Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Anak Buah Nich


__ADS_3

Nich melajukan kuda besi menuju tempat makan kesukaan Jessi. Mereka layaknya sepasang kekasih yang baru mulai memadu asmara dengan berboncengan mesra.


Setibanya di suatu tempat makan di dekat sebuah taman, Nich menghentikan laju motornya. "Di sini, Sweety?"


"Iya, ayo!" Jessi turun dari motor, sedangkan Nich langsung membantu istrinya melepaskan helm terlebih dahulu.


Mereka berjalan ke lapak pedagang kaki lima di sana. "Pak, bakso tiga, ya!" Jessi duduk di sebuah tikar yang di gelar di tepi jalan, sedangkan Nich mengernyitkan dahinya mendengar apa yang dipesan sang istri.


Dia ikut duduk bersila mengikuti gaya sang istri. "Apa makanan yang kamu pesan tadi, Sweety?"


"Ah, itu bakso."


"Bakso?"


Jessi menganggukkan kepalanya. "Tenang saja nanti pasti kamu akan suka, Sayang."


Tak lama kemudian sang penjual datang membawakan tiga mangkuk bakso pesanannya. "Silakan, Tuan, Nona!"


"Terima kasih." Jessi menyodorkan semangkuk bakso ke depan Nich, sedangkan dua porsi yang lain untuk dirinya sendiri.


"Apa kita bisa memakan ini?" Nich mengernyitkan dahi melihat tampilan meatball berkuah di depannya.


"Tenang saja, perutmu tidak akan sakit hanya karena satu mangkuk bakso." Jessi menuangkan bumbu pelengkap ke dalam mangkuk, kecap, saus dan juga sambal yang cukup banyak.


Nich mengikuti apa yang dilakukan istrinya, ketika dia akan menuangkan banyak sambal Jessi menghentikan suaminya. "Jangan terlalu banyak! Ini sangat pedas nanti perutmu sakit."


Pria itu meletakkan kembali sendok sambal di tangannya. "Apa kau akan habis memakan dua porsi itu sendirian, Sweety?"


"Kau akan tahu nanti setelah mencobanya. Sekarang ayo makan!" Jessi menyuapkan sebutir bakso kepada suaminya. "Aaa!"


Sang suami menerima suapan tanpa merasa jijik atau pun menghina istrinya, baginya makan di restoran mewah, maupun di tepi jalan adalah sama saja. Hanya saja dia belum pernah memakan makanan di depannya.


Dia mengunyah sebuah bakso secara perlahan, membuatnya menganggukkan kepala. Meskipun tampilannya tidak mewah, tetapi rasa yang dihadirkan cukup lumayan.


Nich lantas menyuap sendiri bakso di mangkuknya, Jessi hanya menatap kagum suaminya sambil memakan miliknya. Meskipun pria ini memiliki segalanya, dia tidak protes ketika sang istri mengajaknya makan di tempat seperti ini.


Tak terasa saking nikmatnya mereka menyantap makanan, membuat Nich akhirnya menghabiskan lima porsi bakso sendirian. Jessi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya.


Namun, tak lama kemudian, dia melihat sosok pria berjalan keluar dari bangunan apartemen di sekitar taman tersebut. Brian.


Jessi mengernyitkan dahi dengan raut wajah yang berubah dingin. Jadi, benar pria itu sudah ada di negara ini, dan kemungkinan ucapan Nich dahulu adalah benar jika pria itu mengawasi kediamannya.


Tapi, bagaimana bisa dia di sini? Bukankah seharusnya pria itu di Negara X?


Nich yang melihat perubahan ekspresi istrinya melambaikan tangan di wajah cantik tersebut. "Sayang, kau kenapa?"

__ADS_1


Segera Jessi kembali ke ekspresi semula. "Bukan apa-apa, Suamiku. Aku hanya seperti melihat Brian keluar dari sana tadi."


Nich menoleh ke belakang, arah yang dilihat oleh Jessi. Namun, tidak ada seorang pun di sana. "Haruskah aku menyelidikinya?"


"Nanti aku akan mencari tahu sendiri. Ayo kita ke laboratoriummu saja!" Nich lantas berdiri membayar makanannya.


Mereka segera kembali menaiki motor menuju laboratorium. Sepanjang perjalanan banyak terlintas di pikiran Jessi tentang Brian.


Bagaimana pria itu bisa ada di sini?


Apa dia berhasil melunasi utang yang ku tinggalkan?


Lalu, bagaimana dengan Rossi dan anaknya?


Apa mereka tinggal di apartemen itu sekarang?


Segala macam pertanyaan berkecamuk di pikiran Jessi, dia tidak lagi menikmati embusan angin sepanjang jalan yang mereka lalui. Hal tersebut jelas ditangkap oleh Nich, pria itu memegang tangan sang istri yang berada di perutnya.


"Apa kau memikirkan sesuatu, Sweety?"


"Entahlah, Nich. Firasatku berkata buruk ketika melihat Brian."


"Tenanglah! Aku akan selalu bersamamu."


Wanita itu mengangguk, dia yakin jika Nich bisa memegang setiap perkataannya. Namun, yang diragukan Jessi adalah kehadiran Brian di Negara N yang mungkin akan membawa bencana bagi mereka.


Melihat Jessi yang selalu terlihat murung, dengan segera Nich memacu dengan kencang kuda besi tersebut. Mungkin setelah melihat laboratoriumnya sang istri akan kembali tersenyum lagi.


Tak bisa dipungkiri jika kehadiran Brian juga merupakan pukulan berat bagi Nich. Dia harus benar-benar menjaga istrinya kali ini. Tak selang beberapa waktu, mereka mulai memasuki kawasan laboratorium yang layaknya pangkalan militer.


Jessi yang melihat ramainya tempat itu dengan banyaknya anak buah Nich membuat sebuah senyum seketika mengembang di wajahnya. "Apa ini laboratoriummu, Sayang?"


Nich mengangguk, pria itu lantas memarkirkan motor di depan laboratorium. Jessi turun sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kawasan luar, tempat ini sungguh lebih mirip jika disebut pangkalan militer daripada laboratorium.


"Ayo!" Nich menggandeng tangan Jessi untuk masuk ke dalam.


Seakan tak cukup dibuat kagum dengan kondisi di luar, dia kembali terpesona dengan kondisi di dalam laboratorium tersebut. Banyak berjajar hasil temuan yang masih belum diaktifkan. "Suamiku, apakah ini calon anak buahmu?"


"Iya, mereka akan diaktifkan ketika kondisi darurat."


Jessi menatap wujud mereka yang tampan dan cantik. "Suamiku, wajah siapa yang kau gunakan untuk mereka?"


"Itu hanya wajah buatan, tidak ada manusia yang berwajah seperti itu." Jessi mengangguk, mereka berjalan bergandengan secara perlahan di sepanjang jalan yang dilalui.


"Aku heranlah, bagaimana bisa kau membuat semua ini?" Jessi menghentikan langkah membuat sang suami memegang kedua bahunya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

__ADS_1


"Kau ingin mengetahui penciptanya dulu atau bertemu Mario dulu, Sweety?"


"Apa mereka di tempat yang berbeda?" Nich membenarkan perkataan Jessi. "Kalau begitu ... kita temui penciptanya dulu. Aku tidak mau tumbuh jerawat karena penasaran!"


"Ayo!" Nich menarik sang istri ke arah yang lain membawanya ke sebuah pusat bongkar pasang setiap penelitian.


Setelah memasuki sebuah ruangan yang luas. Jessi kembali ternganga melihat banyak hal yang membuatnya kagum. Terlihat seorang pria paruh baya dan juga anak muda tengah asyik berkutat dengan penemuan di mejanya.


"Tuan," sapa pemuda tersebut.


Nich mengangguk. "Istriku ingin melihat proses di sini!"


"Selamat datang, Nyonya."


"Apa kau yang membuat semua ini?" Jessi yang terlalu penasaran menjadi sangat antusias ketika melihat apa yang ada di depannya.


"Iya, Nyonya. Saya dan Ayah yang menciptakan para terminator ini atas izin dan dana dari Tuan Nicholas." Pemuda tersebut menatap ke arah ayahnya. "Tapi, ayah saya terlalu fokus ketika sedang mengerjakan sesuatu. Maaf karena dia tidak menyambut kedatangan, Nyonya."


"Bukan masalah, biarkan dia melanjutkan pekerjaannya. Aku hanya ingin melihat-lihat."


Anak buah Nicholas memang berupa robot terminator. Mereka bisa berubah menjadi apa pun ketika sudah diaktifkan.


Robot humanoid terminator yang sangat mirip dengan manusia terbuat dari logam cair yang mutakhir dan juga endoskeleton dari baja. Memungkinkan diri mereka untuk kembali ke bentuk semula, meskipun telah dihancurkan sedemikian rupa. Mereka diprogram untuk menuruti perintah satu orang yaitu Nicholas Bannerick.


T, R, X, dan Y adalah empat robot utama dan pertama dari hasil awal temuan, sedangkan yang lainnya masih dinonaktifkan selama belum terjadi kondisi yang darurat.


Mereka bahkan menggunakan robot yang gagah juga hanya untuk tugas membersihkan laboratorium. Tidak ada pekerja manusia di sini selain mereka.


"Suamiku, apa negara ini tahu kau memiliki tempat dan penemuan seperti ini?"


"Tentu saja tidak. Semua ini terlalu canggih untuk di publikasikan. Bisa membuat orang-orang yang berniat jahat saling menyerang untuk memperebutkan mereka."


Jessi membenarkan pernyataan Nich. Jika dunia bawah sampai mengetahui hal ini, bisa dipastikan tidak ada lagi tempat untuk manusia berpijak.


Mereka bahkan bisa membuat manusia yang berperasaan menjadi mesin pembunuh demi keuntungan pribadi. Apa lagi jika mereka mengetahui ada robot yang tidak akan mati jika ditembak, dan tahan terhadap semua senjata.


Membayangkannya saja bisa membuat Jessi bergindik. "Apa lagi kalau sampai kelompok pembunuh kontainer itu tahu. Bisa jadi mereka akan semakin sadis membunuh manusia yang tidak berdosa."


"Untuk itu, aku hanya bisa memberitahumu tentang ini, Sweety. Orang tuaku mungkin tahu, tapi aku tidak pernah membawa mereka ke sini."


"Benarkah! Ngomong-ngomong berapa lama penelitian kalian ini?"


"Cukup lama, aku menemukan mereka ketika aku masih berusia lima belas tahun."


"Benarkah!" Jessi bertepuk tangan mendengar penuturan suaminya, lima belas tahun dan sang suami sudah menemukan seorang ilmuwan. Pantas saja dia menjadi orang paling ditakuti dan juga diinginkan di negara ini. Semua wanita pastilah akan bangga ketika bisa dekat dengan seorang Nicholas Bannerick.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2