DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
70. Berharap Cemas


__ADS_3

Sampailah Suzy dan Jendral Petter di negara F, mereka segera mencari hotel yang paling dekat dengan Rumah sakit Tania dirawat.


" Jendral, ...!"


"Ya, ...!"


" tak apa..hehehe!"


" ada apa?, kau mau kamarku?"


" tidak, hanya saja kenapa memesan kamar yang terpisah jauh?, aku dilantai 2 jendral di lantai 3!"


" Hanya tinggal 2 itu saja, kamarku pun masih menunggu untuk di bersihkan, kau masuklah dulu dan istirahat!"


" Jendral mau menunggu di sini?, Jendral pesan satu kamar saja, 2 tempat tidur, Suzy tidak apa-apa! "


" Sungguh? "


" Ya...!"


" Oke, aku akan meminta mereka menambahkan satu tempat tidur lagi, kau duduklah dulu!"


" Mmmm!"


Jendral Petter segera menuju resepsionis.


" Kenapa Jendral?"


" Tak apa, mereka tidak menyediakan tambahan tempat tidur dalam satu ruangan, tak apa kau istirahatlah dulu, kamar di sebelah kamarmu nanti malam baru Cek out katanya! "


" Kalau begitu, istirahat saja dulu dikamar suzy!"


Menarik tangan Jendral Petter.


jantung Jendral Petter berdebar begitu kencang,


" Jendral ayo jalan!"


" Ya, kau duluan biarku bawakan barangmu!" mengambil Alih barang bawaan Suzy.


" Terimakasih Jendral! "


mereka segera menuju kamarnya di lantai 3.


" Kita masih ada 2 jam untuk istirahat, kau tidurlah setelah itu kita ke rumah sakit!"


" Suzy mau mandi dulu Jendral! "


" Oh, ya baiklah, kalau begitu aku keluar sebentar membeli makanan!"


Jendral segera keluar, Suzy bergegas masuk ke kamar mandi.


Ya Tuhan canggung sekali rasanya berada di satu ruangan dengan Jendral, haduh bagaimana bisa aku mengajaknya untuk tinggal satu ruangan.


Suzy segera membersihkan dirinya, karna termasuk orang yang sangat menyukai kebersihan, setelah keluar dari distrik Militer dirinya baru bisa kembali menjadi dirinya lagi.


" Aduh, aku paling tidak bisa berkeringat sedikit, membuat tubuh sangat tidak nyaman!" Gumam Suzy sambil menggosok tubuhnya.


setelah dirasa sudah nyaman dengan tubuhnya yang sudah segar dia memutuskan untuk segera keluar.


dengan berbalut handuk dirinya mengendap-endap keluar, ...


" Yooo, syukurlah Jendral belum kembali!, eh dimana kopernya?" Suzy mulai mencari - cari koper bawaannya.


" Dimana koperku?"


Suzy membuka lemari namun tak ada.


" apa Jendral meninggalkan koper kita?"


ceklekkk..


suara pintu terbuka...


" Suz....apa yang kau lakukan?" melihat Suzy yang menungging di atas ranjang bermaksud mencari kopernya dibawah ranjang .


" wa...."


.gubrakkkkkkk


" Jendral kenapa kau masuk?"


ujar Suzy yang jatuh karna terkejut.


" oh?, maaf aku akan keluar!"


" Tunggu, ....!"


Jendral menghentikan langkahnya tanpa menoleh.


" Jendral koperku dimana?, aku mau ganti pakaian!"


" Oh itu di atas lemari...!" menunjuk ke atas lemari.

__ADS_1


" Tinggi sekali, bagaimana Suzy mengambilnya!"


" kau tetap di sana aku akan mengambilnya!"


" Ya cepat!" masih berada di sisi samping ranjang .


"mmmm, ini kopermu, aku akan keluar dulu!"


Jendral Petter bergegas keluar dengan wajahnya yang memerah.


Dia tadi sedang apa ?, pikiran Jendral mulai tidak normal mengingat pose Suzy di atas ranjang tadi.


Tak lama Suzy selesai berganti pakaian,


" Jendral kau bisa masuk!" membuka pintu.


" Ya sudah kita makan dulu!"


" Terimaksih Jendral! "


" hemmm sama-sama...!"


" Jendral, bagaimana bisa kau menaruh koper diatas lemari kita sedang tidak naik pesawat kan Jendral?, menaruh barang bawaan di atas!"


" heheh maaf aku terbiasa menaduh barangku di atas lemari!"


" Aih,.. aku sudah putus asa mencari ternyata di atas lemari!"


Jadi dia tadi sedang mencari kopernya?,


astaga aku terlalau banyak berpikir.


" Jendral kenapa melamun?, apa Jendral ada pekerjaan yang tertunda?"


" oh, tidak tidak...ayo makan!"


" Ya, setelah ini kita langsung ke rumah sakit saja Jendral! "


" Baiklah, ayo habiskan dulu makanannya!"


setelah menghabiskan makanannya, mereka segera menuju Rumah sakit .


ternyata di depan pintu ruang operasi sudah berdiri panglima ,ibunya, bibi Chu,,dan dua orang lagi.


" Panglima ,tante, Bibi" Sapa Jendral Petter


" Oh Jendral, dan suzy kalian.juga datang?"


" Iya Tante, apa Tania sudah menjalankan operasi? "


" Semoga operasinya lancar...,!"


" Aamiin,...!"


" Jendral, Suzy kenalkan ini bibi dan pamannya Tantan!"


" Oh awalam kenal bibi paman, saya Suzy sahabatnya Tantan!"


" Ah kau rupanya suzy Tania sering menceritakan mu!" Ujar Gress.


" Ah Benarkah, ?"


" Tentu kau satu-satunya temannya kan?, lalu ini siapa?"


" Dia calon suami Suzy bibi paman !"


" Oh kalian sangat pandai mencari suami, semoga langgeng ya!"


" Aamiin" Jawab Jendral Petter dan Suzy bersamaan.


Tania pun keluar dari ruang pemeriksaan,dan segera dibawa ke ruang operasi!,


semua merasakan ketegangan yang sama, mereka mencoba menenangkan diri dan berpikir positif untuk kelancaran dalam operasi Tania.


2 jam sudah operasi berlangsung nomen dokter, belum juga keluar dari ruang operasi.


" Bu, bukankah operasi berlangsung 1jam?, kenapa dokter belum keluar?" Leon sudah panik, sekujur tubuhnya sudah keringat dingin.


" Kita tunggu saja , Tania akan baik-baik saja!"


semua yang menunggu juga merasakan kepanikan yang sama.


lebih 15 menit akhirnya dokter pun keluar.


semua langsung menghampiri dokter ,berharap mendapatkan kabar yang sesuai harapanya.


" Dok apa operasinya berhasil?"


Dokter terdiam dan menghela nafas...


" Dok, cepat katakan!" Leon sudah tidak sabar.


" Untuk operasi, memang mengalami sedikit masalah, pasien hampir saja tak terselamatkan, namun sepertinya Tuhan masih memberinya umur panjang!"

__ADS_1


"Dokter katakan saja berhasil atau tidak!" Meremas baju dokter karna kesal.


" Leon hentikan! "


" Hmmm operasinya berhasil, jika dalam 3 hari ini dia bisa melewati masa kritis, dia akan segera sadar, jika tidak semua kembalikan pada Kehendak Tuhan! kami hanya perantara!"


" Tantan, kau harus melewati masa kritis!" Ujar Leon tak kuasa menahan air matanya.


" Bisa pasti bisa, ....!" Maya menenangkan Putranya yang benar-benar terlihat rapuh


" maaf Tantan ini semua salahku!" Suzy pun tak luput dari rasa bersalahnya.


" Kita keluat dari sini dulu,...!" Jendral Petter membawa Suzy keluar rumah sakit.


" Jendral, bagaimana jika Tania tidak bisa melewati masa kritis nya?, hiks hiks hiks"


" Dia adalah wanitanya Panglima, pasti bisa melewati masa kritisnya!"


Suzy masih menangis sesenggukan, karna sangat khawatir dengan Tania.


" Menangislah sampai dirasa lega, jika kau sudah tenang kita akan masuk!"


" Hiks hiks hiks ... Jendral Suzy takut, takut Jika , Jika!"


"Sssst, sudah jangan kau lanjutkan!, jika kau belum tenang kita kembali dulu ke Hotel!"


" Jendral bagaimana bisa, kita ke sinu untuk Tania!"


" Saat kau menangis kau slalu mengatakan semua ini salahmu, kita merasakan hal yang sama, kau harus tahu temperamen Panglima, jangan sampai dia salah memahami, dia sedang putus asa, jika kau di sana dan masih mengatakan hal yang tidak berarti, maka akan di luar kendali!, apa Kau mengerti? "


" Oh...mmm mengerti! hiks hiks hiks...mengerti!"


" Kita kembali ke hotel sekarang, jika kau merasa lebih baik, kita ke sana besok pagi!"


"Mmmm,..." Suzy menuruti perkataan Jendral Petter.


mereka segera memesan Taxi dan kembali Ke hotel.


" Tadi kita pergi tidak berpamitan!" Ujar Suzy


" Aku sudah mengirim pesan pada Tente!, kau cepat tidur, tenangkan pikiranmu!"


" Jendral, pikiran Suzy tidak bisa tenang! "


" Putar musik untuk menenangkan hatimu!"


"huhuhuhu, mana bisa yang ada Suzy semakin sedih!"


Jendral Petter sangat bingung, bagaimana caranya menghibur wanita yang sedang bersedih,


Waktu itu aku memeluknya sepertinya dia tenang,..


tapi bagaimana jika dia tidak terima ,di kira aku mencari kesempatan,.


" Apa kau ingin makan sesuatu agar tenang?"


" Jendral kau ini bagaimana?, saat ini bagaimana Suzy bisa makan huhuhuhu, Jendral kau sungguh tak berperasaan!, huhuhuhu"


" astaga, lalu aku harus bagaimana? "


" Huhuhuhuhu huhuhu huhuhuhu, maafkan Aku Tantan aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa menangis, huhuhuhu, huhuhuhu! "


Jendral penuh dengan keberanian memeluk Suzy yang masih menangis sesenggukan.


" Kau bukan anak kecil lagi, kenapa menangis seperti ini?"


" Semua karna Suzy tidak berguna Jendral huhuhu!"


" Memalukan sekali calon istri Jendral sangat tidak berguna, sudah tidak berguna cengeng pula, sungguh ironis Jendral ini !"


" Hiks hiks hiks, iya Jendral sebaiknya kau tidak menikahiku, aku sangat tidak bisa diandalkan!"


" Jika kau tidak berguna, aku pasti sudah mati di pukuli ayahku, Jangan katakan bahwa kau tidak berguna, kau sudah menyelamatkan hidup Jendral bagaimana bisa tidak berguna?"


" Hiks hiks, apa Suzy berguna Jendral? "


" Tentu saja, sekarang berhentilah menangis, jika sampai sahabatmu bangun dan melihatmu menangis, dia pasti akan menghajarku habis-habisan, jika itu terjadi kau memang benar-benar tidak berguna!"


" Suzy berhenti menangis, Suzy tidak akan membuat masalah! " berhenti dengan sigap.


" Sekarang kau tidur lah,...!"


" Mmmm!" Suzy sangat menurut.


Astaga, dia bahkan lebih polos dari Meimei...


Tuhan sungguh adil bukan mempertemukanmu denganku yang tidak suka memanfaatkan orang lain.


dalam hati Jendral tersenyum.


Bersambung...


Author

__ADS_1


ughhh....sedih...sabar Panglima ...


__ADS_2