Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Sidang Dua Asisten


__ADS_3

Setelah semua karyawan keluar dari ruangan, Jessi segera menutup akses kaca menjadi hitam agar tidak terlihat oleh orang lain di luar. Dia memutar kursi dan mengamati dua orang asisten yang kini di berada di depannya. 


"Kau ingin mengatakannya sendiri atau aku yang akan membongkarnya?" 


Kalimat ambigu Jessi berhasil membuat keduanya saling berpandangan. Entah apa maksud wanita hamil itu kepada mereka dengan sorot tajam tersebut. Dove serta Rahmat kini layaknya terdakwa yang tengah di sidang dan divonis hukuman mati ketika berada di depan Jessi. Sungguh perempuan menakutkan jika dijadikan pemimpin sebuah perusahaan.


Untuk sejenak Jessi mengembuskan napas panjang. "Apa kalian bisu, hah?" teriaknya dengan lantang hingga membuat kedua orang itu terlonjak kaget karenanya. 


"N–nyonya, apa maksud Anda?" tanya Rahmat dengan sedikit gugup sebab suara Jessi seketika mendebarkan jantungnya tanpa permisi. 


"Dove, kenapa kau melakukan semua ini?" Jessi menatap tajam ke arah Dove tanpa menjawab pertanyaan Rahmat. 

__ADS_1


Dove terkesiap mendengar tuduhan Jessi. Tidak mungkin wanita tersebut tahu dia pelakunya. "Apa maksud Anda, Nuonya?" 


"Aku beri waktu satu menit, katakan alasanmu atau kau boleh langsung keluar dari perusahaan ini!" Jessi berbicara dengan tegas dan tampak jelas sifat otoriternya dalam menangani semua ini. 


"Anda tidak bisa seenaknya saja memecat saya tanpa persetujuan Tuan Damien, Nyonya!" teriak Dove tak kalah kerasnya. Kedua tangan wanita tersebut bahkan terkepal kuat, sedangkan Rahmat di sampingnya hanya bisa menatap bingung kedua wanita yang saling melayangkan tatapan tajam satu sama lain tersebut. 


"Jangan kau pikir dirimu bekerja selama sepuluh tahun menjadikan Kakakku mengistimewakan dirimu!" Jessi berdiri dari posisinya dan mendekat ke arah Dove, kemudian membisikkan sesuatu di telinga wanita tersebut. "Apa lagi kalau dia tahu kau mengusik istrinya!" 


Tanpa sadar Dove luruh di lantai sambil menutup wajah menggunakan kedua tangannya. Tubuh wanita tersebut bergetar hebat dan mulai terdengar suara isakan yang selama ini dia tahan. "Apa salahku?" ucapnya lirih sambil menepuk dadanya sendiri karena nyeri tak berkesudahan. "Mengapa dia bahkan enggan untuk melihatku?"


Jessi hanya bisa menghirup oksigen dalam-dalam, seperti kali ini dia harus berperan sebagai wanita lembut. Dove terlalu buta akan cinta, apalagi sesungguhnya wanita tersebut sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengambil hati Damien dengan kemampuannya. Sayangnya, rasa sakit hati untuk pertama kali membuat Dove salah langkah dan melakukan sebuah kesalahan. 

__ADS_1


"Kau mencintai Damien?" Jessi merendahkan tubuh untuk memegang bahu wanita yang masih terisak itu. 


"Aku mencintainya selama lebih dari sepuluh tahun. Tapi, kenapa dia tak pernah melihatku dan malah memilih wanita lain?" teriak Dove meluapkan segala isi hatinya. 


"Apa kau tahu kalau Rahmat juga mencintaimu?" Dove seketika mengangkat kepalanya menatap ke arah Jessi, sedangkan Rahmat hanya bisa membelalakkan mata di kala dirinya menjadi sasaran kedua wanita itu. 


"Apa maksudmu?" tanya Dove. 


"Lihat! Kau bahkan tidak tahu jika pria lain juga menyukaimu. Jadi, kenapa kau meminta Damien menyadari perasaanmu?" 


Dove hanya bisa terdiam untuk waktu yang cukup lama mendengar apa yang dikatakan Jessi. Selama ini dia sendiri hanya fokus mengejar Damien tanpa memikirkan hal lain, bahkan melirik pria lainnya pun tidak. 

__ADS_1


To Be Continue… 


__ADS_2