Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Alice dan Jackson ( Part.2 ) Flashback


__ADS_3

Mendengar perkataan Jessi, mau tak mau akhirnya Jackson menceritakan awal muda kehidupannya, hingga harus meninggalkan istri dan juga anaknya.


*****


Dahulu Jackson adalah seorang petugas kepolisian tingkat rendah dengan lencana perak.


Suatu malam, ketika dia sedang berpatroli secara tidak sengaja bertemu seorang gadis yang sedang berlari.


Jackson menghentikan gadis itu. "Apa yang sedang Anda lakukan, Nona?"


Alice membungkuk memegang lututnya, dengan nafas yang tersengal-sengal. Dia menunjuk ke arah larinya pencopet, tanpa melihat siapa yang bertanya. "Itu ... huh! Tas saya ... huh! Dicopet ... huh!


"Kamu tunggu di sini!" Jackson lantas mengejar pencopet itu dengan rekannya.


Kedua polisi itu berlari mengejar pencopet, sampai tertangkap. Setelah berhasil, rekannya memborgolnya dan membawanya masuk ke mobil patroli.


Jackson menyerahkan tas di tangannya kepada gadis itu. "Ini tasmu!"


Alice melihat polisi tampan di depannya, Alice tidak dapat menahan diri untuk mengaguminya. Dia terpesona pada ketampanan polisi tersebut.


"Nona, Nona!" Lambaian tangan polisi di depan wajahnya membuyarkan lamunannya.


"Akh! Iya terima kasih!"


Kedua polisi itu lantas pergi dari lokasi, membawa pencopet itu ke kantor polisi untuk di introgasi.


Semenjak kejadian hari itu Alice terus mencari masalah, agar bisa di bawa ke kantor polisi dan bertemu Jackson. Dia terpesona pada polisi tampan, sejak pertama kali melihatnya. Dia tidak peduli, kalau harus dikatakan tidak tau malu atau sejenisnya. Yang jelas, dia sangat mengagumi sosok Jackson.


Alice mencuri jajanan di supermarket berulang kali, hanya agar digiring ke kantor polisi, padahal nilai yang dicuri juga tidak seberapa. Namun, demi bertemu dengan pujaan hatinya. Apapun benar-benar dia lakukan.

__ADS_1


"Apa maumu sebenarnya, Nona? Aku yakin kau memiliki tujuan lain!" tanya Jackson saat mengintrogasi Alice.


"Jadilah pacarku! Aku tidak akan berbuat onar lagi!" Alice berpangku tangan memegang kedua pipinya, menikmati ketampanan polisi di depannya yang langsung membuatnya terpukau.


Jackson mengeleng-gelengkan kepalanya mendengar penuturan gadis di depannya. Dia adalah seorang polisi berusia tiga puluh tahun, sedangkan gadis di depannya masih berusia tujuh belas tahun. Baginya ucapan Alice hanyalah candaan anak-anak seusianya.


"Apa kau tau siapa aku?" Jackson mengetik laporan introgasi di komputernya.


"Jackson." Alice membaca name tag yang ada di seragam Jackson.


"Gadis kecil! Kau ini masih kecil, sedangkan aku ini sudah tua! Jika kau ingin main-main, bermainlah dengan teman-temanmu! Jangan berulah di sini! Ini adalah kantor polisi, bukan tempat untukmu bermain!" Jackson berkata sambil menopang dagu dengan kedua telapak tangan yang disatukan.


"Tampan!" Alice bukan mendengarkan nasehat Jackson, tetapi malah menikmati ketampanan pria di depannya.


Jackson menepuk pelan dahi Alice dengan tangannya. "Apa sebenarnya yang kau pikirkan, hah?!"


Alice tersenyum mengelus dahinya yang di tepuk Jackson. "Aku tidak akan mencuci dahiku selama seminggu!"


Alice yang melihat catatan di depannya langsung mengambilnya dengan hati yang gembira.


"Pulanglah! Orang tuamu pasti khawatir!"


Alice kembali dengan bahagia. Setiap hari setelahnya, dia selalu mencari-cari alasan agar dapat bertemu dengan pujaan hatinya. Dia selalu menempel pada pria dewasa itu, membuat Jackson terbiasa dengan kehadirannya.


Suatu hari, Alice bercerita kepada Jackson tentang keluarganya, ketika mereka sedang makan es krim di sebuah minimarket.


"Jackson!"


"Emm." Jack menoleh sambil memakan es krim miliknya.

__ADS_1


"Apa kau akan merindukanku, kalau aku sudah tidak ada lagi di dunia ini?" Suara lirih Alice membuat Jackson terkejut dengan pertanyaan itu.


"Apa maksudmu?!"


"Umurku mungkin tidak lama lagi, sedangkan keluargaku tidak ada yang mempedulikanku!" Alice menundukkan kepalanya mengingat tentang kedua orang tuanya.


"Apa kau sakit?"


Alice hanya mengangguk. "Mereka mengatakan 'aku ini hanya membuang-buang uangnya!' setelah itu, aku lebih memilih berhenti melakukan cuci darah!"


Jackson terkejut dengan pengakuan gadis di sampingnya.


"Hidupku mungkin tidak lama lagi, karena itulah aku mengejarmu! Aku juga ingin merasakan cinta sebelum kematianku, dan kau berhasil membuatku berdebar setiap kali melihatmu!" Air mata Alice jatuh saat mengatakan hal itu. Dia sungguh bersyukur, setidaknya Tuhan mengabulkan salah satu doanya.


"Kau sakit apa?" Jackson bertanya sambil menghapus buliran air mata di pipi Alice dengan lembut.


"Ginjal polikistik, bukan mauku menderita penyakit itu sejak kecil!" Jessi mengaduk-aduk es krim di gelasnya yang sudah mulai mencair.


"Mari kita menemui dokter, aku akan membantumu!" Jackson berkata dengan serius.


Selama ini dia sudah terlalu sering kehilangan orang-orang yang dia sayangi tanpa bisa berbuat apa-apa. Kini dia akan mencoba berjuang demi gadis manis di sampingnya. Meskipun mereka tidak memiliki hubungan apapun saat ini, tetapi entahlah, Jackson belum sanggup kalau harus kehilangan Alice.


TBC.


Bonus Visual.



Alice Night ( 18 tahun )

__ADS_1



Jackson ( 31 tahun)


__ADS_2