
"Tunggu apalagi, Paman! Cepat pesan! Kalian mau dia mati sebelum uangnya datang pada kalian?" bentak Jessica pada kedua penculik itu. "Atau, kalau tidak, sebaiknya antar dia pulang sekarang! Aku juga sekalian mau makan di rumah saja!" lanjut Jessica, senyuman tengilnya terukir begitu saja saat penculik itu mulai frustrasi menghadapi tingkah gadis kecil di hadapan mereka. Jika bocah tersebut terlalu lama disimpan, maka mereka akan kehabisan uang akibat gaya mahal yang dimintanya.
Kedua penculik tersebut tampak berdialog, memikirkan cara agar urusan penculikannya segera terselesaikan.
"Baiklah, kalau begitu, kami akan memesan makanan yang kalian inginkan. Tapi dengan syarat berikan nomor telepon orang tuamu!" ujar Si kurus bernegosiasi.
"Okey, tapi nanti setelah makanannya datang." Seorang Jessica meskipun masih kecil bukanlah anak yang mudah ditipu oleh penjahat kelas teri seperti mereka.
Mau tak mau keduanya pun memesan makanan cepat saji itu dan memberikan keduanya air mineral terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian, si bocah laki-laki pura-pura tersadar dari pingsannya dengan tubuh lemas. Hingga Jessica seketika mendekat. "Apa kau sangat lapar?"
Bocah laki-laki hanya mengangguk karena tangan mungil Jessica sudah mencubit lengan kecilnya sebagai ancaman.
"Hei! Paman! Apa kalian membohongi anak kecil seperti kami? Kenapa makanannya lama sekali?" teriak Jessica dengan suara cemprengnya yang menggelegar hingga tak lama setelahnya terdengar deru kendaraan bermotor jasa pengantar makanan.
"Diam di sini dan jangan bersuara atau aku akan membunuhmu," ancam si kurus yang kemudian mengkode si gendut supaya mengambil pesanan mereka.
Tentu saja Jessica langsung menurut dan duduk manis di sana tanpa banyak kata seperti sebelumnya. Akhirnya setelah sekian lama sang Mommy tidak mengizinkannya makan makanan sejenis itu karena menganggap gizi yang terkandung di dalamnya tidak seimbang dan terlalu banyak lemak yang menumpuk, d
Jessica bisa kembali menikmati makanan kesukaannya di sini.
"Nah, Bos." Si Gendut hanya bisa menelan ludahnya sendiri dengan susah payah melihat banyaknya makanan yang dipesan.
"Sekarang berikan nomor telepon orang tuamu. Biar kami bisa meneleponnya dan mereka pasti akan menjemputmu di sini nanti setelah kalian kenyang," ucap Si Kurus.
"08080808080." Jawaban singkat Jessica sambil membuka semua kotak yang langsung mengeluarkan aroma sedap khas makanan berlemak hingga membuat Si Gemuk hanya bisa mengendus aromanya.
Namun, ketika Jessica mengulurkan tangan hendak meraih sebuah burger tiba-tiba saja tangannya ditampik oleh Si Kurus. "Jangan ngawur gadis, Manis. Coba mana lihat tasmu, mereka pasti menulis nomornya di dalam sana. Coba tunjukkan!"
"Sudah kubilang nomornya 08080808080, kenapa tidak percaya? Cobalah dulu!" jawab Jessica kesal dan langsung mengambil makanan tersebut sambil menatap tajam penculik yang mengganggu acara makannya.
Penculik gendut mencoba menekan angka yang disebutkan Jessica, dan ternyata tersambung. Nomor antik tersebut memanglah nomor Jesslyn. "Benar, Bos," ujarnya menunjukkan pada bosnya.
"Berikan padaku!" Si Kurus langsung merampas ponsel anak buahnya tersebut dan melangkah pergi.
Sementara itu, Si Gemuk hanya bisa menatap Jessica sambil menelan salivanya sendiri melihat bocah kecil tersebut makan dengan lahapnya. "Kenapa, Paman melihat kami? Pergi sana ikut Si Kumis Kucing. Makanan ini khusus buat anak kecil!" ujar Jessica sambil melebarkan mata hingga membulat sempurna menatap pria gemuk di depannya sambil tangan gadis kecil itu langsung menyuapkan sebuah hotdog utuh pada anak kecil pria di sampingnya dengan kasar. "Nah, makan. Jangan sampai kamu mati kelaparan di sini!"
Mau tak mau, Si Gemuk hanya bisa menghela napas panjang dan melangkah mengikuti bosnya yang pergi meninggalkan kedua bocah itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, suara seorang wanita terdengar begitu jelas di telinga si kurus melalui sambungan telepon. “Hallo."
“Hallo, Nyonya. Bagaimana kabar Anda hari ini? Apa Anda merasa kehilangan sesuatu yang berharga?” Dengan gayanya di kurus duduk di sebuah kursi sambil menyilangkan kaki. Dia bertindak sombong layaknya seorang penculik profesinal.
“Tidak,” jawab wanita itu singkat.
“Benarkah? Bagaimana dengan putri tercinta Anda, Nyonya? Apa Anda masih belum tahu kalau dia bersama kami.” Dia tertawa menggelegar karena merasa di atas awan. Dari suaranya saja sudah terdengar jika wanita di seberang sana merupakan orang berkelas karena mampu berbicara dengan nada santai, tetapi begitu indah terdengar di telinga. “Dengar, Nyonya! Anak Anda kami culik. Kirim tebusan sebesar lima milyar dollar. Atau gadis manis ini tidak akan pernah kembali!" lanjutnya dengan nada mengancam.
"Benarkah? Kalau kalian mau ambil saja. Aku tidak butuh anak seperti dia. Terima kasih sudah mau menampungnya padahal aku berniat membuangnya. Silakan menikmati kebersamaan dengan putriku. Aku akan membuat lagi yang lebih manis dibandingkan dia." Jesslyn menutup teleponnya tanpa basa-basi membuat penculik itu seketika membelalakkan mata menatap ponsel Si Gemuk.
"Apa ini? Bagaimana seorang wanita memiliki pemikiran seperti itu? Apa dia masih pantas dipanggil ibu?" teriak Si Kurus dengan kesal.
Semua wanita yang berperan sebagai ibu, sudah dipastikan akan sangat terkejut dan khawatir mendengar berita bahwa anaknya diculik. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Jessi tua. Wanita itu begitu santai menanggapi penculik kelas teri yang baru saja menelponnya.
Setelah mendengar suara wanita dari sambungan telepon tadi, penculik tersebut murka seketika. Dia seolah-olah dipermainkan oleh dua manusia. Anak yang menyusahkan, serta ibunya yang bersikap acuh. Usahanya kini terasa sia-sia saat mereka menemukan kesialan yang bertubi-tubi.
"Sialan!" umpatnya sambil melempar ponsel ke sofa. "Gagal semuanya!"
"Bagaimana? Apa dia akan menebusnya, Bos?" tanya Si Gemuk dengan senyuman tanpa dosa. Dia seolah tidak dapat membaca ekspresi temannya yang tengah emosi meluapkan amarah. Padahal sejak tadi umpatan kotor keluar dari mulutnya.
"Memangnya, apa yang dia katakan?" tanya Si Gemuk yang memang agak sedikit bodoh.
"Dia tidak mau menebus anaknya. Kau tahu? Bocah tengil itu bahkan tidak diinginkan kehadirannya oleh ibunya sendiri. Dasar wanita gila! Pantas saja anaknya sama-sama menyebalkan."
"Hah, gagal kaya kita, Bos!" Sahut Si Gemuk memelas.
Pandangan Si Kurus tajam menatap Jessica dari kejauhan. Bongkahan otak di kepalanya kini mulai aktif berpikir, memutar cara bagaimana mereka dapat mengancamnya targetnya agar bisa mendapatkan uang.
Kedua penculik itu sama-sama terdiam, sesekali saling tatap penuh makna. Bayangan tumpukan uang yang sebelumnya memenuhi kepala kini lenyap begitu saja akibat orang tua si gadis yang tak peduli dengan anaknya. Mereka merasa sudah dikerjai habis-habisan oleh gadis cilik yang ditangkapnya, belum pagi ibunya yang tidak merespons ancaman penculikan.
Gagal sudah kedua penculik tersebut mendapatkan uang milyaran dollar. Mereka malah harus membayar sewa mobil sport yang fantastis, juga merogoh kantong terdalam untuk membelikan makanan mahal yang Jessica mau. Alih-alih berhayal mendapatkan ganti uang lebih banyak, justru malah kerugianlah yang mereka dapatkan.
Di sisi lain, di saat keduanya tengah meninggalkan dua bocah itu. Tanpa membuang waktu Jessica menaburkan bubuk pencahar di sebagian makanan yang sudah ditandainya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya bocah pria tersebut sedikit heran ternyata gadis kecil di sampingnya banyak akal.
"Diamlah dan jangan berisik! Pura-pura makan saja dan jangan di makan ini!" tunjuk Jessica pada makanan yang sudah diberinya obat pencahar.
__ADS_1
Bocah pria hanya bisa mengangguk patuh, tak lama kemudian. Jessica yang merasa sudah kenyang melangkah pergi ke belakang. "Paman, kenapa kalian sangat berisik sejak tadi? Apa kalian tidak ingin gabung, makan bersama kami?" Jessica merayu kedua pria yang berdiri di ambang ruang tengah. Berpura-pura polos layaknya bocah pada umumnya.
"Diamlah! Jangan banyak bicara, apa kau mau mulutmu itu aku sumpal, hah?" sahut seorang penculik. Dia tampak begitu frustrasi melihat Jessica yang sejak tadi menguji kesabarannya. Kesabaran yang bahkan tidak membuahkan hasil apa pun.
"Paman, kasar sekali. Orang dewasa ternyata banyak yang bodoh, ya?"Jessica berbicara pada teman lelaki yang ada di belakangnya seolah asyik menyantap makanan, lalu kembali melihat kedua pria dewasa itu. "Pasti Ibuku berhasil membuatmu marah 'kan? Dia memang seperti itu. Makanya aku berniat menukarnya."
"Apa kau bilang tadi? Kau mengataiku bodoh?" Penculik itu mendekat, matanya menghunus tajam pada Jessica. Bukannya takut, gadis kecil itu malah tertawa seperti meremehkan.
"Paman, kata Mommy kalau orang dewasa berkata kasar di depan anak kecil, itu namanya bodoh, karena sudah mengajarkan hal tidak baik. Apa aku salah berbicara?" Jessica mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum dibuat ramah, membuat penculik itu menahan kekesalan. "Ini, makanlah, kita harus berbagi," tawar Jessica sembari memberikan sepotong pizza pada sang penculik.
"Paman, sini, ayo gabung!" Jessica melambaikan tangan, memanggil Si Gemuk untuk mendekat.
Tidak dapat dipungkiri, bunyi cacing dalam perut yang kelaparan itu tidak bisa menolak makanan pemberian bocah ingusan di depannya. Meski masih dalam amarah, tetapi penculik itu tetap lahap memakan sepotong demi sepotong pizza yang notabenenya sudah dibumbui dengan taburan penikmat WC yang dibawa oleh Jessica kemana pun setiap harinya.
"Ayo duduklah ke mari dan ikut makan bersama kami." Jessica menggiring kedua penculik itu agar bergabung dengan mereka di ruangan tersebut. "Enak, kan, Paman?" tanya Jessica melihat betapa lahapnya kedua pria itu. Namun, dia tidak mendapatkan jawaban dari kedua penculik karena mereka asyik menikmati makanannya.
Tidak lama kemudian, kedua penculik tercengang, menatap satu sama lain sambil memegangi perut masing-masing. Belum selesai mengunyah suapan terakhir, serentak, mereka berlari menuju kamar mandi.
Rasa mulas dan panas menyerang usus besar mereka. Mengajak isi di dalamnya keluar tanpa permisi terlebih dahulu. "Aku dulu, Bos. Sudah tak tahan," ujar Si Gemuk mendorong Si Kurus berebut kamar mandi.
"Minggir, kau tunggu setelahku!"
Keduanya saling dorong dan adu argumen saat akan memasuki kamar mandi yang hanya ada satu di rumah tua itu.
Perdebatan antara dua orang tersebut membuat Jessica tertawa terbahak-bahak, sedangkan teman di sampingnya hanya terdiam melihat betapa bahagianya Jessica setelah mengerjai mereka.
"Tos!" Jessica mengangkat telapak tangannya yang terbuka yang langsung disambut oleh bocah laki-laki tersebut.
"Kamu pintar." Sebuah seringai kecil terlihat samar di wajah bocah laki-laki itu. Tanpa sadar dia semakin mengagumi bocah di sampingnya.
"Tentu saja, aku pintar, aku cantik, dan aku kaya! Jangan panggil aku iblis kecil kalau tidak bisa mengerjai penculik bodoh seperti mereka," ucap Jessica bangga sambil mengibaskan rambut dengan tangan kanannya.
"Ngomong-ngomong, dari mana kamu mendapatkan bubuk ajaib itu?" tanya bocah laki-laki itu sedikit penasaran. Ternyata ada juga anak seusianya yang memiliki pemikiran cerdas sepertinya. Bukan hanya tahu bermain dan mengganggu kesenangannya.
"Tentu saja ini buat safety. Sebagai seorang gadis cantik yang terakreditasi, banyak pria pasti akan menggangguku. Aku tidak mungkin dengan mudahnya tertipu dengan pria bakotan seperti mereka jika bukan berniat mengerjainya habis-habisan. Sudahlah, jangan banyak bicara. Ayo, kita keluar dari sini! Kau mau ikut aku atau tetap di sini? Kalau nggak mau ikut ya sudah. Aku tidak perlu repot mengurus lelaki lemah sepertimu!" ujar Jessica sambil mengambil tasnya.
To Be Continue..
__ADS_1