Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Mineral Beracun


__ADS_3

Pagi hari menjadi awal yang membahagiakan bagi semua orang. Aktivitas baru dimulai dengan semangat bergelora. Malam kelam seakan berlalu begitu saja. Namun, tidak dengan kelompok mafia Virgoun.


Kali ini mereka kehilangan banyak anggota akibat kejadian semalam. Bahkan tangan kanan Johny baru berani kembali ke markas bersama anak buah yang selamat setelah matahari menampakkan sinarnya.


Dua orang pria tengah berpeluh ria di ruangan olahraga, sebuah tempat gym pribadi bagi Johny dan kakaknya.


"Apa sudah ada kabar dari anak buahmu?" tanya Brian.


Sang adik menggeleng sambil berlari di atas treadmill. "Kemarin dia bilang menemukan Patricia di sebuah pusat perbelanjaan. Aku mengirimkan beberapa personil awalnya. Tapi, dia kembali melaporkan jika wanita itu bukan orang biasa."


"Apa maksudnya?"


"Entahlah, aku mengirim lagi lebih banyak personil. Tapi, sampai sekarang aku belum mendapatkan laporan." Johny menambah kecepatan larinya. Begitu pula dengan sang kakak di sampingnya.


Mereka memang layaknya saudara yang akur, tetapi siapa yang tahu jika Johny hanyalah sebuah bidak catur bagi Brian. Dia tidak benar-benar memedulikan bagaimana nasib adiknya, pria tersebut hanya memahami situasi tanpa harus mencari informasi sendiri. Ya, cara licik Jerry Morning seakan mendarah daging dalam jiwanya yang gelap.


Tidak ada yang tahu apa tujuan Brian sebenarnya. Dia tidak pernah menampakkan minat akan sesuatu selain membunuh wanita dan pria yang dibencinya. Bahkan perihal sang mantan istri, Johny hanya melihat dari sebuah lukisan, tetapi tidak pernah diberitahu bagaimana cerita aslinya.


Mereka hanya mengerti jika Brian begitu mencintai sang mantan istri. Akan tetapi, itu bukanlah cinta, melainkan obsesi semata. Entah apa yang akan terjadi jika pria tersebut tahu Jessi sudah menikah kembali. Mungkin perang dunia ketiga akan segera terjadi.


Tak berapa lama kemudian, seorang pria memasuki ruangan. Dialah anak buah Johny yang selamat dari amukan Laura dan menantunya. "Tuan."


Mendengar panggilan di belakang, Johny menghentikan gerakan treadmill tersebut. Dia turun lantas mengambil air minum yang tersedia di sana. "Katakan!"


Rasa berdebar-debar membuat sang anak buah tertunduk. Ia mencoba untuk berbicara secara hati-hati agar tidak menjadi sasaran amukan Johny. "Tuan, k–kita gagal."


"Apa?" Johny yang terkejut menyemburkan minuman di mulutnya dan menatap tajam ke arah anak buahnya. "Katakan sekali lagi!"


"Maaf, Tuan. M–misi kita gagal." Dengan kemarahan yang menggebu Johny melemparkan botol minuman dengan keras ke lantai, hingga air di dalamnya memercik ke mana-mana.


"Apa kau bilang? Apa kalian bodoh? Bagaimana hal itu itu bisa terjadi, hah?!" Johny menatap tajam anak buahnya, mencengkeram kuat leher seakan bersiap untuk membunuhnya dalam sekejap mata.

__ADS_1


Akan tetapi, sang kakak memegang tangannya untuk menghentikan niatnya. "Lepaskan dulu! Biar dia menjelaskan!"


Johny menuruti perintah Brian dengan napas yang memburu naik turun. Dia melepaskan cengkeraman tangannya, hingga membuat sang anak buah terbatuk-batuk karena tindakannya membuat pria itu kehabisan oksigen.


"Sekarang katakan dengan jelas!" Johny menatap lekat pria yang kini duduk berlutut di depannya.


Rasa gugup dan takut menyeruak dalam diri pria tersebut. Keringat dingin bercucuran ditambah dengan raut wajah pucat pasi membuat pria tersebut berbicara dengan bergetar. "Kami gagal, ketiga wanita itu berhasil membunuh anggota lainnya dan hanya menyisakan beberapa orang saja."


Kemarahan seakan meluap dalam diri Johny. Raut wajah merah padam dengan manik mata menggelap dan otot leher yang menegang membuat pria itu tampak mengerikan. Dia mengepalkan kedua tangan dengan kuat, dan bertubi-tubi memukul serta menendang anak buahnya secara membabi buta. "Brengsek, kau pikir aku percaya dua puluh orang pria dikalahkan hanya oleh tiga wanita."


Sang anak buah hanya bisa terdiam, ketika tubuhnya menjadi samsak kemarahan tuannya. Ia meringkuk di lantai memegang perut dan menutupi kepala dari tendangan kaki Johny. Seandainya boleh memilih, pria tersebut akan lebih bahagia jika bisa mati di tangan ketiga wanita, dibandingkan menerima amukan pemimpin mafia.


"Sudah hentikan! Dengarkan dulu penjelasannya!" Brian menahan tubuh adiknya agar tidak bertindak lebih jauh, bisa-bisa sang anak buah mati tanpa mendapatkan informasi apapun.


Johny menurut, dia menghentikan aksinya sejenak, sambil mengatur kembali napasnya yang terengah-engah. "Jelaskan!"


Pria tersebut terbatuk dan mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya sebelum akhirnya mulai berbicara. "Target kita bisa bela diri, dan dia bersama Nyonya Bannerick."


Brian dan Johny yang terkejut seketika menatap tajam pria tersebut. "Apa maksudmu Nyonya Bannnerick?"


Kilatan mata Brian seperti pedang tajam yang siap menghunus kapan saja, sehingga membuat pria tersebut sulit untuk bernapas. Bahkan hanya untuk menelan salivanya sendiri.


"Apa Patricia menantunya?" tanya Brian.


Sejenak pria tersebut mengingat kembali keakraban ketiga wanita. Namun, sayangnya ia tidak bisa menilai siapa wanita sesungguhnya yang menjadi menantu Bannerick. Hanya gelengan kepala pelan yang bisa dilakukan pria itu dengan ragu.


Brian menatapnya tajam, lalu berbalik mengambil sebotol air di belakang. "Minumlah!" Dia menyerahkan wadah mineral itu kepada anak buah Johny. Tindakannya sukses membuat sang adik mengernyitkan dahi.


Apa yang Kakak lakukan?


Dengan ragu-ragu pria tersebut mengambil botol di tangan Brian. Tatapannya biasa saja, tetapi siapa yang bisa menebak isi hatinya?

__ADS_1


"Minumlah! Kau pasti haus."


"Terima kasih, Tuan."


Secara perlahan ia membuka tutupnya, dan meneguk air di dalam perlahan-lahan. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang ketika meminum minuman tersebut. Perasaan apa ini?


Tak lama kemudian, perutnya seakan melilit, organ dalam seperti ada hewan yang menggerogoti dan jantung dengan cepat berhenti berdetak. Pria tersebut melebarkan matanya menatap lekat wajah Brian yang hanya mengeluarkan senyum sinis bak iblis.


Dalam sekejap mata, isi dalam perut seperti berlomba untuk keluar dari tempatnya. Pria tersebut menyemburkan banyak darah kental yang hitam dari mulutnya. Sebelum akhirnya lemas tak berdaya di atas lantai dengan percikan noda merah di seluruh wajah dan pakaiannya dan mata yang terbuka lebar.


Johny terkesiap melihat adegan pembunuhan melalui racun yang dilakukan secara langsung oleh sang kakak. Dia syok dan melebarkan mata menyaksikan sekaratul maut tangan kanan yang selama ini setia kepadanya.


Setelah kematian anak buahnya, sebuah tepukan di bahu menyadarkan Johny dari lamunannya. "Tidak ada yang perlu disesali. Dia mati karena gagal menjalankan tugas. Akan sangat memalukan jika anggota lain tahu kalian digagalkan hanya karena tiga wanita." Brian kembali menepuk bahu adiknya, lantas berlalu pergi meninggalkan ruang gym seolah dia tidak melakukan apa-apa.


"Ada orang di luar!" Teriakan Johny membuat penjaga di luar gym masuk.


"Saya, Tuan." Pria tersebut membungkuk sedikit dan terkejut menatap tubuh yang tergeletak tak berdaya bersimbah darah di lantai.


"Bereskan dia!"


"Baik, Tuan." Johny mengambil handuk yang terletak di belakangnya dan berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Brian memang tidak menyukai kegagalan. Baginya gagal adalah sebuah cacat yang tidak pantas untuk dipertimbangkan lagi. Anak buah seperti itu hanya memiliki satu akhir di tangan Brian. Kematian.


Racun yang selalu dia gunakan juga sangat mematikan, meskipun belum lagi menemukan distributor baru untuk barang-barangnya tersebut. Akan tetapi, Brian masih memiliki cukup banyak racun yang bisa digunakan.


Penemuan baru yang lebih mematikan hasil dari racikannya sendiri, dengan tingkat keefektifan dalam membunuh nyaris sempurna. Karena Brian selalu menguji coba langsung kepada manusia, entah siapa pun itu.


Setelah membersihkan diri Brian, menatap lekat wajah cantik pigura Jessi di kamarnya. Dia sebenarnya bukanlah penjajah wanita dan hanya setia pada satu orang tetapi, jiwa gelapnya itu bukanlah cinta. Hanya ada sebuah obsesi fana ciptaannya karena sejatinya pria tersebut tidak pernah bisa merasakan emosi manusia.


"Apa kau merindukanku, Sayang? Tunggulah sebentar lagi! Aku akan membawamu kembali padaku." Sebuah senyum mengerikan terukir jelas di wajahnya, menampakkan ekspresi senyum penuh cinta yang baru saja kembali dia praktekkan di depan cermin.

__ADS_1


Ya, dia ingin membawa Jessi kembali, setelah menguasai setiap ekspresi bahagia dari wajah datarnya.


To Be Continue...


__ADS_2