
Hari berlalu begitu cepat, tak terasa para penjahat sudah mendapatkan ganjarannya masing-masing. Berita baik pun seakan tak ada hentinya terus berdatangan di kediaman Light. Mulai dari kesembuhan Kim Dae Ho–Ayah Mario dan Maurer, karyawan Light Holdings beserta ibunya, juga kondisi terbaru Dion yang berhasil melewati operasi dengan lancar.
Mereka memilih untuk kembali menjalani kehidupan masing-masing dan Jessi pun mendukung keputusan itu, dengan memberikan bantuan berupa modal dan pengamanan. Selama masih berada dalam kapasitasnya dia bersedia membantu kehidupan mereka secara cuma-cuma.
Selain itu, pemakaman keluarga Alexander juga dilaksanakan dengan lancar dan dihadiri oleh para penghuni kediaman Light beserta keluarga Bannerick. Para korban dan juga kedua orang tua Jessi dimakamkan dalam satu kawasan makam elit di negara tersebut.
Di sisi lain, Jackson memilih untuk mengambil cuti selama beberapa waktu demi merawat ibu dan juga adiknya bersama istri serta anaknya. Jadi, Jaguar Guard kini diambil alih oleh George juga anak buahnya. Jessi sendiri memahami hal itu, tidak ada sesuatu yang lebih penting di dunia kecuali kebersamaan keluarga. Apa lagi mereka terpisah terlalu lama.
"Nona." George datang menghampiri Jessi yang tengah berjemur di bawah terik matahari sambil meminum kelapa muda di tangannya.
"Ada apa?" Jessi meletakkan minumannya di sampingnya terlebih dahulu dan menatap santai ke arah anak buahnya.
"Nona, bolehkah para penduduk Pulau Ceria yang merindukan keluarganya kembali tinggal di sekitar sini?" tanya George dengan hati-hati, beberapa hari ini Jessi sangat mudah tersulut emosi. Kadang dia sangat baik, tetapi sedetik kemudian menjadi emosional hingga membuat mereka kewalahan menghadapi ibu hamil tersebut.
"Mereka masih punya keluarga?" tanyanya heran. Jessi memang tidak tahu satu per satu kondisi anak buah George seperti apa sebelum masuk ke dalam mafia itu. Dia hanya mengerti jika mereka bekerja di sana dengan suka rela dan tanpa paksaan karena Jessi sudah mencabut semua aturan yang ada, sehingga tidak ada dekriminasi di mafia Lucifer.
"Ada beberapa orang yang ingin kembali ke kota terutama anak buah Aron. Tapi, ada pula yang memilih hidup di sana."
Para penduduk Pulau Ceria kini dibebaskan ingin melakukan apa pun. Jika ingin mengikuti sebagai kelompok mafia juga diizinkan dengan syarat dilarang menindas orang lain secara semena-mena.
"Kalau begitu terserah kalian saja. Jika memang ingin kembali ke kota jadikan saja anak buahmu, jadi mereka masih bisa memiliki pekerjaan yang tetap." Jessi mencoba untuk berdiri dari posisinya karena cuaca terasa terlalu panas. "Apa kau juga ingin pindah untuk mencari istri?" canda Jessi seraya melangkahkan kaki meninggalkan George.
__ADS_1
"Ekhem, tidak, Nona!" teriak George dari kejauhan ketika wanita itu sudah mulai melangkah pergi.
"Aku sarankan kau bergerak cepat! Dia terlalu bodoh untuk menyadari perasaanmu." Jessi hanya menggeleng kecil melihat George yang seperti salah tingkah dengan perkataannya.
Pria itu hanya tersenyum kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Apa Nona Jessi menyadari sesuatu?"
Di sisi lain, Jessi melangkah menuju kamar kakaknya. Wanita tersebut sedang bersiap mengepak beberapa barang untuk dibawa pergi. Setelah tidak ada lagi masalah yang perlu dikhawatirkan, Jane memilih untuk kembali ke Negara X guna memakamkan abu Jerry Morning di samping ibunya.
Mau menyanggah bagaimana pun, pria itu tetaplah ayahnya. Setidaknya dia sudah berusaha memaafkan meskipun hatinya sakit, tetapi Jane mencoba berdamai dengan semua ini. Hal itu pula yang menjadi salah satu tanda belas kasihannya dengan membawa abu pria tersebut agar berada di samping ibunya.
Perlahan Jessi membuka pintu kamar tersebut. "Kakak." Wanita itu langsung saja melangkah masuk setelah melihat kakaknya di dalam.
"Apa kau yakin ingin pergi dari sini?" Jessi merebahkan diri ranjang sang kakak sambil menatap wanita tersebut. Tak ada lagi kesedihan terlihat di wajahnya, tetapi Jane ingin menenangkan diri untuk sejenak, sehingga memilih untuk kembali ke Negara X ketika semua sudah dalam situasi kondusif.
"Aku hanya akan kembali ke Negara X sebentar, apa kau masih membutuhkanku?" Jane menutup kopernya dan mengunci setelah dirasa semua barangnya sudah dia masukkan. Wanita tersebut lantas duduk di samping sang adik sambil tersenyum bahagia melihat rona wajah Jessi saat ini.
Sementara itu, Jessi hanya mengerucutkan bibir mendengar kalimat kakaknya. "Bagaimana kalau aku merindukanmu?"
"Cih, jangan mengada! Kau bukan merindukanku dan hanya rindu uangku! Sekarang kau sudah memiliki bank bergerak jadi jangan merepotkan aku lagi!" Kalimat Jane terdengar cukup ketus, tetapi bukan itu makna yang sesungguhnya.
Dia menyadari adiknya sudah bahagia bersama Nicholas dan tak lagi memerlukan penjagaannya. Karena itulah, Jane yakin pria tersebut tidak akan menyakiti adiknya, hingga membuatnya sudah tenang ketika meninggalkan Jessi dan Nenek Amber di negara ini.
__ADS_1
Jessi hanya bisa berdecak kesal dengan kegigihan kakaknya. Dia sudah mencoba merayu dengan berbagai cara, tetapi wanita tersebut tetap saja ingin kembali ke Negara X. "Apa kau ingin berselingkuh dengan Pengacara John?"
"Awh!" Sebuah sentilan di dahi Jessi dari Jane berhasil membuat wanita itu meringis kesakitan sambil mengusap kulitnya yang memerah. "Jane, aku 'kan hanya bertanya! Apa yang salah dengan hal itu, toh aku lihat pria itu cukup tampan."
Jane hanya menggeleng kecil melihat candaan Jessi yang hanya seperti angin lalu baginya. "Sembarangan kalau bicara!"
"Apa kau masih belum move on dari kakakku yang bodoh itu?" Jessi menoleh tajam ke arah Jane yang kini terdiam untuk beberapa saat.
Ya, cukup lama Jane dan Damien tidak saling bebicara setelah kesadarannya hari itu. Pada acara pemakaman kemarin bahkan keduanya seperti tak pernah saling mengenal satu sama lain. Meskipun Jessi sudah menasehati kedua kakaknya tersebut, tetapi mereka masih enggan untuk bertemu secara pribadi.
Sejenak Jane mengembuskan napas kasar. "Kau terlalu banyak berpikir. Aku dan dia tidak pernah ada apa-apa." Wanita tersebut tersenyum kecut, membayangkan kilas balik kenangan mereka dalam benaknya. Tanpa sadar dia hanya menggeleng kecil mengingat tingkah konyol Damien ketika mengejarnya.
Namun, semua hanyalah sebuah kisah yang tak pernah dimulai, sehingga tidak perlu adanya perpisahan untuk mengakhiri. Hanya menyisakan sesak di dada tak berkesudahan jika memikirkan hal itu.
Jessi menatap Jane, wajah wanita itu terlihat sendu. "Kau yakin tidak memikirkan kakakku lagi? Aku pikir kau sudah cinta dengan dan ingin bersama dengannya."
Jane hanya tersenyum mendengar ucapan adiknya. "Apalah arti cinta? Aku hanya tahu cara menyanyangimu dan juga nenek."
"Bodoh! Kalian sama-sama bodoh!"
To Be Continue....
__ADS_1