
" Bagus, memang tepat sasaran!"
" Panglima mereka sangat angkuh sekali, mereka tidak hanya angkuh tapi menghina kita dengan buruk...!"
" Sebentar lagi mereka akan memohon dikakimu Jimmie bersiaplah....ambil keuntungan sebaik mungkin, mereka ingin menguasai sumber alam kita, sekarang kita yang akan menuai usaha keras mereka!"
" Baiklah, sebenarnya kemarin aku sangat ingin membunuh mereka!"
" Jangan permainan tidak akan seru jika buru -buru dihabiskan"
" Ya...."
panggilan itu pun berakhir,
" paman, aku ingin memukuli 2 perwakilan itu dulu apa boleh??" ujar Jimmie kesal.
" Sesuai kata Panglima saja Nak Jimmie, aku ingin segera kembali berdekatan dengan anak cucuku.." ujar Hatta.
" Paman, apa hanya paman yang ingin segera berdekatan dengan orang - orang terkasihnya??, Jimmie juga Paman"
" Makanya, segera selesaikan jangan membuat masalah karena rasa kesalmu, bukankah kau sedang mengendalikan negara??, sedikit seriuslah Jimmie "
" Ya paman, ya paman...."
Jimmie memang bukan orang yang sabar, Jimmie lebih suka bermain fisik dari pada taktik, meskipun dia sangat pandai bermain taktik.
" Bos, 2 perwakilan kampret itu meminta bertemu dan mendiskusikan kembali perjanjiannya..."
" baik, kita temui mereka!"
mereka kembali bertemu, namun perwakilan itu masih tampak angkuh,...
" Kami minta maaf untuk hal sebelumnya, jangan di ambil hati, sesuai yang anda mau, kami akan mencoba memenuhinya!" ujarnya dengan melipatkan kedua tangannya di dada.
" Apa begitu caramu meminta tolong??"
" Bagaimana kau bisa buta sedangkan kedua matamu itu lengkap dan terlihat sehat, tapi kau tak menghormati pemimpin kami, apa orang -orang di negara anda sangat minim attitude ??"
" Kami tidak cuma-cuma meminta bantuan kami juga menukar dengan apa yang anda mau, kami tidak mengemis apakah harus begitu kita merendah, negara' kalian terlalu ingin di anggap tinggi, ingin di dewakan, tidak ikhlas dalam membantu sesama...!"
Jimmie sudah menahan emosinya, dia sudah mau meledak - ledak menghabisi 2 perwakilan itu, tapi Hatta buru - buru angkat bicara.
"Tuan, kembalilah ke negara kalian, dan minta negara kalian mengirim orang selain anda, jika tidak kami tidak akan membantu atau bertukar apapun... sepertinya kalian berdua sebatang kara, lebih memilih menjaga kegengsian kalian dari pada nyawa keluarga "
ujar Hatta Latif.
kedua perwakilan itu saling menatap, jika mereka kembali dengan penolakan artinya mereka akan mati.
Perwakilan negera K langsung berlutut di hadapan Hatta Latif.
__ADS_1
" Saya salah tuan, saya hanya perwakilan, tapi saya sudah sangat angkuh, maafkan keangkuhan saya, tapi tolong kirimkan bantuan untuk menolong semua warga negara kami, apapun itu mungkin negara saya akan menyetujuinya...."
perwakilan negara S pun menyusul berlutut,
" Tolong, maafkan kami tuan, kami banyak belajar sekarang, tolonglah warga negara kami"
" Tuan tolonglah mereka, karena kemanusiaan, ...." perwakilan dari negara V pun membantu bicara.
" ya tuan kami akan menjadi saksi perjanjian yang ada" sahut perwakilan P.
akhirnya mereka membuat perjanjian bahwa negara K dan S harus menghentikan pasokan senjata ke negara tetangga, dan di alihkan ke negara +62, menjadi sekutu dan garda terdepan jika ada ancaman dari negara lain, dan masih banyak lagi, jika perjanjian itu di langgar maka ada konsekuensinya yang merugikan negara mereka sendiri.
setelah perwakilan itu mendistribusikan dengan pimpinan negara mereka masing-masing, dan menyetujui semua perjanjian yang tertera dengn saksi 2 negara.
perjanjian itu berhasil ditandatangani.
negara K dan S menarik semua pasokan senjatanya dari negara tetangga.
dan Negera +62 segera menepati janji mengirim ratusan team medis pada masing - masing negara.
kini negara tetangga sedang di landa gejolak krisis karena keangkuhannya, mereka berpikir bahwa negera k dan s akan membantu perihal ,pembagian tenaga medis meskipun negara tetangga tidak menghadiri undangN dari +62.
Namun hal sebaliknya Justru sangat menampar negara tetangga, semua bantuan, senjata ,biaya, dan juga pasukan berani mati di tarik oleh negara S dan K secara bersamaan.
kini negara tetangga kebingungan mengatasi krisis yang mengancam penduduk di negaranya, meminta bantuan pada negara lain pun mereka sudah angkat tangan karena memang mereka juga di bantu oleh negara+62.
" Panglima, bagaimana jika mereka berhasil mempelajari semua penanganan pandemi ini??"
" Tak sia-sia beberapa tahun ini membudidayakan tumbuhan itu, untuk membuat Vaksin, semua cukup dengan kesabaran yang besar, berpura-pura lemah kalah di awal untuk memperkuat semuanya "
" Jendral, antisipasi itu perlu...oh ya apa sekarang Lux's juga sedang terguncang, pendana terbesarnya sudah menjadi sekutu kita, apa yang akan dia lakukan??"
" Yang jelas kita akan menghabisi orang tua bejat itu...."
" Apa Josh masih hidup Panglima??"
" setelah semua berakhir dia tidak berguna!"
" Jimmie pasti akan menghabisi Josh setelah tidak berguna, dan Zero pasti akan menghabisi Lux's dan orang-orangnya tak tersisa...!"
" ehmmmm, tapi kita masih akan menghadapi negara tetangga yang tidak tahu malu itu "Tugas Jimmie sudah selesai mengurus perjanjian perdamaian itu, dia segera kembali bersama dengan anak buahnya ke kota , begitu juga Hatta dia segera menuju Paviliun Panglima untuk menemui anak cucunya.
"Ayah, ...apa sudah selesai??"
" Ya, untuk saat ini kita sudah bisa hidup tenang,..."
" ayah kau hebat!!!"
" Apanya yang hebat??, ayah hanya boneka saja, semua kerja keras Jimmie dan anak buahnya!"
__ADS_1
Hatta langsung mengambil Cucunya dari box bayi dan menimangnya dengan riang.
" ah, ... cucuku Manggala sangat tampan..."
" ah itu pasti menuruni ketampanan pamannya ini ..." ujar Jack dan Dex yang tahu-tahu nongol di depan kamar Tantan.
" waaaaa abang....Jack dan Dex"
" Halo Tan, abang senang kau sudah baikan..." ujar Jack menghampiri Tantan yang duduk di ranjang . sementara Dex mendekati Manggala.
" paman gantian menimang dong .."
ujar Dex
" Aku baru saja menggendong, kau ini datang - datang mau menyerobot saja...!"
" tapi aku hanya punya waktu sebentar, karna setelah ini kami akan membantu Bos Jimmie mengurus pernikahannya!"
" itu deritamu!"
" ayolah om, sebentar saja, ayo ayo..." Dex mencoba mengambil Manggala tapi Hatta mempertahankan Manggala dengan kuat.
Manggala pun menangis keras.
oooeeeeeeek oeeeeeek oeeeeeekkk...
" aduh ayah abang kalian jangan seperti itu Manggala masih bayi....!"
teriak Tantan.
Maya yang mendengar cucunya menangis keras langsung gercep datang.
" Hei kalian ini itu bayi bukan boneka, seenaknya kalian rebutkan!!!" teriak Maya kesal.
" Tuan Hatta, anda ini bagaimana sih, ini cucu anda bukan boneka"
" Ini Dex mau mengambil cucuku..."
" Astaga, gantian lah paman...aku kan ingin menggendongnya sebentar!"
" Hah, sudahlah kalian semua keluar, berikan Manggala padaku!!" Maya mengambil Manggala dan memberikan pada Tantan.
Maya mengusir tiga orang itu keluar dari kamar Tantan.
" Bisa-bisanya kalian ini, sudah kalian kembali sana, bapak presiden sebaiknya anda jangan terlalu lama meninggalkan kursi anda!"tegas Maya.
"ini semua gara - gara paman, coba mau gantian kita tidak perlu berebut dan di usir aku belum pula merasakan menggendong Manggala!"
" berisik, antara aku ke rumah dinas!" ujar Hatta kesal, sebenarnya belum puas menimang Cucu, tapi setidaknya sudah terobati.
__ADS_1
tapi memang bagaimana pun tadi itu salah dan Hatta menyadarinya.
Hatta pun kembali ke rumah Dinas, Dex dan Jack segera melakukan tugasnya sesuai perintah Jimmie.