Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Kemarahan Jerry dan Brian


__ADS_3

Di sebuah kediaman yang megah seorang pria paruh baya masih terlena dengan berkas yang menggunung tepat di depannya. Suara langkah tergesa-gesa seseorang berlari dan mengetuk pintu ruang kerja dari luar membuyarkan aktivitasnya.


"Masuk!"


Seorang pria melangkah mendekat dengan keringat dingin bercucuran di wajahnya, bahkan sebelum dia mengucapkan tujuan mengganggu sang empu. Rasa takut melaporkan berita buruk kepada Jerry membuatnya harus bersiap menjadi samsak manusia jika sang tuan murka dan meluapkan emosi nanti.


"Tuan." Sedikit tubuhnya dibungkukkan sebagai tanda penghormatan kepada tuannya, berulang kali dia menelan ludah dengan susah payah dan tak berani menatap majikan di hadapannya secara langsung.


"Katakan!" Nada tegas terdengar mengerikan ketika mulut tua itu mulai mengucap kata.


Dengan jantung yang berdegup kencang dan perasaan was-was dia mulai mengutarakan maksud kedatangannya. "Tuan, beberapa orang mengacau di Rumah Sakit Bahagia."


"Apa?" Terkejut mendengar penuturan sang anak buah pria itu langsung menegakkan tubuh, dengan wajah merah padam dia berdiri, melangkah mendekat untuk memastikan pendengarannya tidaklah salah. "Kau bilang apa tadi?"


"Be–beberapa orang mengacau di Rumah Sakit Bahagia dan membawa kabur seorang pasien." Tubuhnya bergetar ketika mengatakan hal itu, keringat dingin mulai membasahi dahinya yang lebar, hingga tak butuh waktu lama, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiki membuat pria itu langsung jatuh tersungkur di bawah kaki tuannya.


"Apa kalian bodoh, hah?!" Jerry meluapkan segala amarah ke pada pria di depannya. Hawa panas langsung merambat naik ke otak hingga membuat emosi meningkat. Otot lehernya menegang, berulang kali kaki itu melayang, menendang tubuh yang meringkuk tepat di bawahnya. "Bagaimana hal itu bisa terjadi?"


Sang bawahan hanya bisa meringkuk menutup wajah dengan tangan. Kaki tua sang tuan tak terus menerus menyakiti tubuhnya yang berisi. Luka lebam membiru mungkin akan muncul setelah ini. Beruntung Jerry menghentikan aksi sebelum dia mati.


Pria itu memijat pelipisnya. "Hah?!" Tangan tua bergerak memporak-porandakan apa pun yang berada di atas meja. Suara barang pecah, hingga kertas dokumen beterbangan menambah suasana kacau di ruangan tersebut.


Pria itu kembali berdiri tegak, setelah Jerry selesai menjadikan dirinya samsak. Dia menatapnya dengan sorot mata tajam dan napas memburu naik turun seperti suara kereta uap yang bergerak.


"Cari tahu siapa yang mengacau sampai dapat?!" Jerry menekankan setiap kalimat yang diucapkan dengan nada mengancam.


"Baik, Tuan." Dia lantas membungkukkan diri, lalu melangkah mundur keluar dari ruangan tersebut.


Sementara itu, Jerry yang berada di dalam kembali melemparkan barang-barang di sekitarnya hingga hancur berkeping-keping. "Sialan! Sialan!" Pria itu murka, embusan napasnya sudah seperti singa yang bersiap menerkam mangsa. Bola mata melebar seakan bersiap keluar dari tempatnya.

__ADS_1


Rumah Sakit Bahagia merupakan pedang bermata dua baginya. Di satu sisi reputasi menjadi baik karena hal itu dan di lain tempat bisnis ilegal di baliknya berjalan lancar hingga menghasilkan segunung harta yang bisa dinikmati sampai sekarang.


"Tidak akan kubiarkan kalian menghalangi jalanku!" Kedua tangannya mengepal erat hingga membuat buku-bukunya memutih. Cukup lama hidupnya berjalan lancar selama lebih dari dua puluh tahun ini. Kini, sudah ada lagi yang berani mengusik ketenangannya.


________________


Di sisi lain, Johny yang sudah selesai menjalankan tugasnya kembali ke markas mafia Virgoun. Dia meletakkan koper berisikan uang tersebut di atas meja, topeng palsu di wajahnya dilepas setelah selesai menjalankan misi dan disimpan di tempat khusus.


Senyum mengembang di wajahnya, hingga tak lama kemudian, sang kakak menghampiri dengan begitu gagahnya.


"Apa misimu berhasil kali ini?" Dia bertanya sambil meletakkan diri di kursi samping adiknya dan ikut menuangkan brandy ke dalam gelas di meja.


Johny hanya mengerlingkan mata ke arah koper di sampingnya dengan bangga, sedangkan Brian menatap lekat barang tersebut.


Dia mengerutkan dahi, hingga berlapis-lapis kerutan. Entah mengapa, koper tersebut membuatnya sedikit heran. "Kau sudah membukanya?" Johny hanya menggeleng.


Yakin akan kinerjanya membuat pria itu kehilangan kewaspadaan, yang dia tahu hanyalah uang berhasil dibawanya ke hadapan sang kakak.


"Tuan." Dengan napas terengah-engah seorang pria melaporkan berita yang baru saja ia terima.


"Ada apa?" Brian menatap dengan kilatan tajam, dia merasa ada yang salah sejak tadi, hingga kedatangan pria di depannya.


"Sopir bus kita tewas, orang itu juga menghilang."


Johny langsung berdiri dari posisinya karena terkejut mendengar perkataan anak buah mereka, sedangkan Brian langsung membongkar koper di tangannya, membuat kedua orang itu bingung dengan tindakannya.


Uang bertebaran di mana-mana karena Brian langsung menumpahkan isi dari koper tersebut hingga tak tersisa. Berulang kali dia membolak-balikkan benda itu lantas membanting ke lantai dan menginjak dengan kuat sampai hancur berantakan.


Sebuah benda kecil mulai membuatnya tertarik, dia merendahkan tubuh dan meraih barang tersebut mengamati dengan tajam, lalu meremas kuat hingga hancur dan memasukkan ke dalam gelas brandy adiknya.

__ADS_1


Tangan Brian mengayun tinggi mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi Johny. Deru napas mulai tak terkendali, sisi asli langsung terlihat jelas di wajah datarnya. "Apa kau bodoh?" Suara bariton itu terdengar sangat mengerikan, menggema memenuhi seluruh ruangan.


Bukan hanya pipi panas berbekas merah yang didapat Johny, tetapi juga teriakan keras dari sang kakak. Selama ini Brian tidak pernah memarahinya hingga seperti sekarang. Dia memegang bekas merah panas di kulit akibat amarah kakaknya.


Hanya ada napas memburu dan mulut membisu di kala menyaksikan langsung betapa mengerikannya Brian ketika sedang marah. Dia tidak mampu menjawab apa pun saat ini, diam dan tal berani menatap kakaknya untuk waktu yang cukup lama, sambil menelan ludah secara susah payah.


Perlahan Brian mengkontrol emosinya yang meluap, mencoba menetralkan kembali napas memburu dan tatapan menghunus seakan bersiap untuk membunuh adiknya secara langsung.


"Kau sudah tahu identitas orang itu?"


Sang anak buah menyerahkan sebuah dokumen penyelidikan tentang korban mereka dari rumah sakit, sebelum melancarkan aksi kepada Brian dengan tangan gemetaran. Sebuah kejadian langka bagi merek bisa menyaksikan langsung amarah keturunan sah Marcopolo tersebut.


Benar saja rumor yang beredar di kalangan anggota mafia Virgoun, Brian lebih mengerikan dibandingkan dengan sang ayah–Marcopolo–di saat dia mulai mengeluarkan taringnya.


Brian merebut berkas tersebut dengan kasar, membaca setiap detail pasien yang di rawat di rumah sakit, tidak ada kejanggalan apa pun di sana. Dia membolak-balikkan kertas, hingga tiba di sebuah dokumen tentang penjamin pasien, yaitu sang karyawan.


Sejenak tidak ada yang istimewa dari hal tersebut. Namun, semakin lama brian membaca, manik matanya bertambah tajam. Napasnya kembali memburu bahkan bisa di dengar oleh kedua orang di sampingnya. Dia menangkap sebuah informasi tempat korban mereka bekerja–Light Holding–seketika amarah kembali merasuki dirinya.


"Apa kau tidak membaca ini terlebih dulu, hah?!" Berulang kali dia memukulkan kertas itu ke wajah adiknya saking meluap amarah dalam dirinya.


"Hah?!" Brian mendengus kesal menendang betis adiknya yang masih terdiam tak berkutik. Sama halnya dengan Jerry, ketika pria tersebut marah apa pun di depannya akan berubah menjadi samsak.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Brian menendangi adiknya hingga jatuh tersungkur di lantai dengan tubuh babak belur. Sesaat kemudian, dia mencengkeram kuat kerah pakaian Johny dan menatap tajam ke arahnya. "Jika sampai ternyata Jessi tahu hal ini dan aku gagal mendapatkannya kembali, akan kupastikan untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri!"


Tatapan tajamnya membuat siapa pun bergidik ngeri ketika melihatnya. Johny hanya bisa mengangguk perlahan sambil menelan ludah dengan susah payah karena sorot mata sang kakak tanpa berkedip bersiap untuk menghunusnya kapan pun.


Sesaat kemudian, pria tersebut menghempaskan tubuh adiknya dan melangkah pergi meninggalkan markas begitu saja. Sementara itu, Johny yang melihat kepergian sang kakak seakan kembali mendapatkan pasokan udara di tubuhnya.


Anak buah di samping membantunya untuk berdiri karena luka di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Sial!" Johny menatap gelas brendy di sampingnya dengan mengumpat dalam hati. Dia tidak menyangka akan kembali mendapatkan kesialan setelah sebelumnya berbangga diri karena misinya berjalan lancar.


To Be Continue...


__ADS_2