
Tak butuh waktu satu jam, para anak buah yang bekerja sama berhasil menemukan orang mencurigakan dalam jajaran tamu undangan. Selain itu, seorang wanita terekam kamera pengawas kebun binatang di saat berkelahi dengan Jane di sekitar area kamar mandi.
Mereka pun segera mencari tahu siapa perempuan tersebut dengan tangan cepat Maurer. Tak butuh waktu lama, data Rosa Selay berhasil dikantongi hanya dalam hitungan menit. Tanpa membuang waktu, para anak buah bergegas memberikan informasi kepada sang tuan muda.
"Tuan." Willy memerlihatkan sebuah video yang mereka dapat. Juga informasi lainnya tentang kedua orang tersebut.
Tangan Nicholas mengepal dengan kuat, hingga menampakkan buku-buku jari yang memutih. Kedua bola mata pria tersebut membulat sempurna seakan bersiap menelan hidup-hidup nyamuk di depannya. "Kita ke sana sekarang!"
Ketika mereka mulai bergerak, Laura mengikuti dari belakang mengikuti Nicholas hingga membuat putranya menghentikan langkah. "Mommy dan Daddy mau ke mana?"
"Tentu saja menemanimu, Son," ucap Laura dengan penuh semangat.
Nicholas hanya bisa menghela napas panjang untuk sesaat. "Tak perlu, Mom. Sudah ada mereka yang menemaniku. Lagi pula mereka hanya sekelompok amatiran yang mencoba bermain petak umpet. Lebih baik, Mommy pulang dan temani istriku di rumah. Tunggu aku membawa keluarga Selay pulang! Akan kujadikan mereka selai daging panggang untuk persembahan Mars."
"Kau yakin tidak membutuhkan kami?" Laura masih enggan untuk menuruti permintaan putranya. Akan sangat menyenangkan jika dia bisa kembali beraksi seperti beberapa saat yang lalu.
Namun, Michael di sampingnya segera merangkul bahu istrinya dan menasihati dengan lembut. "Sayang, biarkan putra kita melakukan tugasnya sebagai suami. Ayo kita susul menantu kesayanganmu!"
"Cih, kalian ayah dan anak sama saja. Sukanya meremehkan wanita." Laura langsung berdecih dan mengeluarkan ekspresi merajuk serta melenggang pergi meninggalkan suami juga putranya begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.
__ADS_1
Michael hanya bisa menggeleng kecil melihat tingkah istrinya yang berlalu. Dia lantas menepuk bahu putranya sejenak. "Tenanglah, Son. Jalankan apa yang seharusnya kau lakukan! Jangan hiraukan ucapan Mommymu! Kau tahu sendiri wataknya."
"Baik, Dad. Aku pergi dulu."
Sang ayah hanya mengangguk membiarkan putranya kembali memenuhi kewajiban sebagai seorang suami. Sementara itu, Laura yang melangkah meninggalkan suaminya terus saja berceloteh sendirian sambil berulang kali mengentakkan kaki.
"Sial! Dasar punya anak dan suami tak tahu diuntung! Apa karena aku sudah tua jadi mereka memilih bersenang-senang sendirian. Sialan!" Berulang kali Laura mengayunkan kaki, menendang udara kosong demi melampiaskan kekesalan. Hingga tak lama kemudian, terdengar suara seseorang memanggilnya lirik.
"Pstt! Psst! Mommy." Mendengar ada suara yang menanggilnya Laura pun menoleh ke kanan dan kiri, hingga pandangannya terhenti di saat melihat sang menantu bersembunyi di balik pohon.
"Jessi!" Laura mengernyitkan dahi dan melangkah menghampiri menantunya ketika wanita tersebut melambai padanya. "Apa yang kau lakukan di sini, Girl? Bukankah suamimu sudah memintamu pulang?"
"Jane tadi pingsan, Damien mengantarnya ke rumah sakit. Jadi, aku kabur dari mereka. Apa, Mommy juga diusir dari kesenangan itu?" Laura mengerucutkan bibir sambil mengangguk kecil. "Tenang saja, Mom! Kita ikuti mereka dari belakang."
"Ayo cepat, Mom!" Tanpa membuang waktu, keduanya pun melangkah pergi meninggalkan lokasi menuju kendaraan yang akan mereka gunakan sebagai transportasi.
Entah dorongan dari mana Jessi berniat sekali melakukan hal ini. Sepertinya hormon kehamilan membuat wanita tersebut bertindak lebih bar-bar daripada sebelumnya. Keinginan untuk melihat musuhnya lebih kuat dibandingkan dengan apapun. Dia seperti mendapatkan obat atas kemarahan setelah mendengar Keluarga Gery Selay bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada pernikahannya.
Setibanya di tempat parkir, Jessi membawa ibu mertuanya menuju sebuah truk besar. "Apa, Mommy bisa mengemudikan truk ini?"
__ADS_1
Laura seketika membelalakkan mata di saat melihat sebuah truk besar berisikan para harimau Jessi yang masih hidup di sangkar bagian belakangnya. Ini seperti memindahkan hewan dari kebun binatang ke tempat lain. Tentu saja hal tersebut membuat wanita paruh baya itu langsung tersenyum lebar. "Jangan meremehkan Mommymu! Ayo naik!"
Mereka pun bergegas menaiki truk besar tersebut dan bergerak melalui jalan lain ke kediaman Gery Selay agar Nicholas tak curiga. Tak ada lagi gaun hitam menjuntai indah, Jessi hanya menggunakan jaket dan celana jeans pendek simple di bawah perut serta rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja. Tak lupa lipstik merah di bibir mungilnya menambahkan kesan ala-ala mami mucikari.
"Kau tahu di mana rumahnya, Girl?" tanya Laura sambil mengemudikan kendaraan besar tersebut dengan hati-hati.
"Tentu saja, Mom. Dulu aku mengucapkan permisi dengan menabrak gerbang rumahnya," jawab Jessi santai.
"Benarkah? Pasti menyenangkan kalau kita melakukannya lagi." Sebuah senyum indah kembali terukir di wajah bergaris halus wanita tersebut. Meskipun memiliki usia yang tidak muda lagi, tetapi semangatnya untuk beraksi tak pernah padam. Terlebih lagi mempunyai menantu seperti Jessi, mereka sungguh layaknya ibu dan anak kandung. Berwatak sama dengan kepribadian serupa pula.
Tak lama kemudian, keduanya mulai memasuki kawasan jalan kediaman Gery Selay. Mereka melihat di depan sudah berjajar mobil Nicholas dan anak buah yang lain pun sudah tiba di sana. Tanpa menghentikan laju kendaraannya, Laura hanya mengklakson terus menerus hingga mobil-mobil di depannya menepi dengan sendirinya.
"Siap, Girl?"
"Tentu saja, Mom."
Tanpa membuang waktu, Laura langsung menabrak gerbang baru tinggi dan gagah di depan sebagai pintu masuk kediaman Gery dengan keras. Suara hantaman terdengar begitu keras hingga membuat para penjaga kediaman tersebut berhamburan melarikan diri.
Sementara itu, Nicholas dan yang lainnya hanya bisa mengikuti kegilaan istri dan ibunya dari belakang. "Awas saja kalian kalau sampai di rumah nanti!"
__ADS_1
To Be Continue...