
Malam semakin sunyi, waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, tetapi para penghuni apartemen mewah tertinggi masih terjaga untuk mempersiapkan misi selanjutnya.
Berita tentang kematian Seo Ya Ji telah menyebar dengan cepat menjadi Breaking News malam ini. Dikabarkan bahwa dia meninggal akibat serangan perampok yang juga melukai sang suami menghebohkan publik.
Sebagai seorang anak konglomerat di Negara K tentu saja semua orang mengenalnya. Polisi langsung turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk memulai penyidikan. Ayah Seo Ya Ji tidak terima dengan apa yang dialami anaknya. Dia menuntut untuk menghukum mati pelaku kejahatan dan mengusut tuntas kasus tersebut.
Olivia dan Maurer bergantian mengamati kediaman Kim Dae Ho. Sementara, Jessi dan Nich yang sudah berganti pakaian tengah menyantap makanannya di atas meja sambil melihat siaran berita.
"Suamiku, bukankah dia aktor yang handal." Jessi berbicara sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya, mereka makan sambil duduk di lantai sesuai dengan keinginan sang istri.
"Ya, mereka handal. Tapi, istriku jauh lebih handal."
"Kau bahkan belum tahu bagaimana aktingku." Jessi kembali menyuap makanan ke dalam mulutnya.
Dia makan menggunakan tangannya secara langsung, dan Nich tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sebagai pasangan suami istri, Jessi tidak mau lagi menjaga image-nya di depan suaminya. Dia ingin menjadi diri sendiri, dan membiarkan pria itu melihat semua sisi buruk tanpa harus menutupinya.
"Pelan-pelan, Sweety! Aku tidak akan meminta makananmu." Nich menyodorkan gelas minuman ke depan Jessi. Wanita itu makan dengan mulut yang penuh hingga pipinya mengembang. Membuat senyum terukir indah di wajah tampan suaminya.
"Apa yang kau tertawakan?" Jessi mengambil gelas itu, dan meneguknya secara perlahan sambil melirik tajam ke arah Nich. "Kau jelas-jelas tahu aku belum makan sejak tadi siang."
"Maafkan aku, Sayang. Tapi, seandainya kamu tahu, kalau ekspresimu saat ini mirip sekali dengan babi. Kau mungkin juga akan tertawa sama sepertiku, Sweety."
"Apa kini kau menyesal sudah menikahi seorang babi, Nich?"
"Cih ... jangan panggil aku seperti itu! Ucapkan lagi kata 'Suamiku' yang benar." Nich menekankan panggilan sayang yang selalu dia sukai dari Jessi ketika wanita itu memanggilnya.
"Kau jadi banyak maunya, Suamiku." Jessi menekankan setiap ucapannya agar pria di sampingnya puas dengan jawabannya. Tanpa sadar dia sendiri tersenyum mengingat tingkah konyol mereka saat ini. "Apa Crop Dusters-nya sudah siap, Suamiku?"
"Sudah, tinggal menunggu perintah."
"Biarkan para pelayan kediaman itu keluar dahulu."
__ADS_1
Nich menganggukkan kepalanya. Mereka lantas melanjutkan makan yang sudah hampir menjelang pagi tersebut. Beberapa saat kemudian, Jessi kembali menuju balkon. Meninggalkan Nich yang tengah tidur karena selama tiba di sini dia belum mengistirahatkan tubuhnya.
Lagi pula hanya tinggal menjalankan misi terakhir, Jessi sanggup mengatur semuanya. "Bagaimana?"
"Para pelayan sudah mulai keluar, Nona." Jessi meneropong kediaman tersebut, melihat para penghuni mulai keluar sesuai dengan perintah anak buahnya sebelumnya.
Jessi lantas mengambil ponsel milik suaminya untuk menghubungi X. "Jalankan misi sekarang!"
"Baik, Nyonya."
Tak perlu menunggu lama, suara apartemen diketuk oleh para pelayan yang kabur. "Maurer kau buka pintunya!"
Maurer bergegas membuka pintu tersebut. Karena para pelayan itu tidak memiliki lidah, mereka hanya bisa menangis ketika melihat wanita di depannya yang dikenal sebagai Kim So Young, anak sang majikan yang telah lama pergi.
"Masuklah, dan jangan menyentuhku terlebih dahulu!" Para pelayan mengangguk paham,lalu masuk ke dalam apartemen. Mereka sadar, bahwa dalam tubuh itu bertumpuk banyak racun yang bisa membahayakan nonanya.
Seorang pelayan dengan segera menuliskan sesuatu di bukunya. 'Bagaimana dengan Tuan Muda dan Tuan Besar di rumah itu?'
Mereka mengangguk paham dan menunggu di salah satu ruangan, sedangkan Maurer kembali ke balkon untuk menemui Jessi dan Olivia. "Sudah, Nona."
"Bagus."
Beberapa saat kemudian, suara halus Crop Duster mulai terdengar. Benda itu mulai menghujani setiap sudut kediaman Kim Dae Ho dengan bahan bakar. Dua orang yang dipastikan masih berada di dalam tidak menyadari akan hal tersebut.
Jessi menyunggingkan senyumnya. "Pastikan mereka berdua tidak ada yang keluar dari rumah itu!"
Mereka bertiga sama-sama mengintai kediaman itu dari apartemen. Setelah menyelesaikan tugasnya X meninggalkan lokasi dan kembali memutar Crop Duster-nya ke arah lain.
Tombol pemantik diambil oleh Jessi dari sakunya. Sebelum meninggalkan lokasi malam tadi, R sudah menempelkan bom kecil jarak jauh di sebuah tabung gas dapur yang bisa dikendalikan kapan saja.
__ADS_1
Jessi lantas menyerahkan kepada Maurer. "Tugas akhir adalah milikmu!"
Maurer begitu terharu dengan apa yang dilakukan Jessi. Dia tidak tanggung-tanggung dalam membantu para anak buahnya, bahkan hingga menghabiskan banyak biaya hanya untuk semua ini. "Terima kasih, Nona."
Gadis itu menerima pemantik dengan rasa sesak di dada. Perlakuan mereka dengan kedua orang yang dicintainya pantas untuk mendapatkan balasan setimpal. Entah bagaimana kondisi sang kakak dan ayahnya sekarang.
Setelah cukup lama merenung dalam lamunannya, Maurer menatap ke arah Jessi dan Olivia. Kedua orang itu menganggukkan kepalanya, tanda bahwa mereka juga tidak sabar melihat akhir pembalasannya.
Tak menunggu waktu lagi, Maurer menekan tombol tersebut. Bunyi ledakan tabung gas langsung menguar di udara, setiap wilayah pastilah mendengar suara tersebut.
Suara menggelegar membangunkan para penduduk yang tinggal di kawasan tersebut. Api berkobar dengan cepat melahap seluruh bangunan, halaman dan taman. Bahan bakar yang dihujankan dengan segera membuat sang jago merah melahap habis seluruh kediaman keluarga Kim Dae Ho. Bunga-bunga beracun dan tanaman ganja di ubah menjadi abu yang bertebaran di udara. Asap tebal mengepul tinggi layaknya sebuah gunung yang bererupsi membuat semua orang segera berhamburan keluar rumah mereka dan berkumpul di jalanan.
"Api ... api ... api." Suara teriakan orang-orang di kawasan tersebut mulai terdengar. Mereka berlarian sambil menghubungi pemadam kebakaran.
Rasa panas akibat kobaran api yang meluas bahkan terasa hingga ke posisi Jessi dan yang lainnya saat ini. Banyak orang yang menyaksikan hal tersebut layaknya sebuah kebakaran hutan.
Belum puas peristiwa pembunuhan di kediaman putri konglomerat Seo Ya Ji. Kini publik sudah digemparkan dengan kebarakan besar di rumah keluarga ternama Kim Dae Ho. Banyak pihak mulai berspekulasi dengan apa makna dibalik kejadian ini. Namun, faktanya hanya orang-orang tertentu yang tahu.
"Maurer!"
"Ya, Nona."
"Jangan lupa unggah vidio pembunuhan Seo Ya Ji ke berbagai siaran televisi di sini! Kim Jae Wook pastilah akan menjadi tersangka utama dua kejadian malam ini."
"Baik, Nona."
"Olivia, pastikan mereka berdua mereka berdua mati terpanggang di sana dan cek juga kebenaran identitasnya! Jangan sampai mereka lolos melalui lubang tikus!"
"Baik, Nona." Olivia segera pergi meninggalkan lokasi. Dia melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Jessi, mengawasi jalannya evakuasi di kediaman Kim Dae Ho. Meskipun, bisa dipastikan tidak mungkin ada yang selamat karena api yang berkobar baru bisa dipadamkan ketika pagi menjelang.
TBC.
__ADS_1