
" Kue nya masih panas,silahkan di coba nona cantik!" ujar Robin menghidangkan kue -kue pada Tania.
" Ayo nak, makan pelan-pelan karna baru keluar dari oven!"
" Huaaaaaaaa, ini cantik dan baunya enak, Terimakasih paman!"
" utututu, lucu nya sama-sama ayo makanlah!"
Leon segera duduk menempel Tania, dan mengambil kue dan mencoba memakannya lebih dulu.
" Tidak terlalu panas, Agggg ini kue yang paling enak!" ujar Leon menyuapkan kue pada Tania.
Astaga, apa ini si anak nakal?, kenapa dia bisa sangat lembut pada gadis ini?
sepertinya memang mereka sudah terikat satu sama lain, jika memang benar mereka ingin menikah, aku akan membantunya melawan orang kaku itu.
dalam hati Anton.
" paman, wanita yang di ajak Jendral adalah sahabat wanitaku ini, dia tidak buruk jika menjadi pendamping Jendral, dia hanya sedikit ceroboh saja, namun hatinya kebal benturan!" Leon mempromisikan sahabat Tania.
" Oh ya, dia sahabatmu?, dia manis sekali paman menyukainya!"
" maka buatlah anakmu itu terikat dengannya,hanya saja keduanya belum memiliki perasaan satu sama lain, yang satu bodoh yang satu keras hati!"
" kau mengatakan sahabat ku bodoh?"
" kalian satu frekuensi bukan?"
" ihhhh kau menyebalkan!" Tania memukul lengan Leon kesal.
" achhhh , kau memukul lukaku lagi!"
" maaf, maaf maaf, apa sakit?"
Tania merasa bersalah.
" Ya sakit sekali!" berlagak manja.
Sial pamer kemesraan di depan duda tua seperti aku ini.
" Bantu aku untuk menjodohkan putraku pada Suzy!" Dengan penuh keyakinan tinggi.
" Paman ,aku akan membantu paman tenang saja!"
" Aduh, kau memang anak yang baik dan menggemaskan!" mencubit gemas pipi Tania.
" Paman jangan sentuh wanitaku!" ujar Leon kesal.
" Aduh, aduh kau sangat lucu dan menggemaskan, kau masih sangat muda sebaiknya kau pikirkan lagi, apakah anak nakal ini pantas untukmu!" sengaja memprovokasi Leon agar marah.
" Paman lepaskan tanganmu!" Leon menepis tangan anton
" Hilih, Dasar pelit!!! "
" Hanya aku yang boleh menyentuhnya seperti itu, sini lap pipimu dulu!" Leon mengusap pipi Tania dengan tisu basah.
" Dasar bocah nakal, kau kira tanganku kotor?"
" Siapa tahu paman habis dari kamar kecil belum cuci!"
" Dasar Cacingan!, sudahlah aku tak mau menghabiskan tenagaku untuk bertengkar denganmu, sekarang apa rencana kita untuk menyatukan putraku dengan Suzy?"
" Itu bukan hal sulit!" ujar Leon santai.
" jadi kau sudah memiliki rencana?" tanya Anton penuh harap.
" Tentu saja belum!"
" Dasar Cacingan!, seharusnya aku tak membicarakan ini padamu!" memukul punggung Leon dengan Keras
" Paman sakit, astga! aku belum siap di pukul! "
__ADS_1
" Biar, saja dasar kau anak nakal!" masih tetap memukul.
" Hihihi " Tania terkikik melihat pemandangangan yang di luar kewajaran.
Astaga, aku kira mereka bermusuhan satu sama lain?, ternyata hubungan mereka sudah seperti ayah dan anak sangat dekat, baru kali ini aku melihat Panglima tidak bersikap angkuh,...
dalam hati Tania.
" kalau begitu aku akan tinggal satu bulan lagi di Distrik! " ujar Tania memberi usul.
" Apa? jadi kalian tinggal di distrik?" Anton terkejut.
" Iya paman, demi mencarinya aku sampai harus mengikuti latihan keras, ternyata dia mempermainkanku!, huuuuhhhh dia sudah tahu aku mencarinya , tapi dia malah membiarkanku mencarinya di seluruh Distrik militer ini!"
" Oh, aku akan memukulnya lebih keras, ini pukul an untuk gadis kecil ini, karna kau mempermainknya!"
" paman hentikan, itu salahnya sendiri melupakan namaku!"
" bodo amat, yang penting aku memukulmu, rasakan ini!"
" ahahahahahahahah!" Tania tertawa sangat puas.
" apa itu sudah cukup gadis kecil?" tanya Anton yang lelah sendiri memukul Leon.
" hahahaha, Cukup paman cukup, kasihan tangan paman nanti!"
" Kau benar, kasihan sekali tangan - tangan ku yang indah ini, haiiis tanganku ini sangat berharga!"
" Astaga kau benar-benar bahagia melihat calon suamimu di pukul?"
" Itu tidak akan membuat panglima terluka kan?"
" Tentu saja itu hanya seperti gigitan semut saja, bahkan dengan gigitan semut, masih sakit gigitan semut!"
" Ahahaahahahhahahahah" Tania masih tertawa.
" jadi apa Suzy itu masih lajang?" tanya Leon.
" Kau kan baru saja kembali dari luar negeri, bagaimana kau tahu semuanya?"
" Dia sahabat ku dari kecil, meski kita berpisah selama 5 tahun kami tidak putus berhubungan!"
"Yayaya baiklah aku percaya!"
" Tapi, sepertinya Jendral bukan termasuk seleranya Suzy !"
" apa??? putraku bukan seleranya?" Anton sangat terkejut.
"Suzy anak yang sangat manja, dia menyukai pria yang bisa memanjakannya baik dan penuh perhatian!" jelas Tania
" Wah Berat!, itu cukup sulit paman untuk putramu yang sangat kaku!" ujar Leon
" Aku tidak percaya jika Suzy tidak jatuh cinta pada putraku?"
" Paman memiliki tingkat kepercayaan yang luar biasa!" Leon memuji Anton.
"pooooonggggg!"
suara pukulan panci.
" Aaauuuuhh, Sejak kapan ada panci di tangan paman? "
" hahahaha, kau menyebut dirimu panglima, tapi sungguh tidak menyadarinya bahaya di dekatmu, sungguh Panglima bodoh!"
" buaahahahahhahahahahaa" Tania benar-benar tertawa lepas melihat kejadian diluar nalar di depanya.
" Paman, kau sungguh membuatku kehilangan muka di depan calon istriku!" protes Leon.
" Biar dia tahu bahwa dia memilih pria yang salah!, aku kasihan pada gadis kecil ini, jika harus menikah dengan panglima sepertimu!"
" Lalu aku akan sangat kasihan jika Suzy sampai jatuh cinta pada Jendral Petter! "
__ADS_1
" pongggg ,pongggggg,ponnng!"
pukulan panci bertubi-tubi
" Paman!" teriak Leon kesal.
" Apa ?, kau berani terika padaku?"
.
terjadilah pertengkaran kecil yang membuat Tania tak henti tertawa.
" wkwkwwkwk, hahahaha, kkakakaakakak" Tania Tertawa tak henti-henti.
"Gubrrrrrraaaaaaakkkk!"
Tania tertawa sampai jatuh ke belakang...
"Tantan....!"
" Gadis kecil..!"
" Auuuuuu punggungku.." Tania merintik ke sakitan.
Leon segera membantu Tania untuk bangun.
"Haloo gadis kecil apa kau ingat aku siapa?" tanya Anton khawatir.
" paman , dia tidak terbentur di kepala, kenapa paman menanyainya seperti itu?"
" Kau diam saja!, gadis manis di mana yang sakit?"
" Tidak ada paman, punggung Tantan sedikit sakit terpetok kayu!" mencoba meraba punggung namun tak sampai.
" Robin ambilkan obat anti memar!"
tak lama Robin keluar dengan obat anti memarnya.
" Ayo nak, ikut ke dalam paman akan bantu oleskan di punggungmu!"
Panglima memegangi tangan Anton dengan kuat, dan wajah yang berapi-api.
" apa yang kau lakukan? " tanya Anton santai.
" Paman tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali aku!" tegas Leon.
" Lepaskan!!"
" Tidak!!!"
" Lepaskan!!!"
" Tidakkkk!"
" Aku hitung sampai 3 ,Lepaskan!!! "
" Tidaaaaakkkk!"
Robin dan Tania seperti sedang melihat adegan sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
" paman Robin apa ada snak ringan?" bisik Tantan bertanya pada Robin.
" Ada nona!" Robin menyahut snak- snak ringan disampingnya dan lupa mengambil 2 botol minuman dingin di lemari es dan segera duduk di samping Tantan.
mereka berdua memakan cemilan dan minum sambil melihat adegan seru di hadapanya dengan serius.
Bersambung...
Author
Panglima kau kehilangan pamormu di hadapan Ayah Jendral Petter.
__ADS_1
Like dan komen nya jangan lupa di tinggalkan.