
Kematian Emily bagaikan pukulan tersendiri bagi keluarga Night. Dia layaknya meninggalkan setumpuk aib yang akan selalu dikenang bagi keluarganya.
Dia pun segera dimakamkan secara tertutup untuk menghindari banyaknya wartawan yang berkerumun di kediaman mereka. Bahkan hanya dihadiri oleh seluruh penghuni rumah, serta kerabat dekat, dan tidak menerima kunjungan orang luar.
Hal yang lebih menyakitkan adalah sang kakak kandung Kate Morning–Jerry Morning–bahkan tidak turut serta hadir di pemakaman itu. Meskipun, Emily adalah satu-satunya keponakan, tetapi kematian yang meninggalkan aib membuat Jerry enggan untuk ikut terseret di dalamnya. Apalagi saat ini reputasinya sudah kembali naik di kalangan masyarakat.
Jerry lebih memilih berkutat dengan pekerjaan di ruangannya, dibandingkan mengunjungi sang adik yang tengah berduka. Entah terbuat dari apa hati pria tersebut, tetapi memang inilah sifat sesungguhnya seorang Jerry Morning.
Sesaat kemudian, terdengar ketukan dari luar pintu ruangannya.
"Masuk!"
Seorang pria yang belum lama ini menjadi asistennya mulai melangkah memasuki ruangan. "Tuan," ucapnya seraya membungkuk hormat seperti biasa.
"Ada apa?" Jerry menghentikan pekerjaannya untuk menatap sang asisten dengan kilatan mata yang menusuk.
"Apakah Anda tidak menghadiri pemakaman putri Tuan Barron?" Pria tersebut berusaha hati-hati dalam berbicara. Sorot mata Jerry membuatnya sangat tidak nyaman sebagai seorang pria.
"Tidak. Apa kau ingin mengaturku?" Jerry berdiri dari posisinya, melangkah memutar hingga berada di depan sang asisten. Dia bersandar di meja kerjanya sambil mengamati pria muda di depannya.
"Tidak, Tuan. Kalau begitu saya permisi menjalankan tugas kembali." Dia kembali membungkuk dan bergegas keluar dari ruangan.
Jerry tidak menjawab dan masih fokus menatap pria tersebut dari belakang. Tanpa sadar sebuah seringai menggelikan tergambar jelas di wajahnya. Jika orang lain melihat, pasti akan merinding dibuatnya.
Cukup lama dia tidak lagi bermain setelah kematian Tom Evening, lalu apa salahnya mencoba mainan baru. Hanya saja mungkin akan merepotkan jika sampai hal ini menyebar ke publik. Haruskah setiap pria yang menemaninya dibunuh saja?
Tanpa sadar sebuah senyum dan tawa keluar dari bibir busuk pria tua itu. Entah setan apa yang merasukinya hingga hatinya malah berminat kepada pria dibandingkan dengan wanita. Padahal sangat jarang untuk mencari orang sepertinya.
Namun, hal itu hanya berlaku sebentar saja karena kedatangan seseorang yang selalu melaporkan setiap informasi dunia bawah kepadanya.
"Keluarlah!" Jerry kembali pada ekspresi datarnya dan menatap sang bawahan yang sudah cukup lama menjadi sumber informasinya itu.
__ADS_1
"Tuan."
"Katakan!"
"Johny mengerahkan beberapa anak buahnya untuk menangkap putri Tom Evening." Pria berwajah datar dengan usia yang masih cukup muda mulai melaporkan penyelidikannya. Menjadi anjing tersembunyi Jerry sejak kecil untuk mengawasi orang-orang di sekitar pria tersebut, termasuk Brian dan Johny.
"Benarkah, artinya gadis itu sekarang di tangannya?"
Pria tersebut menggeleng. "Mereka gagal."
Sebuah papan nama yang terbuat dari kaca di atas meja langsung dilemparkan oleh Jerry. Suara pecahan terdengar begitu keras memenuhi ruangan. Beling tajam berserakan tak beraturan, raut wajahnya merah padam dikarenakan amarah yang membuncah dalam darahnya, hingga membuat otot-otot pria tua tersebut menegang.
"Bodoh, bodoh, bodoh?!" Berulang kali Jerry mengumpat, melampiaskan kekesalan pada apa pun yang ada di depannya. "Apa dia begitu bodoh hingga menangkap satu gadis kecil saja tidak bisa?"
Barang-barang di ruangan tersebut mulai melayang tidak pada tempatnya, Jerry sungguh mengamuk dan melemparkan semua benda. Bukan hanya karena berita yang dia dengar, tetapi juga disebabkan segala kondisi akhir-akhir ini. Masalah selalu saja datang, tidak ada yang berjalan sesuai dengan rencana, serta hanya ada kabar buruk menghampirinya.
"Sepertinya ada yang melindungi gadis itu, Tuan."
"Mantan istri Brian," jawabnya datar.
"Maksudmu, wanita itu berhasil lolos karena mantan istri Brian?" Jerry menatap tajam pria berwajah datar di depannya, tidak ada kebohongan yang tergambar di sana. Namun, bagaimana bisa seorang wanita begitu sulit ditangkap.
"Iya, mereka hampir berhasil membunuh seluruh anak buah yang dikirimkan Brian, tetapi sebagian berhasil kabur terlebih dahulu."
Sebuah senyum mulai terlukis di wajah pria itu, dia tidak menyangka jika mantan istri Brian akan sehebat itu. Seandainya memang perempuan itu tangguh, lalu untuk apa Marcopolo menentang dan berusaha memisahkan mereka. Bukankah lebih baik menariknya ke dalam kelompok ini.
"Tapi, Tuan. Dia bersama seorang wanita dari keluarga Bannerick."
Seketika senyum di wajahnya menghilang mendengar hal tersebut. Bukan tanpa alasan, tetapi keluarga Bannerick adalah satu-satunya keluarga yang tidak akan mungkin dia jamah karena mereka sendiri terlalu kuat dan bergerak secara gaib.
"Maksudmu?" Jerry mencoba untuk memastikan kembali maksud dari anak buahnya. Tidak mungkin Bannerick ikut campur dalam hal ini jika tidak mengenal mereka.
__ADS_1
"Sepertinya mantan istri Brian sudah menjadi bagian dari keluarga Bannerick."
"Selidiki lebih jelas lagi. Jika memang benar wanita itu menantu keluarga Bannerick, cari tahu kelemahannya!" Sebuah seringai jahat tergambar jelas di wajahnya. Jika tidak bisa bekerja sama dengan Jessi, maka jangan salahkan kalau dia akan menjadikan wanita itu sebagai salah satu kelemahan Brian nantinya. "Brian akan menggila jika mengetahui hal ini."
"Baik, Tuan." Setelah itu pria tersebut lantas pergi meninggalkan ruangan, sedangkan Jerry meninju meja di sampingnya dengan keras hingga menyebabkan luka di tangannya.
"Patricia, Maria."
Selama ini, dia menyangka jika penyebab utama kematian Tom Evening adalah Maria karena wanita itulah yang diam-diam mengetahui rahasia mereka berdua. Namun, hal yang masih membuatnya bingung, bagaimana bisa wanita itu keluar dari rumah sakit jiwa.
Sebenarnya Jerry memintanya untuk membunuh saja wanita itu sejak dulu. Namun, Tom Evening selalu menolaknya dengan berbagai alasan.
Sekarang lihatlah, kau mati di tangan wanita itu! Jerry mengepalkan kuat kedua tangannya, dengan sorot mata yang melebar dia adalah orang yang membenci kaum wanita.
Sejak dulu, Tom adalah satu-satunya orang yang selalu menemaninya semenjak kepergian istrinya. Kehilangan wanita tersebut merupakan pukulan tersendiri bagi Jerry Morning, dia memberikan seluruh cinta pada seorang perempuan berkasta rendah.
Keluarganya tidak menyetujui hubungan mereka karena ia berasal dari keluarga miskin. Sebab itulah segala cara dilakukan oleh ibunya untuk memisahkan sepasang suami istri yang masih berusia muda tersebut.
Suatu hari dia menemukan pengkhianatan, istrinya tengah berada di hotel bersama pria lain. Amarah membuatnya buta dan menyiksa sang istri, hingga wanita itu lebih memilih untuk pergi dari hidupnya tanpa menjelaskan kejadian yang sesungguhnya.
Faktanya, semua itu hanyalah bagian dari rencana ibunya demi memisahkan sepasang insan yang masih hangat-hangatnya.
Sampai sekarang, Jerry masih tidak tahu di mana istrinya berada setelah kejadian naas itu. Dia seperti kehilangan minat kepada wanita dan malah menyimpang pada sahabatnya sendiri–Tom Evening.
Hanya takdir yang tahu, bagaimana kisah cintanya kandas karena restu orang tua. Berulang kali keluarganya kembali menjodohkan dengan wanita yang sederajat dengan keluarga Morning.
Namun, hati sudah terlanjur terluka, dia tidak bisa lagi merasakan cinta dari seorang wanita. Selain istrinya terdahulu. Tanpa sadar mengingat hal itu membuat nyeri di hati Jerry. Dia luruh di lantai dengan buliran hangat yang mulai mengembun di pelupuk mata.
Dia menangkupkan kedua tangan di wajah tuanya. Penyesalan tinggallah kenangan, tidak tahu kejadian sesungguhnya membuatnya membenci para wanita. Jerry mulai terisak dalam tangisnya, menyebut satu nama yang selama ini membekas di hati. Meninggalkan goresan luka hingga hampir tiga puluh tahun lamanya.
"Stephanie."
__ADS_1
To Be Continue...