
Cinta datang tanpa bisa dicegah atau diminta kepada siapa dia akan berlabuh. Dia hadir membawa sejuta rasa, entah itu bahagia ataupun luka. bahkan kekhawatiran pun ikut serta di dalamnya.
Mario tidak bisa fokus di saat beberapa jajaran direksi mengemukakan keluhan akan produk baru yang akan diekspor ke negara lain. Berulangkali pria tersebut melirik pergelangan tangan di mana sebuah jam bulat melingkar indah kontras dengan tangannya yang lembut.
Fokus Mario kini hanya pada Anna, meski dirinya tengah mengerjakan urusan kantor yang cukup rumit. Lelaki itu begitu khawatir akan terjadi sesuatu hal buruk pada wanita itu, terlebih lagi dia tidak dapat mengontrol keadaannya untuk saat ini, walaupun keluarga Light menjaganya, rasa gelisah saja masih terus mengganggu pikiran.
Berulang kali dia mengetuk-ngetuk penanya ke atas meja demi mengalihkan perhatian, sayangnya semua itu hanya percuma sebab meskipun tubuh Mario di ruangan tersebut, tetapi hati dan pikirannya masih tertinggal di samping Anna.
“Rapat cukup untuk hari ini. Apa yang ingin kalian sampaikan sedikit banyak Maurer paham akan hal itu. Jadi tak perlu menunggu keputusanku karena Nyonya Jessi maupun aku sudah memercayakan semuanya padanya." Mario memutuskan untuk segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat menemui Anna. Berada di samping wanita itu membuat dirinya lebih tenang daripada seperti ini, meskipun pada akhirnya dia hanya menjadi pelampiasan pikiran gelap Anna. Namun, Mario selalu ikhlas menerima semuanya. Demi kesembuhan sang pujaan hati. “Kau urus saja semuanya, kalau memang masih ada yang menghalangimu, langsung copot dari posisinya!” ujar Mario pada adiknya.
“Baik, Kak.’’
Tanpa membuang waktu Mario berdiri dari posisinya dan melangkah pergi meninggalkan orang-orang yang masih berada di ruangan tersebut. Mereka hanya bisa tercengang melihat kepergiannya tanpa bisa menanyakan satu hal pun, tentang apa yang membuat Mario lebih mementingkan hal itu di bandingkan dengan bisnis.
Akan tetapi, ternyata masalah Mario tak cukup berhenti di sana saja. Dia kembali harus menghadapi Rosa yang sudah menunggu di lobi sejak pagi seolah tak lelah menantinya yang beberapa hari sudah tidak datang ke perusahaan.
Jika saja resepsionis maupun informannya bisa menemukan di mana tempat tinggal Mario. Rosa pasti tidak perlu menguntit layaknya lalat yang merubung mangga busuk seperti ini.
"Tuan Mario," sapa Rosa yang langsung menghadang langkah Mario tepat di hadapannya.
"Maaf saya sedang buru-buru. Jika ada sesuatu yang penting, silakan tinggalkan pesan pada pihak resepsionis! Nanti Maurer akan mengurusnya," ujar Mario masih sopan, yang langsung berlalu begitu saja tanpa memerhatikan Rosa saat itu. Baginya yang terpenting saat ini adalah segera tiba di rumah sakit agar bisa bertemu Anna yang sudah membuatnya resah sejak tadi.
Dia mengambil mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi tanpa memerhatikan apa pun lagi. Padahal tanpa Mario sadari, Rosa sejak tadi mengikutinya dari belakang karena tidak sabar lagi untuk menunggu pria tersebut meliriknya secara halus.
“Ke mana dia akan pergi dengan kecepatan seperti ini?” Rosa bermonolog sambil sedikit kesulitan mengikuti laju Mario dalam mengemudi. Namun, tekad yang kuat membuat wanita itu tidak akan berhenti mengikutinya.
Alangkah sialnya karena laju Mario harus dihentikan oleh lampu merah, tetapi ada hal baik juga di sana karena dia melihat seorang anak kecil yang menjual berbagai rangkaian bunga. Tanpa membuang waktu, Mario membuka kaca mobilnya dan memanggil bocah tersebut untuk memborong semua mawar yang dibawanya.
__ADS_1
Setelah seluruh bunga di dapatkan. Mario pun segera kembali melaju menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan senyum tak pernah pudar di wajahnya, membayangkan kelakuannya sendiri saat ini yang tampak seperti remaja jatuh cinta.
Akan tetapi, hal tak terduga kembali terjadi sebab di saat Mario keluar mobil dengan membawa sekotak mawar tersebut, tiba-tiba saja dia kembali terkejut di kala berbalik, mendapati Rosa yang sudah menghadang di depannya. “Oh, ****!” umpatnya karena tak menduga hingga bunga itu hampir saja lepas dari tangan Mario.
“Apa ini untukku?” Tanpa izin Rosa mengambil setangkai bunga begitu saja seolah mereka saling akrab. “Hmm, harum. Terima kasih.”
“Apa kau gila? Kenapa mengikutiku sampai kemari?” Mario langsung saja berjalan meninggalkan Rosa tanpa menunggu jawaban wanita tersebut. Baginya yang terpenting saat ini adalah bertemu Anna dan tak perlu menanggapi wanita gila yang ternyata mengikutinya.
Saat Mario membuka pintu kamar Anna, dia melihat wanita itu tengah duduk bersender dengan Jessi di sampingnya. Mario masuk perlahan dengan membawa bunga mawar yang tadi dibelinya. “Maaf, tadi di jalan aku bertemu anak kecil penjual bunga, jadi aku membeli dagangannya karena kasihan,” ujar Mario beralasan karena tidak mungkin mengakui membelinya sebab mengingat Anna.
“Cih, alasan. Bilang saja kau merindukannya sampai hampir gila di perusahaan,” sindir Jessi sambil melihat jam di dinding. “Lihat! Bahkan belum ada tiga jam kau pergi, tapi sudah buru-buru kemari. Kenapa tidak membawakan saja dokumen pengalihan saham sebagai hadia lamaran? Atau bunga bank juga boleh, bukan malah membawa bunga mawar.”
Meskipun menggerutu kesal, nyatanya Jessi mengambil kotak itu dan menyerahkan satu tangkai pada Anna, sedangkan yang lainnya dia pindahkan di vas bunga berisi air dan meletakkannya di nakas samping Anna.
Pandangan Anna yang semula kosong, kini teralihkan sejak saat mendengar derap langkah sepatu pria itu. Dia menatap Mario tak berkedip, mata itu berkaca-kaca seolah menggambarkan rasa haru mendalam. Jiwa yang sebelumnya telah goncang, sekarang berjanji akan merelakan semuanya demi bisa bersama orang yang dicinta.
Baru Anna hendak membuka mulutnya, suara seorang wanita yang tiba-tiba saja nyelonong masuk sudah menghentikan kalimatnya yang masih tercekat di tenggorokan.
“Jadi siapa yang dirawat di sini?” tanya Rosa yang langsung masuk begitu saja tanpa permisi karena penasaran dengan apa yang membuat Mario tak memerhatikannya sejak tadi.
“Rosa? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Jessi sambil mengerutkan dahi hingga menghasilkan ratusan lapisan tanpa selingan coklat di sela-selanya.
“Ah, Nyonya Jessi. Anda juga ada di sini rupanya. Apa dia saudaramu?” Meskipun dalam hatinya menyimpan dendam, tetapi Rosa masih mencoba bersikap ramah karena dia masih membutuhkan Mario sebagai tujuan utamanya saat ini.
“Dia—” Belum sempat Mario menjawab, Anna sudah terlebih dulu mendahuluinya.
“Aku calon istrinya.”
__ADS_1
Kalimat singkat yang keluar dari mulut Anna dengan penuh keyakinan membuat semua orang di dalam ruangan tersebut menatap ke arahnya. Mario yang mendengar Anna mulai berbicara merasa senang sekaligus haru, sedangkan Rosa syok hingga tertawa seolah tak percaya dan malah menghinanya.
“Jangan bermimpi terlalu tinggi kalau mengharapkan seorang pria! Apa kau masih berada di bawah pengaruh obat makanya berhalusinasi dan ingin menjadi istrinya?” ujar Rosa tanpa memikirkan bagaimana perasaan Anna yang masih berada di atas ranjang tersebut.
Sayangnya, hal itu tak membuat Anna goyah. Hingga muncullah sebuah seringai jahat di wajah Jessi sambil menyaksikan perdebatan dua wanita yang merebutkan satu pria di ruangan tersebut. “Kalau saja ada kripik kentang dan air kelapa muda, pasti akan lebih seru dinikmati sambil melihat pertandingan ini,” batin Jessi sambil menyilangkan kedua tangan melihat di mana Anna sudah tampak lebih normal dari sebelumnya.
"Siapa bilang aku berhalusinasi? Bukankah benar yang aku katakan, Bos? Kau sendiri 'kan yang melamarku di depan Ibuku. Apa semua itu hanya omong kosong belaka?" ujar Anna tampak sudah biasa dengan segala kecrewetannya.
Mario mendengar apa yang di katakan Anna, sayangnya fokus pria itu hanya pada wajah sang wanita yang sudah kembali semula. Tanpa banyak kata dia langsung bergerak memeluk Anna dan mendekap erat seolah mereka baru saja bertemu.
Anna berulang kali memukul tubuh Mario dari belakang karena pria itu terlalu erat memeluknya. "Bos, apa kau ingin membunuhku? Aku tidak bisa bernapas," ucap Anna dengan susah payah karena napas yang tercekat.
"Maaf, maaf." Mario langsung melepaskan rengkuhan di saat menyadari tindakannya. Anna seketika menghirup oksigen dalam-dalam karena pasokan udara yang tiba-tiba saja di ambil oleh Mario tanpa permisi.
"Aku pikir kau ingin membunuhku karena berpaling dengan penguntit itu, Bos," kata Anna dengan polosnya karena dia tahu selama ini Rosa sudah mengikuti bosnya sejak lama, sayangnya pria tersebut tak pernah menanggapinya.
Rosa seketika membelalakkan mata hingga membulat sempurna ketika dirinya dipanggil penguntit oleh Anna. "Apa kau bilang? Penguntit?"
"Iya, apalagi namanya kalau bukan penguntit di saat kau menunggunya berbulan-bulan di kantor dengan tak tahu malu. Padahal dirimu tahu, Bos Mario sama sekali tak melirikmu." Anna mencebik melihat Rosa. "Cih, dasar tak tahu malu. Apa kau sudah tak laku sampai-sampai harus terus mengejar Bosku yang gantengnya paripurna ini?"
Entah dari mana asal keberanian Anna saat itu. Padahal ada Jessi juga Mario yang bersangkutan di sana. Akan tetapi, kalimatnya seakan tak bisa dia tahan walaupun hanya untuk sedetik dan terus saja melaju layaknya kereta cepat. Bahkan setiap kalimatnya hampir menyerupai kekejaman lidah Jessi.
Beruntungnya Maria dan triplets tengah berjalan-jalan di luar. Jika saja Maria mendengar kalimat yang keluar dari mulut Anna. Pasti wanita itu tidak akan mengira jika Anna masih wanita yang sama. Di mana sebelumnya dia tidak bisa di ajak berkomunikasi dan hanya berdiam diri dengan tatapan kosong.
Namun, itulah yang namanya wanita. Di saat ada seseorang berusaha mengambil apalagi merayu pria yang di cinta. Dia akan bergerak cepat menyembunyikan atau mengakui pria itu sebagai miliknya. Hal itu dilakukan demi menjaganya dari godaan iblis wanita yang terkutuk seperti Rosa. Jika saja dia lemah dalam bertindak, hanya ada kebodohan yang membuatnya kehilangan pria sebaik Mario yang tetap di sampingnya apa pun situasi dan kondisi Anna.
To Be Continue..
__ADS_1