
" Jendral, apa Tuan tadi juga kenal Nona saya?"
tanya Bibi Chu pada Jendral Petter.
" Ya Bibi,...!"
" Apa mereka sangat dekat, sepertinya tuan tadi sangat khawatir "
"mmmm, Ya !" Jendral Petter menjawab ragu-ragu.
" Jendral, apa itu kekasih nona saya?" ingin tahu lebih jelas.
"mmmm, saya kurang mengerti untuk hubungan keduanya Bibi!"
tidak ingin mengambil resiko, karna takut salah bicara.
" ah begitu!" berhenti bertanya.
Di dalam ruang ICU,
" Sayang, aku sudah pulang!, bukankah kau berjanji akan menungguku baik-baik?"
tak ada sahutan, hanya terdengar suara alat yang terpasang pada Tania.
"Maaf aku tidak ada di saat kau membutuhkan, ku mohon bangunlah!, jangan membuatku takut, bukankah kita akan menghadapinya bersama?"
Pria yang terkenal dengan kekejamannya dan berhati dingin itu tak bisa menahan air matanya untuk wanita nya.
Leon menggenggam tangan , dan mencium punggung tangan Tania.
" Bangunlah, ini perintah!, apa kau mau dihukum?"
Lihat saja aku akan membalasmu Xian-xian, aku akan membuat mu hidup segan mati pun tak Mau.
dalam hati Leon penuh dengan dendam.
Panglima pun keluar dari ruanv ICU,....
namun yang ada di luar ruangan hanya Bibi Chu saja.
"apa tuan mencari Jendral?"
" Ya , di mana Jendral? "
" Jendral ke ruangan nona Suzy!"
" Ah,....!" duduk di kursi tunggu perlahan.
" Tuan, boleh saya bertanya?"
" Iya, silahkan!"
" Sebelumnya perkenalkan, saya Bibi Chu, bibi yang merawat nona saya dari kecil!"
" Salam kenal Bibi Chu!" mulai memberi muka pada Bibi Chu.
" Iya Tuan, sepertinya Tuan sangat mengkhawatirkan nona saya, apa hubungan Tuan dengan nona saya?"
Bibi ini berpihak pada siapa?,kenapa menanyakan hal yang seperti ini?
dalam hati Leon waspada.
" Mmm, Tuanku sangat protektif pada nona Saya semenjak istri tuan meninggal, karna tuan merasa hanya memiliki nona saya, nona harta yang paling berharga untuk tuan saya, hanya saja tuan saya salah dalam menunjukan perhatian dan kasih sayangnya!"
sepertinya bibi ini sangat menyayangi Tantanku.
" Saya kekasih Tantan Bibi, saya baru pulang dari bertugas, maafkan saya yang tidak bisa melindungi Tania!"
" Tuan juga seorang prajurit?"
__ADS_1
" Iya...!"
" Tuan, sepertinya Tuan ku akan sangat menentang hubungan kalian nanti!"
" Benarkah?"
" Ya, meskipun Tuanku, juga seorang abdi negara, namun hatinya sudah dilemahkan oleh cintanya, dia sendiri tidak takut mati ,namun dia takut orang yang di cintai dan dikasihi tersakiti atau menderita!"
" saya mengerti untuk yang di rasakan tuan Latif Bibi! "
" Tuan, Nonaku sangat terkekang dari kecil, dia tak pernah bisa memilih sesuatu yang di inginkan, dan sekarang nona sudah tumbuh dewasa, nona membantah semua perkataan tuan, ini bukan sesuatu yang bibi harapkan, karna tuanku cukup keras hati !"
" Apa yang di rasakan Tantan pun aku juga mengerti Bibi!"
" Benarkah Tuan?, Lalu bagaimana nanti Tuan, dan nona menghadapi Tuanku?"
" Bibi, nanti kita akan menghadapi semua bersama, menggenggam tangan satu sama lain dan tidak akan saling melepaskan apapun yang terjadi!"
" hiks hiks, Tuan semoga Tuan bisa membahagiakan Nonaku!"
" Tentu saja, dia akan menjadi istri Panglima yang paling bahagia!"
" Pang pang Panglima? "
Bibi Chu terkejut
astaga, Nonaku sungguh hebat bisa menggait seorang Panglima .
" Kenapa bibi?"
" Tidak apa-apa Tuan, terimaksih sudah mencintai nona saya dengan baik!"
" Dia pantas mendapatkannya Bibi, Bibi bisakah aku meminta Bibi untuk menjaga Tantan untuk saat ini?"
" Pasti tuan!"
" Bibi, aku sedang terluka juga, aku tidak bisa datang sewaktu-waktu untuk menjaganya, dan juga jika Tuan Latif mengetahui hubunganku dengan Tantan untuk saat ini ,itu pasti akan tidak baik!"
" Trimakasih Bibi, kalau begitu saya ke ruangan dokter Donie dulu! "
" mmmm baiklah Tuan!"
Panglima pun berjalan perlahan menyusuri lorong rumah sakit yang sangat sepi, kakinya berhenti di salah satu ruangan.
Panglima membuka pintunya perlahan,
" Panglima! "
" Donie kau tidak tidur?"
" mmm, Dokter mana bisa tidur nyenyak!"
" Donie, sebenarnya apa yang terjadi? "
" Panglima, seharusnya itu pertanyaanku!"
" apa?"
" Panglima, Tania bukan orang yang suka berselisih dengan orang, dia juga tidak begitu banyak teman pula, semua ini perbuatan tunanganmu kan?"
" Donie dia bukan tunanganku!"
" Tapi dia mengaku tunanganmu!, hampir semua orang tahu jika kau akan menikahi Xian-xian!".
" aku tidak pernah berpikir untuk menikahi Xian-xian!"
" Panglima, seharusnya kau menjaga baik-baik Tania, aku tahu dia sangat menyukaimu, jangan membuatnya menderita untuk menunggumu!"
" atas dasar apa kau mengatakan aku membuatnya menderita?"
__ADS_1
" Jika tidak, Tania tidak akan seperti ini!"
" Jika aku ada aku juga tidak akan membiarkanya seperti ini, ...aku terlalu lengah karna sangat percaya bahwa dia tidak akan mudah ditindas!"
" Panglima, kau harus tahu, banyak laki-laki yang ingin menempati posisimu di sampingnya!"
" apa Kau sedang mengingatkanku?, bahwa kau akan merebutnya dariku?"
"Aku menyadari bahwa aku masih belum memenuhi syarat untuk bersanding dengan nya, namun jika ada kesempatan, aku tidak akan menyia-nyiakannya!"
" Tidak ada yang bisa merebutnya dariku!"
mengepalkan tangan
" Haiiis okey, bukan waktunya untuk berdebat masalah perasaan, aku hanya ingin kau lebih baik menjaganya!"
membuang Nafas sedikit kesal.
" Hmmmm, baiklah aku tidak akan mempermasalahkannya juga, soal perasaan itu hak masing-masing, hanya saja cukup tahu menempatkan diri saja!, sekarang aku hanya ingin tahu keadaan Tania!"
" mmmmm, duduklah, aku akan menjelaskanya padamu, karna keadaannya tidak sederhana!"
" Jelaskan dengan rinci!"
" Tania, seluruh tubuhnya memiliki luka yang cukup serius, dia di pukuli tiada ampun, terutama di bagian kepalanya cukup serius, ada pembengkakan, namun sudah mulai sedikit ada tanda baik, jadi sepertinya tidak perlu operasi!"
Leon, terdiam karna tenggelam dalam pikiranya,
Kejam sekali kau Xian-xian, Jika saja kau laki-laki maka aku sudah akan mengulitimu hidup-hidup.
" Panglima ,apa kau mendangrku?"
mencoba menyadarkan Leon.
" Ya aku dengar, Aku percayakan semua padamu Don!"
" Tentu saja, tanpa kau minta aku juga akan berusaha mmberikan yang terbaik untuk nya!"
" Trimakasih!"
" Tak perlu Panglima, itulah tugas dokter!, apa panglima sudah membaik?"
" Belum, seharusnya aku tak banyak gerak tapi aku tidak bisa untuk tidak melihatnya!"
baru kali ini aku melihatnya seakan tak berdaya,
dalam hati Donie.
Donie pertama kalinya melihat mata Leon yang berkunang, yang terlihat jelasa sedang sekuat tenaga untuk membendung air matanya agar tidak keluar.
" Panglima, Lukamu terbuka lagi, duduk yang benar!"
Donie terkejut melihat baju panglima yang mengeluarkan darah.
" mmm, aku terlalu banyak bergerak!"
" Tekan bagian ini dulu!" Segera mengambil perlengkapan
Donie segera menangani Leon dengan sigap.
" Panglima, segera pulang dan istirahat dengan baik!"
" Ya tolong panggilkan Jendral"
Donie segera memanggil Jendral Petter untuk membawa Panglima kembali untuk beristirahat.
Bersambung...
author
__ADS_1
Panglima ayo balaskan dendam Tania!