Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Mata-mata


__ADS_3

Dion melangkah bersama George di sampingnya. Sepanjang perjalanan dilihatnya seluruh sisi kediaman tempat dia menjadi seorang tawanan.


Sebuah kediaman yang luas dan indah dengan suasana sejuk karena lokasi yang berada di atas bukit. Tidak terlihat gedung atau bangunan tinggi selain mansion ini. Suara auman harimau dan kicauan burung yang melintas di atasnya menambah suasana alami di tempat ini.


Terdengar sayup suara orang-orang yang berlatih di kejauhan, mungkin para anak buah wanita itu. Kediaman ini bahkan lebih luas dari rumah Emily, membuatnya semakin penasaran dengan identitas asli Jessi.


Sebelumnya, ketika dibawa kemari Dion dalam keadaan mata tertutup, sehingga dia tidak tahu pasti di mana posisinya ditawan saat ini. Sepanjang perjalanan pria itu mengingat kembali, siapa kira-kira perempuan keturunan orang kaya di negara ini selain Emily.


Namun sayang, dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaan dalam pikirannya. Hanya ada satu orang yang kaya di negara ini, yaitu keluarga Bannerick, dan mereka tidak memiliki anak perempuan, hanya ada seorang pewaris tunggal. Lagi pula mustahil jika Jessi adalah keturunan keluarga Bannerick, secara Emily saja menganggapnya sebagai saingan.


Lalu siapa sebenarnya wanita ini?


Langkah Dion terhenti ketika melihat empat ekor harimau yang begitu besar berlarian di depannya, membuat pria tersebut mematung seketika.


"Apa yang kau lakukan? Ayo jalan cepat!" George segera menarik Dion yang masih mematung di tempatnya.


Tarikan tersebut membuat Dion langsung sadar dari lamunannya. "Apa kau tidak takut?"


"Takut apa?" George menatap tajam ke arah Dion, melihat apa yang membuat pria tersebut merasa takut. Dia lantas menyusuri arah pandangan sang tawanannya. "Aaa, kau takut dengan mereka?"


George tersenyum mengejek, melihat Dion mulai pucat pasi karena langkah mereka melewati para harimau yang sedang asyik bermain di taman belakang.


Sementara Dion melangkah dengan cepat, dan merapatkan tubuhnya kepada George. "Apa kau tidak takut?"


"Kenapa aku harus takut? Sementara aku membawa makanan mereka." George menyeringai jahat, dan hal itu berhasil membuat Dion semakin takut.


"Apa maksudmu aku adalah makanan mereka?" Dion sudah mulai gusar, tetapi langkah mereka sudah tiba di rumah kaca. Mustahil untuk melarikan diri saat ini.


Setibanya di rumah kaca, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Jessi yang sedang bermain dengan kedua anak harimau putih di atas sebuah gundukan batu.


"Kenapa kalian lama sekali!"


"Maaf, Nona."


Mereka melangkah mendekat, sedangkan Dion berjalan dengan begitu hati-hati. George meletakkan tawanannya agar duduk di kursi di dekat batu tempat Jessi mengelus kedua kucingnya.

__ADS_1


"Moon!" Dion terkejut mendengar teriakan Jessi yang menggelegar menggema memenuhi seluruh ruang. Hingga tak berapa lama kemudian, seekor harimau putih yang begitu besar berlari menghampiri mereka. "Kalian menyusulah dulu! Nanti kita bermain lagi."


Kedua anak harimau seakan mengerti dengan apa yang diucapkan Jessi. Dion semakin keheranan dibuatnya. Apa dia masih manusia?


"Ceritakan padaku! Apa saja yang kau tahu tentang mafia Virgoun?" ujar Jessi.


"Mereka adalah bandar narkoba terbesar di negara ini."


Sejenak Jessi mengernyitkan dahinya, lalu menatap George yang berada di belakang Dion. "Bukankah sebelumnya pasar perdagangan mereka di Negara X?"


"Benar, Nona. Tapi, setelah pembantaian besar-besaran lima tahun yang lalu, kami tidak lagi tahu di mana mereka beroperasi?"


Dion menatap George dalam-dalam. Pria di belakangnya bahkan mengetahui dengan jelas pasar bisnis mafia Virgoun? Bukankah artinya dia tahu jika sebelumnya itu adalah mafia Belzeebub?


"Apa yang membuatmu heran?" Jessi kembali bertanya melihat banyaknya kerutan di dahi Dion.


"B-bukan begitu, Nona. Hanya saja, aku heran mengapa kalian bisa tahu dengan jelas masalah mereka."


"Tidak penting dari mana kami tahu. Apa sekarang kelompok itu berada di negara ini?"


"Sebelumnya?" Jessi kembali berpikir, apa yang dimaksud Dion. "Aa, maksudmu pria yang ditabrak oleh wanita itu?"


"Mungkin, Nona. Saya hanya tahu dari Emily jika anak buah sepupunya sudah mati di tangannya." Dion pasrah kali ini, suara harimau di sampingnya yang sedang menyusui anaknya membuat nyali pria tersebut semakin menciut. Dia hanya berharap Jessi akan melepaskan setelah memberikan semua informasi yang dia miliki.


"Sepupu? Mafia Virgoun dan Emily bersaudara?" Dion mengangguk, sedangkan Jessi langsung bertepuk tangan dengan begitu keras, seraya tersenyum lebar.


"Jadi, keluarga Night dan mafia Virgoun saling berhubungan." Jessi turun dari batu tempat dia duduk, dan mulai berjalan ke sana kemari untuk berpikir. "George, siapa pimpinan Belzeebub sebelumnya?"


"Dia adalah Marcopolo, Nona."


"Apa dia memiliki hubungan dengan keluarga Night?"


"Sepertinya tidak."


"Baiklah kita tampung dulu." Jessi kembali menggendong sekor harimau di tangannya, sambil kembali mengintrogasi Dion. "Apa yang kau lakukan dengan anak-anak dan juga prostitusi online."

__ADS_1


"Anak-anak aku hanya mengirim kepada mereka, entah apa yang terjadi. Tapi, aku hanya melakukannya sekali, karena aku sadar jika aku juga adalah seorang ayah."


"Cih, kau ingin membenarkan tindakanmu atas apa yang kau lakukan?" Jessi mencebikkan bibir, pembelaan Dion tidaklah berarti apa pun. Faktanya dia melakukan kejahatan yang lain adalah kenyataan.


"Kau benar aku mungkin sedang menenangkan diriku sendiri." Dion menunduk, setiap kalimat yang diucapkan Jessi membuat hatinya berdenyut nyeri. "Aku bahkan kehilangan hati nuraniku untuk mencoba membahagiakan istriku."


Tanpa sadar sebuah buliran air mengalir dari pelupuk mata pria tersebut. Dia tidak menyangka, besar cinta kepada sang istri membawanya ke jalan yang salah. Namun, kini semua terlambat, perbuatannya sudah menyebabkan kerugian banyak orang.


"Apa peranmu di prostitusi?" Suara Jessi membuyarkan lamunan Dion.


Dia menatap wanita cantik tersebut. Aura yang dipancarkan tak lagi seperti diawal pertemuan mereka. "Aku hanya mencarikan pelanggan. Sementara wanita, mereka yang mengirim."


Jessi kembali berpikir, mencoba untuk mengingat sesuatu. Bukankah cerita Dion mengingatkannya pada penculikan Angelina dan Olivia yang menjadi korban kejahatan saat itu. Apakah dalang dari semua ini adalah mafia Virgoun?


"Apa yang terjadi dengan wanita itu setelah kalian gunakan?"


"Rata-rata mereka adalah gadis yang masih suci, entah dari mana Virgoun mendapatkannya, tetapi kebanyakan pelanggan yang berani membayar dengan harga tinggi merupakan pria masokis." Jessi melebarkan mata mendengar hal tersebut, membuat Dion menghentikan kalimatnya sejenak dan kembali berbicara dengan hati-hati. "Karena itulah, kebanyakan dari mereka sudah mati setelah selesai, sedangkan yang masih hidup dibawa kembali oleh anggota Virgoun."


Dada Jessi seakan bergemuruh, napasnya naik turun dengan wajah yang merah padam. Dia paling benci perbudakan wanita, apalagi sampai harus kehilangan nyawa hanya untuk memuaskan sebuah hasrat pria gila.


"Apa kalian masih bisa dipanggil manusia?" Jessi mencengkeram kuat leher Dion, amarah seakan naik hingga ke ubun-ubunnya.


Sementara Dion, menahan napasnya karena kuat cengkeram tangan Jessi. Dia tidak menyangka, amarah seorang wanita akan seganas ini. Hingga beberapa saat kemudian, wanita tersebut melepaskan lehernya.


Dion terbatuk-batuk untuk beberapa saat, sedangkan Jessi mengambil napas dalam-dalam sambil memejamkan mata guna menetralkan kembali amarah yang sudah siap untuk meledak dalam dirinya.


"Berikan aku satu alasan! Kenapa aku harus membebaskanmu?" Jessi memutar tubuhnya menjadi membelakangi Dion. Bagaimanapun juga pria ini masih berguna di masa depan sebagai sumber informasinya tentang mafia Virgoun.


Sementara Dion kembali berpikir, apa yang bisa dia tawarkan untuk wanita di depannya sebagai jaminan atas nyawanya. Dia belum ingin mati sebelum membalas istri dan temannya yang sudah berani bermain belakang.


Setelah cukup lama berpikir hanya ada satu hal yang bisa dia berikan sebagai jaminan, nyawa untuk nyawa.


"Aku akan menjadi mata-matamu untuk seluruh kegiatan mafia Virgoun yang aku tahu."


Ya, dia menyerahkan nyawanya kepada Jessi, untuk kebebasan. Meskipun, Dion tahu konsekuensi berkhianat dengan mafia Virgoun mungkin saja bisa kehilangan hidupnya kapan pun. Akan tetapi biarlah, yang penting dia bisa bebas dari sini terlebih dahulu.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2