DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
102. Mengunjungi


__ADS_3

Dalam waktu yang singkat Panglima melatih fisik Tania dan mengajarkan beberapa ilmu bela diri pada Tania dan juga mengajarkan taktik untuk membaca situasi dan strategi untuk menghadapi lawan.


mengingat wanitanya adalah wanita yang cerdas meskipun sering ceroboh.


Panglima lebih mementingkan melatihnya dalam menggunakan taktik dari pada kekuatan fisik.


" kecerdasanmu adalah yang paling utama untuk menyelamatkan diri atau strategi yang harus kau susun langkah-lancang yang harus kau ambil, seberapa terdesaknya dirimu seberapa berbahayanya dirimu kau tidak boleh cemas, tenangkan diri dan perhatikan disekitarmu, adakah celah untukmu berlari, kau bisa mengecoh lawan dengan membual, agar lawan goyah, kau juga bisa melawan mereka jika di rasa itu mampu kau tanggung, atau gunakan apapun yang ada disekitarmu untuk membuat lawan sedikit waspada padamu!"


Tania masih mencoba untuk mengingat semua pelajaran yang diberikan Panglima.


"mmm baik mengerti!" sambi mengangguk paham


" Baiklah, aku berikan beberapa senjata ini padamu...!"


memberikan tas kecil pada Tania.


" oh,...!" menerima dengan wajah bingung.


" ini harus kau bawa kemana-mana jangan pernah melepaskannya!, ikat di pinggangmu!"


" ini terlihat agak berlebihan panglima!" mengaruk kepala.


" Jangan hanya memikirkan penampilan kau pikirkan saja kejadian tak terduga yang tidak kita ketahui!"


" Panglima aku tidak akan menikmati penantian ku yang panjang jika aku harus memikirkan hal-hal yang diluar pikiranku!"


" Hmm... baiklah, tapi ingatlah untuk slalu waspada!"


" Tenang Panglima aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama!"


" Baguslah, kita masih memiliki sisa 2hari apa ada tempat yang ingin kau kunjungi ?"


" Tentu saja aku sangat merindukan kakeku, dan lagi aku juga ingin pulang melihat ayahku!"


" Baik tuan putriku , aku akan mengantarmu dengan senang hati, apa ada tempat lain yang ingin kau kunjungi lagi?"


" Panglima, aku ingin menikmati siapa waktu sebelum kau berangkat dengan tenang!"


" Dikabulkan nyonya Panglima, sekarang mari beristirahat, dan besok pagi kita akan melakukan perjalanan sesuai kehendakmu!"


" Mm....kepalaku sudah sangat panas, panglima peluk aku sampai aku tidur!"


Siksaan ini setiap hari menyiksaku, namun dia minta ku tanpa ragu , dia sangat percaya padaku,aku tidak boleh mengkhianati kepercayaannya padaku.


Panglima menuruti kemauan gadis lugu dihadapannya...


" Panglima kenapa kau tidak terkejut saat aku mengatakan ingin menemui ayahku?"


" Naluri seorang anak, bagaimana pun dia adalah ayahmu ,kau pasti sangat merindukannya meskipun sikapnya tidak sesuai dengan apa yang kau harapkan!"


" Panglima kau paling mengerti isi hatiku!, Panglima boleh kah aku bertanya?"


" Boleh sayang!"


" Apa panglima tidak merindukan ayah panglima?"


Panglima memeluk erat wanitanya...


dan menghembuskan nafas berat di telinga Tania yang membuat bulu-bulu Tania berdiri merinding, bagaimana pun dia juga wanita normal meski dia tidak tahu apa yang barusan dia rasakan, Jantungnya berpacu sangat kencang...

__ADS_1


" Aku sangat merindukan ayahku!" dengan nada yang berat ...


" Kenapa Panglima tidak mengunjungi ayah panglima!"


" Jika dia masih seperti ayahku yang 20tahun lalu, aku akan sangat bahagia saat menemuinya!"


" Ayah kita memiliki niat baik, pada kita namun kita sangat keras kepala ya ,panglima!"


" Hmmmm...siapa yang sebenarnya membuatku sampai bermusuhan dengan ayahku?"


" Haaaa... Tania minta maaf Panglima jika jadinya seperti ini dan sulit!"


" Tentu saja bukan kau, tentu saja wanita itu yang sangat keras kepala mendapatkan hati orang yang sangat keras seperti diriku, kau dan dia sama gigihnya namu hatiku hanya tergerak oleh mu saja !"


mendengar kata itu Tania berbalik dan mencium panglima, Panglima pun membalas ciuman kekasihnya, namun dia tetap menjaga hasratnya agar tidak menggebu.


" Panglima, selangkah demi selangkah ,bukankah kita sudah akan sampai ditempat tujuan kita?"


Panglima tersenyum puas dengan kata-kata ke kasih nya itu


Dia merasa semakin hari gadis kecil beberapa tahun yang lalu kini sudah semakin dewasa, dari tutur kata dan cara beripikirnya,


" Hahahahahah" Panglima tertawa lepas.


Panglima adalah orang yang sangat jarang tersenyum sampai menunjukan giginya, namun didepan wanita yang sudah menggoyahkan dunianya itu, dia bisa membuka mulutnya yang slalu kaku itu tertawa lebar .


" Panglima apa yang kau tertawa kan?" Tania kebingungan ,sepertinya dia juga tidak sedang bercanda.


" Hahahahaha, tidak, tidak, aku sangat bahagia sampai detik ini, hanya karna melihatmu sudah cukup dewasa, dalam beberapa hal, namun wajahmu tetap terlihat sama seperti beberapa tahun yang lalu, hanya saja kau semakin hari semakin cantik sehingga tidak bisa mengalihkan sedikit pun pandangan ku padamu!"


" mulai membual! hehehehehehe" Tania merengkuh tubuh kekar pria yang sangat dicintainya itu sekuat tenaga.


mendengar perkataan Panglima ,Tania serasa tersihir untuk terpejam...


..................................


" Lihat betapa cantiknya aku, kakek pasti sangat senang melihatku!" berputar-putar dengan baju indah yang dikenakanya.


" Mari nyonya panglima berangkat!" Ajak panglima mengulurkan lenganya.


Tania segera merangkul lengan itu dengan bangga.


mereka pun mengunjungi pemakaman kakek Tania,


30 menit waktu berlalu Tania dan Panglima menumpahkan semua keinginannya dan meminta restu pada kakeknya.


setelah dirasa cukup, Tania pun berpamitan pada sang kakek dan mereka berdua berjalan meninggalkan makam itu.


" Apa sekarang kita menuju kediaman perwira?"


" Ya...mampir sebentar di toko buah, ayah sangat suka dengan buah manggis!" pinta Tania


" Mmmmmmm"


mereka pun bergegas menuju toko buah untuk membeli buah yang yang disukai ayah mertuanya itu..


Dan bergegas menuju kediaman Perwira Latif.


" Kenapa kau membeli semua buah yang ada, kau pikir ayahku kera?" ujar Tania tak habis pikir dengan Panglima.

__ADS_1


" Siapa ?, tidak begitu buah ini kan musiman tidak setiap waktu ada, ada pun juga pasti sangat jarang ditemukan!"


" Baiklah!" Tania menuruti sajalah entah bagaiman ekspresi ayahnya meliha tumpukan buah di belakangnya.


satu jam kemudian mereka tiba di depan kediaman Perwira.


Tania turun dari mobil dengan segera, dirinya berdiri tegak dan menghirup udara tempat tinggalnya itu.


" Ayo masuk!" ujar Panglima menggandeng tangan Tania.


terlihat beberapa penjaga siaga dikediaman perwira ini.


" Nona kuuuuuu....!"


suara tak asing terdengar di telinga Tania.


" Bibi...bibiii....!" Tania berlari kearah wanita yang memegang sapu dan terlihat sudah sangat tua.


Tania memeluk tubuh wanita yang sudah masuk usia senja itu dengan penuh kerinduan air mata mereka tak terbendung lagi, bagi Tania bibi sudah seperti ibu nya, begitu juga sebaliknya.


" Nona ku, ternyata tuan tidak berbohong nona sudah bisa berjalan!"


" Ya bibi, itu Benar...!"


" Nona, ayo masuk tuan pasti sangat bahagia!" menarik Tania masuk ke dalam, namun langkahnya berhenti karna Bibi melupakan sesuatu.


" Panglima , tuan panglima ayo silahkan masuk!"


Panglima mengangguk dan ikut melangkah masuk.


" Tuan ,tuan ,tuan tuan...!" Bibi Chu melupakan untuk mengetuk pintu ruangan perwira dan menerobos masuk saja sangking semangatnya


" Bibi ada hal besar apa sampai kau tidak mengetuk pintu?" sangat kesal.karna dibuat terkejut.


" Tuan itu, Si lahkan ada yang menunggu tuan Diruang Tamu!"


" Hah, siapa orang itu sehingga kau melupakan tata kramamu!" bergumam sambil bangkit dan berjalan menuju ruang tamu.


namun mata Perwira terbelalak melihat sesosok yang berdiri berdampingan dengan sesosok yang tidak asing itu,


" Ayah, apa kau tidak rindu pada putri mu?"


" Apa aku boleh merindukanmu nyonya panglima?" ujar Perwira kaku meski sangat terlihat jelas jika dia sedang menahan air matanya.


" Ayah bagaimana bisa kau tidak memeluk putrimu yang sudah datang jauh-jauh ke sini karna merindukan ayah?"


" Apakah itu pantas nyonya untukku?" dengan nada getir menahan haru yang melanda.


" Ayah!!!, kenapa kau masih saja kolot , berapa umur ayah masih seperti ini, ayah aku sangat menyebalkan!!!"


Tania berlari dan segera memeluk ayahnya yang dalam ingatan ya tak pernah memberikan keindahan itu, namun dia adalah ayahnya bagaimana pun rindu itu akan ada.


"Maaf nyonya panglima, maaf!" membalas pelukan putrinya dan mengucapkan kata maaf dengan begetar,


" Ayah Tania sangat rindu ayah!"


keharuan menyelimuti ruangan itu, ayah dan anak itu saling mengobati rindu dan melupakan hal yang tidak perlu diingat kembali.


Panglima pun terharu, dan menahan air matanya, tak luput dengan bibi Chu yang menangis sesenggukan karna bahagia.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2