
Rasa bahagia yang Jane alami selama bersama Damien membuat wanita tersebut meyakini akan masa depannya untuk saat ini. Dia tidak ingin suaminya terluka jika memang nyawanya tak lagi panjang.
Dia berniat mengakui hal itu. Bukan karena apa, tetapi hanya ingin berbagi rasa sakitnya sehingga pria itu tak perlu merasa bersalah nantinya. Lagi pula jika memang sesuatu yang buruk sampai terjadi. Jane hanya ingin Damien mencurahkan segala kasih sayang padanya seperti hari ini.
"Tapi aku memiliki penyakit. Bagaimana kalau ternyata nyawaku tidak lama lagi? Apa kau akan mencari istri baru?" Jane menatap lekat wajah suaminya tersebut. Pria itu hanya tersenyum lembut dan merengkuh tubuh kecilnya yang dingin tersapu angin serta percikan air yang jatuh membentuk air terjun.
"Aku sudah tahu sejak awal, Sayang. Aku pun sudah mencarikan dokter dan rumah sakit terbaik untukmu," ujar Damien dengan lembut, tetapi langsung mendapat lirikan tajam dari Jane.
"Apa kau mengajakku menikah karena tahu aku akan mati? Jadi kau kasihan padaku begitu?"
__ADS_1
"Benar. Anggap saja begitu," ucap Damien dengan enteng hingga istrinya tampak mencebikkan bibir. "Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan penyesalan, sedangkan sebenarnya Tuhan masih memberikan waktu untuk kita bahagia."
"Menyebalkan!" Jane mencubit dada cokelat suaminya cukup keras hingga pria itu kesakitan karenanya.
"Awh." Damien hanya bisa meringis sambil terkekeh melihat wajah istrinya yang tersulut emosi saat ini.
"Kau dan Jessi sama-sama menyebalkan!" Wanita tersebut terus menerus mendengus kesal mendengar kalimat Damien sebelumnya. Sungguh kakak beradik yang kompak dengan mulut mericanya.
"Damien, apa yang kau lakukan? Aku tidak bisa bergerak." Jane terus meronta-ronta ketika wajahnya di sembunyikan di bawah ketiak suaminya tersebut. Meskipun tidak bau bahkan beraroma air segar, tetapi tetap saja dia bukanlah wanita yang mengidamkan hal seperti itu.
__ADS_1
"Menyebalkan!" Dia mendengus kesal setelah kepalanya berhasil keluar dari apitan lengan kekar tersebut. Namun, dengan cepat Damien meraih tengkuk sang istri dan mendaratkan ciuman lembut meninggalkan bekas-bekas merah layaknya macan tutul di tubuh yang hanya berbalut bikini itu.
"Sayang, bagaimana kalau kita melakukannya lagi?" bisik Damien dengan suara parau di telinga Jane. Dia sudah menahan hasrat untuk tidak mencumbu istrinya sejak tadi. Namun, semuanya harus sirna di saat aroma kayu dan air bercampur menjadi satu membawa kekhasan tersendiri bagi keduanya.
"Di sini?" Jane hanya bisa membelalakkan mata tak percaya mendengar keinginan suaminya. Akan tetapi, sepertinya Damien sudah sangat tak tahan dan terus menghisap kulitnya seperti bayi yang kehausan.
Jane hanya bisa menurut dan semakin erat mengusap tangannya di punggung berkulit badak sang suami. Dia bahkan sesekali mendesis sambil mencengkram rambut Damien.
Hutan yang sepi dan jauh dari pemukiman penduduk tersebut menjadi saksi. Di mana sepasang suami istri kembali bergelut manja mencurahkan segala hasrat yang ada beralaskan batu besar. Keduanya kembali bersenggama dengan alunan gemericik air dan ranting pohon yang bergoyang tertiup angin.
__ADS_1
Menikah di usia terlalu matang bahkan hampir gosong membuat mereka menumpuk hasrat dan gairah sebagai manusia. Kini saatnya kedua insan tersebut saling memadu kasih meskipun di ruang terbuka. Padahal itu masih hari pertama mereka menikmati waktu bersama dan menghindar dari hiruk pikuk keramaian kota dan tumpukan dokumen. Mereka dengan tega meninggalkan sang adik yang mengurus perusahaan seorang diri padahal tengah dalam kondisi hamil.
To Be Continue...