah di pipi kakaknya seketika merasa lega. Entah apa yang ada di pikiran Jane. Namun, melihatnya tersipu jelas itu adalah hal baik. "Apa kau menyukai Pengacara John, Kak?"


"Ish, sembarangan kalau bicara?" Dengan cepat Jane menyanggah hal itu, membuat Jessi tersenyum dalam hati. Setidaknya dia tahu perasaan kedua kakaknya yang sepertinya hanya menunggu takdir agar bertindak tak terlalu kejam.


"Lalu, kenapa kau membawanya kemari? Aku pikir kau ingin memerkenalkannya sebagai kakak iparku?" ujar Jessi santai, tetapi langsung mendapatkan tatapan tajam dari Jane.


"Kau tahu sendiri, kami sudah berteman sejak dulu. Bagaimana bisa kau menyebutku menyukainya? Jika aku mau, sudah dari dulu saja." Jane mencebik ke arah Jessi yang selalu saja menggoda dengan tingkah absurdnya. Meskipun begitu, mereka tetap akur seperti biasanya.

__ADS_1


"Tapi, aku pikir dia menyukaimu, Jane?"


"Masa bodoh, itu urusannya. Lagi pula kau tahu sendiri John itu seperti apa. Cassanova kelas ikan buntal yang mana-mana wanita diembat." Jane sangat tahu bagaimana tabiat Pengacara John, pria itu memanglah terkenal pemain wanita sejak masih duduk di bangku sekolah. Jadi, rasanya tak mengherankan lagi kalau dia mencoba merayunya. Namun, untungnya John tidak melakukan hal itu, sehingga pertemanan mereka tetap berjalan sampai sekarang.


"Sudahlah, ayo bersenang-senang! Ponakanmu ingin mengajak Mama Tuanya berjalan-jalan." Jessi berdiri sambil mengusap perutnya yang kini sudah mulai sedikit menonjol.


Entahlah, semenjak hamil dia sangat suka bersenang-senang di malam hari. Apalagi menikmati hiburan dunia malam yang sebelumnya hanya menjadi sumber uang baginya. Sepertinya anak-anak Jessi kelak akan menjadi pembuat masalah, tak jauh berbeda dengan dirinya.


Keduanya pun bergegas bersiap. Jessi pergi ke kamar terlebih dahulu untuk berganti pakaian dan berpamitan pada sang suami, sedangkan Jane melangkah ke kamar Nenek Amber guna melihat sang nenek sejenak.


Memasuki kamar neneknya, Jane melihat wanita tua yang selama ini merawatnya tengah tertidur pulas dengan selimut di bawah pinggang. Dengan lembut Jane menaikkan kain hangat tersebut hingga ke atas dada dan mengecup dahi neneknya sejenak.


Kasih sayang yang Nenek Amber berikan padanya tanpa pilih kasih membuatnya menjadi wanita yang tak haus akan perhatian. Mungkin kata terima kasih tidak akan cukup hanya untuk membalas kebaikan wanita tua tersebut.


Merasa ada yang mengecupnya membuat Nenek Amber mengerjapkan mata. Perlahan tapi pasti kelopak itu mulai terbuka. "Jane, kau kemari." Dia hendak bangun dari tidurnya, tetapi Jane menahan wanita tersebut.


"Apa aku mengganggumu, Nek?"


"Tentu saja tidak, Nak. Kau baru saja datang?"


Jane hanya mengangguk kecil. "Aku akan keluar sebentar dengan Jessi. Tidurlah lagi, Nek! Maaf membangunkanmu," ucap Jane lembut sambil membenarkan selimut neneknya.


"Kalian hati-hati kalau begitu," ujar Nenek Amber kembali memejamkan mata, sedangkan Jane melangkah keluar untuk menemui adiknya.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2