Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Memilih Gaun


__ADS_3

Setelah meninggalkan Barrack Corp, Dakien melajukan mobilnya menuju sebuah butik. Meskipun Jane mengajaknya menikah dadakan, tetapi setidaknya wanita tersebut juga harus mengenakan gaun terbaik karena dia sendiri belum tahu apakah Jane menginginkan sebuah resepsi pernikahan atau tidak. 


Tak lama kemudian, Damien menghentikan mobilnya ketika tiba di sebuah butik gaun pengantin yang tak jauh dari gedung Barrack Corp. 


"Untuk apa kita kemari?" tanya Jane ketika melihat apa yang ada di sekitarnya bukanlah gereja. 


"Mencari pakaian yang pantas. Ayo!" Tanpa membuang waktu, Damien turun dari mobil lantas memutar langkah membukakan pintu untuk Jane yang masih belum memahami situasi. 


"Apa pakaian kita tidak pantas untuk datang ke gereja?" Jane berulang kali memindai tubuhnya sendiri. Padahal pakaian yang dia kenakan juga termasuk sopan, jadi apa salahnya menggunakan itu saja. 


"Pantas, tapi bagiku belum jika kita ingin menikah. Ayo jangan banyak tanya!" Tanpa menunggu jawaban Jane yang masih terdiam di kursinya, Damien bergegas melepaskan sabuk pengaman wanita tersebut dan langsung membopongnya memasuki butik. 

__ADS_1


"Aku bisa sendiri, Damien." Jane berusaha memberontak karena malu pada karyawan di sana yang tampak tertawa kecil melihat tingkah keromantisan keduanya. Padahal bagi orang lain itu sangat membuat jiwa jomlo meronta-ronta, tetapi untuknya hal tersebut sangatlah memalukan. 


Damien seakan tak mengindahkan permintaan Jane dan tetap menggendongnya hingga tiba di sebuah sofa panjang khusus pelanggan. "Keluarkan semua gaun pernikahan terbaik kalian," ujar Damien pada karyawan di sana. 


"Tunggu sebentar, Tuan Damien!" Manajer butik secara khusus melayani keduanya dan meminta beberapa karyawan untuk menyiapkan apa yang diinginkan pelanggannya.


"Kau sering kemari?" Jane memicingkan mata menatap curiga ke arah Damien, bagaimana bisa seorang pria tampak begitu akrab dengan para pegawai butik. Terlebih lagi sampai disambut oleh pengurus lainnya secara langsung.


"Butik ini masih di bawah naungan Barrack Corp. Kau tahu sendiri kadang perhiasan yang dibuat haruslah sesuai dengan gaun yang dikenakan customer kami." 


Untuk sejenak Jane lupa jika Damien merupakan seorang pengusaha pengusaha berlian dan permata yang kini berusia empat puluh tahun. Di mana Barrack Corp merupakan sebuah perusahaan pembuatan dan pengolahan batu-batu mulia bernilai jual tinggi yang pastinya memiliki beberapa usaha lain sebagai penunjang bisnisnya. Apalagi perhiasan sangat terikat erat dengan dunia fashion. 

__ADS_1


Tak lama kemudian tampak sang manajer butik mulai mendekat ke arah keduanya. "Silakan, Nona, Tuan! Gaun-gaunnya sudah siap." 


"Ayo!" Damien berdiri dan mengulurkan tangan kepada Jane, sedangkan wanita tersebut hanya bisa mengangguk dan meraih tangan pria tersebut. 


Keduanya pun melangkah mengikuti sang manajer dan tibalah mereka di sebuah ruangan penuh dengan gaun-gaun pernikahan mewah. Jane hanya bisa membelalak menatap apa yang tersedia di depan matanya. 


 "Apa ini semua gaun pernikahan?" tanya Jane sambil menatap tak percaya ke arah Damien. 


Namun, pria itu hanya mengangguk kecil dengan sebuah senyuman indah di wajahnya. "Pilihlah yang kamu suka!"


 Jane seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat ini. Meskipun dia juga kaya, tetapi tak pernah membeli apalagi mengenakan gaun seperti itu karena wanita tersebut cenderung sederhana dan tampil seadanya selama keseharian maupun di tempat kerja. Sementara itu, Jane juga jarang menghadiri pesta, kecuali perayaan sang adik selama ini. 

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2