DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
244. Menikah


__ADS_3

Tok tok tok


" Nis,...!"


" Oh kakak...!" Nisa terkejut karena sepagi ini Zero datang padanya.


" Jadi bagaimana??"


Nisa masih terdiam, mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab.


Zero sabar menunggu Nisa untuk menjawab,


" Kak, aku mau...!"


" Apa??" seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Nisa menunduk malu, dia sangat malu jika harus mengulangi ucapannya.


" Ulangi Nis...!" memegang kedua pundak Nisa menghadapnya


Nisa menutup wajahnya malu,


" katakan lebih jelas lagi....!"


"Kakak aku mau...!"


" Serius??"


Nisa mengangguk,


Zero langsung memeluk tubuh Nisa dengan erat karena kegirangan.


" Oh maaf Nisa...tapi bolehkan aku memelukmu karena aku sangat bahagia!"


Nisa mengangguk lagi,


Zero mengangkat tubuh, mungil itu dan memeluknya.


" ehem, ehem...!"


Nisa dan Zero menoleh ke arah pintu,betapa terkejutnya mereka melihat Panglima dan istrinya sudah berada di ambang pintu.


Zero segera menurunkan Nisa,


" Panglima!"


Nisa terkejut bukan main, jika yang ada di ambang pintu itu adalah Panglima yang selama ini hanya bisa mendengar ceritanya saja.


" Pa...pa... panglima??" ujar Nisa seakan tak percaya melihat sesosok Panglima di gambaranya adalah orang tua yang sudah dan beruban.


" Ya...!" jawab Panglima dengan suara baritonnya.


" Kau pasti terkejut bukan main karena Panglima masih mudakan??" ujar Tantan menebak ekspresi terkejutnya Nisa.


" I...i..ya...nona...!"


" Aku istri Panglima, aku buka nona lagi,lihat perutku aku akan menjadi ibu!"


" Oh maaf nyonya...anda juga masih muda!"


" Kau Nisa kan??"


" I...iya...!"


" Jangan takut, aku dan Panglima tidak menggigit, bagaimana keadaanmu?" Tantan mendekat dan memegang kedua tanga Nisa.


" Sa, sa...ya sudah baikan nyonya!"


" Duduk dulu biar rilex!" Tantan mendudukkan Nisa di ranjang lalu membelai rambut Nisa dengan lembut.


" Panglima kapan anda tiba??"


" Baru saja, istriku ingin bertemu dengan Nisa, aku langsung membawanya ke sini!"


" Ya, kau wanita yang cukup tangguh Nisa, kau hebat!" Tantan mencoba mengembalikan kepercayaan diri Nisa.


" Nyonya anda berlebihan!"


" Tidak, nyatanya kau bertahan sampai sekarang...lihat, pria ini sangat mencintaimu bukan??"


menunjuk ke arah Zero.


" Tentu saja nyonya...!" sahut Zero yakin.

__ADS_1


" Tuh dia mengakuinya kan Nisa!"


Wajah Nisa pun langsung memerah, Tantan pun melihat ke arah Leon memberi Signal.


" Jika kau mau menerima anak emasku ini, besok kalian aku nikahkan tidak peduli walaupun dunia sedang perang atau tidak!"


" Wah perkataan panglima itu perintah loe Nis, apa kamu akan menerimanya??" tanya Tantan.


Nisa melihat ke arah Zero.


" e...emmm, kalau aku tidak berani menolak perintah Panglima Nis, kalau kamu itu terserah jawabanmu!" sahut Zero bermaksud menekankan bahwa Nisa tidak bisa menolak perkataan Panglima .


" Tatappi panglima mengatakan Jika kak, berarti Nisa masih bisa menolakkan!"


dengan polosnya.


Tantan dan Leon seketika tertawa.


" Hahahahaha"


" Tapi kan kau bilang mau tadi Nis!"


" Zero kau tidak boleh memaksa!" sahut Tantan.


" Tapi nyonya, tadi Nisa bilang mau kok!"


" Iyakah Nisa??" tanya Tantan.


" Iya nyonya...!"


" Wooooowwww hebat...itu hebat!"


Tantan memeluk Nisa senang.


" Zero meskipun dia itu kaku, tapi dia orang yang penyayang Nis...kau akan bahagia dengannya!"


" Kalau begitu, kalian bersiaplah besok aku akan menikahkan kalian, setelah itu aku akan kembali ke kota!"


" Panglima, apa sudah waktunya??" tanya Zero.


" Ya, kau juga harus ikut setelah menikah!, kau kira kau bisa melakukan malam pengantin?, kau masih dalam masa hukuman!"


" Ya Panglima...!" Zero memang sangat patuh, jadi tidak akan berkata tidak pada Leon.


" Ya nyonya...!"


" Baiklah, kami istirahat dulu, ya barang kali kalian ingin menghabiskan waktu berdua yang sudah tertunda tadi...!" Goda Leon tetap dengan wajah datarnya.


" Sayang kau nakal!"


" Auwwww!" Panglima baru menampakan senyumnya saat Tantan mencubit perutnya.


mereka berdua pun pergi.


" Kakak itu tadi Panglima?"


" Kau masih tidak percaya??"


" Iya, kenapa masih sangat muda, dalam bayanganku Panglima itu sudah seperti kakek-kakek!, tapi mungkin masih nyentrik!"


" pftttttttt...Dia mungkin seumuran om mu, masih muda, Nisa besok kita akan menikah!"


"Iya, tapi setelah itu kakak langsung pergi...!"


" Ya, tapi yang terpenting kau sudah menjadi milikku!"


" Iya...!"


" Ingat loe, kau sudah menjadi milikku!, jangan terlalu dekat lagi dengan pria lain selain aku!"


" Bagaimana dengan Grey??"


" Itu berbeda, diakan anak kita!"


Nisa mengangguk mengerti.


" Nis...!"


" Ya kak...!"


" Boleh aku memelukmu?, besok pasti tidak akan sempat!"


" memeluk??"

__ADS_1


Zero langsung menarik tubuh Nisa dalam peluknya.


" Ingat, untuk makan teratur, tetap olah raga seperti biasa, jaga diri dan Grey dengan baik saat aku pergi!"


" Ehmmm baik kak...!"


Zero melepas pelukannya dan mengecup pucuk kepala Nisa.


" Aku harus bersiap-siap untuk besok, tidurlah istirahat!"


" Baik kak!"


menurut...


Zero pun segera meninggalkan ruangan Nisa, rasanya masih sangat berat setelah menikah, dia langsung pergi untuk melanjutkan misi sekalian hukumannya.


Di ruang istirahat Tantan


" Panglima apa keluarga Bi tidak bisa di selamatkan??" tanya Tantan.


" Mereka di luar jangkauan, mereka di LN, itu sudah di luar batas mampuku!"


" Kasihan!"


" Ya, jika ingin menyalahkan,mereka harus menyalahkan Bi sendiri...!"


" iya ...!"


" ehmmm, Di sini aman, besok aku harus kembali ke kota...!"


Tantan mengangguk mengerti, Panglima mencium kening istrinya dengan lembut dan berganti mencium perut istrinya yang sudah besar.


" Mari kita siapkan nama untuk anak kita sayang, kira - kira dia laki-laki atau perempuan??"


" aku merasa, anak kita ini laki-laki sayang, kau rasakan tendangannya begitu kuat!"


" Bisa jadi dia perempuan, sekuat ibunya...!"


" Laki-laki atau pun perempuan, tak apa kan sayang?"


" Tak masalah karena itu darah daging kita, kita siapkan 2 nama sekarang!"


" panglima saja yang memberikan nama!"


" Aku sudah memikirkannya, Beri nama Rin yang artinya bermartabat jika dia perempuan, tapi jika dia laki-laki berinama Manggala artinya Komandan, kau bisa menambahkan nama lain agar lebih indah!"


" Hihihi...baik panglima saya terima!"


" Istirahatlah, besok kita akan sangat sibuk!"


" Hmmmm!"


...----------------...


Pagi hari


Semua orang sibuk menyiapkan semua untuk pernikahan dadakan Zero dan Nisa, meskipun sangat mendesak tapi Panglima memberikan pernikahan terbaik,


Yesa yang berjalan- jalan di pagi hari menyusuri tempat latihan, berharap menemukan seseorang yang lama tidak ia temui.


" Loh kok jadi tempat hajatan, siapa yang menikah??" tanya Yessa pada seseorang yang kebetulan sedang menata kursi.


" Nona, ini hari pernikahan bos kami!"


" Bos siapa??"


" Bos Zero, hari ini menikah!"


" Apa dengan siapa??"


" Iya, Panglima yang menikahkan Bos, dengan wanita lah!"


" Iya tahu tapi siapa??"


" Tidak tahu, tapi ini sangat mendadak!"


" Mendadak?"


" Ya nona, ...!"


" Di mana Zero sekarang??"


" Ada di sana,,, sedang bersiap-siap!" menunjuk arah

__ADS_1


Yessa segera berlari ke arah yang di tunjuk oleh orang tadi dengan begitu cepat.


__ADS_2