
Tok tok tok
" Nis,...!"
" Oh kakak...!" Nisa terkejut karena sepagi ini Zero datang padanya.
" Jadi bagaimana??"
Nisa masih terdiam, mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab.
Zero sabar menunggu Nisa untuk menjawab,
" Kak, aku mau...!"
" Apa??" seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Nisa menunduk malu, dia sangat malu jika harus mengulangi ucapannya.
" Ulangi Nis...!" memegang kedua pundak Nisa menghadapnya
Nisa menutup wajahnya malu,
" katakan lebih jelas lagi....!"
"Kakak aku mau...!"
" Serius??"
Nisa mengangguk,
Zero langsung memeluk tubuh Nisa dengan erat karena kegirangan.
" Oh maaf Nisa...tapi bolehkan aku memelukmu karena aku sangat bahagia!"
Nisa mengangguk lagi,
Zero mengangkat tubuh, mungil itu dan memeluknya.
" ehem, ehem...!"
Nisa dan Zero menoleh ke arah pintu,betapa terkejutnya mereka melihat Panglima dan istrinya sudah berada di ambang pintu.
Zero segera menurunkan Nisa,
" Panglima!"
Nisa terkejut bukan main, jika yang ada di ambang pintu itu adalah Panglima yang selama ini hanya bisa mendengar ceritanya saja.
" Pa...pa... panglima??" ujar Nisa seakan tak percaya melihat sesosok Panglima di gambaranya adalah orang tua yang sudah dan beruban.
" Ya...!" jawab Panglima dengan suara baritonnya.
" Kau pasti terkejut bukan main karena Panglima masih mudakan??" ujar Tantan menebak ekspresi terkejutnya Nisa.
" I...i..ya...nona...!"
" Aku istri Panglima, aku buka nona lagi,lihat perutku aku akan menjadi ibu!"
" Oh maaf nyonya...anda juga masih muda!"
" Kau Nisa kan??"
" I...iya...!"
" Jangan takut, aku dan Panglima tidak menggigit, bagaimana keadaanmu?" Tantan mendekat dan memegang kedua tanga Nisa.
" Sa, sa...ya sudah baikan nyonya!"
" Duduk dulu biar rilex!" Tantan mendudukkan Nisa di ranjang lalu membelai rambut Nisa dengan lembut.
" Panglima kapan anda tiba??"
" Baru saja, istriku ingin bertemu dengan Nisa, aku langsung membawanya ke sini!"
" Ya, kau wanita yang cukup tangguh Nisa, kau hebat!" Tantan mencoba mengembalikan kepercayaan diri Nisa.
" Nyonya anda berlebihan!"
" Tidak, nyatanya kau bertahan sampai sekarang...lihat, pria ini sangat mencintaimu bukan??"
menunjuk ke arah Zero.
" Tentu saja nyonya...!" sahut Zero yakin.
__ADS_1
" Tuh dia mengakuinya kan Nisa!"
Wajah Nisa pun langsung memerah, Tantan pun melihat ke arah Leon memberi Signal.
" Jika kau mau menerima anak emasku ini, besok kalian aku nikahkan tidak peduli walaupun dunia sedang perang atau tidak!"
" Wah perkataan panglima itu perintah loe Nis, apa kamu akan menerimanya??" tanya Tantan.
Nisa melihat ke arah Zero.
" e...emmm, kalau aku tidak berani menolak perintah Panglima Nis, kalau kamu itu terserah jawabanmu!" sahut Zero bermaksud menekankan bahwa Nisa tidak bisa menolak perkataan Panglima .
" Tatappi panglima mengatakan Jika kak, berarti Nisa masih bisa menolakkan!"
dengan polosnya.
Tantan dan Leon seketika tertawa.
" Hahahahaha"
" Tapi kan kau bilang mau tadi Nis!"
" Zero kau tidak boleh memaksa!" sahut Tantan.
" Tapi nyonya, tadi Nisa bilang mau kok!"
" Iyakah Nisa??" tanya Tantan.
" Iya nyonya...!"
" Wooooowwww hebat...itu hebat!"
Tantan memeluk Nisa senang.
" Zero meskipun dia itu kaku, tapi dia orang yang penyayang Nis...kau akan bahagia dengannya!"
" Kalau begitu, kalian bersiaplah besok aku akan menikahkan kalian, setelah itu aku akan kembali ke kota!"
" Panglima, apa sudah waktunya??" tanya Zero.
" Ya, kau juga harus ikut setelah menikah!, kau kira kau bisa melakukan malam pengantin?, kau masih dalam masa hukuman!"
" Ya Panglima...!" Zero memang sangat patuh, jadi tidak akan berkata tidak pada Leon.
" Ya nyonya...!"
" Baiklah, kami istirahat dulu, ya barang kali kalian ingin menghabiskan waktu berdua yang sudah tertunda tadi...!" Goda Leon tetap dengan wajah datarnya.
" Sayang kau nakal!"
" Auwwww!" Panglima baru menampakan senyumnya saat Tantan mencubit perutnya.
mereka berdua pun pergi.
" Kakak itu tadi Panglima?"
" Kau masih tidak percaya??"
" Iya, kenapa masih sangat muda, dalam bayanganku Panglima itu sudah seperti kakek-kakek!, tapi mungkin masih nyentrik!"
" pftttttttt...Dia mungkin seumuran om mu, masih muda, Nisa besok kita akan menikah!"
"Iya, tapi setelah itu kakak langsung pergi...!"
" Ya, tapi yang terpenting kau sudah menjadi milikku!"
" Iya...!"
" Ingat loe, kau sudah menjadi milikku!, jangan terlalu dekat lagi dengan pria lain selain aku!"
" Bagaimana dengan Grey??"
" Itu berbeda, diakan anak kita!"
Nisa mengangguk mengerti.
" Nis...!"
" Ya kak...!"
" Boleh aku memelukmu?, besok pasti tidak akan sempat!"
" memeluk??"
__ADS_1
Zero langsung menarik tubuh Nisa dalam peluknya.
" Ingat, untuk makan teratur, tetap olah raga seperti biasa, jaga diri dan Grey dengan baik saat aku pergi!"
" Ehmmm baik kak...!"
Zero melepas pelukannya dan mengecup pucuk kepala Nisa.
" Aku harus bersiap-siap untuk besok, tidurlah istirahat!"
" Baik kak!"
menurut...
Zero pun segera meninggalkan ruangan Nisa, rasanya masih sangat berat setelah menikah, dia langsung pergi untuk melanjutkan misi sekalian hukumannya.
Di ruang istirahat Tantan
" Panglima apa keluarga Bi tidak bisa di selamatkan??" tanya Tantan.
" Mereka di luar jangkauan, mereka di LN, itu sudah di luar batas mampuku!"
" Kasihan!"
" Ya, jika ingin menyalahkan,mereka harus menyalahkan Bi sendiri...!"
" iya ...!"
" ehmmm, Di sini aman, besok aku harus kembali ke kota...!"
Tantan mengangguk mengerti, Panglima mencium kening istrinya dengan lembut dan berganti mencium perut istrinya yang sudah besar.
" Mari kita siapkan nama untuk anak kita sayang, kira - kira dia laki-laki atau perempuan??"
" aku merasa, anak kita ini laki-laki sayang, kau rasakan tendangannya begitu kuat!"
" Bisa jadi dia perempuan, sekuat ibunya...!"
" Laki-laki atau pun perempuan, tak apa kan sayang?"
" Tak masalah karena itu darah daging kita, kita siapkan 2 nama sekarang!"
" panglima saja yang memberikan nama!"
" Aku sudah memikirkannya, Beri nama Rin yang artinya bermartabat jika dia perempuan, tapi jika dia laki-laki berinama Manggala artinya Komandan, kau bisa menambahkan nama lain agar lebih indah!"
" Hihihi...baik panglima saya terima!"
" Istirahatlah, besok kita akan sangat sibuk!"
" Hmmmm!"
...----------------...
Pagi hari
Semua orang sibuk menyiapkan semua untuk pernikahan dadakan Zero dan Nisa, meskipun sangat mendesak tapi Panglima memberikan pernikahan terbaik,
Yesa yang berjalan- jalan di pagi hari menyusuri tempat latihan, berharap menemukan seseorang yang lama tidak ia temui.
" Loh kok jadi tempat hajatan, siapa yang menikah??" tanya Yessa pada seseorang yang kebetulan sedang menata kursi.
" Nona, ini hari pernikahan bos kami!"
" Bos siapa??"
" Bos Zero, hari ini menikah!"
" Apa dengan siapa??"
" Iya, Panglima yang menikahkan Bos, dengan wanita lah!"
" Iya tahu tapi siapa??"
" Tidak tahu, tapi ini sangat mendadak!"
" Mendadak?"
" Ya nona, ...!"
" Di mana Zero sekarang??"
" Ada di sana,,, sedang bersiap-siap!" menunjuk arah
__ADS_1
Yessa segera berlari ke arah yang di tunjuk oleh orang tadi dengan begitu cepat.