Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Perjuangan Ibu


__ADS_3

Sang dokter yang dipanggil pun melangkah mendekat dan bertanya pada Jessi. "Apa yang Anda rasakan, Nyonya?" 


Jessi melambai pada wanita itu agar mendekat kepadanya. "Kebelet pup?" bisiknya di telinga sang dokter sambil menahan sakit di pinggangnya yang terasa hampir patah secara bersamaan. 


"Tuan, Nyonya sudah mau melahirkan," lapor dokter tersebut pada Nicholas. 


"Apa? Bukankah masih dua minggu lagi?" tanya Nicholas dengan panik. "Will, siapkan helikopter!" teriak Nicholas membuat para acara terdiam sejenak demi menyaksikan apa yang terjadi. 


"Baik, Tuan." 


Tanpa membuang waktu, Nicholas bergegas menggendong tubuh istrinya yang masih berbalut gaun mengembang, sehingga cukup berat di tangannya. Bersama dengan sang dokter Nicholas melangkah panik menuju tempat di mana helikopternya terparkir meninggalkan pesta pernikahan yang kembali riuh untuk kesekian kalinya. 


"Sayang, lepas dulu bajunya! Nanti tidak muat di pintu," ujar Jessi ketika mereka semakin dekat dengan helikopter. 


Nicholas pun menurunkan tubuh istrinya sejenak dan membuka resleting dengan paniknya. Beruntung baju yang disiapkan Laura cukup praktis sehingga tak perlu banyak pengaturan untuk melepasnya dan membuangnya sembarangan begitu saja, sedangkan Jessi kini hanya  mengenakan pakaian dalam layaknya bikini seksi yang mengekspos perut buncitnya. 


Tanpa membuang waktu pria tersebut lantas kembali membawa sang istri ke dalam helikopter dan menutup tubuh tersebut dengan selimut. "Sweety, bertahanlah!" ucap Nicholas sambil menggenggam erat tangan istrinya di saat helikopter mulai lepas landas. 


Sang dokter terus mengecek bagian inti tubuh Jessi, yang berbalut selimut dengan menekuk kedua kaki wanita tersebut lebar-lebar. Sesekali Jessi menggenggam erat tangan suaminya di saat rasa sakit bersamaan melanda dan tak memberinya jeda untuk bernapas. Sebagai calon ibu, semua sakit dan perjuangan ketika kontraksi dia tanggung seorang diri. Namun, Nicholas selalu sedia memberikan tubuhnya jika Jessi membutuhkan pelampiasan rasa sakit. 

__ADS_1


"Sabar ya, Sayang. Jangan keluar dulu! Tunggu di rumah sakit! Jangan menyakiti Mommy, ya!" ucap Nicholas lembut sambil mengusap perut istrinya. 


"Apa kalian tidak bisa lebih cepat, hah?" teriak Nicholas pada pilot dan Willy sebagai co-pilot di depan. 


"Sabar, Tuan. Sebentar lagi sampai," ujar Willy sama-sama paniknya bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin sebesar biji durian karena situasi ini dan tak berani menoleh ke belakang.  


Suasana di dalam helikopter tampak begitu menegangkan. Bahkan mengalahkan area pertempuran apa pun. Perjuangan ketika seorang ibu mencoba melahirkan sang buah hati sungguh terasa memenuhi ruang yang ada. Bahkan kedua pengemudi di depan sampai bergetar hebat karena takut terjadi sesuatu yang buruk dalam perjalanan kali ini.


"Sakit, Nich," rintih Jessi sambil mencengkeram kuat lengan suaminya. 


"Sabar, Sweety. Tenang, bagilah rasa sakitmu padaku!" Hanya itu kalimat yang bisa diucapkan Nicholas meskipun dia sendiri merasa lebih panik daripada Jessi saat ini. Apalagi melihat wajah pucat pasi dan keringat yang mengalir sejak tadi di wajah istrinya. Menandakan perjuangannya dalam menahan rasa sakit sungguh membuatnya merasa iba. Kalau saja dia bisa mengambil alih semua itu, pasti Nicholas akan melakukannya agar sang istri terbebas dari rasa sakitnya. 


Apa yang Jessi rasakan saat ini semua ibu pasti pernah merasakannya. Perjuangan ketika melahirkan lengkap dengan drama dan problema pastinya melekat erat dalam ingatan sebagai suatu kehormatan tersendiri bagi seorang wanita. Rasa sakit bagaikan seluruh tulang dipatahkan secara bersamaan, tetapi tetap dituntut untuk sadar, bahkan menikmati semua itu sendirian.


Dokter segera mensterilkan diri serta mengenakan sarung tangan dan duduk di bawah kaki Jessi sambil menyiapkan peralatan yang juga sudah disterilkan kalau sampai terjadi kondisi darurat. 


"Tahan sebentar ya, Nyonya." Dia pun mencoba untuk mengecek jalan lahir sang bayi menggunakan tangan hingga membuat Jessi sedikit mendesis dan menutup matanya. "Sudah hampir pembukaan lengkap, tinggal sebentar lagi ini." 


Mendengar hal itu, Nicholas seketika berbicara pada perut Jessi. "Sayang, masuk dulu. Jangan keluar dulu, ya. Kita belum sampai di rumah sakit." 

__ADS_1


Hal itu sontak mendaratkan sebuah pukulan dari Jessi di kepala suaminya. "Anaknya mau keluar bukannya disemangatin malah disuruh masuk lagi!" Jessi hanya bisa mendengus kesal di sela kesakitan melihat tingkah absurd sang suami. 


Bagaimana bisa Jessi tengah berjuang mengeluarkan bayi dalam kandungan, tetapi Nicholas malah memintanya agar tak segera keluar. Hal itu tentu saja akan membuat rasa sakitnya semakin lama kalau sampai doa suaminya dikabulkan.


"Tenang, Nyonya. Jangan emosi! Atur napas perlahan!" ucap sang dokter mencoba menenangkan pasiennya dan mencoba profesional di balik suara keras baling-baling yang malah menambah kesan menegangkan pada suasana melahirkan kali ini. "Tarik napas, Nyonya!" 


Jessi pun mengikuti arahan sang dokter dan mulai menghirup oksigen dalam-dalam. "Embusan lebih panjang dengan hati-hati dari mulut!" Dia pun kembali menuruti instruksi sang dokter dan mengembuskan napas panjang.


"Tarik napas ... embuskan!" 


Entah berapa kali Jessi melakukan hal itu dan benar membuatnya merasa sedikit tenang. Hingga sesaat kemudian, rasa sakit tak tertahankan melanda dirinya dan membuat wanita tersebut berteriak dengan kuat sambil melingkarkan tangan di leher suaminya layaknya mencekik pria tersebut. "Nggak kuat lagi, Dok!" 


Dokter pun kembali melihat ke bawah setelah sang pasien tampak sudah berada di ujung perjuangannya. "Ya sudah. Yuk angkatan! Tarik napas dalam-dalam … dibuang sambil mengejan panjang dan jangan mengeluarkan suara!" Jessi lantas mengambil napas dalam-dalam  lalu menumpukan dorongan pada bagian perutnya sambil menutup mata demi mendorong sang bayi seperti arahan dokternya. "Jangan menutup mata, Nyonya! Lihat ke bagian perut Anda!" perintah dokter di saat melihat Jessi menutup matanya. 


Beruntungnya helikopter memiliki ruang yang cukup luas hanya untuk tiga orang tersebut dan sandaran kursinya pun bisa digerakkan sehingga Jessi memposisikan diri setengah duduk, dengan punggung yang ditahan tangan sang suami dan satu tangan lainnya menggenggam erat lengan istrinya yang melingkar di leher Nicholas. 


"Tarik napas … embuskan!" 


Melihat Jessi sudah mengejan dua kali dan kepala bayi sudah terlihat sebagian, tetapi pendeknya jarak antara liang lahir dan anus saat ini serta terjadi kekakuan otot, maka menyebabkan sang dokter harus melakukan prosedur Episiotomi. Di mana gunting vaagina harus dilakukan pada ibu saat melahirkan karena kekakuan otot, sehingga dicurigai kepala—bayi—akan merobek dengan cukup hebat nantinya. 

__ADS_1


Dokter menyelipkan kedua jarinya untuk melindungi kepala yang hendak keluar tersebut. Lalu menyuntikkan anestesi di bagian yang akan dia gunting. Namun, ketika wanita tersebut memegang gunting Nicholas malah berteriak padanya. "Hei! Apa kau mau membunuh istriku, hah?" 


To Be Continue...


__ADS_2