DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
259. Hati seseorang


__ADS_3

Setelah tenang, Leon segera mencuci tangannya dan membasuh wajahnya , matanya sangat merah karena menangis.


Leon segera keluar,


Rya memberikan Manggala pada Leon,


Manggala hanya menggeliat mendengarkan ceramah sang ayah.


" Kenapa kau ini menggeliat terus, ayo minta ibu untuk bangun, ayah sudah di sini, kenapa ibumu tidak bangun menyambut ayah, dia sangat keras kepala bukan...?,


tapi bagaimana pun dia ibumu,Kau harus patuh dan sayang pada ibumu dalam seumur hidupmu, lihat betapa besarnya perjuangan ibumu untuk melahirkanmu di dunia ini, jangan seperti ayah ini, ibu sangat hebat bukan?, kau harus bangga karena terlahir darinya...!!, lihat saja sampai kau nanti membuat ibu menangis ,ayah akan melemparmu ke kandang Micel!" ujar Panglima dengan mata yang berkaca-kaca.


semua yang melihat pun ikut merasakan apa yang dirasakan Leon saat ini.


Sementara di paviliun Zero.


Nisa sangat bingung dengan suaminya, yang terlihat sangat tidak baik-baik saja, Grey pun sedikit rewel, jadi Nisa hanya menyambutnya sebentar dan membiarkan suaminya itu istirahat terlebih dahulu, dia fokus untuk menidurkan Grey, yang rewel karena mengantuk.


setelah Grey tertidur Nisa segera membuatkan minuman untuk suaminya, menyiapkan makan dan duduk di samping Zero yang beberapa kali berdecak kesal.


" Kakak..." mengusap punggung suaminya dengan lembut


" Makan dan minumlah terlebih dahulu...jika memang tidak selera,minum saja..."


Zero memandang istri kecilnya, membelai wajah imut dan mungil itu.


" Kenapa aku banyak melakukan kesalahan, yang tidak pernah ku inginkan???" ujar Zero


terlihat suaminya itu menyimpan luka yang cukup berat dalam hatinya.


" kakak, makan dan minumlah sedikit..."pinta Nisa sekali lagi.


" Ehmmm,..." Zero hanya mengambil satu suap makan dan meneguk minuman yang di siapkan istrinya.


Nisa tersenyum lega, betapa suaminya sangat menghargainya meskipun dalam suasana hati yang tidak baik.


" Kakak, kalau boleh Nisa tahu, apa yang membuat kakak bersedih??"


Padahal sebenarnya Nisa juga sangat bersedih dengan keadaan Nyonyanya, namun sepertinya waktunya sangat tidak tepat untuk memberitahu suaminya saat ini.


Zero langsung memeluk istrinya, mengadukan kesedihannya pada sang istri, meskipun tak terdengar suara tangis, tapi pundak Nisa terasa sangat basah.


Nisa mengusap punggung suaminya perlahan, dengan sabar menunggu suaminya bercerita.


" Kau tahu Yesa??"


" tahu kak...ada apa dengannya??"

__ADS_1


" Apa kau tahu jika aku dan dia itu dekat???'


"Aku tahu ...ada apa??,apa sebenarnya kalian ada hubungan??"


" Aku slalu menganggapnya seperti saudaraku sendiri, makanya aku slalu perhatian padanya, tapi dia salah mengerti, dia menyukai ku, dan dia berharap bisa hidup denganku, dia terus mengejarku Nisa, dan bodohnya aku mengoloknya karena dia sangat menyukaiku!"


Nisa sangat terkejut, hatinya juga terasa teriris namun Nisa masih tetap mendengar suaminya bercerita sampai selesai, agar tidak salah paham.


" Terakhir aku sangat membencinya karena dia semakin tidak masuk akal dan tidak menyerah, tapi aku tidak tahu cintanya padaku membawa petaka baginya, sayang aku ini apa sungguh membawa sial???"


" Jangan katakan itu ...!"


Nisa malah ikut menangis.


" Tidak saat kau bersamaku, kau juga terluka, sekarang dia juga bersamaku saat menjalankan misi dia juga ...diiiiaaaaa...." Zero tak kuasa melanjutkan ucapannya.


" sssssshhhhhhhhyttt...jangan mengatakan hal yang konyol suamiku, itu sudah takdir tidak ada hubungannya denganmu sama sekali, Nisa tidak pernah menyalahkan kakak sedikit pun, ...kakak,apa yang terjadi pada Yesa???"


" Karena aku sangat risi dengannya, aku meminta Panglima memindahkan regu, saat kami mendapatkan misi meneror, Yesa diam-diam menyusup dalam kapal, tapi jika tidak ada dia kami semua akan mati, dia menyelamatkan hidupku dia sangat bodoh sayang, kenapa harus Yesa, aku sudah memarahinya habis-habisan, tapi dia masih menyelamatkan hidup ku...dan dia dalam keadaan sekarat masih bisa bertanya padaku, apakah ini yang dinamakan mati terhormat??"


Zero meremas kuat tangan Nisa,


" Kakak semua terjadi diluar kehendak kita, kembali lagi bahwa kita hanya manusia biasa tidak berkuasa atas semua hal di luar batas kita!"


" Kau benar sayang, tapi aku masih merasa bersalah, aku tidak cukup kuat untuk melindungi orang - orang ku...!"


" Kak, kakak tidak bisa menyelamatkan semua orang kakak bukan dewa bukan malaikat, atau superhero...jangan slalu menyalahkan diri kakak sendiri!!"


" Tentu saja aku maafkan, dia juga manusia biasa, ...dia berhak menyukai siapapun...tidak ada yang bisa menghentikan perasaan seseorang!"


" Bukan itu...."


" Lalu apa kesalahan Yessa aku bahkan tidak mengenalnya!"


" Sebenarnya, ... yang membantai keluargamu saat itu adalah Yesa!"


" Apa??, jadi panglima yang meminta Yessa membantai keluarga ku???', kau kau juga orang panglima???" Nisa salah paham kali ini


Zero menggenggam erat tangan Nisa agar dia tidak pergi sebelum penjelasan Zero selesai.


" lepaskan, kalian pembunuh keluarga ku!!"


" dengar, Yesaa itu adalah orang suruhan Tommy, dan saat itu aku di sana untuk mengambil bukti, tapi ternyata kau masih hidup, dan kau memintaku untuk menyelamatkan mu, jika aku bagian dari orang yang membantai keluargamu, kenapa aku menyelamatkanmu, kenapa aku melatihmu untuk bisa membalas dendam!"


Nisa terdiam...


"tapi bagaimana bisa Yesa menjadi bagian dari Panglima!"

__ADS_1


" Dia cukup berbakat, dan dia yang paling tahu tempat - tempat target yang sedang kita selidiki, aku mengajaknya bekerjasama, dia hanya seorang pembunuh bayaran saja...dia cukup setia pada Panglima dan nyonya, maka dari itu dia bergabung dan menjadi bagian dari kita!"


" Kenapa kakak tidak memberitahuku jika dia adalah orangnya, kakak apa juga menyukainya?? dan bermaksud melindunginya??"


" Tidak, aku hanya tidak ingin ada masalah saat kita memiliki konflik besar, Yesa pun mengatakan jika kau ingin Membalas dendam kau bisa berduel dengannya!, tapi jika konflik ini selesai!"


" jadi begitu..."


" Ya, kau bisa melampiaskan padaku, Yesa sudah tiada, dan dia menyelamatkan ku dan yang lain, dia masih punya kakak ipar dan keponakan, jangan marah pada mereka, kau bisa marah padaku!"


Nisa Menghela nafas panjang, berat hatinya karena mengetahui semua yang sebenarnya, namun apa yang bisa dia lakukan untuk saat ini.


" Aku tidak pernah memaafkan siapapun yang menyakiti keluargaku, dia cukup beruntung karena Tuhan sangat menginginkannya pulang, jika tidak aku tetap akan membalas dendam padanya!"


" Jadi??"


" sudahlah...kak...aku tidak bisa mencari perhitungan pada orang yang sudah tiada, dan untuk keluarganya, mereka tidak tahu apa-apa!"


" Terimakasih sayang, itu membuatku sangat lega, terimakasih karena sudah mau menerimaku menjadi suamimu!" Zero memeluk istrinya dengan erat betapa dia beruntung karena memperistrinya.


" Kau tidak boleh bersedih karena wanita lain, tapi karena dia sudah menyelamatkan kakak, kau boleh bersedih tapi jangan berlarut!"


"Tentu, tentu saja... bagaimana kabarmu dengan Grey, apa Grey sangat bandel??"


" tidak, dia sangat pintar...!"


" Oh sayang,...nyonya melahirkan anak laki-laki juga ya??"


" Iya..." Nisa agak cemberut teringat Tantan.


" Ah, sayang sekali... jika anaknya perempuan kan kita bisa menjadi besan...!" Ujar Zero untuk menghibur dirinya, tapi Zero menyadari raut istrinya sedang tidak baik.


" Kenapa sayang??, apa aku salah bicara???,maaf jika aku salah..."


" Kak, Nyonya masih belum sadarkan diri setelah menjalani operasi seacar!"


" Apa??, kenapa baru memberitahu ku???"


" Kakak, sangat terpuruk,...Nisa merasa tidak sampai hati menambah beban pikiran kakak!"


" Aku akan ke sana!"


" Kakak di sana sudah ada Panglima, berikan Panglima waktu...kakak istirahat dulu, jika sudah tenang nanti kita ke sana!"


" Nyonya... bagaimana bisa??, lalu bagaimana dengan bayinya??'


" Bayinya jauh lebih baik sekarang, dia terlahir dari orang - orang kuat, dia cukup kuat meski terlahir Prematur!"

__ADS_1


"Syukurlah..." Zero sedikit lega.


Nisa pun menyelimuti suaminya, dengan selimut tebal , karena cuacanya cukup dingin, Nisa membiarkan suaminya untuk memulihkan dirinya, dengan beristirahat.


__ADS_2