Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Jadilah Berharga


__ADS_3

Setelah merasa penampilannya cukup cantik dengan mengenakan daster selutut bermotif bunga-bunga melekat ditubuh dan sandal jepit yang membuat ibu hamil tersebut merasa nyaman di kaki. Dia lantas memuji diri sendiri sembari menatap pantulan cermin di depannya. “Perfect,” ujar Jessi sambil mengedipkan sebelah mata pada diri sendiri.


Dia pun segera bergerak menuruni tangga, tampak kedua anak buahnya semalam sudah menunggu dengan penampilannya masing-masing. Sejenak keduanya tampak mengernyitkan dahi menatap heran ke arah nyonya mereka. Bukankah itu pakaian yang biasa dipakai pelayan paruh baya di rumah ini, pikir mereka dengan saling berpandangan seolah berbicara melalui mata batin.


“Ayo jalan!” ucap Jessi menghentikan lamunan Maurer dan Olivia.


“Kita akan ke mana, Nyonya?” tanya Maurer dengan santai.


“LB Boutique.”


Ketiganya lantas bergerak menuju mobil untuk bergegas menuju butik pengantin milik ibu mertua Jessi tersebut. Rasa mengenakan daster untuk pertama kali membuat perut Jessi yang biasanya harus tertekan kain ketat kini sungguh merasa nyaman. Dia merutuki diri sendiri, kenapa tidak mengetahui ada pakaian senyaman ini bagi ibu hamil. Tahu begitu dia pasti akan membuat bisnis fashion untuk membuat berbagai macam daster yang terbilang masih cukup jarang di negara ini.


Tak lama kemudian, kendaraan pun berhenti di salah satu toko fashion pakaian pengantin paling mewah di negara tersebut. Apalagi kalau bukan butik milik Laura. Di saat melihat menantu kesayangan sudah datang, wanita tersebut tampak sangat antusias dalam menyambut menantunya. 


“Kalian sudah datang, Girls?” Laura dengan santai menyambut pelukan menantunya dan mengelus lembut cucu-cucunya yang masih berada di dalam perut.  “Apa kabar kalian cucu-cucu Oma?”


“Mereka baik, Mom. Apa Mommy sedang sibuk?”

__ADS_1


“Tentu saja sibuk. Kau pikir mengurus pengantin di musim kawin begini akan ada jedanya.” Laura berbicara dengan nada ketus, tetapi malah membuat menantunya tersenyum kecil melihat tingkah ibu mertuanya yang selalu apa adanya. “Ayo duduk! Apa yang kau inginkan kali ini, Sayang? Apa kalian jadi menikah di kapal pesiar?”


“Tidak, Mom! Aku sudah malas.”


“Lalu?”


“Berikan pakaian yang terbaik untuk Olivia!"


“Saya, Nyonya?” Olivia tampak terperangah mendengar penuturan Jessi yang menyebut dirinya. “Tapi saya belum mau menikah, Nyonya?” ucap Olivia dengan polos.


Hal tersebut sontak membuat Jessi menatap tajam ke arah anak buahnya itu dan berkata dengan ceplos tanpa menutupi sedikitpun. “Lalu? Kau hanya ingin digarap tanpa memiliki hak milik atas George? Cih, padahal kalian bahkan sudah berhubungan badan.”


Meskipun hal itu sudah biasa terjadi pada pasangan pacaran di negara ini. Nyatanya hal itu tetaplah membuat Jessi merasa kesal dengan pemikiran para wanita. Padahal sesungguhnya dalam hal ini perempuanlah yang dirugikan atas segala hal yang terjadi ke depannya jika memang tidak ada pernikahan.


“Bodoh! Kenapa kamu jadi ikut-ikutan otak udang sih?” Jessi hanya mendengus kesal melihat tingkah polos Olivia. Meskipun wanita tersebut berhasil keluar dari tempat perdagangan manusia, nyatanya otaknya memang sulit untuk bekerja jika berurusan soal cinta. Sama seperti Jessi remaja yang masih naif dan tak bisa melihat dengan sebenarnya siapa Brian. 


“Sebagai wanita, janganlah kau anggap murah harga tubuhmu itu hanya dengan mendengar kalimat cinta dari kekasihmu! Setidaknya pelacur bahkan lebih berharga karena mereka dibayar. Dan kau? Hanya dinikmati secara cuma-cuma dan akan menjadi seonggok sampah yang tak berguna jika dia sudah bosan menikmatimu! Kau mau hamil dan jadi gendut sepertiku tanpa suami?” Olivia hanya terdiam dan tak mampu menyahut kalimat menohok yang keluar dari mulut pedas majikannya itu. 

__ADS_1


Benar apa yang dikatakan Jessi, Olivia hanyalah seorang gadis naif yang bahkan dengan mudah terhanyut dalam rayuan maut George. Padahal sebelumnya wanita itu juga tak merasa memiliki perasaan lebih padanya. Namun, segampang itukah dia jatuh cinta dan menyerahkan segalanya.


Melihat kebisuan dari anak buahnya, Jessi hanya bisa menghela napas kasar.  Sepertinya lebih menyenangkan membiarkan Maurer dengan kesendiriannya daripada menyadarkan Olivia akan cinta bodohnya. 


“Mati saja kau kalau hanya ingin berdiam diri. Biar George dibawa lari perempuan lain baru tahu rasa kamu! Setidaknya kalau sudah menikahkan kau bisa menikmati uangnya.“ Jessi hanya bisa mendengus kesal menasehati Olivia. 


Mendengar kata perempuan lain, Olivia langsung menarik tangan salah satu karyawan Laura di butik itu. “Ayo bantu aku pilihkan baju pengantin,” ajak Olivia dengan tanpa sadar dan langsung saja menyeret tangan wanita tersebut. Akan tetapi, sesaat kemudian, dia kembali berjalan ke arah Jessi. “Tapi, Nyonya. Ini semua Anda yang bayar ‘kan? Saya tidak punya uang kalau harus membeli gaun mahal.”   


“Pilih yang kamu suka dan tak perlu melihat harga!” ujar Laura membuat Olivia sedikit lega. “Biar Bosmu ini yang membayarnya!” 


Jessi sontak menatap ibu mertuanya dengan sinis. “Cih, Mommy tidak mau rugi”


“Tentu saja. Mommy ini pebisnis kecil yang harus menyimpan dana untuk masa tua.” Laura hanya bisa membela diri. Meskipun pada kenyataannya itu hanyalah obrolan kosong antara ibu dan anak dengan sifat yang sama. Sama-sama pedas dalam berbicara.


“Pilih mana pun yang kamu suka!” ujar Jessi santai.


Mendengar perintah Jessi Olivia pun dengan girangnya kembali melihat-lihat stok pakaian pengantin di butik itu dengan sangat antusias.

__ADS_1


To be Continue..


 


__ADS_2