
Melihat Nisa ternganga membuat Zero segera menaiki pohon di sebalahnya dan melihat dengan kacamata canggihnya apa yang sebenarnya gadis kecil itu lihat.
" Damn!!" Zero segera melompat di tempat Nisa dan segera menutup mata Nisa , lalu segera membawanya turun
" Jangan di lihat lagi!"
Ya terlihat memang cukup mengerikan di mana terjadinya pemenggalan kepala.
" Kakak, wanita itu seperti bukan suku pedalaman!" ungkap Nisa memberitahu.
Zero naik lagi untuk memastikan, benar saja wanita itu terlihat sangat berbeda dengan darah pedalaman.
Zero melompat turun,
" benar, kita sudah sampai , kita akan membuat rencana malam ini!"
" Lalu bagaimana dengan 201??"
" Tenang kan ada kamera di tubuhnya, kita cari tempat dulu ya!"
Tidak ada yang bisa mereka lakukan, jika gegabah akan membuat semuanya berantakan, mau tidak mau mereka harus menyusun rencana dengan rapi terlebih dahulu.
krucuk krucuk...
Nisa segera merenges...
Namun tampaknya Nisa sudah terbiasa dengan hal mengerikan itu, ya, keluarganya juga di bantai habis di hadapannya, itu tidak membuatnya ketakutan saat ini.
" kita cari sesuatu untuk di makan, dan tempat untuk beristirahat!"
" Iya kak..."
mereka berjalan berlawanan dari arah 201 pergi, sambil mencari sesuatu yang bisa mereka makan.
setelah mendapatkan beberapa makanan, mereka segera mencari tempat untuk istirahat.
" Apa di sini aman kak??"
" jika ingin aman di rumah saja Nisa, cepat buat api unggun!"
" Ehmm..."
Nisa segera membakar umbi-umbian yang di dapat sementara Zero sibuk dengan layar tabnya.
melihat beberapa laporan masuk dari anak buahnya
" Kakak makanlah"
" Sebentar nanti saja, jika tanganku kotor aku tidak bisa menyentuh layar..."
Nisa mengupas sambil meniup-niup umbi yang masih panas.
" Apa kau tidak tahu makanan tidak boleh di tiup!" tegas Zero.
__ADS_1
" Tapi Nisa sudah sangat lapar!"
" terserah...." Nisa segera mengambil daun kering yang terjatuh lalu menjadikannya kipas untuk mengipasi ubinya.
Zero melirik ulah Nisa dan tersenyum tipis,
" kakak, aggg..."
Zero melihat dengan penuh tanya.
" Buka mulut kakak!"
Zero membuka mulutnya perlahan nisa segera memasukan ubi dengan ukuran cukup besar masuk ke dalam mulut Zero.
seketika mulut Zero penuh dengan ubi bakar, mau mengomel tapi tidak bisa, akhirnya mau tidak mau dia harus mengunyah dan menelan perlahan ubi yang menyeratkan tenggorokannya.
Nisa tidak tahu jika suapannya membuat Zero tersiksa dia , menikmati ubinya dengan asyik.
" emmmm, minum..." ujar Zero dengan suara serak karna masih ada ubi yang nyangkut di tenggorokan.
" Kakak, Nisa lupa jika airnya habis"
" Uhuk...uhuk...kau bagaimana bisa, tadi kita melewati sungai, kenapa tidak mengambilnya??"
" Kan lupa kakak..."
" Astaga, Nisa....aku tidak mau tahu kau cari minum sekarang cepat!"
" babaiiik" Nisa segera beranjak pergi entah kemana, mungkin kembali ke sungai tadi pikir Zero, karena Zero masih harus menyusun rencananya, namun sebelum itu dia memastikan beberapa laporan anak buahnya terlebih dahulu.
" Apa anak itu nyasar??, menyusahkan sekali..."
karena sudah selesai dengan pekerjaannya Zero segera mengemasi barangnya dan bergegas pergi mencari Nisa, Zero kembali menuju sungai yang mereka lewati tadi, namun Nisa tidak ada di sana.
Zero mencoba mencari jejak anak itu,
" Jangan bilang kau di kejar babi hutan!" Gumam Zero
Dia segera menaiki pohon untuk memudahkan mencari keberadaan gadis itu.
" Merepotkan sekali, membawa anak-anak dalam misi..."
terpaksa Zero mengeluarkan lagi peralatannya, untuk melacak keberadaan Nisa lewat teropong yang di bawanya, semua alat yang dibawa memang di pasang alat pelacak.
" Gila, kenapa dia malah berada jauh dari tempat tujuan kita??"
Zero segera membuat peta untuk membantunya sampai ke tempat Nisa terlacak dia tidak mungkin berjalan sambil menggunakan peralatannya ,itu akan membuatnya tidak bisa waspada jika ada sesuatu yang membahayakannya.
setelah selesai membuat peta Zero segera turun dan mulai menyusuri jalan sesuai arah yang sudah di buatnya.
namun di tengah perjalanan dia malah bertemu dengan 201.
" Apa yang kau lakukan di sini??" tanya Zero pada 201.
__ADS_1
terlihat 201 mendapatkan beberapa luka di tubuhnya.
itu sebuah pukulan benda tumpul dan juga cambukkan.
" siapa yang berani melukaimu??" Zero menggendong 201 yang terlihat lemas.
" kenapa kau sangat lemah, Kenapa kau bisa terluka!" gumam Zero merasa salah memilih anjiing yang seharusnya membantunya kini malah sama merepotkannya dengan membawa Nisa.
Zero mengobati luka pada 201
dirinya menghela nafas berat, jika saja dia berangkat sendiri mungkin sudah selesai dengan misinya ,Zero membawa 2 beban dan membuat langkahnya terhambat,kesal tapi sudah sampai di tengah jalan.
tidak mungkin dia meninggalkan keduanya dan melanjutkan misi sendiri, itu tidak seperti apa yang diajarkan oleh Panglima, dia akan tetap gagal meski misinya berhasil karena tidak setia pada patner kerjanya.
" aku harus menggendong anjiing dan mencari anak itu...hei apa kau bisa berlari...temukan Nisa , jika dia terluka kita gagal dalam menjalankan misi!" tegas Zero kesal.
201 seketika berdiri dan berlari Zero segera mengikutinya dengan berlari.
sambil sesekali melihat petanya dan melihat sekeliling.
" Bagus, ternyata kau cukup bisa di andalkan!"
Setelah cukup lama berlari , Zero terkejut bukan main karena 201 membawanya masuk ke dalam jebakan.
" Brengsek....!"
" Hahahahahaha bagus anjiiing pintar, aku tidak akan menyakitimu lagi..."
" Siapa kalian??"
" Hahahahahahah.... orang Panglima ternyata tidak begitu mengagumkan...kenapa masih bertanya?? bukankah kau ke sini mencari kami??" gumam pria berdarah campuran itu.
" Dimana gadis itu???" tanya Zero
" Hahahahah, tenang dia sedang menikmati hidupnya!" Gumam pria itu.
" Apa maksudmu??"
" Ah, kau sangat kuno...bos kami sangat menyukai gadis muda dan kau datang membawanya, pasti akan di nikmati oleh bos kami!"
" Bajiiingan, jangan pernah menyentuhnya!" Zero segera berlari memukul pria itu hingga terjatuh.
pria itu meludahkan bibirnya yang berdarah.
" tangkap dia, biarkan dia melihat rekannya sedang menari-nari bersama bos kita!" pungkasnya
dengan sigap beberapa orang menangkap dan mengikatnya kuat lalu membawanya masuk ke sebuah gubuk kecil.
terdengar suara lirih merengek terisak-isak
betapa terkejutnya Zero melihat tubuh nisa sudah dinikmati boleh pria tua, dengan tubuh besar yang menjijikkan itu, tangan nisa diikat begitu juga kakinya mulutnya tersumpal kain sehingga dia tidak bisa menjerit air matanya berlinang deras matanya menunjukkan sorot memohon tubuhnya yang mungil terguncang hebat saat pria tua itu menghantam paksa ke dalam milik Nisa.
Zero hanya bisa menggertakan giginya hingga terdengar gesekan keras pada giginya , tubuhnya gemetar, Zero mengeluarkan air matanya, hatinya merasa pedih melihat gadis yang berusaha keras untuk menjadi kuat kini tergulai lemah dikuasai oleh tubuh biadab yang sangat menjijikan.
__ADS_1
Zero tak berani menatap mata merah yang memohon pertolongannya karena Zero tidak bisa berpikir sekarang, entah kenapa rasanya dunianya runtuh seketika