DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
209. Dipercepat


__ADS_3

" Sayang, kau duduklah dengan benar...apa ada yang tidak nyaman??" Panglima membenarkan duduk Tantan.


" panglima aku sangat takut...!" Meneteskan air matanya.


"Lihat aku sudah baik berdiri dihadapanmu apa yang kau takutkan saat aku berada di sampingmu, hemm... dan terimakasih sudah menjaga anak kita dengan baik meski dalam keadaan yang tidak mudah!" Leon Zang memegangi perut istrinya yang sudah membesar itu.


" Tentu saja, dia sudah belajar banyak hal sejak dalam kandungan!"


Leon mencium perut Tantan, dengan lembut...


" Maafkan ayah baru bisa menyapamu anakku!"


Leon menempelkan telinganya di perut Tantan, dan anak dalam perut Tantan menendang - nendang begitu kuat.


Leon Zang tersenyum sangat lebar melihat reaksi anaknya yang begitu kuat.


" Wooooooooww...apa dia senang ayahnya menyapanya??"


" pastinya, biasanya dia tidak sekencang ini tendangannya!"


" wahahahahahahah...apa itu sakit sayang??"


" Tidak , kaki mungil itu tidak akan menyakiti ibunya!"


" Hahahaha, apa kau tahu saat ini aku sangat bahagia..aku sangat bahagia...hahahahah...!"


Ekspresi Leon Zang benar - benar bahagia, senyumnya tak pudar - pudar.


" Aku sangat mengkhatirkanmu panglima!, syukurlah jika kau tidak apa-apa!"


memeluk suaminya.


" ouuggjj...!" bagian lukanya tidak sengaja tertekan.


" Maaaf...maaff kan aku Panglima... aku panggil Dokter!"


" Tidak, tenang saja....aku hanya sedikit kaget!"


" Panglima bagaimana jika lukanya terbuka?"


" Tidak !"


" hmm baiklah, panglima apa kau mau aku suapi?" Melihat makanan yang tadi di bawakan Doney.


" Boleh...!"


" Kalau begitu Panglima sekarang yang duduk dengan benar!"


Panglima pun segera duduk, Tantan mengambil makanan dan segera menyuapi Suaminya yang sudah lama tidak ia layani.


" Panglima, apa mereka memperlakukan kalian dengan tidak baik??" melihat banyak luka - luka di tubuh suaminya


" Hmmm, mereka menyiksa kami dengan sangat sadis... dan kami tidak mendapatkan pengobatan!"


" itu pasti sangat menyakitkan!"


" Hmmm sangat menyakitkan sayang, untunglah aku menyimpan beberapa obat untuk memulihkan tubuh kami dari dalam, Jujur saja saat aku di siksa aku merengek kesakitan...begitu juga dengan ayah dan juga Jenderal, kami hanya bisa memikirkan diri sendiri saat itu...!"


" Biadab sekali mereka!"


" lebih baik menghadapi eksekusi dari pada siksaan, rasanya kami seperti anjiing yang akan dijadikan makanan...hemmm tapi semua sudah berlalu...aku sudah lupa rasanya karena sudah bertemu dengan istriku...!"


" Hiiiih aku sangat gemas aku ingin membalas mereka dengan tanganku sendiri!!"


" Jangan, ... jangan mengotori tanganmu untuk hama-hama yang akan menjadi bangkai akibat perbuatan mereka sendiri!"


" Panglima, apa kita bisa menang??"


" Tentu saja bisa, hanya saja sekarang permasalahannya adalah ibu, ibu kembali ke kota dengan ayah dan juga Ria... ini membuatku was-was!"


" Apa??, bagaimana bisa mereka datang kemari??"


" Untunglah Keluarga Jenderal lebih paham harus bagaimana, kau tahu sifat ibu kan??"

__ADS_1


" Ya, tapi kenapa ibu ke kota??"


" Dex memberi kabar pada keluarga kita dan ibu langsung pergi ke kota bersama ayah dan Ria...!"


" butuh waktu beberapa hari sampai ke kota, semoga abang dex segera menemukan ibu!"


Jack pun Kembali


" Panglima, ini baj....Tantan...! kau sudah sadar??" Jack melempar baju ke arah Panglima dan berlari memeluk Tantan.


" A..a...aabang...kau harus minta maaf!" Ujar Tantan melihat ke arah Panglima.


" Minta maaf, aku salah apa??, syukurlah kau sudah sadar, aku sangat takut, bagaimana dengan keponakanku? loeh di mana dokter yang ku bawa???"


mencari-cari...namun Jack menyadari dia telah melakukan perkara yang tidak benar.


" OMG, Panglima...maafkan aku....aku aku...!" Jack segera menyodorkan Tantan ke arah Panglima.


" Tantan, bantu Panglima berganti baju, dan tolong nasehati panglima untuk tidak boleh emosi itu akan berpengaruh pada lukanya, baiklah aku lupa aku harus mengunjungi Jenderal dan Ayahmu...heheh permisi!" Jack segera menghilang bak ditelan bumi.


" Panglima, jangan marah ...abang jack hanya terlalu senang !"


" Rasa senangnya menghilangkan attitude yang membuat orang lain darah tinggi...!"


" Sudah, ayo aku bantu berganti pakaian...!"


Tantan segera mengambil pakaian yang berserakan dilantai lalu membantu suaminya berganti pakaian.


" Sayang, aku akan keluar sebentar melihat situasi ... tetaplah di sini jangan kemana-mana...apa kau percaya padaku??"


"Tentu saja, aku percaya...aku akan menunggumu di sini...!"


" Muaachhhhh, anakku doakan ayahmu agar bisa menyelamatkan paman dan kakekmu!" Mencium dan mengusap perut Tantan.


" Sayang aku pergi dulu...!" Panglima mencium kening istrinya dan keluar


" Tolong jangan biarkan istriku meninggalkan ruangannya!" Panglima berpesan pada penjaga yang ditempatkan oleh Jack


setelah itu Panglima mencari kedua dokter itu di ruangan IGD.


"tentu saja...!" Meemberikan ponselnya pada Panglima.


" Panglima, apa anda mau keluar??" Tanya Doney.


" hemm tolong kembalilah menemani istriku agar dia tidak jenuh !"


" Baik!" Keduanya segera kembali.


Panglima segera menghubungi Jimmie, karena nomer Jimmie yang paling mudah dihapal.


" Jimmie ini aku Panglima....!"


" Tidak percaya!" ujar Jimmie membantah.


Panglima segera mengalihkan ke panggilan video.


" Apa sekarang percaya?"


" Percaya- percaya...!"


" minta orang mu menjemputku di rumah sakit militer, lewat pintu samping...!"


" laksanakan!"


Panglima segera menuju pintu keluar rumah sakit .


setelah menunggu beberapa menit,


" Panglima, ayo...!"


" Apa semuanya sudah sampai??"


" Sudah... Bos masih menunggu perintah Panglima, kami. masih menunggu di markas 2!"

__ADS_1


" Ke sana...!"


Panglima pun segera di bawa ke markas 2 oleh anak buah Jimmie.


setelah sampai... Panglima sangat terkejut dengan barang bukti yang begitu banyak.


" Wah, ini Gila...Jimmie...!"


" Panglima buku-buku ini dapat sudah cukup kuat untuk membuat mereka dihukum mati!"


"Lalu di mana orang -orang yang terlibat??"


" Di markas...1 Panglima!, pasukan anda dan Jendral ada di markas 3 lebih dekat dari kota!"


" Apa Zerooo di sana??"


" Jimmi coba kau hubungi Jack... bagaimana keadaannya sekarang??"


" Baik Panglima!"


Jimmi segera menghubungi Jack dan menanyakan tentang situasinya sekarang.


" Panglima...!"


" Ada apa??"


" Situasinya sangat tidak baik...!"


" Apa??"


" Saat ini Jack sedang kembali ke rumah sakit untuk mengamankan Tantan!"


" ada apa sebenarnya???"


" Seperti yang sudah anda duga, mereka sudah membalikkan keadaan dengan cepat!"


" Apa??"


" mereka mengganti orang -orang di bagian kejakasaan, dan menolak memory banding, mereka mengatakan semua pengajuan dan saksi adalah rekayasa, eksekusi akan di lakukan besok!, pada Jendral dan Ayah Tantan... sementara anda akan disuntik mati!"


" Hahahahahahha hahahahhaha, apa mereka pikir hukum di negara kita ini mainan??, sungguh membuatku murka!"


" Bagaimana kita bertindak sekarang??"


" Langsung saja, undang semua awak media untuk meliput semua bukti - bukti yang kita temukan, dan Semua orang yang kalian tangkap ambil salah satu untuk membuka suara, dan membeberkan semuanya ,kita akan mengambil jalur media, dan tambahkan bumbu - bumbu penyedap biar masyarakat sendiri yang mengolahnya...!"


" Sekarang??"


"Ya...!"


" Baik... lalu bagaimana dengan anda...?"


" Aku harus kembali ke rumah sakit!"


" Baiklah panglima berhati-hatilah...!"


" Ok e...!" Panglima pun segera kembali ke rumah sakit.


ternyata istrinya sudah tidak ada di ruangan, hanya tinggal 2 penjaga yang tetap berjaga.


" Panglima Istri anda sudah aman...!"


ujar salah satu Penjaga.


" Baiklah, aku akan masuk...!"


Panglima kembali berbaring di tempat tidurnya, karena memang belum ada yang tahu jika Panglima sudah siuman.


Namun Panglima masih memantau dengan ponsel yang di pinjamkan oleh dokter Dimas.


Istrinya sudah di amankan, oleh Jack dan berita - berita tentang penemuan bukti - bukti itu pun mulai bermuculan di semua media social.


"Baiklah, semuanya sudah sesuai rencana meski terlalu cepat, ...tapi orang - orang ini memiliki banyak pintu untuk bersembunyi...ini akan membuat kita sedikit kerepotan!, jadi aku harus mengambil jalur atas untuk menekan ke bawah, sehingga tidak ada jalan lagi...Tunggu aku melupakan ibu, aihhhh kenapa juga harus ke kota....Oh Tuhan lindungilah mereka!"

__ADS_1


Panglima pun segera menghubungi Dex lagi...


__ADS_2