Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Berbeda halnya dengan Jessi yang pandai dalam memprovokasi, Damien yang hanya ditinggalkan berdua dengan Jane tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Perlahan dia mendekat ke arah wanita tersebut dengan sebuah senyuman indah. 


"Apa kau sungguh sudah makan, Sayang?" Ucapan Damien berhasil membuat Jane membelalakkan mata. Bukan karena pertanyaannya, melainkan kata sayang yang kembali pria tersebut sematkan padanya setelah sekian lama menghilang. 


"Siapa yang kau maksud sayang? Apa wanita tadi itu?" ujar Jane dengan ketusnya. 


Damien hanya bisa tersenyum kecil. Nyatanya Jane juga bisa cemburu dan tampak sangat lucu baginya. Pria tersebut lantas memegang pundak Jane yang masih bersedekap tangan. "Jane, aku minta maaf atas segala kesalahanku selama ini. Aku memanglah pria bodoh yang tak tahu apa-apa tentangmu. Tapi, sekarang aku tahu, kau adalah satu-satunya orang yang berhasil mengambil hatiku."


Tidak ada kalimat yang keluar dari bibir wanita tersebut. Hanya ada sorot tajam yang tak berubah sejak tadi, tetapi siapa yang tahu kalau jantungnya serasa ingin meledak seketika mendengar kalimat Damien. Pria itu bukanlah pria romantis dan Jane paham akan hal itu. Namun, apa yang dia ucapkan sungguh berhasil mencairkan kerasnya hati wanita tersebut. 


Jane memilih untuk memutar tubuhnya dan membuang wajah ke arah lain. "Aku sudah memaafkanmu. Lagi pula semua itu tak sepenuhnya salahmu. Hanya saja ayahku—"


Belum sempat Jane menghabiskan kalimatnya, Damien sudah terlebih dulu memeluk wanita tersebut dengan erat. "Kita sama-sama hanyalah korban. Semua itu bukanlah salahmu, maafkan aku yang sudah begitu egois sejak awal dan hanya memikirkan penderitaanku sendiri."

__ADS_1


Cukup lama keduanya terdiam dalam posisi seperti itu. Mereka sendiri juga bingung harus berbuat apa. Dalam hati Jane sungguh merasa bahagia, sedangkan di pikiran Damien, pria tersebut tak tahu harus mengucapkan kata-kata romantis seperti apa agar bisa menyentuh hati Jane. 


Beberapa saat kemudian, Damien melepaskan pelukannya dan membuat wanita tersebut kembali menatapnya dengan menangkupkan kedua tangan di pipi dan menempelkan dahi mereka. "Jane, berikan aku kesempatan kedua! Mari mulai semuanya dari awal, izinkan aku membuktikan ketulusanku, dan biarkan aku menjagamu! 


Tidak ada keraguan di setiap kalimat Damien. Bukankah mereka juga berhak bahagia, maka dia hanya ingin membuat wanita di depannya selalu tersenyum padanya. 


Sementara itu, Jane yang tak tahu harus berkata apa hanya bisa terdiam dalam kebekuan untuk beberapa saat. "Kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik. Tapi bukan aku." 


Bukan hal yang mudah untuk keduanya bersatu setelah melewati banyak hal sebelumnya. Kebisuan Jane mampu dipahami oleh Damien, wanita itu mungkin masih ragu akan perasaannya. Namun, di matanya tergambar jelas jika mereka memiliki perasaan yang sama. 


"Maaf karena di masa lalu aku membiarkanmu terluka sendirian. Aku dengan bodohnya membiarkanmu merawat semua itu sendiri. Sekarang bisakah kita memulai dengan cara yang sebenarnya?" 


Mereka tak pernah memulai hubungan dengan cara yang benar. Namun, entah bagaimana hati keduanya bisa terpaut begitu dalam. Bagi orang dewasa yang sama-sama pertama kali jatuh cinta tentu akan sulit ketika sudah menemukan seorang yang mampu memasuki hati. Jangankan mencari pengganti, mungkin mereka lebih senang menerima kesendirian jika memang tak ditakdirkan bersama.

__ADS_1


"Aku—" Belum sempat Jane melanjutkan kalimatnya Damien sudah terlebih dulu mengecup bibir wanita tersebut dengan lembut, mencurahkan segala perasaan cinta yang ada di dalam hati dan tak mengizinkan wanita itu menolaknya. 


Karena tidak ada penolakan dari Jane, Damien semakin lembut dalam menikmati daging kenyal tak bertulang tersebut sambil memejamkan mata. Begitu pula dengan Jane yang perlahan mengalungkan tangan di leher Damien. 


Sebuah perasaan baru yang menghadirkan bayang kupu-kupu di antara keduanya layaknya memekarkan bunga harum di sebuah padang yang luas. Semakin dalam keduanya saling berpagutan, tetapi suara pintu dibuka tiba-tiba menghentikan aktivitas keduanya yang seketika membuka mata. 


"Ka–kak, aku datang. He he." Jessi tertawa pongah ketika menyaksikan apa yang Jane dan Damien lakukan, dengan Dove di belakang yang langsung membelalakkan mata menyaksikan hal tak terduga tepat di depan matanya. "Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat," ujar Jessi dengan bangga.


Damien memicingkan mata ke arah Jessi dengan sorot menghunus tajam seperti iblis yang bersiap memasukkan mangsa ke dalam neraka. "Silakan dilanjutkan! Aku pergi dulu." Jessi melambaikan tangan kepada kedua kakaknya dan langsung menutup pintu. 


Sebenarnya dia sengaja melakukan hal itu agar Dove tahu, jika Damien dan Jane adalah pasangan sesungguhnya yang saling mencintai, sedangkan dia harus menerima kenyataan ini dan tidak bertindak lebih jauh lagi. 


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2